NovelToon NovelToon
Aku Lelah, Mas!

Aku Lelah, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Amie.H

Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊

Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

"Nggak ada apa-apa. Udah kamu diam Lika, cepat mana uang kamu sini. Hari ini Nisya pergi kerumah Mama nya, jadi selama Nisya pergi kita harus mengeluarkan uang sendiri untuk makan karna adik kamu pun tidak punya uang sementara bahan masakan di kulkas sudah habis!" kata Ibu Gani membuat mata Lika membulat sempurna.

"Ta-tapikan...."

"Sudah, diamlah!" bentak Ibu Gani pada Lika dengan mata melotot sempurna. Mau tak mau Lika pun memberikan uang pada Ibu Gani, padahal ia sudah cukup senang ketika berada dirumah Gani. Semua di siapkan oleh Nisya, baik dari makannya sampai makanan anak-anaknya. Tentunya yang enak-enak.

"Nih.. Cepat berikan Ibu dan kakak kamu sarapan, jangan lupa untuk keponakan kamu juga!" kata Ibu Gani.

"Kenapa nggak masak aja sih bu, uang segini kalau untuk beli sarapan ya langsung habis. Nanti siang kita ribut lagi siapa yang akan beli makanan!" kata Gani pada Ibunya.

"Itu urusan kamu lah Gan, kami disini itu tamu. Sesekali nggak apa-apalah kami beli, tapi masa selama disini kami yang selalu disuruh beli sendiri. Yang bener aja!" kata Ibu Gani.

"Tapi kan Ibu tau sendiri kalau Gani nggak punya uang bu!" kata Gani.

"Cari caralah, minta kek sama istri kamu itu. Biarlah dia mengirimkan uang untuk kita makan dirumah ini, jangan sampai uang kamu habis di pakai olehnya di rumah orangtuanya sana!" kata Ibu Gani membuat kepala lelaki itu pusing tujuh keliling.

"Ah ibu ini selalu aja bikin perkara sama Nisya!" Kata Gani.

"Kamu ini kenapa sih takut banget sama Nisya akhir-akhir ini, nggak kayak biasanya aja!" kata Lika.

"Bukan gitu lah kak, tapi...."

"Sudah-sudah kalau kamu nggak mau menelpon Nisya, nanti biar Ibu yang nelpon dia dan minta dia kirimkan uang untuk membeli bahan masakan selama kita disini!" kata Ibu Gani.

Dengan terpaksa, Gani pun bangkit dan mencari sarapan untuk Ibunya dan juga yang lainnya.

****

POV NISYA

Ketika sampai di rumah kedua orangtuaku, keduanya telah menyambutku dengan senyuman hangat. Ternyata dirumah itu adikku tengah berkumpul, tidak seperti biasanya yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

"Assalamualaikum" kataku menyalami tangan keduanya dengan senyum.

"Waalaikumsalam warahmatullah, Alhamdulillah kalian sampai juga. Ayo masuk, adik-adik kamu sudah nunggu dari tadi. Oiya, kemana Gani?" tanya Mama mengambil Hawa dari gendonganku.

"Mas Gani ada dirumah Ma." jawabku dengan senyum kecil. Mama tampak terdiam, kemudian senyum kecil terbit di sudut bibirnya.

"Yaudah nggak apa-apa yang penting kalian sampai disini, cucu Uti juga sampai dengan selamat. Adila ayo masuk, Ante kemarin beli donat loh kara tau kamu mau kesini" kata Mama membuat Adila tersenyum senang.

"Waahhh baik banget Ante, tumben!" kata Adila membuat Adik terakhirku itu memelototkan mata.

"Hei.. Biasanya juga Ante baik tau, kamu aja yang ngeselin!" kata Adikku, Lia.

"Sudah lah Li, kamu itu biasaan deh kalau ada keponakan kamu selalu berantem. Giliran nggak ada aja nyariin, nanyain!" kata Mama membuat Lia mengerucutkan bibir.

"Masa sih Uti Ante nyariin aku?" tanya Adila.

"Iya... Kayak kamu, kalau dirumah pasti mintanya vidio call Ante. Iyakan?" kataku pada Adila yang tertawa kecil.

"Udah-udah ayo masuk, nanti nggak jadi-jadi deh mau masuk kedalam rumah. Ayo Dila kita ambil donat yang Ante beli" kata bapak pada Adila.

"Ayo kung, kita habisin donat Ante!" kata Adila membuat Ante nya geram.

"Adilaaaaaaaaaaaa" teriak Lia yang langsung menyusul bapak dan juga Lia yang sudah berlari lebih dulu.

"Ada masalah kamu sama Gani, Nis?" tanya Mama ketika bapak dan ketiga Adikku sudah tidak ada disekitar kami.

"Biasa... Masalah kecil, tapi emang bikin kesel sih. Makanya aku kesini, walaupun sebetulnya dirumah ada mertua sama ipar aku!" jawabku.

"Loh kalau ada mereka kenapa kamu tinggal kesini? Nanti apa kata mereka, Nis. Kamu ini gimana sih?!" kata Mama dengan wajah terkejut.

"Sengaja aku menghindar Ma. Aku kesel, Mama tau tiga hari mereka dirumah bahkan stok makanan aku yang harusnya bisa untuk satu minggu itu sudah habis Ma. Tiga kali aku masak, pagi siang malam Mama tau. Aku sama sekali dibuat nggak mencicipi makanan yang aku masak, jangankan aku bahkan Adila sekalipun!" kataku dengan berapi-api.

"Astagfirullah.. yang bener kamu Nis?" tanya Mama. Aku menjawab dengan anggukkan kepala.

"Untuk apa aku bohong Ma, hari ini bahkan Ibu Mas Gani minta di buatkan redang. Tapi begitu aku minta Mas Gani untuk beli daging dan juga bumbunya, dia minta pakai uang belanja aku. Padahal, dia tau sendiri kalau uang belanja untuk dirumah itu pas-pasan sementara aku tau kalau masak untuk mereka itu nggak cukup dua ratus ribu. Apalagi ini mintanya rendang, sekali masak dua ratus ribu satu kali makan. Aku aja menghemat selama ini, terus dengan enaknya mereka datang dan minta dimasakkan ini dan itu. Yang bener aja!" kataku.

"Astagfirullah... Kenapa mereka begitu? Kok kamu selama ini nggak pernah cerita sama Mama kalau mereka memperlakukan kamu seperti itu. Terus gimana respon si Gani?" tanya Mama dengan dahi menyerit.

"Mas Gani ya begitu, kalau aku nggak nolak dia pasti meminta aku buat terus-terus nurutin keinginan keluarganya. Aku ya capek Ma, tiga hari mereka tinggal disana aja udah berlaku seenaknya dengan jadiin aku tukang masak malah aku nggak kebagian hasil masakanku lagi. Mereka nggak mikirin aku makan apa, aku lapar atau nggak. Bahkan frozen food cemilan Adila aja habis mereka yang makanin!" kataku dengan wajah kesal yang terlihat jelas.

"Astagfirullah.. Kamu sabar ya. Mudah-mudahan aja nanti Gani sadar dengan kelakuan Ibu dan saudaranya itu. Terus kamu kesini rumah gimana? Kamu tinggal gitu aja tanpa kamu amankan?" tanya Mama membuatku tersenyum kecil.

"Udah aku aman kan kok Ma. Aku bawa surat-surat penting, BPKB motor, tabungan, bahkan simpanan perhiasan dan Antam pemberian Mama sama bapak aku bawa semua nggak ada yang aku tinggal" kataku membuat Mama menghela nafas lega.

"Alhamdulillah kalau begitu, Mama takut aja kalau kamu simpan dirumah nanti pas kamu pulang akan hilang kayak waktu itu!" kata Mama.

Memang saat Adila berumur satu tahun setengah, disaat aku menginap dirumah Mama cincin simpanan aku hilang. Aku pikir aku yang lupa naruh, ternyata cincin itu aku lihat terpakai di jari manis kakak iparku. Licik bukan.

"Kamar juga aku kunci dua-dua nya kok. Aku sudah cukup hafal bagaimana kelakuan mereka Ma, makanya aku udah waspada. Masalah tanggapan Mas Gani, aku nggak peduli dia mau mikir aku kayak gimana kekeluarganya!" kataku.

"Bundaaaa.... Liat ini Ante, muka kakak jadi cemong di buat!" kata Adila yang kembali setelah mengambil donat kesukaannya.

"Apaan, dia duluan Mbak. Liat ini muka aku, udah cream coklat semua Adila buat!" kata Lia.

"Yaallah kalian ini... Lia, kamu ini kayak anak kecil aja deh!" kata Mama. Sementara aku menahan tawa melihat wajah keduanya.

"Udah sana cuci muka, nanti disemutin baru tau rasa kalian. Ini dek sekalian Adeknya ajak cuci muka!" kataku pada Lia dan juga Adila.

"Ayok cuci muka cil... Mau kamu di gigit semut, ntar mukanya bentol-bentol!" kata Lia di sambut gelengan kepala oleh Adila.

"Nis.. Sebetulnya Mama sama Bapak mau ngasih kamu sesuatu, tapi aman nggak ya kalau ngasih kamu sekarang dalam keadaan rumah tangga kalian yang kayak gini. Apalagi mertua kamu itu kayaknya masih belum bisa terima ya kalau anaknya udah menikah dengan perempuan, padahal kalian udah menikah empat tahun loh!" kata Mama membuatku sedikit bingung.

"Emang Mama sama bapak mau ngasih apa? Kenapa ngasihnya ke aku bukan ke yang lainnya?" tanyaku pada Mama.

"Adik-adik kamu itu udah pada dapat jatah masing-masing, nggak banyak sih emang tapi lumayan untuk kamu buka usaha atau lunasi rumah kamu itu biar nggak cicilan. Tapi kayaknya mendingan jangan lunasi rumah itu deh, kalau kamu mau mendingan kamu beli rumah sendiri aja lepas dari Gani!" kata Mama membuatku bingung.

"Maksud Mama apa sih, aku kok ngelag dan nggak paham gini ya?"

Bersambuuungggg

****

Hayooo gimana nih ceritanya? Sampai sini apakah ada yang kurang atau kurang greget menurut kalian? Kalau kurang greget, nanti aku buat yang lebih greget lagi buat kalian. Tapi jangan lupa ya dukung novel aku ini, jangan lupa Like, komen, vote dan juga share loh.. Biar aku semangat buat nulis, terutama dalam pertumbuhan View loh...😇🙏🥰

1
Jetva
perasaan lia baru masuk SMA..koq udah kuliah..??
AH. HASANAH
Kuat ya kak💪🙏
Jetva
papaq hanya 3 bln melihat cucunya ...beliau meninggalkan dunia ini saat anakq berusia 3 bln....klo mamaq lebih lama..hingga anakq lulus SMA...
AH. HASANAH
Kalau langsung, tamat dong ceritanya kak hehehe😄
falea sezi
cerai sat sset 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!