Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 17
Sore itu, bahkan sebelum semburat emas matahari mulai tenggelam di kaki langit, Riven sudah memutuskan untuk meninggalkan ruang kerjanya.
Sebelumnya, ia sempat berniat menyuruh Elena untuk mengantarkan kemeja yang ia sebutkan.
Namun, rencana itu langsung buyar saat ia menghubungi sang adik.
Alih-alih mendapatkan bantuan, yang Riven dengar justru lengkingan suara ceria yang mendadak penuh semangat begitu mendengar janji transferan uang jajan tambahan, adiknya juga tak dapat membantu karena ia sedang bersenang-senang bersama teman-temannya. Akhirnya Riven menghubungi pelayan di mansion untuk mengantarkannya.
Riven hanya bisa menggelengkan kepala, tersenyum kecut menatap layar ponselnya. Adiknya memang luar biasa, hanya mengingat keberadaan sang kakak saat dompetnya mulai menipis.
Sebelum menutup panggilan, Riven sempat melontarkan beberapa kalimat sindiran tajam yang dibungkus pujian manis, sandi keluarga yang sudah biasa mereka lakukan.
Kini, dengan langkah santai, Riven keluar dari ruang kerjanya. Ia sempat memperlambat ritme langkahnya saat melewati meja resepsionis di luar.
“Jangan pulang terlalu malam.” ucap Riven singkat, tanpa menghentikan langkah.
Sekretaris barunya tampak terkejut, buru-buru menegakkan punggung dengan wajah sedikit merona. “Baik, Tuan Riven. Terima kasih.”
Riven hanya mengangguk samar sebagai respons. Sementara itu, Oakley sudah tidak kelihatan di koridor, pria itu pasti telah kembali ke sisi Thomas, melebur lagi menjadi bayangan sang ayah seperti biasa.
Langkah kaki Riven yang panjang dan mantap menyusuri koridor utama perusahaan. Ia berjalan lurus, sama sekali tidak melirik ke kanan maupun ke kiri.
Padahal, di sepanjang jalan yang ia lewati, banyak pasang mata para karyawan wanita diam-diam mengikuti pergerakannya.
Bisik-bisik kagum berdesir di berbagai sudut ruang divisi, membicarakan bagaimana setelan jas mahal itu membingkai postur tingginya yang proporsional, serta aura percaya diri yang memancar kuat dari sang eksekutif muda.
Namun bagi Riven, semua perhatian itu tak lebih dari sekadar angin lalu. Tidak ada satu pun yang menarik minatnya.
Begitu ia tiba di lobi utama, sebuah mobil sport sudah terparkir manis di depan pintu masuk.
Seorang petugas lobi dengan sigap membukakan pintu dengan hormat yang dalam. Saat menduduki kursi kemudi, perhatian Riven langsung tertuju pada sebuah paper bag yang tergeletak di kursi penumpang.
Di dalamnya terdapat kemeja yang semalam ia pakai milik gadis itu, persis seperti yang ia instruksikan pada bawahannya. Seseorang telah mengantarkannya dengan rapi sebelum ia turun.
Riven menekan tombol start, dan raungan halus namun bertenaga dari mesin mobil mewah itu langsung memecah kesunyian lobi.
Tak butuh waktu lama bagi kendaraan itu untuk meluncur, meninggalkan area pelataran Chamron.
Di jalur cepat, Riven membiarkan mobilnya melesat tinggi, memotong angin sore. Namun begitu roda-rodanya mencium aspal kawasan perkotaan yang padat, ia menurunkan kecepatan.
Mobil itu berbelok memasuki sebuah kawasan komersial yang ramai. Suara khas dari knalpotnya yang berkarakter membuat beberapa pejalan kaki menoleh, sebagian bahkan berdecak kagum melihat siluet kendaraan mahal tersebut membelah kemacetan.
Mobil itu akhirnya melambat dan berhenti di area parkir khusus sebuah kafe mewah berkonsep industrial milik Jack.
Riven mematikan mesin lalu keluar. Setelan jas formal yang masih melekat rapi di tubuhnya membuat beberapa pengunjung kafe tanpa sadar memaku pandangan.
Pria itu terlalu mencolok, terlalu kontras dengan atmosfer santai di sekitarnya.
Riven melangkah masuk ke dalam kafe yang sejuk. Pandangannya langsung menyapu ruangan dan menemukan Jack yang tengah sibuk berbicara dengan salah seorang staf seniornya. Tampaknya mereka sedang mengoreksi laporan pembukuan.
Riven berjalan mendekat tanpa suara, lalu menepuk pelan bahu sahabatnya. “Hei.”
Jack menoleh, sedikit terperanjat. “Oh, kau.” Nada suaranya menyiratkan keterkejutan yang nyata. Ia segera memberi isyarat pelan pada stafnya untuk mundur dan melanjutkan pekerjaan, sebelum memusatkan perhatian sepenuhnya pada Riven.
“Baru dari kantor?”
“Iya.” Riven mengangkat paper bag di tangannya ke udara. “Kemeja. Aku mau barter. Ngomong-ngomong, kemejaku sudah sampai?”
Jack menatap kantong kertas itu, lalu mengernyitkan dahi. “Kau sendiri yang membawa barang ini ke sini
“Iya”
“Kenapa tidak menyuruh orang suruhanmu saja? Ternyata seorang eksekutif muda Chamron sesenggang itu, ya,” sindir Jack.
“Bukan itu alasannya.” Riven mengabaikan sindiran itu dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa kulit terdekat. “Tas dan ponsel gadis itu juga masih tertinggal di mobilku.”
Jack ikut mengambil posisi duduk di hadapan Riven, melipat tangan di depan dada. “Kau tetap bisa menyuruh kurir atau siapapun, untuk mengantarkannya, Riv.” Ia menyandarkan punggungnya, sorot matanya berubah serius. “Aku punya firasat yang tidak bagus tentang gadis itu, bagaimana mungkin barang sepenting itu tertinggal di mobil orang lain.”
Riven mengangkat sebelah alisnya, tertarik. “Hanya karena dompet dan ponselnya tertinggal kau langsung menyimpulkan?”
“Mungkin.” Jack mengusap dagunya perlahan, menerawang. “Tapi juga entahlah. Ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal.”
“Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, Jack,” Riven menggeleng pelan, mencoba bersikap rasional. “Kau tidak berada di lokasi saat itu. Kondisinya juga sulit aku jelaskan, lagi pula kenapa aku menjelaskan kehidupan pribadiku.” Riven menatap lurus ke dalam manik mata sahabatnya. “Kenapa kau mendadak jadi se-paranoid ini?”
Jack terdiam sejenak, mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. “Karena perasaan tidak nyaman di dadaku ini belum hilang.”
Riven menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa. “Aku juga sempat berpikir begitu awalnya.”
Jack langsung menegakkan posisi duduknya. “Lalu?”
“Tapi saat kita semua menaruh curiga padanya, dia justru datang dengan susah payah hanya untuk mengembalikan dompet dan ponselku.” Riven kembali mengingat bagaimana bayangan Angie berdiri di depannya waktu itu. “Dia berjalan kaki sangat jauh demi mengantarkannya. Kedua telapak kakinya sampai lecet dan berdarah.”
“Ssssh..” Jack menyipitkan matanya, menggeleng tegas. “Justru itu.”
“Justru apa?”
“Firasatku,” Jack menatap kosong ke permukaan meja marmer di antara mereka. “Aku yakin ketidaknyamananku ini ada alasannya.”
Riven tertawa kecil, suara tawa yang renyah namun terdengar meremehkan ketakutan sahabatnya. “Kau hanya terlalu curiga pada semua orang, Jack. Efek terlalu lama berbisnis di dunia malam.”
“Tapi, Riv…”
Belum sempat Jack menyelesaikan kalimat bantahannya, Riven sudah berdiri dari sofa. Dengan santai, ia melangkah ke arah mesin pendingin display di dekat meja kasir, membukanya, lalu mengambil dua botol kopi siap minum varian premium.
“Anggap saja ini uang tebusan karena kau sudah berpikir yang macam-macam tentang gadis itu,” ujar Riven sambil mengangkat kedua botol kopi tersebut dengan seringai tipis di wajahnya.
“Hei! Enak saja! Itu tetap harus masuk mesin kasir, sialan!” protes Jack setengah berteriak.
Namun, Riven hanya membalas dengan lambaian tangan yang membawa kopi. Ia berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar.
“Kau mau ke mana lagi?!” teriak Jack dari belakang, jengkel.
Riven terus berjalan tanpa menghentikan langkah. Ia hanya mengangkat salah satu botol kopi tinggi-tinggi sebagai salam perpisahan tanpa menoleh lagi.
Jack hanya bisa mendecak kesal, menatap punggung Riven yang perlahan menghilang di balik pintu kaca kafe.
Pria itu kembali mengempaskan tubuhnya ke sofa, melipat tangan dengan kening yang berkerut dalam.
“Hmm..”Jack menatap lurus ke depan dengan pandangan analitis. “Aku yakin ada sesuatu yang salah dengan gadis itu.”
Jari telunjuknya kembali mengetuk pelan sandaran sofa, mengikuti ritme detak jantungnya yang tidak tenang. “Tapi apa?”
Perasaan tidak nyaman itu masih terus mencengkeram benaknya. Dan dari segala hal di dunia ini, Jack paling membenci firasat abstrak yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.
Sebab dalam dunianya, terlalu aneh jika semua kebetulan manis ini terjadi tanpa ada skenario di baliknya.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor