Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - taman bermain
Sesuai rencana yang dibuat Adista dan Langit, hari ini mereka akan pergi ke taman bermain. Mereka tidak berdua, ada Dinda dan Mikko, Genta dan Lala, Elang dan Della, serta Regan yang awalnya tidak mau, karena Adista memaksa akhirnya cowok itu mau.
“Kak, boleh ikut gak?” tanya Dito sambil duduk di pangkuan Langit. Langit hanya terkekeh dan mencubit pipi Dito.
“Tanya aja sama Kak Adis, boleh atau enggak. Kalo Kakak sih boleh aja.”
Dito langsung berlari untuk menghampiri Adista yang tengah memainkan ponselnya, sebenarnya dia mendengar rengekan Dito
untuk ikut mereka, sedangkan Alvaro, dia hanya diam sebenarnya dia ingin ikut
juga. Tapi merayu sepertinya bukan style Alvaro.
“Varo mau ikut juga?” tanya Langit, Alvaro yang duduk di samping Langit mendongakkan kepalanya.
“Kalo Kak Adis ngebolehin Varo ikut. Varo
gak suka ngerayu kayak Dito,” ucap Alvaro, Langit terkekeh dan mengacak pelan
rambut Alvaro.
Adista diam, dia juga mendengar ucapan
Alvaro membuat Adista menghela napasnya, dan dia juga kesal mendengar Dito yang
sedang berceloteh merayunya untuk ikut ke taman bermain.
“Tanya Papa aja. Kalian boleh ikut kalo
Papa ngizinin,” ucap Adista akhirnya membuat Dito bersorak dan segera berlari
menghampiri Evan.
“Memangnya kita bisa jagain Varo sama
Dito?” tanya Adista.
“Kita punya banyak pengawal,” ucap Langit
sambil terkekeh.
Dinda dan Mikko datang setelah Genta dan
Lala yang datang sambil marah-marah karena Genta yang lama menjemput Lala dan
Regan datang bersama dengan Asep dan Bayu dengan alasan kalau Regan tidak mau
sendiri sedangkan yang lain memiliki pasangan masing-masing.
“Ini teh beneran kami yang jagain Varo sama Dito?” tanya Asep lebih kepada Langit dan
Adista.
“Ya mau gimana lagi, Varo sama Dito
sukanya sama lo, bukan sama gue dan Bayu,” ucap Regan.
“Ya ampun Gusti, saya teh mau main-main disana bukannya jagain anak kecil,” ucap Asep
memelas sambil menggandeng tangan Varo dan Dito.
Langit hanya terkekeh melihat Asep, Bayu
dan Regan hanya tersenyum simpul melihat Asep, sedangkan yang lain sudah
bersiap-siap untuk pergi menuju taman bermain.
“Lala sama Genta di mobil gue. Asep, Dito
sama Varo di mobil Langit. Regan sama Bayu bawa motor,” ucap Mikko sambil
menunjuk teman-temannya.
“Nanti kalo udah sampe disana, Dito jangan
nakal ya. Dengerin kata Bang Varo sama Bang Asep,” ucap Adista berlutut di
depan Dito, Dito hanya tersenyum dan mengangguk. “Varo liatin Adeknya, bilangin
kalo Dito mau macam-macam.”
“Iya Kak,” ucap Alvaro, Adista tersenyum,
mengacak pelan rambut Alvaro dan berdiri menyuruh semuanya untuk masuk ke dalam
mobil masing-masing dan segera pergi.
“Elang sama Della mana?” tanya Adista saat
sadar kalau kedua orang itu belum datang.
“Katanya mereka nyusul, Bang Elang lagi
ada kerjaan sebentar,” ucap Genta.
Adista hanya mengangguk dan memperhatikan
satu per satu kalau semuanya sudah masuk ke dalam mobil, termasuk kedua
Adiknya, Alvaro dan Dito.
“Kak Adis udah kayak Mama aja,” ucap Dito
membuat Adista terbelalak.
“Maksudnya gimana?”
“Ya ... Kak Adis ngeliatin satu-satu orang
di mobil, ngitungin orang kalo kurang,” kata Dito membuat Adista meringis.
“Kan Kakak cuman khawatir.”
“Kak Adis kan mau latihan,” kekeh Langit
membuat Adista memukul lengan Langit. “Sakit By,” aduh Langit.
“Latihan apa Kak?” tanya Dito yang masih
saja penasaran.
Adista berdeham. “Alvaro.”
“Dito, diem,” ucap Alvaro membuat Adista
tersenyum dan Dito juga berhenti berbicara kepada Adista dan Langit, dan lebih
memilih bercerita bersama Asep.
Mereka sudah sampai di taman bermain,
Elang dan Della juga sudah sampai setelah beberapa saat menunggu mereka.
“Kita kumpul lagi disini jam satu untuk
makan siang,” kata Langit memberi intruksi, semuanya hanya mengangguk dan pergi
dengan pasangan masing-masing. Dinda dengan Mikko, Elang dengan Della, dan
Genta dengan Lala.
“Terus kita kemana Gan?” tanya Bayu, Regan
hanya tersenyum masam dan langsung menarik Bayu untuk segera pergi.
“Kita teh kemana, Varo, Dito?” tanya Asep kepada Alvaro dan Dito.
“Main komedi putar aja yuk, Bang,” ajak
Dito dengan antusias sambil menarik-narik tangan Asep.
“Dito sabar, jangan kayak gitu,” ucap
Alvaro membuat Dito berhenti menarik-narik tangan Asep. “Kak nanti kalo Dito
udah selesai main, Varo telepon Kakak.”
Adista mengangguk. “Kamu juga harus main,
jangan nungguin Dito doang. Kalo Bang Asep mau main telepon Kakak biar kamu
sama Dito Kakak yang jagain.”
Alvaro mengangguk dan segera pergi setelah
Dito tidak sabaran ingin naik komedi putar.
“Kenapa?” tanya Adista heran saat melihat
Langit yang menatapnya dengan senyum yang tertahan.
“Kamu cantik kalo perhatian gitu, masih
untuk latihan ya.”
Adista mencibir dan mencubit lengan Langit
pelan. “Apaan sih Lang, gak usah banyak omong deh,” ucap Adista menahan
senyumnya dan berjalan mendahului Langit.
“Tungguin By,” kata Langit sambil berlari menghampiri Adista dan segera
menggenggam tangan Adista. “Jangan jauh-jauh dari aku, nanti aku susah nyari
kamu.”
“Modus.”
“Modus sama pacar sendiri gak apa-apa,”
kekeh Langit sambil menautkan tangan mereka.
Adista hanya terkekeh dan berjalan
beriringan bersama dengan Langit menuju permainan pertama mereka yaitu roller coaster halilintar.
“By,
yakin mau naik ini?” tanya Langit setelah duduk di kursi roller coaster.
“Ya serius lah, orang kita udah duduk. Mau keluar juga gak bisa. Kamu
takut?” tanya Adista menahan geli saat melihat raut wajah Langit.
“Enggak By, aku takutnya kamu yang histeris.”
“Kita lihat aja nanti,” ucap Adista
menantang.
“BY
... MAU TURUN SERIUS!!” teriak Langit saat roller coaster itu sudah
berjalan, Adista hanya terkekeh dan menikmati permainannya. Disaat orang lain
teriak, Adista hanya tertawa dan menikmati angin yang menerpa wajahnya.
Adista masih terkekeh senang saat melihat
raut wajah Langit yang telah turun dari roller coaster terlihat sangat pucat. Adista
mendekat dan menepuk pelan tengkuk Langit untuk menenangkannya.
“Katanya tadi pemberani,” ejek Adista,
Langit melambaikan tangannya menyerah membuat Adista semakin semangat
menertawai Langit.
“Mau main apa lagi sekarang?” tanya Langit
setelah muka pucatnya sudah hilang dan berganti dengan raut wajah yang
menantang.
Palingan
nanti pucat lagi. Ucap Adista dalam hati masih tetap terkekeh.
“By,
kamu sukanya yang terbang-terbang gini ya?” tanya Langit saat sudah duduk di
bangku kora-kora. Adista hanya tersenyum dan menggenggam tangan Langit yang
sudah dingin.
“Kamu mau turun? Kayaknya kamu takut,”
ucap Adista khawatir.
“Enggak dong By, kamu gak ada temennya nanti.”
“Aku gak apa-apa sendirian, kalo kamu mau
turun. Turun aja, tungguin aku disana,” ucap Adista sambil menunjuk bangku yang
berada di bawah pohon, tetapi Langit tetap kekeuh ingin naik kora-kora.
“Aku pegang tangan kamu,” kata Adista
menggenggam tangan Langit erat.
Adista lagi-lagi tidak bisa menahan
tawanya saat mereka selesai naik kora-kora dan melihat wajah Langit yang pucat,
sungguh Adista suka dengan wahana yang membuat orang teriak-teriak.
“Lang, masih kuat jalan?” tanya Adista,
Langit hanya menangguk. “Kita duduk disana aja deh,” ucap Adista sambil
membopong Langit menuju bangku kosong.
Ponsel Adista berdering membuat Adista
dengan segera mengambil ponselnya itu dan melihat nama Alvaro tertera disana.
“Kenapa Ro?” tanya Adista.
“Kakak
sekarang dimana? Bang Asep mau main wahana.”
“Di depan wahan kora-kora, kesini aja bilangin
Bang Asep.”
“Iya
Kak, Varo kesana sekarang.”
“Kenapa?” tanya Langit.
“Varo mau kesini, kita istirahat aja dulu
kalo Varo sama Dito udah disini,” kata Adista, Langit hanya mengangguk.
“Kak Adis ...,” teriak Dito. “Kakak tahu
gak, tadi Dito main komedi putar sama Bang Varo dan Bang Asep, terus main-main
yang lainnya. Seru Kak,” cerita Dito antusias sambil tersenyum lebar.
Adista yang melihat Dito tersenyum lebar,
mencubit pipi Dito pelan. “Seru banget ya, sekarang biarin Bang Asepnya main.
Varo sama Dito dengan Kak Adis.”
“Iya Kak,” ucap Dito. “Bang Asep, temen
Bang Asep mana?”
“Tadi katanya nunggu di depan wahana roller coaster,” ucap Asep. “Saya teh duluan ya Dis, Lang. Regan sama Bayu
udah nungguin saya.”
“Hati-hati aja ya Sep,” ucap Langit, Asep
hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Adista menggandeng tangan Alvaro sedangkan
Langit menggandeng tangan Dito untuk menuju food
court karena Dito sudah lapar sebelum jam yang sudah dijanjikan.
Alvaro dan Dito sudah makan duluan,
sedangakan Langit dan Adista harus menunggu yang lain untuk makan siang
bersama.
“Kak Langit,” panggil Lala. “Gue, Genta,
Kak Dinda sama Kak Mikko mau pulang duluan. Katanya mau makan diluar aja.”
“Ya udah gak apa-apa, nanti kabari aja
kalo udah sampe rumah,” ucap Langit.
“Gue pulang duluan Kak Adis,” ucap Lala
dan berlalu, Adista hanya mengangguk memberikan jawaban.
* *
*
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞