Ini hanyalah kisah romansa remaja yang dialami Alisha, remaja SMA ketika ia dekat dengan seorang anak laki laki yang berbeda dengan dirinya. Keseharian berjualan kaki lima tak surut untuk Alisha dalam mendekati Dika yang diam diam menyimpan kesempurnaan dalam hidupnya.
"Aku menyukainya.. tidak mau menahu akan pandangan orang orang disekitar akan dirinya, karena hanya aku yang mengetahui segalanya mengenai dia, Dika Arya."
Alisha Puteri,
"Sejak kapan kamu menjadi sosok puitis?"
Dika Arya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana Farida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalung Antik
Pukul setengah sebelas Alisha, Kina, dan Dina keluar dari sekolah hendak pergi ke pasar. Dika hendak mengikuti untuk pulang ke rumah, namun langkahnya terhenti karena seruan dari Bu Yanti yang meminta Dika untuk pergi ke ruang kepala sekolah. Dika pun segera memenuhi perintah Bu Yantu yang kini berjalan di depan Dika.
Dika berjalan sambil memikirkan kenapa ia bisa dipanggil oleh kepala sekolah. Hingga sampai di depan pintu ruang kepala sekolah, Dika masih memikirkan hal tersebut dan tidak menyadari bahwa sudah ada beberapa guru yang menunggu kehadirannya bersama Bu Yanti.
"Duduk Dik." Perintah Pak Joko selaku kepala sekolah agar Dika duduk di kursi yang kosong.
Pak Joko kini menjelaskan maksud dipanggilnya Dika oleh Bu Yanti. "Sebelumnya bapak minta maaf karena pihak sekolah tidak sempat menjengukmu. Namun bapak ingin menyelesaikan dengan baik apa yang terjadi kemarin saat pertandingan."
"Bapak sudah mengajukan kepada kepala sekolah bersangkutan untuk menindak dan menangani murid tersebut. Dan sekolah itu memutuskan untuk menunda kenaikan kelas pada murid itu."
Perkataan Pak Joko sontak membuat Dika terkejut. 'Jadi Alex akan tinggal kelas selama setahun?'
"Apa tidak terlalu berlebihan pak? Maksud saya, kejadian itu biasa saat bertanding. Dan saya hanya mendapatkan luka kecil. Lagi pula, Alex sudah meminta maaf dan mau bertanggung jawab atas perbuatannya saat saya sedang diperiksa di rumah sakit."
"Dik, Meskipun hal itu sudah biasa terjadi di dalam pertandingan, itu sudah termasuk tindakan kekerasan. Sekolah menindaknya agar hal tersebut tidak terulang lagi." Sela Bu Yanti mencoba memberi pengertian kepada Dika.
"Tapi pak, apa bisa diperingan lagi? Saya mohon pak. Saya kira itu terlalu berat apabila harus tinggal kelas pak."
"Saya harus berbicang dulu dengan kepala sekolah yang terkait. Karen itu juga hanya keputusan mereka. Bapak tidak ikut campur. Bapak hanya meminta mereka menindak tegas muridnya yang telah berbuat kekerasan di sekolah bapak."
"Sebelumnya, apa kalian terlibat sesuatu di luar sekolah?" Kali ini Pak Darma selaku ketua BK bertanya.
"Tidak pak."
"Benar Dik? Jangan takut untuk memberitahu bapak. Biar nanti bapak bisa menyelesaikan jikalau ada masalah pribadi diantara kalian berdua."
"Saya tidak memiliki permasalahan dengan siapapun pak. Mungkin Alex hanya terbawa suasana permainan."
"Hh Baiklah. Saya kira sudah cukup. Kamu boleh pulang sekarang."
"Baik pak."
"Oh ya, selamat atas pencapaianmu yang menjadi terbaik tahun ini. Kau tahu? Baru kali ini sekolah mendapat nilai dari muridnya yang sempurna. Bapak sangat bangga padamu. Tingkatkan terus belajarnya."
Kemudian Dika berjalan meinggalkan ruang kepala sekolah. Ia pulang dengan berjalan kaki karena bahunya masih terasa sakit saat digunakan untuk bersepeda.
Di persimpangan jalan, Dika menemukan seorang penjual petasan dan aksesoris. Dika menghampirinya dan menanyakan detail barang yang dijual.
"Saya beli petasan yang itu pak."
"Berapa jang?"
"Dua saja pak. Kembang apinya lima bungkus."
Kemudian Dika melihat lihat aksesoris yang bergantungan sembari menunggu pedagang itu membungkus pesanannya. Setelah selesai, Dika membayarnya sesuai harga dari pedagang tersebut.
Dika memasukkan kresek berisi petasan dan kembang api itu ke dalam tasnya. Kemudian ia kembali melanjutkan jalannya.
Di dekat alun alun kota, Dika berhenti sejenak dan membeli air mineral di pedangang kaki lima karena merasa haus.
Dilihatnya sekeliling, Dika kini menyadari bahwa kios di sampingnya yang telah lama tutup kini kembali terbuka. Ia mengenal baik pemilik kios yang menjual barang antik itu. Seorang kakek tua keturunan Cina asli yang tersohor di kota itu. Bisnis barang antiknya berjalan dengan lancar hingga menuju pasa internasional. Namun beberapa tahun kebelakang kios itu di tutup dan tidak melakukan jual beli lagi karena beberapa alasan.
Yang Dika tahu, bisnis keluarga Paman Yuan mengalami kebangkrutan akibat pengelolaan bisnis yang kurang tepat oleh anak anaknya.
Dan mungkin kali ini, Paman Yuan ingin kembali membuka usahanya untuk berjualan barang antik.
Dika menghampiri kios itu. Ia disambut senang oleh Paman Yuan karena sudah lama mereka tak bertemu. Dika sangat akrab dengannya karena dulu ia sering mengantar gorengan pesanan Paman Yuan.
"Bagaimana kamar paman?" Tanya Dika sambil melihat ke dalam kios yang terlihat sepi.
"Lihat, paman tetap sehat." Ujarnya sambil melihat tubuhnya yang masih kuat dan sehat meskipun sudah tua.
"Kau sekolah sekarang? Syukurlah, aku tidak perlu lagi memanggil satpol pp untuk membujukmu sekolah haha."
"Jadi paman yang melakukan semua itu?" Mata Dika memicing melihat Paman Yun.
Paman Yuan tertawa dan berkata. "Aku tidak suka melihat anak yang seharusnya mencari ilmu malah asik berjualan. Itu bukan masanya Dik."
"Hm aku memang bandel paman."
"Kamu mengakuinya Dika." Mereka berdua pun tertawa.
Kemudian Paman Yuan bergerak untuk membersihkan barang jualannya dari debu. Dika bangkit dan membantu Paman Yuan.
"Sejak kapan paman membuka kios lagi?" Tanya Dika yang kini mengambil kemoceng dan membersihkan guci antik yang terlihat berkilauan setelah dibersihkan dari debu.
"Sejak kemarin. Paman berpikir, tidak ada salahnya membuka kembali meskipun harus paman yang sudah tua ini turun langsung. Kau tahu? Anakku yang belajar ekonomi di Singapura itu tidak mau lagi membuka kios ini. Ia lebih suka bekerja pada orang lain. Padahal apa enaknya jadi bawahan? Begini begini juga aku ini bos."
"Iya paman. Semoga bisnisnya kembali lancar."
"Ya, kau harus meneruskan usahaku ini kalau aku sudah tak ada."
Dika hanya tersenyum menanggapi. Kemudian Dika terdiam mengamati sebuah kalung yang memiliki bandul lingkaran yang ditengahnya berbentuk huruf A dalam tulisan Hanzi.
"Bagus kan? Itu dari makau. Aku lupa sejarahnya bagaimana, itu sudah beberpaa tahun yang lalu." Ucap Paman Yuan menginterupsi perhatian Dika akan kalung tersebut.
"Bagus paman."
"Kau sepertinya terlihat ingin memilikinya." Tebak Paman Yuan yang tepat sasaran. Namun Dika mengelak karena sudah tahu harga yang dijual di kios Paman Yuan selalu jutaan.
"Tidak paman."
"Jangan membohongiku. Kau mau memberikannya ke seseorang kan?"
"Paman cenayang?"
"Haha bukan. Paman cuma nebak."
"Mana ada yang bisa tepat sasaran begitu?"
"Berarti aku benar." Paman Yuan tertawa setelahnya.
Dika merasa malu karena kesalahan dalam biacaranya. Ia merutuk dalam hati.
"Ambillah. Gratis untukmu."
"Tidak paman, itu pasti mahal. Kau baru saja membuka tokomu."
"Hey, aku sedang memberikan promo pembukaan untuk tokoku. Dan aku akan memberikan gratis kepadamu karena sudah membantuku."
"Benarkah paman?" Tanya Dika memastikan dengan penuh pengharapan.
"Ya, cepat simpan dalam tasmu."
Dika pun mengucapkan banyak terima kasih pada Paman Yuan yang telah memberinya secara percuma. Dika mengamati kalung itu sebentar sebelum ia menyimpannya di dalam tas sekolahnya.
Setelah itu, Dika kembali melanjutkan membersihkan barang barang antik itu dengan cekatan.
"Kau punya pacar heh?" tanya Paman Yuan melihat tingkah Dika yang sangat berbeda dari terakhir mereka bertemu. Kini Dika lebih berseri seri dan tiba tiba menginginkan sebuah kalung yang berbandul huruf A dengan model untuk perempua.
Dika hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Paman Yuan. Tidak mungkin ia mengatakannya secara terang terangan pada pria yang jauh lebih tua darinya. Ia merasa itu sangat tidak sopan.
"Hah kau ini. Aku sudah mengharapkanmu dengan Liu Mei. Kau tahu? Dia kini sedang sekolah kedokteran di Hongkong." ucap Paman Yuan yang sedang membicarakan anak perempuannya yang bungsu.
"Paman, Liu lebih tua dua tahun dariku."
"Kau tidak menyukainya?"
Dika menggelengkan kepala sedikit merasa tak enak pada Paman Yuan. Paman Yuan menghela nafas dan berbicara, "Anakku itu cantik, kau tidak mau menyukainya? Padahal dia sudah seperti si mawar yang selalu ia bicarakan padaku."
"Mawar?" Tanya Dika heran mendengar nama seseorang yang asing di telinganya.
"Iya, dia yang suka nyanyi di Korea." jelas Paman Yuan.
Dika hanya menganggukkan kepala seolah mengerti. Padahal ia sama sekali tidak mengetahui siapa itu mawar yang menyanyi di Korea.
Aduh gak bisa ikutan aku😭
Doaku, semoga dikau sukses di lapak sebelah ya..!
Ini aku admin gc mu, aku udh gak menerima member karna gc sekarang pada sepi, takut cuma nampung doang sedang kita disana sering bertukar poin. Member disana asli sudah terpercaya dan memanfaatkan gc sebijak mungkin.
begitu berat... tapi gak apa lahh,
Semangat terus kak Yul😁😆😆
jangn buat konflik yg berat2 dong. msa crita ny di pisah kn melulu. 😣😣
ap lgi klw ad smpe ad konflik lupa ingatn dn gk ingt dgn pasangn ny.
tpi kmu suka kn liiiiisssshhh