WARNING!!!!
BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN!!!
Mengisahkan dua orang pria dan wanita yang terlibat sebuah pernikahan tanpa cinta. Tetapi sama-sama saling membutuhkan pernikahan tersebut demi kepentingan masing-masing.
Menghadapi pria yang dingin dan kaku, Naja sering menahan sesak karena tindakan dan ucapan pria yang telah menjadi suaminya itu.
Sedangkan Excel, yang tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Mikha, harus menyesuaikan diri dengan istrinya yang ceroboh dan pemarah.
Mampukah mereka mempertahankan pernikahan mereka?
Hanya cerita biasa ajah, hiburan semata!
Alur selow Yess ✌, no visual di dalamnya...visual di taro di igeh...
21+ AREA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Rasa
Ucapkan selamat tinggal pada pekerjaannya sebagai asisten. Kini Naja sedang menghadapi gedung megah tempatnya bekerja. Memulai hidup baru yang entah. Naja masih meraba-raba. Berharap cahaya terang datang, sehingga tahu mana jalan yang penuh lubang.
“Jangan dipandangi terus, nanti cinta loh,”
Naja menoleh, “Mbak Mikha ...,”
Mikha menyejajarkan diri dengan Naja. “Semoga kamu hanya cinta gedungnya, bukan sama yang punya ...,”
“Mbak Mikha ini bisa ngelucu juga rupanya?” Naja tertawa lirih. Sempurna, dari ujung kaki hingga ujung rambut. “mungkin ibunya mbak Mikha dulu pesen kali ya, bisa punya anak kaya boneka gini, sempurna dan memesona,” Batin Naja.
“Menertawakan diri juga penting, Na. Zaman sekarang, hidup harus banyak mempermalukan diri biar tetap eksis,” Mikha mendorong punggung Naja. Memaksa Naja melangkah bersamanya.
“Itu sih aku Mbak, kalau Mbak Mikha mana ada yang perlu ditertawakan. Sudah sempurna seperti ini juga.”
“Hidupku, Na. Hidupku udah seperti ketoprak humor. Dan aku harus menebalkan muka jika masih ingin hidup bahagia.” Mikha tersenyum saat Naja berhenti sekadar mencerna ucapan Mikha.
“Aku hanya sedang berlatih dialog untuk peranku di sebuah film ... jangan diambil hati,” sambung Mikha saat Naja tak juga beranjak dari tempatnya berdiri.
Naja menghembuskan napas lega, “Mbak Mikha membuat aku jantungan saja ... hidup Mbak Mikha udah mapan. Banyak bersyukur Mbak, lihat nih aku, jauh di bawah Mbak Mikha.”
Mikha tersenyum simpul. “Kerja yuk ... nanti diomelin Ibram,” Mikha berjalan mendahului Naja dan mereka pisah di depan lift. “Na ...,”
“Naja berbalik, “Ya Mbak ....,” sahut Naja ringan.
“Jangan jatuh cinta sama pemilik kantor ini ya, soalnya aku ngga mau temanku menyukai apa yang aku miliki ...,” Mikha menahan senyum sebelum tubuhnya tertelan pintu lift.
Naja terbengong beberapa saat, “Orang pemiliknya aja belum pernah ketemu, kok bisa jatuh cinta sih? Aneh Mbak Mikha ini.” Naja menggelengkan kepalanya. Lalu melanjutkan langkah kakinya ke locker room seperti pemberitahuan Ibram melalui pesan semalam.
**
Sementara, Excel yang sudah tiba di kantor malah merasa malas sekali hari ini. Pikirannya begitu kacau. Hanya karena adegan kecilnya bersama Naja, dunianya yang tenang menjadi amburadul. Wanita berponi itu membuat tidurnya tidak lagi nyenyak. Excel bergerak dalam duduknya, mencari posisi yang nyaman untuk menggantung pikirannya pada Naja.
“Cel ... denger ngga sih aku ngomong?” Rega sejak tadi menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan shooting iklan perhiasan Tristan. Berhubung ada beberapa hal yang harus diubah, kini mereka harus membahas ulang rencana awal. Ditambah Tristan masih belum memutuskan model wanitanya.
“Menurutku, Angel yang paling tepat. Yakinkan Tristan akan hal itu.” Sahut Excel malas. Pria itu tidak seperti biasanya, meski biasanya pun Excel irit bicara dan berwajah masam.
“Jika ada opsi lain, dia mau coba. Bosan Angel terus yang muncul di katalog, katanya.”
“Sejak kapan Tristan jadi pemilih dan cerewet seperti ini?”
“Sejak ...?” beberapa saat Rega membeku, “tenang, aku bisa yakinkan dia agar mau pake Angel.” Rega buru-buru meralat ucapannya.
“Uh, jangan sampai Excel tahu yang sebenarnya terjadi waktu itu.” Batin Rega.
“Urusan seperti itu saja suka sekali ribet,” gerutu Excel yang langsung meraih berkas lain untuk diperiksa. “mengganggu saja,” sambungnya dalam hati. Menempatkan lagi telunjuk yang ditekuk di antara belahan bibirnya. Mengentak kertas di tangannya seolah kertas itu tidak pada posisi yang benar saat ini.
Rega begitu heran dibuatnya, apalagi wajah Excel semakin masam saat ini. “Kau ini kenapa sih benernya? Aneh banget kelakuanmu?” Rega yang duduk berhadapan dengan Excel, memandangnya penuh keheranan. Hari ini tingkat keasaman pria ini naik beberapa derajat.
“Kau saja yang aneh, biasanya apa-apa beres, kenapa sekarang banyak protes?” sekali lagi Excel melemparinya tatapan kesal.
“PMS ya?” Rega mengenyakkan punggungnya di sandaran sofa. Dia tidak akan menyerah sampai Excel mengakui apa yang sedang terjadi padanya. “Atau ... lagi suka sama cewek dan dia ngga peduli sama kamu?”
Excel memilih menyerah untuk membaca kertas bernilai uang itu. Dicampakkan kertas itu dengan kasar di atas meja. Napasnya terbuang kasar, dan menyondongkan tubuhnya ke depan. Menumpu tautan tangan di bawah dagu, Excel menatap sahabatnya yang kembali siaga.
“Sekarang dia sedang bermain di benakmu ke sana kemari memenuhi semua sudut otak dan hatimu? Dia menguasai dirimu, bertakhta di tempat paling tinggi, benar?” terka Rega sebelum Excel membuka mulutnya.
“Meski dia mengacaukan pikiranmu, apa itu juga bisa dibilang sebuah rasa suka?”
“Ya ... semua berawal dari mengacau. Kau jadi sering memikirkannya setiap waktu.”
“Kau pernah suka sampai seperti itu?”
“Kau lupa? Bagaimana kacaunya aku saat Kristal menolakku? Dan sampai sekarang aku benci dan masih cinta sama dia?”
“Ck, wanita itu lagi ... masih saja kau menyimpan cinta pertamamu yang mengerikan itu.” Cibir Excel tanpa tedeng aling-aling.
“Kau pikir kau tidak? Kau juga sama, masih menyimpan cinta pertamamu yang mengenaskan itu.” Balas Rega tak kalah blak-blakan.
“Ck ...,” merasa terpojok Excel kembali mundur. Rega bahkan memiliki senjata yang cukup mematikan untuk menyerangnya balik. “kau kan juga membuat rumit keadaan Ga, bisa saja kalian menerobos batas yang kalian pasang sendiri?”
Rega membuang napas kasar, “Iya, dan akan membuat Mamaku tersiksa setiap melihat wajah Kristal. Kau pikir mudah jadi nyokapku?”
“Mama juga pernah dalam posisi sulit, tapi dia ikhlas tuh maafin Papa yang sudah nyakitin dia?”
“Om Rian ngga sampai buat siapa-siapa kehilangan nyawa ... kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya.”
Keduanya membisu. Benar. Sekalipun menyakiti, Rian tidak sampai menghilangkan nyawa orang-orang yang berarti dalam hidup Excel. Berbeda dengan Mamanya Rega yang harus kehilangan Reno–suaminya– karena ulah Viona, mamanya Kristal. Excel tidak punya hak untuk menghakimi siapa pun, setiap orang punya masa sendiri untuk berdamai dengan kepastian hidupnya.
Meski Viona sudah berulang kali memohon maaf dan bersujud di kaki Giza, tapi wanita itu masih teguh hati untuk tetap membenci Viona dan Kristal. Meski sikap Giza, juga menoreh luka di hati putra semata wayangnya. Excel mendesah dalam, begitu rumitnya dunia hanya demi sebuah rasa.
Bukankah dia juga seperti itu sekarang?
“Jadi siapa gadis itu?” Rega bukan orang yang mudah melupakan sekalipun dia sendiri tengah compang camping dengan perasaannya. Duka di wajah Rega sirna seketika. Entah bagaimana dia menepikan luka yang baru saja menghiasi raut wajahnya.
"Bukan siapa-siapa ... tidak penting juga ...," gumam Excel.
"Yang sekarang ngga penting besok bakal jadi prioritasmu, Cel, ingat itu!" seru Rega yang kesal karena sikap tertutup Excel. Menyambar beberapa berkas yang harus dirampungkan hari ini, Rega melangkah keluar ruangan Excel dengan wajah tertekuk. Membiarkan Excel menekuri ucapannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf anakku lagi sakit, jadi dua hari ngga bisa up🙏
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻