"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Jiwa dari Abad 21
Saat Dinda tengah asyik mengagumi rangkaian set perawatan tubuh mewahnya, keheningan kamar tiba-tiba dipecahkan oleh suara berat dari arah belakang.
"Apa itu, Dinda?"
"Astaga..!" Dinda terkejut bukan main. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Dengan gerakan patah-patah, gadis itu lantas menoleh ke arah pintu.
"Kanda...!" seru Dinda lirih, wajahnya seketika pias.
Wira melangkah masuk, menutup pintu bambu di belakangnya dengan rapat, lalu berjalan mendekat. Sepasang netra tajamnya langsung beralih mengunci barang-barang modern berdesain mewah di samping tubuh Dinda. Dengan dahi berkerut dalam, pria bertubuh kekar itu mendudukkan dirinya di atas amben, tepat di hadapan Dinda.
"Benda apa ini sebenarnya?" tanya Wira, suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan.
"Ah... ini... ini... anu, Kanda. Ehmmm, itu... benda untuk merawat tubuh. Iya, untuk merawat wajah dan kulitku agar bersih," jawab Dinda gelagapan dengan lidah yang mendadak kelu.
Pandangan Wira semakin menajam, menatap langsung ke dalam manik mata Dinda yang bergerak gelisah. "Apa namanya?" tanya Wira rendah.
"Eh... ini, ini namanya... S-sk—" Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapan terbata-batanya, kalimat itu langsung dipotong dengan lugas oleh pria di depannya.
"Skincare."
Dinda seketika membulatkan matanya sembilan puluh derajat. Napasnya tercekat, dan seluruh tubuhnya mendadak kaku karena syok yang teramat sangat. "Darimana... darimana Kamu bisa tahu nama itu?" bisik Dinda lirih, suaranya bergetar hebat.
Wira tetap bergeming, memandangnya dengan sorot mata yang teramat dalam dan lurus. Pria itu mengembuskan napas berat sebelum akhirnya berucap dengan nada rendah yang penuh penekanan.
"Katakan padaku yang sebenarnya, Dinda... Darimana asalmu?" tuntut Wirandu. "Pakaian aneh yang bahannya berbeda jauh dengan orang-orang di zaman ini, sabun mandi wangi berbusa yang tidak pernah ditemukan di belahan bumi mana pun, lalu buah semangka besar di dapur pagi tadi... dan sekarang, barang-barang dengan wadah aneh ini. Siapa kau sebenarnya?"
Dinda merasa sekujur tubuhnya dihantam rasa panas dingin sekaligus. Sudut matanya mulai berair karena tertekan. Dengan bibir gemetar, ia memberanikan diri bertanya, "Apakah... apakah jika aku mengatakannya, Kau akan memercayai kata-kataku?"
Wira hanya diam, memberikan anggukan kecil sebagai isyarat agar Dinda terus berbicara.
"Oke. Hari itu, Kau pernah bilang padaku kalau Kau melihatku terjatuh dari langit, kan?" ucap Dinda dengan suara yang mulai serak. "Ketahuilah... aku ini manusia modern. Aku tidak berasal dari zaman purba ini. Aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku."
Dinda menjeda kalimatnya, air mata mulai luruh membasahi pipinya yang merona.
"Awal semua kegilaan ini terjadi adalah saat aku sedang menyeberang di jalan raya kota. Tiba-tiba ada sebuah mobil truk tronton besar yang melaju kencang hendak menabrakku. Tapi anehnya, tubuhku tidak merasakan hantaman. Aku justru merasa melayang, tubuhku seperti terbang menembus pusaran angin... sampai pada saat aku membuka mata kembali, diriku sudah terdampar di tengah hutan belantara ini."
Dinda menyeka air matanya yang kian deras. "Mungkin yang Kau bilang saat itu benar, kalau aku memang jatuh dari langit... Tapi aku bukan dewi atau makhluk halus. Aku manusia biasa, hanya saja asalku bukan dari lini masa ini..."
Isakan Dinda semakin terdengar memilukan. Ada rasa sedih dan rindu yang membuncah di dadanya karena teringat rumah. Terdampar di zaman antah-berantah yang serba terbatas, jauh dari keluarga, entah bagaimana nasib orang tuanya di sana. Apakah mereka mencarinya? Apakah mereka menangisi hilangnya Dinda?
"Sudah, jangan menangis lagi..." sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba terulur, mengusap air mata di pipi Dinda dengan sangat lembut. "Bukan hanya dirimu saja yang terjebak di tempat asing ini, Dinda. Aku..."
Wira menghentikan kalimatnya sejenak, menatap wajah Dinda yang basah dengan binar iba sekaligus pengertian yang mendalam.
"...Akupun sama dengarmu, Dinda! Kau tahu? Jiwaku juga berasal dari masa depan. Jiwaku berasal dari abad ke-21!"
Tangisan Dinda seketika terhenti seketika. Ia tertegun, menatap tidak percaya pada wajah maskulin di hadapannya.
"Kau tahu, di abad ke-21 dulu, aku bekerja sebagai seorang penjaga museum kota. Nama asliku adalah Wira Wicaksono," kenang Wira, pandangannya menerawang jauh menembus dinding bambu rumah pohon. "Namun malam itu, saat aku sedang berjalan kaki hendak pulang ke rumah, aku mengalami kecelakaan hebat. Aku menjadi korban tabrak lari dari sebuah mobil yang melaju sangat kencang dari arah belakang. Aku merasakan hantaman yang sangat keras pada tubuhku, dan seketika itu juga aku langsung jatuh di tempat."
Wira kembali menatap Dinda. "Namun, saat aku membuka mataku kembali, aku terkejut bukan main karena mendapati diriku sudah berada di dalam tubuh seorang pemburu bernama Wirandu ini... Aku tidak tahu keajaiban atau kutukan apa yang sebenarnya sedang menimpa diriku," ucap Wira pelan.
Dinda terkesiap mendengar cerita runtut dari Wira. Pikirannya yang cerdas sebagai manusia moderen langsung berputar cepat mencari benang merah. Sebuah memori mendadak terlintas di kepalanya—tentang sebuah kejadian sesaat sebelum ia berpindah dimensi, tepat ketika ia bertransaksi dengan seorang Bapak tua di pinggir jalan.
"Wira...!" panggil Dinda cepat dengan nada penuh selidik, menanggalkan embel-embel "Kanda. "Apa sebelum kau tertabrak mobil malam itu, kau sempat membeli atau menemukan sebuah barang?"
Wira seketika mengernyitkan dahinya keras, mencoba menggali kembali memori terakhirnya sebagai Wira Wicaksono sebelum tewas tertabrak.
"Oh, ya! Aku ingat...!" seru Wira dengan mata membelalak. "Malam itu, tepat sebelum tragedi tabrak lari terjadi, aku sempat membeli sebuah cincin dari seorang bapak tua penjual barang antik di pinggir jalan... Tapi, apa hubungannya benda itu dengan semua ini, Dinda?" tanya Wira benar-benar penasaran, Memikirkan Hal Tak masuk akal yang menimpa mereka.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍