Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA YANG MENUNGGU
Perut Renata sudah kenyang setelah dia makan secukupnya. Tak bisa Renata melahap semua masakan yang ada di atas meja. Dia pun memperbolehkan para pelayan dan juga ketiga lelaki yang selalu menjaganya untuk makan pagi.
"Terima kasih, aku sudah kenyang. Kalian makanlah kalau belum makan," ujarnya tersenyum pada dua asisten rumah tangga dan tiga lelaki itu.
"Baik, Nona. Terima kasih."
Mereka saling berpandangan dan tersenyum menyadari betapa baiknya sikap Renata pada mereka. Jarang sekali ada majikan yang mau mempersilakan pelayannya untuk makan. Ammar menyuruh mereka makan dulu, karena dia akan mengantarkan nonanya untuk melihat-lihat ruangan.
"Nona, saya akan antar Anda berkeliling jika berkenan. Dan ada kursi roda jika Anda lelah," ucap Ammar.
Binar di wajah Renata saat Ammar memang tahu apa keinginannya. Sungguh dia masih penasaran dengan rumah itu. Namun, untuk kursi roda, dia tak begitu berminat.
"Jalan saja, Ammar."
Mulai terbiasa memanggil Ammar dan Renata pun mulai menanyakan banyak hal pada pria itu. Ammar pun selalu dengan setia menjelaskan berbagai hal yang ditanyakan oleh Renata. Mereka berjalan mengelilingi rumah yang selalu ditegaskan oleh Ammar bahwa itu adalah milik Renata.
"Harga rumah ini tiga miliar lebih lima ratus juta rupiah, Nona. Maaf, ini laporannya," ujar Ammar yang sangat jujur itu menunjukkan lembaran-lembaran pada Renata.
Renata pun memeriksanya. Sejujurnya, dia pusing melihat deretan angka di belakang jumlah akhir dalam laporan itu. Masih banyak saja, beserta bunga bank yang beragam angkanya. Dalam hati, Renata mengagumi isi otak Ammar, lengkap dengan akhlaknya.
"Baik, Ammar. Aku ... jujur saja saat ini masih pusing melihatnya."
Renata mengurut pangkal hidungnya. Namun, dia tahu, dia harus terbiasa dengan hal itu. Pastilah Ammar akan seringkali menunjukkannya pada Renata. Dia berjanji akan mempelajari semua laporan Ammar. Dari situ, Renata jadi tahu, menjadi seorang atasan itupun tak mudah.
Mereka melanjutkan berjalan ke ruang kamar Renata. Ammar tak berani masuk. Dia pun permisi untuk makan pagi sembari nonanya beristirahat di kamar.
"Maaf, saya pilihkan kamar Anda di sini, Nona. Jika Anda tak berkenan, masih ada lima kamar di atas dan di bawah untuk dipilih," ujarnya.
"Ini saja sudah sangat nyaman, Ammar."
Renata sudah sangat-sangat bersyukur, dia mendapat rumah kontrakan kecil saja senang, apalagi kamar yang dipilihkan Ammar seluas rumah kontrakannya. Pandangannya sangat leluasa. Semua fasilitas ada. Dia kembali mencubiti pipinya. Sakit lagi.
"Silakan beristirahat, Nona. Saya ke ruang makan dulu, jika ada apa-apa, Anda bisa memanggil saya atau asisten rumah tanga yang lain," pamit Ammar.
"Baik, Ammar. Terima kasih," ucap Renata.
Pria itu berlalu dari depan pintu kamar Renata, sesaat setelah menutup pintu kamar luas itu. Dua mata Renata menyapu seluruh ruangan dengan spektrum yang sangat pas. Warna lilac dengan perpaduan abu tipis yang menenangkan. Renata sungguh masih terasa bermimpi di dalam ruangan itu. Dia berjalan perlahan mengitari ruangan. Sebuah televisi besar yang dia sendiri tak mengerti cara menyalakannya, sebuah tempat tidur yang berukuran king dengan beberapa bantal yang memang sangat empuk. Sangat jauh lebih empuk daripada kasur busa yang dirampas oleh Bu Helen dan Haris.
Di samping itu, ada satu ruangan kecil dengan sebuah lemari besar dan kamar mandi di samping kamar itu bersekat dinding. Sepertinya ruangan kecil itu digunakan untuk berganti pakaian.
Renata tergelitik membuka lemari besar di dalam ruangan kecil itu. Tangannya terulur untuk menggeser pintu lemari, dan terperangah melihat banyaknya pakaian yang baru untuk ukurannya. Satu per satu dia mematut baju-baju itu di cermin. Dress mewah, blouse elegan, beberapa set baju kantor yang tak pernah dia impikan karena takut jika impian yang melambung tinggi tak dapat tergapai. Namun, sekarang itu semua dia miliki.
Setelah rasa sakit kemarin, dia bahkan mendapatkan barang yang nilainya jauh berlipat-lipat dari yang kemarin hilang dan membekaskan rasa kecewanya.
Renata duduk di sebuah tempat yang disediakan di dalam kamar mandi, seperti sengaja diletakkan di situ agar dia bisa mudah membasuh diri. Renata menikmati waktunya di dalam kamar mandi dengan fasilitas air hangat setelah sebelumnya dia kaget karena air yang memuncrat terlalu panas, lalu secara otodidak dia belajar mengatur panas, memutar kran untuk menyesuaikan suhunya.
***
"Ammar, bisa aku minta tolong antar aku ke rumah kontrakan lagi?" pinta Renata yang sekarang telah memakai dress berwarna peach yang halus. Harga dress itu sekitaran tiga juta rupiah, membuat Renata sangat berbeda dari biasanya.
"Oh, baik, Nona. Hendry dan Samsul akan mengantar Anda."
"Baik," sahut Renata.
Renata ingat akan Bu Dian yang pasti mencarinya di kontrakan. Dia takut Bu Dian akan membawakannya makanan, lalu tak bisa menemuinya. Ini sudah agak siang dari kedatangan wanita itu, Renata berharap masih bisa bertemu dan berpamitan pada wanita itu.
Mobil telah disiapkan di depan. Dengan bantuan Samsul dan Hendry, sedangkan Ammar mengurusi dua toko yang sedang dibangun, Renata berjalan memasuki mobil.
Hendry mengemudi dan Samsul berada di sampingnya, sedangkan Renata duduk di belakang. Bau sabun yang dia pakai, dengan merk yang asing masih meninggalkan wangi semerbak bahkan beberapa menit usai dia mengeringkan tubuh. Mungkin beda sabun tiga ribuan yang sering dia pakai dengan sabun yang ada di kamar mandi barunya itu.
***
Renata menautkan kedua alisnya melihat ada dua orang sedang masuk ke gang rumahnya dengan berboncengan menaiki motor butut. Dia hapal betul kendaraan yang dipakai. Lima tahun dia membonceng si pengemudi motor itu. Bagaimana bisa lupa?
"Turunkan aku di sini saja," pinta Renata pada dua lelaki itu.
"Baik, Nona."
Samsul hendak turun membukakan pintu mobil, tapi dicegah oleh Renata.
"Sudah, Samsul. Kamu di situ saja. Aku bisa turun sendiri, dan apapun yang terjadi, kalian jangan pernah turun dari mobil. Aku minta itu."
Keduanya saling berpandangan. Mereka sangat takut terjadi sesuatu pada Nona mereka, tapi itulah kehendak sang nona. Jadi mereka hanya menurutinya. Membiarkan Renata turun dari mobil yang hanya bisa diparkir di depan gang. Lalu dengan perlahan Renata berjalan menggunakan tongkat penopangnya memasuki gang menuju ke rumah kontrakan.
Dari ujung belokan, dia bisa melihat dua orang yang kemarin datang membawa barang-barangnya sedang berdiri dengan wajah kesal di depan pintu rumah kontrakan. Dia mendesah pelan, lalu mendekat ke arah keduanya.
Bu Helen dan Haris menengok ke arah Renata. Keduanya memandangi wanita yang menggunakan tongkat penopang dengan baju yang dipakai oleh Renata. Tak disangkal, Haris kagum akan penampilan Renata. Wanita yang sebenarnya cantik dengan baju bagus dan rambut yang tergerai. Baru melihat Renata berganti baju bagus saja, hati Haris sudah berubah lagi.
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano