Haniyah gadis berparas cantik di sebuah pesantren terkenal di kota C. Peraturan pondok nya yang membuat dirinya tak bisa memiliki status hubungan yang jelas harus menerima hubungannya dengan pria yang ia sukai hanya sebatas adik kakak.
Hingga suatu hari Abah nya meninggal dan terpaksa menikah pada saat itu juga di depan jenazah Abahnya.
Ig: @euisrossy_96
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Habeebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main ke Rumah
Selesai sholat duha dan tadarus Haniyah kembali masuk kamar dan berniat untuk kembali mengayam bulu mata nya alias tidur.
Dengan memakai daster berlengan tiga perempat nya Haniyah beranjak masuk ke kamar nya. Namun saat melewati ruang tengah Haniyah menghentikan langkah nya saat melihat Irfan tengah memainkan ponsel nya dengan terus tersenyum.
Haniyah menghampiri Irfan dan meletakan tangan nya di kening Irfan.
"Enggak panas ko" ucap Haniyah masih dengan posisi yang sama.
"Ck, apaan sih" Irfan menghempaskan tangan Haniyah
"Abis nya lo senyum senyum sendiri, abis obat lo?" ledek Haniyah
"Lo pikir gue gila?" dengus Irfan
"Hahahaa" Haniyah tertawa dengan sangat keras
"Gila hareem ketawa nya gitu amat, suka dari mana nya coba Zein sama lo?" kesal Irfan
Haniyah memicing kan mata nya. Ia baru teringat akan Zein. Libur sudah tiba tapi ia belum pernah mengirimkan chat sekali pun pada Haniyah. Untuk mengawali Haniyah tidak cukup berani, masa harus cewek yang ngeduluin, gengsi dong.
"Zein udah pulang?" tanya Haniyah ragu-ragu tapi ke ingin tahuannya mengalahkan rasa gengsi nya.
"Udah" jawab Irfan enteng.
"Kapan?" tanya Haniyah selidik
"Kemaren sama gue" Irfan masih terus memainkan ponsel nya.
Haniyah tidak menjawab nya dan langsung kembali ke kamar dan memrebahkan tubuh nya di tempat tidur dan terlelap dalam mimpi tanpa menyentuh ponsel nya sama sekali yang tergeletak di samping nya.
Ia tidak tahu kalau di grup wa pondok sedang heboh Zein yang ikut pulang dengan Ari, heboh lah Inten cs di dalam grup.
Inten
Hai hai, kata nya ustadz Zein ku ikut pulang ke rumah Ari loohhh🥰
Inka
Yang bener Ten?😱
Inten
Ya, kata nya sih gitu
Lala
Kalau bener ikut emang nya nape?
Inten
Mau nyamperin gkgkgk🤣🤣
Lala
Dih, jadi hareem ko ganjen. Nyosor duluan😝
Inten
Bukan nyosor, tapi usaha mau ngedeketin kali ajah jodoh ea ea eaaa🤣🤣
Lala
Gilaaa😜
Naya
Bukan nya mba Niyah rumah nya deket sama Ari?
Inten
Yang bener cong?
Naya
Kalo gak salah sih iya🤔
Inten
@mba Niyah bener gak?
Inka
Mba niyah lagi ka on dodol
Inten
Yah😓
Lala
Gak usah pada ribut astaga😠 japri aja sama orang nya duhh bikin rame grup aja😩
Inten
Hee iya maaf maaf🙏
Mereka akhir nya mengakhiri obrolan di grup tersebut dan ya Inten berpindah japri ke Haniyah.
Inten
p
Mba Niyah😊
apa bener rumah mba niyah deket sama rumah Ari?
hallo
Di bales dong mba😭
Yah, mba Niyah, hiks😭
Di sebrang sana Inten berdecik kesal karena pesan nya belum juga di balas oleh Haniyah, jangankan di balas di baca pun belum.
******
"Ami, Zein mau kesini sekarang" Irfan berbicara saat terlihat Abah Haniyah masuk ke dalam rumah
"Oh, silahkan. Sekalian buka puasa di sini bareng"
"Yang bener Mi?" tanya Irfan memastikan
"Iya, udah Ami mau istirahat dulu"
Irfan pun mengiyakan. Kemudian ia bangkit dan bersiap menjemput teman nya tersebut.
Dengan berjalan kaki selama 5 menit akhirnya Irfan sampai ke rumah Ari
"Assalamu'alaykum Ri, Ariiiii" teriak Irfan dari luar gerbang
"Iya wa'alaykum salam" seorang perempuan keluar dari rumah dan membukakan gerbang yang tak lain adalah Leha, ibu nya Ari.
"Eh tante, Ari nya ada tan?" tanya Irfan malu karena tadi berterik-teriak memanggil Ari
"Adan Fan, ayo masuk"
Irfan pun masuk mengikuti Leha ke dalam rumah dan menuju ruang tengah.
"Ri, ini ada Irfan"
Ari dan Zein pun menoleh ke arah suara.
"Eh bang Irfan, ayo kemari bang!" seru Ari
Irfan mun menghampiri Zein dan Ari sedangkan Leha entah kemana ia pergi.
"Jadi gak lu cong maen ke gue?" tanya Irfan pada Zein
"Jadi, tapi gue malu" jawab Zein
"Lah, malu napa?" Irfan merenyutkan dahi nya mendengar jawaban Zein
"Sama Abah nya Niyah"
"Gue udah minta izin sama Ami, Ami ngijinin ko malahan di suruh buka puasa bareng" tutur Irfan
"Yang bener?" seketika Zein bangun dari posisi tidur nya dan duduk menghadap Irfan
"Iya bener lah"
"Aya berangkat sekarang" Ajak Zein penuh semangat
"Semangat banget lu" ledek Irfan
Zein tidak menggubris perkataan Irfan ia langsung menyambar baju kemeja nya lalu memakai nya.
*****
Sudah hampir 1 jam Zein berada di rumah Haniyah. Zein sangat terlihat akrab dengan Abah Haniyah. Sesekali mata Zein melirik ke sana kemari mencari-cari Haniyah.
"Abah tinggal dulu ya, nak Zein buka puasa di sini saja ya!" titah Abah
"Iya Abah, syukron"
"Anggap rumah sendiri ya"
Abah Haniyah pun berjalan ke dalam kamar.
Sementara di dalam kamar Haniyah mulai mengerjapkan mata nya, Haniyah pun bangun dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu sholat.
Selesai sholat Haniyah berniat membantu Lina, ibu nya di dapur. Ketika di dalam rumah Haniyah memang tidak suka memakai kerudung, meski pun terlihat oleh Irfan ia berfikir masa bodo toh dia mahrom nya.
Haniyah mengkuncirkan rambut nya hingga terlihat memamerkan leher putih jenjang nya.
Ceklek
Haniyah membuka pintu kamar nya. Terlihat wajah Zein sedikit menegang melihat pintu itu terbuka.
Haniyah tidak langsung menoleh ke arah Irfan dan itu berarti Haniyah belum menyadari kalau di sana ada Zein.
"Lo masih betah duduk di situ Fan? Gak tepos tah pantat lu" tutur Haniyah dengan membelakangi Irfan berusaha melepaskan baju nya yang mengait ke pintu
"Kaga, yang tepos pantat nya Zein"
"Apa urusan nya?" masih berkutik dengan lengan baju nya yang mengait ke pintu, bukan nya lepas jahitan nya malah semakin mengait.
Sementara Zein hanya terdiam melihat Haniyah dengan wajah cengo nya. Ia tidak menyangka akan melihat Haniyah yang tanpa berkerudung.
"ckk, tadi pagi saja so nanyain" decik Irfan
"Diem lo, bantuin gue ini susah" pinta Haniyah pada Irfan lalu membalikan badan nya.
Seketika Haniyah diam. Ia terkejut sekaligus malu melihat Zein ada di depan nya. Apalagi keadaan nya sekarang tanpa berkerudung.
Mata Haniyah dan Zein saling bertemu. Wajah Haniyah memerah, sesegera mungkin ia melepaskan lengan baju nya yang mengait ke pintu dan kembali masuk ke kamar.
"Itu Zein? Apa bener itu Zein?" Haniyah mencoba menepuk pipi nya untuk membuktikan ia mimpi atau tidak sekarang Zein ada di rumah nya.
Haniyah meraih ponsel nya, ia melihat banyak sekali chat yang masuk termasuk dari Inten. Ia membuka laman chat grup yang ternyata heboh dengan pembicaraan Zein yang main ke rumah Ari.
"Berarti bener dong itu Zein?" lirih Haniyah dengan menggigit kuku jari nya.
Haniyah
Lo yang bener aja ngajak Zein maen ke rumah?
Irfan
Zein yang mau, lagian Ami juga ngijinin😛
Haniyah
Sialan lo, gue kan malu
Irfan
Punya malu juga lo
tok.. tok.. tok..
"Han, bantuin Ibu" panggil Lisa
"Iya Bu bentar" Haniyah meletakan hp nya dan segera mengganti baju nya tak lupa memakai kerudung nya.
*****
Sore itu Zein ikut berbuka puasa di rumah Haniyah. Selama makan tak jarang Zein mencuri pandang terhadap Haniyah yang terus menundukan wajah nya.
Sementara Abah Haniyah hanya tersenyum menyaksikan itu. Ia tahu bahwa pemuda yang bertamu ke rumah nya itu sebenarnya menyukai putri semata wayang nya.
"Lo pulang kapan" tanya Irfan pada Zein yang tengah duduk bersantai di teras rumah bersama Abah Haniyah.
"Besok siang, balik dulu ke pondok terus langsung pulang" jawab Zein santai.
"Nak Zein umur berapa?" tanya Abah
"25 Abah" jawab Zein
"Sudah punya calon?"
Deg.. deg..
Tiba-tiba jantung Zein berdegup kencang. "Kenapa Abah Haniyah tiba-tiba bertanya seperti itu?" gumam Zein dalam hati.
"Hee, belum Abah. Lagi nyari, mudah-mudahan cepet dapet jodoh nya. Minta do'a nya Abah" tutur Zein
Abah Haniyah mengaggukan wajah nya.
"Kapan-kapan main ke sini lagi ya nak Zein, ajak juga orang tua nak Zein biar bisa saling silaturahmi" Abah Haniyah berkata penuh pemaknaan.
"In syaa Allah Abah" Zein tersenyum manis merasa mendapat lampu hijau dari Abah gadis yang ia sukai.
Sementara itu Irfan yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Zein dan Abah Haniyah mendadak kaget mendengar Abah nya Haniyah meminta Zein untuk datang ke sini lagi.
"Wiiihhh udah dapet lampu ijo nih ustadz bro" sambil menepuk-nepuk pundak Zein
"Apaan sih calon adik ipar hahahaaa" semua nya terkekeh mendengar Zein menyebut Irfan calon adik ipar nya.
Abah, Irfan dan Zein menghabiskan malam dengar mengobrol ke sana kemari. Sementara Haniyah terus saja mengurung diri di kamar karena malu campur grogi bila harus bertemu Zein.
haniyah yg jatuh diselokan,pingsan terus dipanggilin tukang pijat ma Zein,apa kabarnya??/Left Bah!//Left Bah!//Left Bah!/