NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PERNIKAHAN KEDUA

POV. Author

Ada hal-hal di dunia ini yang tidak perlu kamu lawan. Cukup kamu terima, lalu biarkan hatimu belajar untuk tenang.

Aini Lidya hanyalah seorang wanita yang menyimpan beribu harapan untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Namun, dunia seolah tidak pernah ramah padanya. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun—usia yang terbilang sangat muda—Aini harus menyandang status sebagai seorang janda. Status yang membuatnya kerap menjadi bahan gunjingan dan dipandang rendah oleh tetangga di kampungnya.

Ada rasa sakit yang menghunjam dada setiap kali mendengar desas-desus buruk tentang dirinya yang bahkan ia sendiri tidak ketahui. Namun, Aini sadar, tidak semua hal di hidup ini harus dijelaskan, dan tidak semua manusia pantas untuk mendengar penjelasannya.

Tiga bulan yang lalu, Armanda Zuhardi, pria berusia 28 tahun yang biasa dipanggil Arman, masih bergelar sebagai suaminya. Namun, pertengkaran hebat di satu malam yang kelam telah mengubah keduanya menjadi dua orang asing yang tak lagi saling kenal.

Malam itu, hujan deras bergemuruh turun ke bumi Pesisir Selatan, seakan paham dengan badai yang sedang mengoyak rumah tangga kecil mereka.

Duarrrr!

Suara petir menggelegar besar, seakan ingin meruntuhkan rumah orang tua Aini—tempat di mana mereka menumpang tinggal selama setahun pernikahan ini. Rumah yang selama ini menyembunyikan keretakan rumah tangga mereka dengan rapat.

"Aku capek, Mas, kalau begini terus! Sifat kamu itu egois, keluarga kamu juga tidak punya perasaan! Hal mana lagi yang harus kulihat agar aku bisa mempertahankan rumah tangga ini?" ujar Aini dengan bibir bergetar hebat. Air matanya luruh berbaur dengan rasa sesak yang sudah ia tahan selama ini.

Tidak ada satu pun wanita yang ingin rumah tangganya hancur. Namun, tidak semua kesabaran bisa bertahan di atas ketidakadilan.

"Egois? Kamu bilang keluargaku tidak punya perasaan?!" Arman menyergap, mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tawa sinis yang dipaksakan. "Sadar, Aini! Selama ini ibuku selalu memikirkan kita. Apa kamu lupa?" Bantah Arman.

"Memikirkan yang mana, Mas?" jawab Aini tak mau kalah, matanya menatap tajam sang suami yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar setelah pulang larut malam lagi. "Setiap kali ada acara adat batandang, ibumu selalu menuntut lebih! Gaji kamu pas-pasan, Mas. Tapi ibumu selalu memaksa kita untuk mengirim rantang berisi nasi dan gulai yang besar untuk semua saudara-saudaramu dan saudara-saudara ibumu. Harus sama besarnya! Kamu pikir uang dari mana?" Sambung Aini, dengan pipi yang masih basah oleh buliran air bening yang jatuh dari matanya.

"Itu namanya adat, Aini! Menjaga nama baikku sebagai menantu yang tinggal di rumah orang tuamu!" tangkas Arman, suaranya meninggi.

Aini tertawa hambar, air matanya menetes semakin deras. "Adat katamu? Kamu tahu tidak, bensin kamu sehari berapa? Uang rokok kamu sebungkus sehari berapa? Uang belanja yang kamu kasih hanya delapan ratus ribu per minggu! Itu habis untuk kebutuhan kebutuhan kita, Mas! Tapi setiap kali lebaran atau ada acara, ibumu selalu menghina pemberianku. Kemarin kusiapkan uang untuk mebeli bingkisan terbaik yang mampu kita beli untuk ibumu, tapi apa katanya? Dia bilang pemberianku kecil, murah, dan tidak pantas! Di mana hati nurani ibumu, Mas?" Pekik Aini, emosinya meledak-ledak.

Arman terdiam, rahangnya mengeras menatap sang istri.

"Mas... buka matamu. Sebelum menikah, aku bisa membeli apa pun yang aku mau karena aku bekerja. Tapi setelah menikah, kamu senderi yang melarangku bekerja. Kamu menyuruhku tinggal di rumah orang tuaku agar kita bisa berhemat, tapi kamu sendiri? Kamu pulang kerja sore, tapi jam sebelas malam baru menginjakkan kaki di rumah ini! Kamu kelayapan ke rumah ibumu, ke rumah temanmu, mengabaikan aku yang menunggumu di sini!" suara Aini melemah, lirih penuh keputusasaan.

"Aku pulang malam juga butuh ketenangan, Ai! Di rumah ini aku menumpang, aku lelah mendengar sindiran dari keluargamu soal gajiku yang pas-pasan!" bela Arman, mencoba mencari pembenaran atas sikapnya yang sering pulang larut.

"Keluargaku tidak pernah menyindirmu, Mas! Ibuku bahkan tidak pernah menegurmu walau kamu bangun siang atau pulang larut. Tapi mental aku yang hancur karena keluargamu terus-menerus menuntut materi yang tidak mampu kamu berikan! Dan yang paling menyakitkan... aku tidak pernah mendapatkan pembelaan sedikit pun dari suamiku sendiri!" tangis Aini pecah, bahunya terguncang hebat.

"YA! Keluargaku memang salah! Di matamu semua keluargaku jahat, dan hanya keluargamu yang paling suci!" bentak Arman murka. Pria itu berbalik badan, hendak melangkah keluar dari kamar dan meninggalkan Aini yang sedang menangis tersedu-sedu.

Namun, belum sempat Arman memutar gagang pintu, sebuah gedoran terdengar dari luar.

Dor... dor... dor...

Itu suara gedoran di pintu luar kamar. Suara ibunda Aini terdengar cemas bercampur tegas dari balik pintu. "Aini! Arman! Ada apa ribut-ribut malam-malam begini? Malu di dengar tetangga! Buka pintunya!" Ujar Naya ibunda Aini.

Arman seketika terpaku di depan pintu kamar. Langkahnya terhenti. Ia tahu, jika pintu luar dibuka, mertuanya akan melihat betapa hancurnya pernikahan mereka malam ini.

Arman selalu memilih diam dan melarikan diri ke rumah ibunya jika bertengkar, tetapi malam ini, di rumah mertuanya sendiri, dia tidak bisa lagi bersembunyi dari badai yang dia ciptakan.

Aini menghapus air matanya dengan kasar. Dengan langkah tegas, ia berjalan melewati Arman yang membeku untuk membuka pintu, siap mengakhiri semua sandiwara pernikahan ini.

--------------------

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!