NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:558k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ara Nas Nasya Nuriva

Aku mencintaimu, Ale, tapi aku berpacaran dengan Elang yang tak lain keponakanmu. aku tidak pernah sakit hati putus dengan Elang. tapi aku sakit hati atas pernikahanmu (Kiara)


Kiara Putri Sanjaya, 21 tahun. terlibat hubungan salah sasaran. ia menjalani hubungan palsu dengan Elang selama setahun. terbebas dari Elang, berharap bisa dekat dengan Ale yang tak lain adalah Paman Elang. Namun, Kiara harus menelan pil pahit karena Ale akan menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nas Nasya Nuriva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 32

Tok...tok..tok..

“Masuk!” perintah Dira.

“Tuan Evan ingin menemui Anda,” kata sekretaris Dira.

Dira menoleh sebentar dan menganggukkan kepala. Sekretaris Dira segera keluar dan kembali masuk bersama Evan. Dira menatap Evan dengan tajam.

“Ada apa si gembul ini datang ke kantorku?,” gumam Dira dalam hati.

Evan berjalan mendekati Dira dengan takut. Dira bisa melihat gerak tubuh Evan yang sedang gelisah. Tangan dan kakinya gemetar. Ingin sekali Dira melempar benda padat agar tubuh Evan berhenti bergetar.

“Jika kau kesini hanya untuk membuat kantorku roboh, hentikan langkahmu dan kembalilah! Leluhurku menghabiskan biaya banyak untuk membangun gedung ini" ucap Dira dengan nada sinisnya.

“Tuan Adiraka..." Evan membungkukkan tubuhnya yang tambun.

“Ada apa?" sambar Dira cepat.

“Maafkan kelancangan saya, Tuan. Maaf jika saya mengganggu Anda. Saya ... saya ... kesini... untuk.. membicarakan...”

“Apa??? Kau mau apa???" bentak Dira.

Sebenarnya Dira tidak kesal, dia hanya sedang mengusili Evan.

“Saya ingin membicarakan....”

“Kau butuh suntikan dana lagi?" potong Dira.

“Bukan, Tuan Adiraka" jawab Evan.

“Kau mau mengadakan acara?" tanya Dira lagi.

“Bukan, Tuan Adiraka"

“Lalu apa maumu hah? Menyebalkan sekali" gerutu Dira.

"Saya ingin berbicara tentang Rio" ucap Evan cepat.

Evan segera menarik nafas dalam-dalam.

“Rio? Fotografermu? Ada masalah apa dengan dia?" tanya Dira.

Tampak raut tidak suka pada wajah Dira mendengar Evan akan membahas tentang Rio.

Evan diam. Evan kembali menghirup nafas dalam- dalam, meyakinkan dirinya dan

hap... hap... hap....

Evan melangkah mendekati Dira dan berlutut, bersimpuh di hadapan Dira. Dira segera bangkit dari kursi kebesarannya. Dia terkejut dengan tingkah Evan yang tidak terduga.

“Tolong maafkan, Rio! Tolong izinkan Rio bersama Nona Kiara. Saya mohon Tuan Adiraka. Jangan halangi mereka bersatu! Aku mohon!" Evan berkata dengan tersedu-sedu.

“Saya rela melakukan apapun agar Tuan Adiraka mengizinkan Rio dan Nona Kiara bersatu. Saya mohon belas kasihan Anda. Tolong kabulkan permintaan saya ini, Tuan!” ucap Evan memelas.

Dira menghentakkan kakinya kemudian berjalan menjauhi Evan. Sudah dua tahun berlalu sejak Dira berhasil menjauhkan Kiara dari Rio. Dira pikir topik ini sudah selesai. Toh selama ini Kiara tidak pernah menyebut nama Rio. Entah ada angin apa tiba-tiba Evan datang kepadanya ingin membahas Rio.

“Kau sedang mabuk?" tanya Dira mencibir.

“Tidak, Tuan! Saya sadar"

“Kau sadar?" tanya Dira dengan nada mengejek.

“Saya sadar, Tuan. Saya sangat sadar"

Dira membungkuk dan mencengkram kerah baju Evan. Dira menarik Evan hingga wajahnya tepat berhadapan dengan Dira. Evan semakin ketakutan. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Evan bisa merasakan jika Tuannya akan mengamuk. Evan memilih diam dengan terus berdoa dalam hati agar apa yang dia takutkan tidak terjadi.

“Kalau kau kesini hanya untuk membicarakan si brengsek Vaston. Kau sama saja mengantarkan nyawamu padaku. Aku sudah berkali-kali aku katakan jika aku membenci Vaston. Sampai matipun aku akan membencinya" ucap Dira penuh amarah.

“Tuan...! Sa..ya.. mo..hon am..pu..ni ke..sa..la..han Rio" ucap Evan terbata.

Lehernya tertekan oleh cengkraman tangan Dira sehingga membuatnya sulit berbicara.

Dira menyeringai. Kedua tangannya mencengkram kerah baju Evan lebih kuat lagi. Evan mencoba melepaskan cengkraman tangan Dira. Namun, apalah daya dirinya hanya laki-laki lemah gemulai yang tidak mungkin menang melawan Dira. Evan pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya.

“Meski kau memohon sampai matipun, aku tidak akan mengabulkannya. Bagiku luka di balas luka. Vaston harus merasakan bagaimana sakit yang aku rasakan dulu. Paham kau???" Dira menghempaskan tubuh Evan hingga jatuh ke lantai.

Evan terbatuk-batuk. Nafasnya masih ngos-ngosan. Evan mencoba bangkit. Dirinya sudah bertekad akan terus memohon pada Dira. Apapun perlakuan yang akan Evan terima, Evan tidak peduli. Evan yakin dirinya bisa meluluhkan hati Dira yang keras bagaikan batu.

Evan merangkak dengan susah payah. Ia kembali meraih kaki Dira dan memeluknya. Dira menatap Evan dengan geram.

“Tuan, saya mohon ampunilah Rio!”

Dira tak bergeming. Dia malah menyeret kakinya yang sedang dipeluk Evan. Tentu saja Dira kewalahan menyeret kakinya.

Tidak ingin malu dan harga dirinya tercoreng, Dira segera membuka laci mejanya dan mengambil sesuatu. Sebuah pistol. Dira mengarahkan pistol itu tepat di dahi Evan.

“Lepaskan tangan kotormu itu dari kakiku...!!!!”

Evan tidak mengindahkan ancaman Dira. Dirinya terus meracau, memohon agar Dira memaafkan Rio. Dira menarik pelatuknya, bersiap melepaskan tembakan.

Brakkkk...

Rio mendobrak pintu ruang kerja Dira. Di belakangnya, sekretaris Dira berusaha menarik tangan Rio agar tidak masuk ke ruangan Dira.

“Evan..!!!”

Rio berteriak ketika netranya melihat pemandangan menyeramkan. Rio hendak melangkah mendekati Evan. Namun, langkahnya terhenti karena teriakan Dira.

“Diam disitu!!!. Aku tidak sudi kau menginjakkan kaki di ruanganku" bentak Dira.

“Lepaskan tanganmu yang kotor itu, Evan, atau aku akan mematahkannya!" bentak Dira terus menghempaskan kakinya agar terlepas dari pelukan tangan Evan.

“Tuan!!!" teriak Rio histeris.

“Diam kau ke pa rat!!! Kau tidak ada hak untuk berbicara di sini!!” kali ini Dira mengarahkan pistolnya ke arah Rio.

Evan berteriak. Ia semakin histeris memohon kebaikan hati Dira. Dira mengacuhkan ucapan Evan. Fokusnya kini beralih pada Rio. Dira melangkah dengan tangan yang tetap mengarahkan pistol pada Rio.

“Kau berani sekali mendobrak pintu ruang kerjaku. Jangankan mendobrak, menyentuhpun haram untukmu, Vaston!”

“Maafkan saya Tuan Adiraka. Saya tidak sengaja melakukannya. Saya panik ketika tahu Evan datang menemui Anda"

“Diam...!!! Aku sudah muak melihat wajahmu, Vaston. Bertahun-tahun aku diam membiarkanmu tetap bernafas dengan tenang. Kau bisa bahagia di atas lukaku. Kau pikir kau siapa hah?”

“Tuan Adiraka. Saya memang salah. Tapi saya mohon ampuni saya. Saya akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan saya" ucap Rio mengiba.

“Kau mau menebus kesalahanmu hah? Pergilah ke neraka, maka aku akan mengampunimu!!!" bentak Dira membuat wajah Rio dan Evan memucat.

Dorrr

Suara tembakan terdengar bersamaan dengan suara kaca yang pecah. Evan dan Rio menutup mata menyangka Dira menembak salah satu dari mereka. Namun mereka salah, Dira menembakkan pistolnya ke kaca ruang kerjanya.

“Berani lu sakitin salah satu dari mereka. Gue berangkat sekarang juga kesitu buat bikin perhitungan sama lu!" Kiara berteriak.

Raut wajah Dira berubah seketika melihat Kiara berkacak pinggang dari layar handphone milik salah satu bodyguardnya. Kiara dan Dira tersambung panggilan video jarak jauh melalui handphone milik salah satu bodyguard Dira.

Kiara menatap Dira dengan tatapan membunuh membuat otot-otot wajah Dira yang semula tegang menjadi kendur secara perlahan.

"Sial!! Mengapa Kiara menghubunginya disaat seperti ini?" umpat Dira dalam hati.

“Gue sudah ngikutin semua kemauan lu, Kadir! Apa lu nggak bisa hargai apa yang sudah gue lakuin?" tanya Kiara sedikit membentak Dira.

“Biarkan mereka pergi! Andai gue ada disana, lu sudah habis gue bikin perkedel. Sepertinya lu kangen gue lemparin heels,” ucap Kiara, tangan kanannya memperlihatkan heels berukuran 20 cm yang tentu saja bukan miliknya.

Dira menelan ludah. Dia bergidik ngeri melihat heels yang dipegang adiknya.

“Pengawal, bawa mereka keluar dari kantorku! Pastikan mereka tidak pernah menginjakkan kakinya lagi ke sini!" perintah Dira yang segera dilaksanakan oleh para pengawalnya.

“Tunggu!!!,” cegah Kiara cepat.

“Arahkan kamera pada mereka! Gue mau lihat apa mereka baik-baik saja" ucap Kiara.

Dira menghela nafas dan mengibaskan tangannya pada salah satu bodyguardnya yang sejak tadi memegang handphone yang dipakai video call antara Dira dan Kiara. Bodyguard Dira menggeser handphone miliknya dan mengarahkan kamera pada Evan dan Rio.

Rio menatap Kiara dengan mata berkaca-kaca. Entah mengapa dirinya sekarang berubah menjadi sosok melankolis. Meski hanya beberapa detik, itu sudah mengobati kerinduan Rio pada Kiara.

“Bawa mereka pergi” ucap Dira malas.

Evan dan Rio digiring oleh para pengawal Dira meninggalkan ruang kerja Dira. Mereka melangkah dengan gontai.

“Urusan kita belum selesai, Kadir! Gue akan tetap buat perhitungan karena lu udah melanggar perjanjian.”

Dira diam.

“Gue tutup dulu. Bentar lagi gue berangkat ke Jakarta. Gue ingetin lu sekali lagi. Jangan macam-macam dengan mereka! Sampai gue tahu lu bikin Rio atau Evan terluka. Detik ini juga gue akan nyamperin lu buat bikin perhitungan" ucap Kiara kemudian memutuskan sambungan video jarak jauhnya dengan Dira.

Dira membanting handphone milik bodyguardnya itu. Dira segera mengambil tas kerjanya dan pergi meninggalkan kantornya. Mood kerja Dira sudah rusak. Dia akan pergi sejenak menenangkan pikirannya yang sedang kacau.

Di tempat lain, di sebuah pesawat yang baru saja lepas landas meninggalkan Labuan Bajo menuju Jakarta, Kiara duduk melamun menatap jendela. Bayangan Rio masih saja betah mengusik pikirannya. Untung saja Kiara menyuruh tukang pukulnya menghubungi Dira. Sehingga dia bisa menggagalkan tindakan konyol kakaknya itu.

Sampai detik ini Kiara juga belum mengetahui ada masalah apa antara Dira dengan Rio. Mengapa Dira sangat membenci Rio? Ingin sekali Kiara menanyakan hal itu pada Dira langsung. Tapi niatnya itu selalu ia urungkan. Entah ada rasa sungkan dalam diri Kiara untuk mencampuri masalah pribadi Dira.

“Rio semakin jelek saja" gumam Kiara tiba-tiba dan tentu saja terdengar oleh Olive.

“Ada apa Nona? Nona mengatakan sesuatu?" tanya Olive memastikan kejelian pendengarannya.

“Aku tidak salah lihat kan Olive?" tanya Kiara.

“Maksud Nona?” tanya Olive tak mengerti.

“Rio. Dia tidak setampan dulu. Ha ha ha" ucap Kiara mencoba tertawa meskipun garing.

“Rio sudah tidak memperhatikan penampilannya lagi semenjak tragedi ulang tahun Evan, Nona” ucap Olive membuat Kiara sedikit kaget.

“Rio berubah menjadi pendiam dan pemurung. Tapi dia tetap profesional dalam bekerja" tambah Olive.

“Olive, kau mau membantuku?"

Olive mengangguk.

“Nanti setelah sampai di Jakarta, aku akan memberi tahumu" ucap Kiara dengan senyum usilnya.

Olive kembali mengangguk.

Author kangen like dan komen kalian hu..hu...hu...

1
Ferfi Risma Uli
entahlah!!
Tidqk patut dicontoh, IDE YG ABSURD, KARAKTER YG HALU.....
ADA YQ PEREMPUAN SEPERTI KIERA nemplok diidenyq thor
MommyAtha: namanya juga cerita, ONENG!!! kalau mau g halu yaa bukan fiksi
total 1 replies
Ferfi Risma Uli
kalau kiara anakku kupaatikan menguleni mulut atas, mulut bawah dgn cabe sembari diikat dipohon karet....

ABSURD BANGET
Ferfi Risma Uli
kalau kiara anakku kupaatikan menguleni mulut atas, mulut bawah dgn cabe sembari diikat dipohon karet....

ABSURD BANGET
Ferfi Risma Uli
NGAWUR!!!
Ferfi Risma Uli
Sinetron
Idang
semoga kiara menemukan kakanya yaa
Rury Jayanti
Luar biasa
Husnul Khotimah
keren ceritanya maak
Lina Zascia Amandia
Kak Atha, maafkan sy yg jarang nengok karyanya, soalnya ada tugas juga yg numpuk. Tp sabar ya pas santuy pasti mampir..... kadang like kadang baca.... Heheehehe...
Lina Zascia Amandia
Wkwkkwk episode ternyeleneh..... ada di orang kaya ranjangnya bisa patah.... asli nih..... kocak....
Lina Zascia Amandia
PAS asik2 baca pindah bab dibawah adalah ada visual. Sumpah untuk Kiara diluar expektasi sy Thor.... hehe.... bayangannya sih Anya liar n seksihhhh, maksudnya perannya....
mery harwati
😃Kiara ajak aja main ke Gunung Klothok atw ke SLG atw ke Besuki atw Posarang atw air terjun Dholo, banyak tuh tempat wisata Kediri yang bikin otak fresh lagi 😍
MommyAtha: aduh... bikin lapar ini mah
total 3 replies
mery harwati
Lah lah lah kenapa itu kota Pare Kediri dibawa bawa Thor ? Aq kaget lho beneran, karena aq juga orang Kediri 😃 Jangan² Dira di suruh ngajar di Kampung Inggris ? 😍, memang Kediri Bersemi selalu di hati ♥️
mery harwati
😃😃Ale, emang enak dikerjain sama Kiara 🤪
mery harwati
Waahh gila nih bocah 🤪 cinta emang gak peduli dia udah bekas orang juga ya bahkan masih sah, dapat wangsit dari lagu tadi tuh, jadi nekat 😃
mery harwati
Oh Jeng Kelin kapan ya aq bisa ke salah satu tempat wisata impian ku, Labuan Bajo,selain Raja Ampat 😍
mery harwati
Rio kau harus berjuang klo mau Kiara jadi istrimu 💪
MommyAtha: semangat
total 1 replies
mery harwati
Mengintip cerita nya dulu ya Thor 😍
mery harwati: Iya makasih ya Thor, sehat selalu bwt Author ya 💪
total 2 replies
Puspa Trimulyani
ini seperti keluarga mafia ya kak??? kok nyimpan senjata?
Puspa Trimulyani: 🤭😅😅😅🙏
total 2 replies
Ezhi Alfarizy
aq mampir nich thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!