Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 TERANCAM GAGAL
BAB 5 TERANCAM GAGAL
Nadia sampai di sekolah dengan rambut yang dikuncir kuda rapi seperti biasanya. Walaupun dari tadi kena terpaan angin selama di jalan, rambutnya tetap nggak berantakan sedikit pun seperti sudah terbiasa menghadapi apa saja.
Dia masuk ke gang kecil yang bahkan cuma cukup dilewati satu mobil. Di ujung gang itu berdiri SMK Nusantara, sekolah yang letaknya di tengah pemukiman kumuh dengan bangunan sederhana yang sudah berdiri bertahun-tahun.
SMK itu punya jumlah murid paling banyak di kota. Bukan karena terkenal prestasinya atau fasilitasnya yang mewah, tapi karena biaya sekolahnya murah dan peraturannya jauh lebih fleksibel dibanding sekolah lain.
Di tempat itu, siswa bisa keluar masuk dengan aturan yang nggak terlalu ketat. Bahkan biaya sekolah pun bisa dibayar belakangan setelah muridnya mulai bekerja, jadi banyak orang yang memilih sekolah di sana.
Nadia melangkah melewati gerbang sekolah yang sudah ramai sejak pagi. Sekolah itu cuma punya tiga puluh kelas, tapi setiap kelas diisi lebih dari empat puluh murid, dan kebanyakan di antaranya laki-laki.
Suara obrolan bercampur tawa memenuhi setiap sudut sekolah sampai rasanya bikin kepala pusing. Tapi anehnya, saat Nadia lewat, suara berisik itu perlahan menghilang dan semuanya mendadak diam.
Suasananya mirip kayak ada seorang ratu dari sebuah dinasti besar yang baru lewat di depan rakyatnya. Bukan karena mereka takut tanpa alasan, tapi Nadia memang bukan cewek sembarangan yang bisa diremehkan begitu saja.
Dia adalah tipe cewek yang bisa mematahkan gigi cowok berbadan besar tanpa berkedip sedikit pun. Ransel besar yang selalu dibawanya juga sudah jadi pemandangan biasa yang sering dilihat semua orang.
Begitu sampai di kelas XII D, Nadia langsung disambut suara ramai yang terdengar kompak dari berbagai arah sambil menatapnya penuh semangat.
“Selamat datang, Queen!” ucap mereka serempak.
Nadia cuma mendecih pelan sambil menggelengkan kepala. Dia langsung berjalan ke kursi paling belakang, tempat favoritnya sejak dulu karena jauh dari keributan yang nggak penting.
“Nad, siapa yang bebasin lo? Nggak mungkin nyokap lo, kan?” tanya Dino antusias sambil buru-buru mendekat ke mejanya.
Leo, Diko, dan beberapa yang lain langsung ikut mengelilingi Nadia. Kabar soal Nadia yang sempat ditangkap polisi ternyata sudah menyebar cepat ke seluruh sekolah.
“Orang tua Aldo yang ngebebasin,” jawab Nadia santai sambil mengeluarkan buku tebal dari dalam tasnya.
“What?” Dino langsung melotot nggak percaya sambil menatap Nadia dengan wajah heboh. “Si Aldo licik itu mau ngebebasin lo, Nad?”
Nadia cuma menganggukkan kepala pelan tanpa terlihat tertarik membahasnya lebih jauh.
“Gila, luar biasa,” kata Leo dengan wajah penuh rasa penasaran sambil memperhatikan Nadia dari atas sampai bawah. “Jangan-jangan dia beneran suka sama lo, Nad.”
“Omong kosong. Males banget. Sana pergi, gue mau belajar,” kata Nadia sambil mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh mereka menjauh.
Tapi Leo tetap keras kepala dan malah mendekat lagi ke meja Nadia sambil menahan senyum usil di wajahnya.
“Motor lo mana, Nad?” tanyanya penasaran.
“Masih di kantor polisi. Katanya harus orang tua yang ngambil,” jawab Nadia sambil mengembuskan napas panjang dengan wajah datar.
“Tenang aja, nanti mamang gue bantu ngurusin buat ngambil motor lo, Nad,” ucap Diko dengan nada yakin.
“Kalau menurut gue sih...” Dino menyeringai sambil melirik ke arah Nadia.
“Motor itu bakal dianter sendiri sama Aldo.”
“Omong kosong. Sana pergi,” kata Nadia sambil melambaikan tangannya lagi tanpa mengangkat kepala.
Nadia kembali tenggelam dalam angka-angka dan soal yang memenuhi bukunya. Dan kalau dia sudah mulai seperti itu, semua orang di kelas tahu satu hal.
Nadia nggak boleh diganggu.
Nadia masih tenggelam dalam buku matematikanya sambil menulis rumus demi rumus di kertas yang ada di depannya. Fokusnya begitu penuh sampai suara ribut di kelas pelan-pelan seperti menghilang dari pendengarannya.
Tiba-tiba suara langkah kaki cepat terdengar dari luar kelas, lalu seorang siswa langsung masuk dengan napas terengah-engah sambil memegang lututnya.
“Gawat! Geng BMK lagi menuju sekolah kita!” teriak Ano dengan napas yang masih naik turun karena habis lari sekencang mungkin.
Nadia langsung mengangkat kepalanya dari buku dan menatap Ano dengan tatapan tenang yang sama sekali nggak terlihat panik.
“Berapa motor?” tanya Nadia singkat sambil menutup bukunya perlahan.
“Sepuluh motor,” jawab Ano cepat sambil masih mengatur napasnya yang belum normal.
Nadia mengernyit pelan sambil berpikir beberapa detik. Kalau cuma sepuluh motor, jumlah itu terlalu sedikit buat ukuran penyerangan besar.
“Cuma sepuluh motor? Masa mereka mau nyerang?” gumam Nadia pelan sambil mulai memikirkan kemungkinan lain di kepalanya.
“Ayo siap-siap,” ucap Nadia sambil berdiri dari kursinya dengan wajah serius lalu langsung memberi instruksi pada beberapa orang di kelas.
Beberapa anak langsung bergerak mengikuti perintah Nadia tanpa banyak tanya. Sebagian mengamankan siswa lain supaya menjauh dari gerbang sekolah kalau memang benar bakal terjadi keributan.
Padahal semalam mereka baru ketemu. Kenapa sekarang malah datang ke sekolah? Pikiran Nadia terus berputar mencari jawaban yang masuk akal.
Nusantara dan Garuda memang sudah jadi rival sejak lama. Setiap tahun selalu saja ada masalah dan hampir selalu ada korban yang ikut terseret dalam pertikaian mereka.
Dan sekarang keadaan malah lebih rumit karena Nusantara dipimpin Nadia, sementara Garuda dipimpin Aldo yang sama keras kepalanya.
Raungan motor mulai terdengar dari arah gang sempit menuju sekolah. Suara mesin yang keras itu semakin mendekat dan membuat suasana sekolah yang tadi ramai mendadak berubah tegang.
Kalau soal nyali, Aldo dan Nadia memang sama-sama aneh. Dua orang itu seperti sudah kehilangan rasa takut sejak lama.
Semua orang sudah bersiap di posisi masing-masing. Nadia memang nggak memberi perintah menyerang, tapi semua orang sudah siap kalau keadaan berubah jadi kacau.
Motor-motor itu akhirnya masuk ke halaman sekolah dengan suara mesin yang menggema cukup keras. Beberapa orang langsung mengepalkan tangan sambil menunggu apa yang bakal terjadi.
“Parno banget sih kalian,” ucap Aldo santai sambil melepas kacamata hitamnya dengan wajah yang terlihat santai seperti nggak terjadi apa-apa.
Nadia menatap datar ke arah Aldo tanpa menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya.
“Mau ngapain lo?” tanya Nadia singkat.
“Gue mau balikin motor lo.”
Aldo melempar kunci motor ke arah Nadia dan langsung ditangkap dengan satu tangan tanpa kesulitan sedikit pun.
Aldo berjalan mendekat ke arah Nadia. Sementara Nadia tetap berdiri di tempat tanpa mundur sedikit pun meskipun jarak mereka sekarang sangat dekat.
Bahkan hembusan napas mereka rasanya sudah saling terasa.
“Bisa nggak kita makan bareng di tempat yang lebih kondusif?” ucap Aldo sambil menatap Nadia lekat-lekat.
“Gue udah bantu ngebebasin lo dan ngambil motor lo juga. Jadi sekarang giliran lo. Lo nggak bisa nolak.”
Aldo mengeluarkan secarik kertas lalu menyelipkannya ke tangan Nadia dengan senyum tipis yang kelihatan penuh percaya diri.
“Nih nomor telepon gue. Gue tunggu, Queen.”
Setelah mengatakan itu, Aldo langsung membalikkan badan dan berjalan santai menuju motornya.
Di depan Nadia, motor Ninja kesayangannya ternyata sudah terparkir dengan rapi sejak tadi.
Raungan motor kembali menggema memenuhi halaman sekolah sebelum akhirnya rombongan itu pergi meninggalkan suasana yang tadi penuh ketegangan.
“Tuh kan bener kata gue, Aldo suka sama lo,” ucap Diko sambil menyenggol bahu Nadia dengan wajah penuh kemenangan.
Nadia cuma mendecih pelan lalu membawa motor kesayangannya ke tempat parkir tanpa menanggapi omongan mereka.
Baru saja Nadia mengembuskan napas lega, tiba-tiba suara pengeras sekolah terdengar dari seluruh sudut bangunan.
“Nadia Salsabila kelas XII D, harap segera menuju ruang kepala sekolah.”
Alis Nadia langsung berkerut pelan. Tanpa banyak bicara, dia segera melangkah menuju ruang kepala sekolah.
Di dalam ruangan itu, Pak Lukas sudah duduk menunggu. Pria berusia enam puluh tahun yang dulunya seorang PNS itu memang sudah lama mengabdikan dirinya di SMK Nusantara.
“Nadia...” ucap Pak Lukas pelan sambil menatapnya dengan sorot mata penuh penyesalan.
“Kamu dicoret dari peserta olimpiade.”
libas saja mereka si pecundang