NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Wanita Berdarah Dingin dari Keraton Kadiri

Matahari baru saja terbit di ufuk timur, memecah kabut tebal yang menyelimuti perbatasan Alas Purwo.

Di sebuah kedai bambu reyot yang terletak di jalur perdagangan antara Kadipaten Blambangan dan Kerajaan Kadiri, suasana tampak sunyi.

Hanya ada beberapa pedagang pasar yang duduk terkantuk-kantuk sambil menyeruput wedang jahe hangat.

Di sudut paling gelap kedai tersebut, Satria Pamungkas duduk dengan tenang. Ia mengenakan jubah hitam lusuh dengan caping bambu yang sengaja diturunkan untuk menutupi sebagian wajahnya.

Tubuhnya yang kemarin malam dipenuhi luka menganga, kini tampak tegap dan memancarkan aura yang sangat bersih, buah dari Pil Pemurni Sumsum Surgawi.

Sambil memegang cangkir tanah liat berisi air putih, mata tajam Satria tidak pernah lepas dari jalan setapak di luar kedai.

Ia sedang menunggu.

Berdasarkan memori dari kehidupan lamanya, hari ini adalah hari di mana sebuah kereta kuda penting dari ibukota akan melintas membawa sosok yang sangat krusial bagi rencana masa depannya.

"Sistem, tunjukkan statusku saat ini," perintah Satria di dalam benaknya secara dingin.

[Bip! Menampilkan Status Inang:]

• Nama: Satria Pamungkas

• Ranah Kekuatan: Ranah Wira (Tahap 3)

• Ajian/Mantra: Ajian Pedang Pembelah Lautan (Penguasaan: 15%)

• Poin Sistem: 2.500 Poin

Satria mengangguk pelan. Sisa poinnya menipis setelah pembelian kitab pedang kemarin malam, namun itu bukan masalah.

Tiga ekor serigala siluman dan beberapa bandit kecil yang berani menghadangnya di jalan keluar hutan tadi subuh telah dipotong menjadi dua, memberinya tambahan poin intimidasi yang lumayan untuk sekadar bertahan hidup.

Gemuruh... Gemuruh...

Tiba-tiba, suara derap kaki kuda yang seirama dan berat terdengar dari kejauhan. Tanah di sekitar kedai bambu mulai bergetar pelan. Para pedagang yang tadinya terkantuk-kantuk langsung menoleh dengan wajah tegang.

Dari arah barat, sebuah iring-iringan mewah muncul. Dua puluh prajurit berkuda dengan zirah perak mengawal sebuah kereta kencana yang terbuat dari kayu jati berukir emas.

Pada dinding kereta tersebut, terdapat lambang matahari terbit dengan corak teratai—lambang resmi keluarga inti Kerajaan Kadiri.

Namun, yang menarik perhatian Satria bukanlah kemewahan kereta tersebut, melainkan hawa membunuh yang pekat yang mengintai dari balik semak-semak di seberang jalan.

Sret! Sret! Sret!

Tanpa peringatan, puluhan anak panah berujung hitam melesat dari dalam hutan, menghujani iring-iringan prajurit tersebut. Beberapa kuda menjerit kesakitan, roboh ke tanah bersama penunggangnya.

"Penyergapan! Lindungi Gusti Ayu!" teriak sang Senopati pengawal, menghunus pedang panjangnya dan menangkis anak panah yang datang.

Dari dalam hutan, melompat keluar sekitar tiga puluh orang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah. Mereka menenteng golok besar dan gada berduri.

Dari kepulan Prana yang menyelimuti tubuh mereka, Satria bisa melihat bahwa pemimpin mereka setidaknya berada di Ranah Wira Tahap 5, sementara sisanya berada di Tahap 1 dan 2. Itu adalah gerombolan pembunuh bayaran tingkat tinggi, bukan sekadar bandit kelaparan.

Pertempuran pecah dengan sangat brutal di depan kedai—jeritan kematian, dentingan logam, dan cipratan darah mengotori tanah berdebu.

Para pedagang di dalam kedai berteriak histeris dan berlarian menyelamatkan diri ke bagian belakang.

Hanya Satria yang tetap bergeming di kursinya, dengan tenang menyeruput air putihnya seolah-olah pertumpahan darah di depannya hanyalah sebuah pertunjukan ketoprak gratis.

Brak!

Pintu kereta kencana hancur berkeping-keping akibat hantaman gada dari salah satu pembunuh.

Namun, sebelum pembunuh itu bisa merangsek masuk, seberkas cahaya putih keperakan melesat dari dalam kereta, menebas leher pria tersebut hingga putus dalam satu gerakan yang sangat anggun.

Sesosok wanita melangkah keluar dari dalam kereta. Ia mengenakan kemben sutra berwarna hijau zamrud yang dipadukan dengan kain jarik bermotif parang rusak.

Rambut hitamnya yang panjang disanggul rapi dengan tusuk konde emas berbentuk burung merak. Wajahnya luar biasa cantik, dengan kulit seputih pualam dan bibir merah merekah.

Namun, yang paling menonjol dari wanita ini adalah matanya—sepasang mata yang sedingin es utara, tanpa ada sedikit pun riak ketakutan di dalamnya.

Dia adalah Dyah Sekar Ayu, Putri Mahkota Kerajaan Kadiri yang sedang melakukan perjalanan diplomatik rahasia.

"Kalian merencanakan ini dengan sangat rapi, tikus-tikus Blambangan," ucap Dyah Sekar Ayu, suaranya terdengar merdu namun membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Di tangan kanannya, ia memegang sebuah selendang sutra putih yang dialiri Prana murni, membuatnya menjadi sekeras baja.

[Bip! Mendeteksi Heroine Utama berpotensi tinggi: Dyah Sekar Ayu.]

• Identitas: Putri Mahkota Kadiri, Jenius Taktis.

• Ranah Kekuatan: Ranah Satria (Tahap 1).

• Catatan: Memiliki garis keturunan Darah suci dewi sri. Jika Inang berhasil menaklukkannya, fungsi Asmaragama Siphoning akan memberikan berkah spiritual masif dan menyalin bakat bawaannya secara instan.

Satria yang mendengar suara sistem di kepalanya langsung menyipitkan mata.

'Ranah Satria Tahap 1? Di usia semuda itu? Pantas saja dia disebut jenius nomor satu di wilayah barat,' pikir Satria.

Namun, ia juga menyadari satu hal. Meskipun ranah sang putri lebih tinggi, ia saat ini sedang dikepung oleh formasi pembunuh yang menggunakan racun pelemah Prana.

Asap hitam samar yang keluar dari sisa anak panah tadi mulai memengaruhi gerakan anggun sang putri—tempo serangannya perlahan melambat.

"Hahaha! Gusti Ayu, menyerahlah! Adipati kami menyapa Anda. Hari ini, kepala Anda akan menjadi hadiah terbaik untuk meruntuhkan moral pasukan Kadiri!" Pemimpin pembunuh berbaju hitam melesat maju, golok besarnya memancarkan aura merah menyala—Ajian Amarah Geni.

Duak!

Selendang sutra Dyah Sekar Ayu berbenturan dengan golok besar tersebut.

Meskipun berhasil menahan serangan, tubuh sang putri terdorong mundur beberapa langkah, seteguk darah segar merembes dari sudut bibirnya yang indah.

Racun di udara sudah mulai merusak aliran Prana di pembuluh darahnya.

Para pengawalnya sudah tewas seluruhnya, menyisakan dirinya sendirian di tengah kepungan belasan pembunuh yang tersisa.

Dyah Sekar Ayu menggertak gigi, wajah cantiknya pucat namun tatapannya tetap penuh keangkuhan seorang bangsawan tertinggi. "Bahkan jika aku mati, dinasti kalian akan hancur dibakar kemarahan ayahandaku!"

"Sayang sekali, Anda tidak akan hidup untuk melihat hari itu!" Pemimpin pembunuh mengangkat goloknya kembali, bersiap melakukan tebasan pamungkas untuk memenggal leher sang putri.

Dyah Sekar Ayu memejamkan mata, bersiap menerima takdirnya yang tragis.

Namun, tebasan yang dinantikan tidak pernah tiba.

Sreeet!

Sebuah suara robekan udara yang sangat tajam dan melengking bergema, disusul oleh suara dentingan logam yang keras.

Pemimpin pembunuh itu terbelalak ketika melihat golok besar kebanggaannya tiba-tiba patah menjadi dua bagian yang sempurna.

Tidak hanya itu, sebuah garis merah vertikal muncul di tengah dahinya, terus menjalar turun hingga ke dadanya.

Pret... Tubuh pemimpin pembunuh itu terbelah menjadi dua bagian yang simetris, ambruk ke tanah dengan organ dalam yang berhamburan.

Blood murni membasahi ujung kaki Dyah Sekar Ayu.

Di hadapan sang putri, berdiri seorang pemuda bercaping bambu yang baru saja menurunkan dua jarinya yang masih memancarkan sisa aura biru keputihan dari Ajian Pedang Pembelah Lautan.

"Si... siapa kamu?!" tanya salah satu pembunuh yang tersisa, suaranya gemetar hebat melihat pemimpin mereka yang berada di Ranah Wira Tahap 5 mati dalam satu kedipan mata tanpa sempat menggunakan seluruh kesaktiannya.

Satria tidak menjawab. Di bawah perlindungan capingnya, matanya menatap para pembunuh itu seperti seorang algojo yang sedang melihat tumpukan daging mati.

Sifat anti-heronya membuat Satria tahu, tidak ada gunanya membuang waktu untuk berdialog dengan sampah yang sebentar lagi akan menjadi sumber poinnya.

"Sistem, aktifkan fungsi intimidasi maksimal melalui gerakan tubuh," perintah Satria dingin.

[Bip! Memancarkan gelombang niat membunuh terfokus...]

Satria melangkah maju satu langkah. Tekanan udara di sekitar kedai bambu mendadak turun drastis.

Prana di dalam tubuh Satria melonjak, membentuk pusaran angin kecil yang menerbangkan daun-daun kering di sekitarnya.

Bagi belasan pembunuh yang tersisa, pemuda di depan mereka tiba-tiba tampak seperti raksasa ghaib yang keluar dari perut Alas Purwo.

"Lari! Dia monster!" teriak salah satu pembunuh yang mentalnya sudah runtuh total.

"Sudah kubilang bukan? Terlambat," bisik Satria dengan nada suara yang sangat datar namun mematikan.

Tangan kanan Satria bergerak melingkar di udara. Ajian Pedang Pembelah Lautan dilepaskan dalam skala penuh.

Lima berkas cahaya tajam berbentuk bulan sabit melesat dari ujung jarinya, mengejar para pembunuh yang mencoba melarikan diri ke dalam hutan.

Jleb! Jleb! Jleb!

Tanpa ada satu pun yang meleset, berkas cahaya Prana itu menembus punggung mereka, memotong jantung dan memutus urat nadi mereka dalam sekejap.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, seluruh area di depan kedai berubah menjadi kuburan massal yang sunyi. Bau anyir darah kembali memenuhi udara pagi.

[Bip! Anda telah membantai seluruh faksi pembunuh bayaran Blambangan.]

[Memicu Intimidasi Mutlak pada target saksi hidup (Dyah Sekar Ayu).]

[Mendapatkan: 15.000 Poin Sistem.]

[Saldo Poin saat ini: 17.500 Poin.]

Satria membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Dyah Sekar Ayu yang saat ini sedang terduduk lemas di tanah sambil memegangi dadanya yang sesak akibat racun yang mulai menjalar ke jantung.

Meskipun tubuhnya gemetar akibat kombinasi ketakutan atas kekejaman Satria dan efek racun, mata sedingin es milik sang putri masih mencoba menatap Satria dengan sisa-sisa harga diri keratonnya.

"Siapa... siapa Anda sebenarnya? Mengapa seorang pendekar tingkat tinggi sepertimu berada di tempat terpencil ini?" tanya Dyah Sekar Ayu dengan napas yang tersengal-sengal. "Apakah... apakah kamu juga diutus oleh Blambangan untuk menangkapku hidup-hidup?"

Satria melangkah mendekat, berhenti tepat di depan tubuh lemas sang putri. Ia mengulurkan tangan kirinya, lalu dengan gerakan yang kasar namun posesif, ia mencengkeram dagu Dyah Sekar Ayu, memaksa wanita cantik itu untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata hitamnya yang seolah tidak memiliki dasar.

"Jika aku ingin membunuhmu, kepalamu sudah menggelinding bersama sampah-sampah itu sejak tadi, Gusti Ayu," jawab Satria, suaranya terdengar sangat rendah dan mendominasi. "Mulai hari ini, hidupmu, jiwamu, dan seluruh kesaktianmu... adalah milikku. Ingat itu baik-baik di dalam kepalamu yang cerdas itu."

Dyah Sekar Ayu tertegun, jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena ketakutan, tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seorang pria yang berani memperlakukannya dengan begitu dominan dan tidak sopan, namun memancarkan kekuatan mutlak yang membuat seluruh pertahanan dirinya runtuh begitu saja.

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!