Kisah cinta seorang wanita yang berlumuran dosa yang dipertemukan dengan lelaki sholeh
Thara dijodohkan dengan Ayaz lantaran tidak tahan dengan sikap anaknya yang liar dan diluar kendali. Surya yang merupakan ayah dari Thara memilih Ayaz, yang merupakan murid teladannya dulu. Dia yakin bersama Ayaz, Thara akan berubah menjadi wanita baik-baik. Mengingat reputasi Ayaz yang gemilang dan juga ke shalehannya.
Namun keluarga Ayaz tidak setuju anaknya dinikahkan dengan wanita liar seperti Thara. Ibunya takut hal itu akan membuat malu nama baik keluarga. Namun karena Surya banyak berjasa pada Ayaz. Membuat pria itu mau tidak mau menyetujui perjodohan itu.
Lalu bagaimana rumah tangga mereka, mengingat sifat mereka yang sangat jauh bertentangan.
Apakah Ayaz mampu mendidik istrinya? membuat Thara jatuh cinta atau malah menyerah karena tidak tahan dengan wanita itu.
"Tidak ada yang menginginkan pernikahan ini! untuk apa ditanggapi dengan serius. Urus, urusanmu sendiri. Jangan ikut campur dengan urusanku!!"
"Memang kita tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehendak ALLAH. Kau adalah amanah dari ayahmu untukku, Thara. Dan tanggung jawabku begitu besar terhadapmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Kamu tidak akan menemukan tempat jika hatimu terasa sakit. Mau pergi kemana? dengan luka yang selalu kau bawa serta. Mau mengelilingi bumi sekalipun kau akan tetap merasakan nyeri, Nak...
Jika kau bersungguh-sungguh ingin sembuh. Sembuhkanlah dirimu dari dalam. Perlahan-lahan mulailah dari memaafkanmemaafkan kemudian mengikhlaskan. Maka kau tidak perlu pergi kemana-mana hanya untuk menghindari luka itu.
"Papi...? Apa benar ini Papi. Ya Allah, Papi Thara kangen.... tolong peluk Thara, Pi."
Aku berlari mendekatinya. Papi tadi bicara padaku. Rasanya sangat dekat. Tapi kenapa saat aku berlari mendekatinya dia semakin menjauh.
"Papi...!"
"Kau pasti bisa melewati ini, Nak. Bersabarlah sedikit lagi."
"Papi mau kemana? Thara mau ikut."
"Tidak sayang, kau tidak boleh ikut. Papi akan pergi jauh. Tetaplah disini, banyak yang membutuhkanmu."
Nggak, aku nggak mau Papi pergi lagi. Aku berlari mengejarnya. Sampai nafasku terengah-engah tapi kenapa Papi cepat sekali. Aku kehilangan jejak. Entah dimana aku sekarang, tapi yang jelas Papi sudah menghilang.
Aku menangis sesenggukan. Aku meraung memanggilnya tapi Papi nggak juga kembali.
Papi...!!
"THARA...!"
Aku membuka mataku. Nafasku terengah, lalu terduduk dengan lemas. Menatap oknum yang sempat memanggil namaku.
"Mas....?"
"Kamu mimpi buruk?"
Aku hanya mengangguk. Kemudian memeluknya. Rasanya belum puas bertemu Papi, kenapa cepat sekali. Meski hanya mimpi aku juga ingin lebih lama bertemu dengannya.
"Ini masih jam 2, tidur lagi aja."
"Nggak, Thara mau sholat."
"Yaudah."
****
Hari pernikahan suamiku semakin dekat. Suasana rumah juga sudah sangat ramai. Peranku disini ikut membantu Fatma melakukan ritual sebelum pernikahan. Mama juga nggak ada lagi bicara kasar sama aku. Tapi sikap cuek dan dinginnya masih terasa. Beda lagi jika dengan Fatma. Wanita itu selalu memintaku memilih namun dia sendiri gak setuju sama pilihanku.
Aku muak. Tapi aku bisa apa?
Hal yang membuat hatiku semakin sakit. Sekarang aku berada dikamar pengantin yang sedang dihias begitu indah. Kelopak mawar bertaburan dimana-mana. Aku tersenyum miris melihatnya.
Dari kejauhan, aku melihat Mas Ayaz sedang sibuk dengan Edy. Entah apa yang dia lakukan. Tatapan kami sering kali bertemu. Namun aku langsung membuang wajahku. Entahlah, rasanya aku belum siap menerima semua ini. Aku benar-benar nggak konsisten. Mas Ayaz benar, gak ada wanita yang siap berbagi.
"Assalamu'alaikum, selamat ya Bu Gina. Mau dapet mantu baru lagi." suara mbak Mirna membuatku menunduk lesu. Aku tahu sebenarnya dia nggak rela bilang kayak itu.
Ternyata yang datang bukan hanya Mbak Mirna. Tapi yang lainnya juga.
"Iya, makasih udah dateng."
"Silahkan masuk ibu-ibu." Aku menyapa mereka dengan ramah. Namun sayang, aku rasa Mbak Mirna tahu bagaimana perasaanku.
"Acaranya besok, ya? Kita cuma penasaran. Mau liat-liat aja nggak papa kan Bu Gina?"
"Iya gak papa."
"Thara, bikinin minum dong tamunya. Masa iya mereka dateng gak disuguhin hidangan." Mulutku terbuka untuk menyela ucapan Fatma. Namun sayang, Mak Muna sudah lebih dulu menyelanya.
"Heh Fatma! sadar diri kau, ini istri pertamanya calon suami kau. Kau itu masih calon, belum sah jadi bininya. Gak udah nyuruh-nyuruh si Thara, kau kira dia pembantu...!"
"Nah betul itu! Kali ini aku setuju sama kamu, Mak. Enak aja main suruh-suruh, udah berasa mau jadi nyonya? jangan bangga kau sudah ngerusak rumah tangga orang, ya. Nggak sopan banget sama istri pertama Ayaz."
"Niat Fatma baik kok ibu-ibu. Lagian juga Thara kan gak ada kerjaan, apa salahnya ambilin minum buat kalian."
Aku menatap Fatma dengan tampang tanpa dosanya. Aku merasa muak dan entah kenapa kepalaku ikut pusing sekarang.
"Kau kira kami nggak tau, kalo dirumah ini ada Bi Ratni! Alesan aja kau mau nyuruh-nyuruh. Perempuan ular emang. Hidup kau gak akan bahagia kalo hasilnya kau dapatkan dari merusak kebahagiaan orang lain. Inget Fatma, hukum karma itu berlaku. Istighfar kau, jangan mulut aja manis gak salah-salah semanis madu. Tapi beracun..!"
"Astagfirullah, jangan suka marah-marah, Mak. Nanti cepet di panggil loh!"
"Tuh, liat sendiri Bu Gina. Kelakuan calon mantu kau ini. Sama orang tua aja gak ada sopan-sopannya. Apalagi sama kau nanti."
"Aduh! sudah-sudah. Kok jadi ribut gini, sih?!"
"Salahmu sendiri Bu Gina, gak mikir lagi perasaan mantunya. Malah main kawinin anak aja. Kami sebagai sesama perempuan merasa tersinggung kalo ada perempuan teraniaya seperti Thara. Jeng Thara, jangan mau dimadu. Mending bilang sama Ayaz, pulangkan saja aku kerumah orang tuaku... "
"Emangnya mau pulang kemana, Mbak Mirna? Orang tua aja udah gak ada. Ya gak ada tempat lain lah buat dia selain ngandelin Mas Ayaz," saut Fatma seperti biasa dengan senyumannya yang terkesan mengejek.
Tanganku terkepal. Aku semakin geram dibuatnya. Namun aku nggak bisa berbuat apapun. Tubuhku kenapa tiba-tiba semakin lemas. Sepertinya keringat dingin juga mengucur ditubuhku. Sementara para ibu-ibu sudah kembali adu mulut dengan Fatma.
"Astagfirullah.... Ini perempuan emang dasar kesingnya aja alim. Tapi hatinya busuk macam bangkai."
"Mulutnya aja manis, Mak! Tapi mematikan."
"Gak usah banyak bacot kau, Mirna. Biar aku aja yang remat ini mulut perempuan munafikun! Emosi jiwa aku dibuatnya. Belum tau dia, bapak Muna aja pernah aku banting."
Aku hanya mendengarkan perdebatan mereka yang semakin sengit. Aku sangat ingin melerainya. Namun suaraku sepertinya tertahan. Tubuhku mulai sempoyongan dan mataku mulai mengabur.
Ya Allah, ada apa denganku?
Perlahan, pendengaranku juga mulai terasa samar. Sampai akhirnya aku benar-benar nggak bisa mendengar apapun. Seiring dengan tubuhku yang ambruk dan setelah itu aku udah nggak tau apa-apa lagi.
****
AUTHOR POV
BUGH
Perdebatan sengit itu harus terhenti mana kala mendengar suara ambruk dari tubuh Thara. Semua orang berteriak histeris.
"THARA...!!"
"Eh, dia kenapa Mak? Ya Allah, mukanya pucet banget."
"Mana aku tau, Mirna. Kau liat sendiri aku sibuk dengan perempuan jahanam itu tadi. Eh, panggil suaminya. Baringkan dulu disofa."
Suara teriakan itu sampai ketelinga Ayaz. Pria itu langsung berlari dan mendapati istrinya tergeletak tak berdaya. Ayaz menggendongnya dan merebahkan tubuh istrinya disofa yang berukuran besar disana. Semua ibu-ibu panik. Tidak terkecuali dengan Mama Gina. Dia juga ikut panik melihatnya.
"Telpon dokter sekarang!" titah Ayaz pada Edy. Segera saja pria itu mematuhinya.
"Ayaz, coba kasih ini minyak kayu putih dulu. Siapa tahu sadar."
Ayaz segera mengambilnya dari Mama Gina.
"Aduh, pasti ngebatin ini perempuan. Kasian banget ya Mak! Mau nangis aku rasanya, gak tega."
"Halah, jangan nangis disini kau Mirna. Nanti ingusmu meler kemana-mana."
"Liat tuh Bu Gina. Gak kasian apa sama mantumu. Ngebatin dia sampe pingsan kayak gini. Tega kali kau jadi perempuan. Gak pernah ngerasain jadi menantu, apa?!" ucap Mak Muna menatapnya kesal.
Mama Gina hanya diam mematung. Entah merasa menyesal atau bagaimana. Dia tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Beruntung Dokter yang dihubungi Edy segera datang. Dokter kepercayaan keluarga Mahendra ketika dalam keadaan darurat seperti ini.
Langsung saja dokter itu memeriksa keadaan Thara. Sementara semua orang sudah sangat khawatir padanya.
Ayaz sendiri tidak sabar mendengar hasilnya. Dengan keahliannya serta ketelitiannya. Dokter itu tidak pernah salah dalam prediksinya. Hingga dia kini beralih menatap Ayaz untuk menjelaskan padanya.
"Gimana Dok? Istri saya baik-baik aja, kan?"
"Dia hanya kelelahan. Hal ini biasa terjadi pada ibu yang sedang hamil muda. Sebaiknya dia banyak-banyak istirahat dulu, Pak. Nanti saya berikan resep vitamin untuknya."
DUARRRR
"Ap-apa? Hamil? Istri saya hamil, Dok?"
thara menag banyak juga, masah bersenang2, sex bebas, hura2, poyah2, dan akhiratnya dapat lelaki yang mencintanya, dan menerima dia apa adanya, bahkan berjuang untuknua
atas lelaki sejati,
fatma miris, berjuang mendapatkan hati lelaki pujaanya tapi miris pujaannya malah nikah dengan wanita lain, dan dia dihujat karena mencinta suami orang, dan miris sekali hidupnya author hukum dia dengan diperkosa dan diperlakukan sangat hina dan kasar
satu kesalahan besar fatma bukan mencintai suami orang tapi fatma mencinta suami pemeran utama wanita karena dasarnya author dan readernya wanita jadi mereka ngehalu diposisi pemeran utama wanita jadi pelakor mereka laknat habis tapi pebinor mereka jaga
*saat fatma melakukan kesalahan mereka beramai menhujat, melaknat dan memaki fatma
tapi
*saat viky melakukan kesalahan meraka diam, tidak mempermasalahkan itu
inilah sikap egois wanita yang dibawa reader dalam berkomentar
*mereka akan melaknat wanita yang menyukai suami alias pelakor
*tapi memaklumi dan terkesan baper dengan lelaki lain yang menyukai mereka, jadi semua kelakuan lelaki itu mereka maklumi bahkan mbenarkan
aku tunggu ucapan thara "maafkan karena tidak sempurna dan Terima kasih suamiku karena ikhlas menerima aku apa adanya" ucapan ini simple tapi sangat banyak maknanya
*membuat suami merasa dihargai dan dianggap
*membuat thara merasa bersukur dan berterima kasih
*membuat thara naik derajatnya karena peka terhadap perasaan suami
*membuat thara naik derajat karena sadar akan kesalahannya
tapi sayang sekali thara tidak pernah mengucapkan kalimat itu