NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Pacarku

Aku Hamil Anak Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:90.3k
Nilai: 5
Nama Author: Revina Willy

⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!

UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB

Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.

Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?

Yuk pantauin terus ceritanya! 😉

-----

Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..

-----

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang ke Rumah

Byur

Guyuran air hangat membasahi tubuhku yang lengket dengan keringat. Memang lumayan perih di bawah sana sesaat guyuran air melewatinya, namun aku masih bisa menahannya.

Setelah selesai membersihkan diri, kuambil handuk yang menggantung di pintu. Kulilitkan handuk itu hingga menutupi lutut dan dadaku.

Ceklek

Aku keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambutku yang basah dengan handuk kecil. Rasa sakit dan perih yang sebelumnya kurasakan kini sudah tak terlalu menyakitkan.

Pandanganku tertuju pada Rendi yang sedang duduk di bangku meja belajarnya. Sepertinya ia tengah belajar. Apa memang sesulit itu ya menjadi pelajar yang sebentar lagi akan lulus? Apa dua tahun lagi aku akan merasakan hal yang serupa?

"Ren buruan mandi!" seruku.

"Hm."

Rendi berdehem. Aku tidak tau apakah jawabannya itu berarti ya atau tidak. Tangannya tetap sibuk dengan pulpen untuk menyalin materi yang penting ke dalam buku catatannya.

Kuambil seragam sekolahku yang tergeletak di atas meja. Sepertinya seragamku yang sebelumnya basah kuyup kini sudah lumayan kering. Aku tak membawa baju ganti. Satu-satunya pakaian yang kumiliki sekarang hanyalah seragam ini saja. Mau tidak mau aku jadi harus mengenakannya lagi.

Rendi bangkit dari duduknya. Dengan sebuah handuk yang masih melingkari pinggangnya, Rendi berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

Aku menoleh ke arah ranjang. Sprei yang sebelumnya terdapat noda darah itu kini tak terlihat lagi di atas ranjang. Sepertinya Rendi telah membereskannya.

Dengan cepat, aku langsung mengenakan seragamku. Dari layar ponselku, aku bisa tau bahwa kini waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Syukurlah hari ini adalah hari Minggu. Aku kan jadi tidak perlu berangkat ke sekolah.

"Eh? Ga-gawat.."

Ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari mama. Bagaimana ini? Aku lupa dengan mama. Mama pasti sudah sangat khawatir denganku yang tak pulang-pulang.

Ting

💬 Tania : Silvi lo ada di mana? Nyokap lo semalam nelpon gue. Mau ga mau gue jadi boong deh kalau lo sebenarnya ada di rumah gue.

"Tania! Lo emang temen baik gue.."

Bagus! Kalau begini aku jadi tak perlu mencari-cari alasan lagi ketika sampai di rumah. Fufu! Mulai besok Sepertinya aku harus sering-sering mentraktir Tania.

"Kenapa Sil?"

Rendi keluar dari kamar mandi. Ia heran melihatku yang tersenyum bahagia.

"Haha gapapa kok."

Aku tersenyum. Sementara Rendi yang melihatku malah semakin kebingungan. Namun sepertinya ia tak ingin berlarut-larut memikirkannya dan lebih memilih untuk berganti pakaian.

Rendi membuka lemari yang berisikan banyak baju-bajunya. Ia mengambilnya beberapa lembar pakaian, lalu tanpa rasa malu ia melepas handuknya di hadapanku.

"Kyaaa! Ren! Kamu ngapain sih?!"

Spontan aku menutup wajahku dengan telapak tangan. Aku benar-benar terkejut.

"Emang kenapa? Gapapa kan? Kamunya juga udah liat kan semalem?" Balas Rendi.

"Apaan sih kamu Ren?!"

Sembari terus menutup wajah, aku langsung berlari dengan cepat menuju pintu kamar. Kuraih gagang pintu kamar dalam kondisi masih memejamkan mata.

BRAK

Tanpa sadar aku menutup pintu kamar dengan sangat keras. Rendi pasti terkejut. Ah biarkan saja! Untuk apa aku memperdulikan itu?

Jujur saja meski aku sudah melihatnya sekali pun, tetap saja aku masih belum terbiasa dengan itu.

Aku menunggu di teras rumah. Ransel merah muda pastelku masih berada di dalam kamar Rendi. Nanti dia pasti akan membawanya keluar kan?

Aku bersenandung kecil sembari menunggu Rendi yang masih sibuk berpakaian. Tidak lama kemudian, Rendi muncul di ambang pintu.

"Sil, ini tas kamu!" seru Rendi padaku sembari menyodorkan ranselku. Aku pun mengambilnya dari tangan Rendi, dan kusandang ranselku itu di pundakku. Sementara Rendi terlihat sibuk menyalakan motornya.

"Yuk Sil! Cepetan naik!" seru Rendi.

Aku langsung berlari ke arah Rendi dan duduk di belakangnya sesaat dia berkata seperti itu. Kupeluk Rendi dari belakang bersamaan dengan motor yang mulai melaju.

Karena sedang tak mengenakan helm, rambut panjangku jadi berterbangan terbawa angin. Kusandarkan kepalaku pada punggung Rendi. Kupandangi sekilas kios-kios yang terlihat di mataku sesaat lewat. Hari ini ramai sekali. Mungkin karena hari ini adalah hari Minggu.

Hingga beberapa menit berlalu. Kini aku bisa melihat rumahku dari kejauhan. Rendi memberhentikan motornya tepat di depan pintu pagar. Aku pun langsung turun dari motor sesaat motor yang Rendi kendarai telah berhenti sempurna.

"Silvi!" panggil Rendi. Langkahku jadi terhenti karena dirinya yang tiba-tiba memanggil namaku.

"Iya Ren?" tanyaku. Aku berjalan menghampirinya lagi. Aku bingung, sementara Rendi tampak tersenyum. Ada apa dengannya ya? Kenapa dia senyum-senyum begitu?

"Kenapa sih? Kok diem aja-"

Cup

"Aku pulang ya." Rendi tersenyum.

Rendi langsung menyalakan kembali motornya. Kemudian ia bersama motornya langsung melaju melewati jalan.

"Dasar Rendi! Nyebelin!"

Aku berlari masuk ke dalam rumah sembari menyentuh bibirku. Syukurlah situasi di luar tadi lumayan sepi. Bisa-bisanya dia menciumku tanpa melihat ke sekeliling terlebih dahulu.

"Silvi pulang.."

Brak

Aku menutup pintu, lalu kulepas sepatuku. Dari depan pintu, sudah langsung terlihat mama yang tengah duduk di kursi ruang tamu. Kupikir mama akan marah sesaat melihatku, namun ternyata mama malah terlihat santai dengan sebuah buku di tangannya.

"Eh? Silvi udah pulang? Kamu ga nyusahin temen kamu kan? Kenapa ga bilang-bilang kalau kamu nginep di rumah temen?" tanya mama.

"Hehe soalnya kemarin itu mendadak banget ma," jawabku.

Terima kasih Tania. Kalau kamu tidak memberi alasan seperti itu kepada mamaku, mungkin saat ini aku sudah diintrogasi sama mama. Mana mungkin aku bisa bohong di hadapan mama.

"Oh iya, kamu lama banget pulangnya! Farel udah nungguin dari pagi lho," ucap mama dengan pandangan yang fokus terhadap buku di tangannya.

"Farel ma?" tanyaku bingung.

"Iya, tadi pagi dia datang ke sini. Dia udah naik ke atas karena kamu pulangnya lama. Jarang-jarang anak Ella datang ke sini. Cepet kamu samperin gih!" perintah mama.

Aku mengangguk, dan langsung mempercepat langkahku menuju lantai atas, yang tidak lain adalah kamarku.

Krieet

"Farel? Kamu ada di sini-"

Ucapan dan langkahku langsung terhenti sesaat melihat Farel yang tengah berdiri di dekat jendela kamarku. Ia menyilangkan kedua tangannya dengan pandangan yang tampak fokus menghadap ke luar jendela.

"Farel, kamu ngapain datang ke sini?" tanyaku sembari melangkah masuk ke dalam kamarku. Sepertinya Farel juga mulai tersadar akan kehadiranku.

"Kamu ke mana semalam?" tanya Farel. Dahinya tampak mengerut.

"Eh? A-aku nginep di rumah temanku. Emangnya kenapa?" tanyaku balik. Tanpa sadar aku jadi menyebut diriku dengan sebutan aku di hadapan Farel.

Aku berusaha untuk tetap tenang agar tak dicurigai Farel. Mau bagaimana pun, Farel itu adalah orang yang peka. Jika aku tak berhati-hati, kebohonganku pasti akan langsung diketahui oleh Farel.

Farel hanya diam. Dia tak menjawab pertanyaanku. Ia malah menghampiriku yang masih berada tidak jauh dari ambang pintu.

"Kamu bohong kan?" tanya Farel tepat di hadapanku. Tatapannya yang dingin dan tajam membuatku sedikit bergidik.

"Lo kenapa sih?! Gue serius! Bohong dari mananya sih?" bantahku.

"Silvi, aku tau kalau kamu semalam ga nginap di rumah Tania. Aku udah nelfon Tania, dan dia bilang kamu sebenarnya ga ada di sana," ucap Farel.

"Aku lihat kamu tadi dianter sama cowok itu. Apa jangan-jangan semalam kamu lagi bareng dia? Kamu ngapain di sana?" sambung Farel.

Apa? Jadi tadi Farel sudah melihatku yang tengah diantar pulang? Ah benar juga! Saat aku baru memasuki kamar saja, Farel sudah berada di dekat jendela. Farel pasti melihatku dan Rendi dari balik jendela kamar. Kalau begitu, itu artinya tadi dia juga melihat Rendi yang menciumku dong?

"Silvi! Aku mohon.. jauhin cowok itu! Dia itu cowok ga bener!" pinta Farel dengan tampang memohon.

"Hah? Apa? Lo bilang apa barusan?"

1
Qaisaa Nazarudin
Kamu aja yg Bodoh,Farel itu tau Rendi itu seperti apa,makanya dia ingin melindungi kamu,Dasar ogeb..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Udah End aja,Gak ada kelanjutannya,Endnya kayak kegantung gitu, Ceritanya gak tuntas menurut ku..
Qaisaa Nazarudin
Ternyata Rendi udah biasa ngelakuin itu ke cewek2 yg lainnya juga..
Qaisaa Nazarudin
Apakah Rendi akan bertanggungjawab setelah ini?Atau biasa saja..🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Kalo emang Rendi sayang dan cinta sama Silvi,Harusnya dia menjaga Silvi bukan malah metosaknya,Ckk anak remaja jaman now..🤦🤦
Juju Siti Julaeha
pergaulan bebas dapat mengakibatkan seperti ini, hati hati aja
Toto Suharto
ceritanya bagus...konfliknya bikin baper dan penasaran...semangat lanjut dong thour...
Wahyuni
nanggung
@shiha putri inayyah 3107
kok gak ada lanjutannya...?🤔🤔
Hernawati Sitohang
jangan terjebak cinta rendi
Hernawati Sitohang
up
Rider Frost
ko ga up ya, lama thor
re
Next
Freen 🐰
hadir ya
Яцяу
farel pelindung sejatinya silvi
ai'
lanjut thor hehe
ai'
Jadi kepo ma zizi
indah
Bagus, awal yg menarik, jadi ingin baca lanjutannya karena banyak kemungkinan yg akan terjadi. Tutur bahasanya juga👍👍
mama angga
lanjuuuutttt
ai'
Rendi kek pedopil sih...eh bentar² keknya mereka mau olimpik bareng deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!