tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Black Card
Sudah hampir satu tahun pernikahan kami. Baik aku dan kak Aksa hanya seperti orang asing di dalam satu apartemen. Walau kami tinggal disatu atap yang sama, tapi kami hanya ketemu pada saat makan aja. Karena aku selalu berada dalam kamar. Aku malas kali jika harus bersama dalam satu ruangan dengan kak Aksa. Mungkin karena sikapnya yang dingin pada ku.
Kartu black card yang diberi oleh kak Aksa hanya aku gunakan untuk keperluan membeli bahan makanan yang habis. Selebihnya tidak aku gunakan untuk keperluan pribadi ku. Karena aku merasa, aku bukanlah istrinya yang harus dia beri nafkah lahir.
Setelah pulang sekolah. Aku nggak langsung pulang ke apartemen. Aku menuju ke mini market dulu membeli bahan yang sudah habis. Sekalian aku juga membeli cemilan buat di kamar ku. Aku singgah ke mini market di dekat apartemen. Agar nanti nggak perlu lagi pesan gojek buat pulang. Aku bisa berjalan kaki saja ke apartemen.
"Eh kak Aksa, bukankah itu Binatang. Kok dia kesini, bukannya rumah kak Aksa jauh dari sini. Apa Bintang nggak tinggal sama kak Aksa lagi?"
Aksa hanya diam aja tanpa menanggapi ucapan Tiara. Karena menurutnya pertanyaan Tiara nggak perlu di jawab.
"Uh aku di cuekin lagi. Kenapa susah kali sih untuk mengambil hati kak Aksa. Sudah hampir satu tahun aku bersamanya. Tapi kak Aksa nggak ada menunjukkan rasa ketertarikannya pada ku."gumam Tiara dalam hati. Meski kecewa dia tetap berusaha membuat Aksa suka sama dia. Dia akan pepet terus Aksa agar timbul rasa cinta Aksa padanya.
Pandangan ku dan Aksa bertemu. Ternyata kak Aksa singgah di mini market tempat aku belanja. Aku nggak tahu apa yang dibelinya. Tapi ternyata, dia hanya menemani Tiara beli sesuatu.
Memang miris sih, "aku yang istrinya aja dibiarkan belanja sendirian, tapi giliran Tiara aja dia selalu ada waktu buatnya." Uh sudah lah. Buat apa mengeluh, jalani ajalah hidup in. Hanya tinggal satu tahun lagi."gumam ku dalam hati.
Selesai membayar, aku berjalan keluar menuju apartemen. Aku bahkan nggak menyapa kak Aksa juga Tiara. Aku berjalan dengan cepat seolah olah aku nggak kenal dengan mereka. Sampai Tiara menyapa ku.
"Hai Bintang. Apa kamu nggak lihat aku dan kak Aksa? Kok nggak nyapa sih!"
"Maaf kak Tia, aku buru buru soalnya. Kalau gitu aku duluan ya kak."
"Sok sibuk sih tu anak. Kak Aksa aku sudah siap belanja nya. Tolong bayarkan ya kak."
Aksa membayar apa yang di beli oleh Tiara. Dalam hati Aksa bergumam." Kok banyak kali yang dibeli ni anak. Kayak aku diporotin aja. Emang beda nih Tia dan Bintang. Mungkin jika aku kasih Tia black card pasti udah banyak yang berkurang saldonya nih."
"Tapi tunggu, kok notifikasi belanjaan Bintang dikit aja. Padahal aku lihat tadi dia belanja juga banyak. Biar nanti pulang ini aku ngomong sama Bintang."gumam Aksa lagi.
"Kak besok temani Tia belanja beli baju ya kak. Ada baju keluaran terbaru. Tia mau membelinya."
"Sorry Tia. Besok aku nggak bisa temani."
"Kok gitu sih kak. Biasanya kakak selalu mau temani Tia."
Aksa hanya diam aja mendengar Tia ngomong. Mungkin Aksa sudah jenuh dengan sikap Tia yang banyak maunya. Entah apa sebabnya selama ini Aksa mau saja menolong dan membantu Tiara hanya dia yang tahu.
"Gawat ni jika kak Aksa mulai menjauh dari ku. Apa aku selama ini selalu banyak permintaan sama kak Aksa jadi dia mulai bosan. Nggak aku nggak mau jika kak Aksa mulai menjaga jarak dari aku. Aku harus mulai bersikap seperti di awal dulu. Yang selalu perhatian dan nggak banyak nuntut."ungkap hati Tiara.
"Sudah belum, aku ada perlu. Mari ku antar pulang dulu. Tapi jika masih banyak yang mau di beli, kamu pesan taksi aja."
"Sudah kak, Tia sudah selesai membeli keperluan Tia. Mari kak kita pulang lagi. Maaf ya kak jika Tia selalu merepotkan kakak." Ucap Tia dengan wajah yang memelas agar Aksa bisa kasihan melihat tampangnya.
Setelah itu. Aksa mengantar Tia kerumahnya. Sampai depan pagarnya, Tia turun dari motor Aksa. Dan Aksa langsung pulang ke apartemennya setelah Tia turun dan mengucapkan terimakasih. Tanpa mendengar ucapan terima kasih Tia, Aksa langsung aja meluncurkan motornya menuju ke apartemennya. Sesampai apartemennya, Aksa langsung mencari Bintang. Dia cari Bintang di dapur dan ruang tv tapi nggak ada. Jadi Aksa langsung menuju kamar Bintang dan mengetok pintu kamar Bintang.
Tok tok tok." Bin apa kamu di dalam. Bin..."
Diketok pintu tiga kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Sehingga Aksa memcoba membuka pintunya, memegang gagang pintu kamar Bintang dan ternyata nggak terkunci. Di buka pintu kamar Bintang dan dia melihat Bintang lagi tidur di kasurnya. Dengan memakai ten top tali satu dan celana pendek sebatas paha sehingga Aksa dapat melihat kulit putih dan mulus Bintang.
"Glugh, ternyata dia mengemaskan sekali baik di luar maupun di dalam. Tidak, aku tidak mau dia tahu kalau aku masuk kekamarnya. Apa kata dia nanti. Nanti malah aku dibilang mesum lagi."gumam Aksa.
Akhirnya Aksa tutup pintu kamar Bintang dan berjalan ke ruang tv. Dihidupkannya tv, tapi malah dia melamun. Membayangkan tubuh Bintang yang menurut dia sangat seksi. "Uh, fikiran apa ni. Nggak, aku harus lupakan apa yang aku lihat."kata Aksa sambil menggeleng geleng kepala nya.
Setelah satu jam berlalu. Dengan fikiran nggak jelas Aksa, dia mulai mengetok pintu kamar Bintang lagi. Berharap Bintang sudah bangun dari tidurnya.
Tok tok tok. "Bin, apa kamu di dalam. Bin...Bin.."
"Ah iya kak." Sambil berjalan ke pintu, Bintang membuka pintu kamarnya. "Ada apa kak?" Tanya Bintang. Saat ini, Bintang nggak sadar kalau dia hanya pakai ten top dan celana sebatas paha. Karena dia baru bangun tidur. Tapi tindakannya itu membuat Aksa panas dingin melihat pemandangan didepannya ini. Jika tidak mengutamakan egonya kepada mommy nya, mungkin dia sudah menerkam Bintang saat in.
"Kakak tunggu kamu di ruang tv. Dan kalau mau buka pintu kamar itu, perhatikan dulu pakaian kamu baru buka pintu. Kamu jangan ceroboh. Bisa bisa nanti kamu yang rugi sendiri."
"Ah. Kok kak Aksa marah marah gitu. Emang apa salahnya dengan pakaian ku." Monolog Bintang sambil dia memperhatikan pakaiannya saat ini." Oh my good, malunya aku, berpakaian seperti ini di depan kak Aksa. Dimana harus ku letakkan muka ku ini.hu...hu...hu..."gumam Bintang sambil menangis dalam hati.
Setelah berganti pakaian, aku keluar kamar dan menuju ke ruang tv. Aku duduk di hadapan kak Aksa. Sambil menunduk karena kejadian tadi.
"Apa yang mau kakak bicarakan dengan Bintang."
"Kakak mau tanya, apa kamu memakai black card yang kakak berikan? Kenapa tidak banyak sekali pemakaian uang keluarnya. Contohnya aja tadi pas kamu belanja, belanjaan kamu banyak. Tetap kenapa notifikasi belanjaan uang keluarnya sedikit?"
"Ah." Aku tercengang lihat kak Aksa ngomong panjang kali lebar. Karena selama ini aku dan kak Aksa jarang bertemu apa lagi komunikasi.
"Kenapa kamu nggak jawab pertanyaan kakak?"
"Itu kak, aku kan belanja untuk kebutuhan rumah pakai kartu yang kakak beri. Sedangkan untuk cemilan dan kebutuhan pribadi aku, Bintang pakai uang Bintang sendiri kak."
"Kenapa kamu nggak pakai kartu yang kakak berikan. Apa kamu nggak dengar kata kakak. Itu kartu buat kebutuhan apartemen ini dan kebutuhan pribadi kamu Bintang. Kamu itu tanggung jawab kakak, apa kamu ngerti"!