NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Balik Kemewahan

Keheningan yang menyelimuti kediaman Joharo selama satu minggu terakhir terasa seperti surga bagi Savhelicha. Saat ia terbangun dan mendapati sisi tempat tidur pria tua itu kosong, sebuah senyum kemenangan yang tipis tersungging di bibirnya. Kabar yang ia terima dari pengawal menunjukkan bahwa Joharo terpaksa terbang ke Negeri Jaraska untuk sebuah pertemuan rahasia yang krusial bagi kerajaan bisnisnya.

Tanpa perlu mencium bau parfum maskulin Joharo yang memuakkan, tanpa perlu menahan napas setiap kali pria itu menyentuhnya, Savhelicha akhirnya bisa bernapas. Ia segera meninggalkan kamar utama yang terasa seperti penjara, memilih untuk menempati kamar tamu di sayap lain rumah tersebut. Selama tujuh hari, ia mengurung diri, fokus sepenuhnya pada pemulihan tubuhnya. Ia menggunakan salep khusus dari pria bermasker itu, membiarkan memar-memarnya memudar, dan membiarkan luka-luka intimnya pulih sempurna.

Ketika hari ketujuh tiba, Savhelicha merasa seperti wanita yang terlahir kembali. Luka-lukanya mungkin masih meninggalkan bekas, namun kebenciannya telah berubah menjadi baja. Ia tidak lagi ingin bersembunyi.

"Aku butuh penyegaran," gumamnya di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang kini terlihat segar namun menyimpan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya.

Siang itu, ia melangkah masuk ke Lumina Elite Spa & Salon, sebuah tempat perawatan kelas atas yang hanya melayani kaum elit. Aroma essential oil lavender dan ketenangan yang menyelimuti ruangan itu seharusnya membuatnya rileks, namun matanya yang tajam segera menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya di sudut ruangan.

Di sebuah ranjang facial privat, seorang wanita sedang terbaring dengan masker wajah yang menutupi separuh wajahnya. Namun, Savhelicha mengenali profil itu di mana pun. Itu adalah Halra.

Sebuah seringai licik muncul di bibir Savhelicha. Tanpa memedulikan etika privasi, ia melangkah anggun mendekati ranjang Halra. Ia memberi isyarat kepada terapis agar menyingkir sejenak.

"Wah, wah... lihat siapa yang sedang berusaha mempercantik diri," ujar Savhelicha dengan suara manis yang sengaja dibuat melengking. "Apakah ini usaha untuk membuat Sano tetap terpikat? Atau kau sedang mempersiapkan diri untuk skandal berikutnya?"

Halra, yang sedang menikmati pijatan di pelipisnya, tidak bergeming. Ia tidak membuka mata, napasnya tetap teratur. Ia tahu betul siapa pemilik suara beracun itu.

Savhelicha tidak puas dengan keheningan itu. Ia mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu di dekat telinga Halra. "Kudengar Sano pulang dalam keadaan mabuk berat minggu lalu. Apa dia tidak memuaskanmu, sampai-sampai kau harus datang ke sini untuk mencari kepuasan dari terapis?"

Masih tidak ada respons. Halra tetap mematung, seolah-olah Savhelicha hanyalah embusan angin yang tak berarti. Savhelicha mulai merasa terganggu. Harga dirinya sebagai wanita yang selalu bisa memancing emosi orang lain merasa ditantang. Ia terus mengoceh, melemparkan hinaan demi hinaan tentang posisi Halra sebagai istri yang "tidak diinginkan" Sano, dan bagaimana reputasi keluarga Wiragata sedang berada di ambang kehancuran.

"Kau tahu, Halra? Sano Joharo tidak pernah benar-benar mencintaimu. Bagi dia, kau hanyalah pion dalam permainannya bersama Nenek Daisa. Begitu dia bosan, kau akan dibuang sepertiku," cemooh Savhelicha.

Halra akhirnya membuka matanya perlahan. Ia tidak menatap Savhelicha dengan amarah yang meledak-ledak. Tatapannya justru kosong, dingin, dan sangat merendahkan. Ia menatap Savhelicha dari ujung rambut hingga ujung kaki seolah sedang menatap serangga yang menjijikkan.

"Apa kau sudah selesai?" suara Halra tenang namun tajam seperti silet. "Aku sedang mencoba menikmati waktuku, dan jujur saja, keberadaanmu di sini membuat ruangan ini berbau sampah."

Wajah Savhelicha memerah. "Beraninya kau—"

"Kau tahu, Savhelicha," lanjut Halra, memotong kalimat wanita itu dengan nada yang sangat datar. "Di luar sana, ada anjing yang terus menggonggong tanpa henti saat mereka merasa tidak aman. Gonggongan itu berisik, tidak cerdas, dan yang paling penting... tidak ada yang memedulikannya. Itulah dirimu saat ini. Sebuah gonggongan yang mengganggu kenyamanan."

Savhelicha merasa seperti disiram air mendidih. Amarahnya meluap, tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. "Kau pikir kau siapa, Halra? Kau hanyalah istri boneka yang sebentar lagi akan hancur!"

Halra tidak lagi menanggapi. Ia menarik napas dalam, wajahnya kembali menunjukkan ketidaktertarikan yang nyata. Dengan gerakan tangan yang sangat halus—hampir tak terlihat—ia memberikan kode ke arah sudut ruangan.

Tazam, yang sedari tadi berdiri di balik tirai seperti patung yang tak bernyawa, muncul dalam hitungan detik. Ia berdiri di belakang Savhelicha, auranya begitu mengintimidasi hingga udara di sekitar salon seolah membeku.

"Nyonya," suara Tazam berat dan mengancam, ia menatap Savhelicha dengan tatapan yang seolah siap mematahkan leher siapa saja yang berani mengganggu kenyamanan majikannya. "Apakah saya perlu menyeret tamu ini keluar agar tidak mengotori tempat ini lebih jauh lagi?"

Savhelicha menatap Tazam, lalu menatap Halra yang kembali menutup matanya dengan tenang. Ia menyadari bahwa di sini, ia berada di wilayah musuh. Kekuasaan Halra di tempat ini jauh melampaui kemampuan Savhelicha untuk membalas secara fisik.

Dengan dada yang naik-turun karena amarah yang tertahan, Savhelicha mendengus. "Kita belum selesai, Halra. Aku akan memastikan kau melihat sendiri kehancuranmu."

Ia berbalik dan melangkah pergi dengan tumit sepatunya yang menghentak keras di lantai marmer, meninggalkan Halra yang kembali tenggelam dalam perawatan wajahnya. Namun, di balik topeng tenangnya, Halra tahu bahwa pertemuan ini adalah tanda bahwa badai yang lebih besar akan segera datang.

Pertemuan tak terduga ini semakin memperkeruh persaingan mereka. Savhelicha pasti tidak akan membiarkan penghinaan ini begitu saja. Apa langkah berikutnya yang akan diambil Savhelicha setelah dipermalukan oleh Halra di depan umum?

Mobil yang dikendarai Tazam melesat membelah jalanan kota yang mulai padat. Di dalam kabin, suasana terasa begitu menyesakkan bagi Halra. Sisa-sisa aroma parfum salon kelas atas itu seolah menguap, digantikan oleh aroma kecurigaan yang semakin pekat di kepalanya.

Halra memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan wajah licik Savhelicha. Namun, semakin ia mencoba melupakan, semakin ingatan-ingatan masa lalu menyeruak masuk. Ia teringat kejadian beberapa bulan lalu—sebuah perjamuan di mana Sano tampak begitu gelisah setiap kali nama keluarga Joharo disebut. Ia ingat bagaimana Sano pernah secara tidak sengaja menyebut nama "Savhelicha" dalam igauan tidurnya di bulan-bulan awal pernikahan mereka, yang saat itu dengan bodohnya ia sangka sebagai nama rekan bisnis.

"Tazam," suara Halra memecah keheningan, dingin dan bergetar karena emosi yang tertahan. "Apakah menurutmu... Sano dan wanita itu tidak pernah benar-benar berakhir?"

Tazam terdiam sejenak. Ia melihat dari kaca spion, mata Halra yang biasanya tajam kini tampak redup oleh keraguan. "Saya tidak tahu pasti, Nyonya. Tapi yang saya tahu, Tuan Sano adalah pria yang sangat terobsesi dengan kontrol. Jika ada sesuatu dari masa lalunya yang masih ia simpan, itu bukan karena cinta, melainkan karena ia belum selesai dengan urusannya."

Halra menatap keluar jendela. Belum selesai dengan urusannya? Apakah itu artinya Sano masih menganggap Savhelicha sebagai bagian dari aset atau "mainan" yang belum bisa ia lepaskan? Atau justru sebaliknya? Apakah Sano sebenarnya adalah korban dari manipulasi Savhelicha yang tak kunjung usai?

Pikiran Halra terus berputar. Ia teringat kembali pada malam saat Sano pulang dalam keadaan mabuk berat dan memeluknya. Saat itu Sano meracau tentang "jangan tinggalkan aku". Apakah saat itu Sano sedang memikirkan dirinya, atau justru sedang berhalusinasi melihat Savhelicha di depannya?

"Tazam," Halra kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih tegas. "Besok, aku ingin kau berhenti bersikap pasif. Aku tidak mau kau hanya berdiri di belakangku. Aku ingin kau mencari celah. Selidiki riwayat panggilan telepon Sano, dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Negeri Jaraska tempat Joharo berada sekarang. Aku punya firasat, Sano pergi ke sana bukan hanya untuk bisnis, tapi karena ada sesuatu yang ditarik oleh wanita itu."

"Baik, Nyonya. Saya akan menggerakkan jaringan saya untuk mencari informasi tersebut," jawab Tazam singkat.

Begitu sampai di kediaman Wiragata, Halra turun dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tetap terlihat anggun, meski di dalam hatinya ia merasa seperti sedang berdiri di atas retakan es yang tipis. Saat ia berjalan melewati aula utama, ia berpapasan dengan Sano yang baru saja turun dari ruang kerjanya.

Sano tampak rapi dengan kemeja hitamnya. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Halra. "Kau pulang terlambat. Tazam bilang kau pergi ke salon?" tanya Sano, nadanya terdengar menyelidik.

Halra berhenti, menatap wajah Sano. Ia mencari tanda-tanda kebohongan di sana, namun Sano tetaplah Sano—sebuah topeng yang sempurna.

"Ya," jawab Halra singkat. Ia tidak ingin berdebat, bukan sekarang. "Hanya melakukan perawatan rutin. Kenapa? Apa itu masalah untukmu?"

Sano melangkah mendekat, aroma maskulin yang khas menguar dari tubuhnya. "Tidak. Hanya saja... jangan terlalu sering keluar tanpa pengawalan yang lebih ketat. Situasi di luar sedang tidak aman."

Halra tersenyum kecut. "Tidak aman karena musuh-musuhmu, atau karena wanita yang baru saja menghinaku di salon tadi?"

Sano tertegun. Matanya menajam. "Apa maksudmu?"

Halra tidak menjawab. Ia hanya menatap Sano dengan tatapan yang menyiratkan segalanya, sebelum akhirnya berjalan melaluinya begitu saja. Ia meninggalkan Sano yang terpaku di tengah koridor, menyadari bahwa istrinya sudah mulai mencium bau busuk dari rahasia yang selama ini ia kubur rapat-rapat.

Malam itu, di dalam paviliun, Halra duduk di depan cermin. Ia mengambil ponselnya dan melihat notifikasi belanja yang ia lakukan beberapa hari lalu—semua barang mewah itu kini tampak tidak berharga di matanya. Ia menyadari bahwa ia tidak membutuhkan berlian atau gaun mahal untuk menyakiti Sano. Ia membutuhkan kebenaran.

Halra sudah mulai bergerak. Jika ia akhirnya tahu bahwa Sano pernah memiliki masa lalu kelam dengan Savhelicha, apakah ia akan langsung meminta cerai, atau ia akan menggunakan informasi itu untuk menghancurkan Sano dari dalam?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!