Mutia Syakila
Seorang gadis desa yang berparas cantik dan di juluki kembang desa, ia berumur 20 tahun, mempunyai adik perempuan satu , namun orang tuanya bercerai saat ia masih SMA. sesuatu yang sangat mengharuskan jika anak perempuan pertama pasti menjadi tulang punggung keluarga, apalagi ayahnya memiliki sakit jantung.
Ia bekerja siang malam untuk menhidupi keluarga dan pengobatan ayahnya. Dan cobaannya tidak sampai disitu, karena ia bertemu dengan sorang lelaki Yaitu Rangga aditiya yang membawa cinta sekaligus luka bagi mutia
Bagaimanakah kelanjutannya, ???
#Tinggalkan jejak setelah membaca yaa para readers tercintah🤗❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak di takdirkan untuk bersama
Darah mutia berdesir, tangannya mengepal erat matanya menunjukan kebencian yang mendalam.
"Sampai ke lubang semut sekalipun, aku akan tetap mengejarmu!"
Tok..tok tokk
Mutia mengalihkan pandangannya pada pintu ,
"Masuk!" Ucap mutia lantang dan penuh ketegasan.
"Mau apa lagi kamu?" tanya mutia pada rangga yang perlahan mendekat kepadanya.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu" Ucap rangga lembut
"Aku baik-baik saja, Kau boleh pergi, Aku bisa pulang sendiri"
"Sayang..."
"Jangan panggil aku sayang, krna kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa" ucap mutia ketus.
"Apa kau yakin?"
Mutia diam sejenak, di dalam hatinya yang terdalam ia tidak membenarkan perkataanya tersebut. namun rasa pedih telah membuat mutia menjadi seorang yang tak lagi menggunakan hatinya.
"Ya" jawab mutia singkat.
Rangga membuang nafasnya dengan kasar.
"Baiklah, jika memang ini maumu. Tapi ada syaratnya"
"Syarat apa lagi hah?" mutia memberanikan diri menatap rangga
"Ijinkan aku selalu mencintaimu dan menjagamu" ucap rangga dengan lembut sambil memegang tangan mutia.
Mutia sempat terpana fan terharu hatinya menghangat saat tangan itu menggenggam tangannya. Namun detik berikutnya mutia melepas paksa tangannya ia tidak ingin hatinya semakin mencintai rangga karna ia sadar ia tidak akan pernah bisa bersama dengan rangga.
"Bagaimana?"
"Tidak. Lupakan saja aku"
Rangga terheran melihat sikap mutia yang ketus dan dingin. sorot dan mata yang sulit diartikan.
"Aku tidak tau, seberapa luka yang kau dapatkan saat kau jauh dariku hingga membuat sisi lembut dan ceriamu sirna begitu saja, ini semua gara-gara kakek"
Rangga mengepalkan tangannya saat mendapat penolakan dari wanita yang paling di cintainya.
"Permisi pak" Ucap perawat yang menghantarkan makan untuk mutia.
"Eh iya . terimakasih"
Mutia hanya diam tak bergeming. Fikirannya kemana-mana,
"kamu makan dulu yah, biar aku suapin"
"aku tidak lapar" jawab mutia tanpa melihat ke arah rangga.
"kamu harus tetap makan, biar cepet pulih"
"Aku bilang tidak mauu!!" mutia menatap tajam rangga.
"Ayolah.. kamu harus cepet pulih agar kita bisa segera pulang ke kuningan, ada ayahmu yang selalu menunggumu"
Tanpa terasa air mata yang ia tahan sejak tadi berhasil mendobrak pertahanan itu
"Aa..ayahhh" ucap mutia lirih sambil menundukan wajahnya.
"Iya.. Ayah selalu mengkhawatirkan anak gadisnya, gadis yang kuat dan selalu ceria.." belum sempat rangga meneruskan ucapannya , mutia berbalik
"Bagaimana keadaan ayah? aku ingin pulang saja sekarang"
Mutia hendak turun dari brankar.
"Hey.. mutia.. kamu belum sembuh. kamu harus tetap disini sampai keadaanmu benar-benar membaik."
"Tapi aku ingin pulang sekarang, aku khawatir dengan keadaan ayah"
Rangga memegang kedua bahu mutia dan di arahkan untuk berhadapan dengannya.
"Dengarkan aku. Ayah akan semakin khawatir saat ia melihat keadaanmu yang seperti ini, sekarang duduklah. makan yang banyak biar kamu cepet sehat dan aku akan mengantarkanmu pulang ke kuningan"
Mutia membenarkan perkataan rangga. akhirnya ia duduk kembali dan makan di suapi oleh rangga.
"Rangga?"
"Hmm"
"Apa ayah tau aku diculik?"
rangga menarik nafas sebelum menceritakan semuanya dari awal. ia menceritakan bagaimana ia berusaha sekuat tenaga untuk menemukan mutia.
Diam-diam mutia meneteskan air mata karena terharu sebegitu cinta rangga padanya.
"Maafkan kakek. aku tau ini di luar batas. kamu jangan khawatir, aku akan membuat perhitungan dengan kakek"
"Jangan ngga. Sudahlah turuti saja apa kata kakek mu. sepertinya memang kita tidak di takdirkan untuk bersama."
Rangga menggelengkan kepalanya dengan cepat. tanda ia tidak membenarkan ucapan mutia.
"Tidak. aku tidak akan menyerah mutia, aku akan berusaha untuk meminta restu dari kakek" ucap rangga meyakinkan mutia