Kevin Setiawan, 25 tahun, adalah seorang pengusaha muda kaya, yang kabur dari rumah karena menolak di jodohkan oleh orangtuanya.
Untuk menutupi identitasnya, dia tinggal di sebuah rumah kos dan bekerja sebagai pegawai minimarket.
Suatu malam dia menemukan seorang bayi tepat di depan pintu rumah kosnya, pertemuan dengan bayi perempuan itu membuat hidup Kevin berubah, dan kini dia menyandang status ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkapkan Perasaan
Kevin mengajak Tania menggunakan mobilnya ke sebuah taman kota yang malam itu ramai di kunjungi para anak muda.
Kevin memarkirkan mobilnya di pinggir jalan taman itu, kemudian dia segera keluar dari mobil dengan menggandeng Tania menuju ke sebuah kursi taman.
Mereka pun duduk di kursi taman tersebut, dada Kevin berdebar saat duduk dekat Tania hanya berdua, biasanya selalu ada Meira yang menjadi perantara bagi mereka.
Perlahan Kevin menyodorkan coklat yang sedari tadi sudah di pegang nya, Tania tersenyum saat menerima coklat pemberian Kevin.
"Selamat hati valentine Tania ... !" Ucap Kevin.
"Eh Kevin, jadi kau mengajakku kemari hanya ingin memberikan coklat ini?" Tanya Tania.
"Maaf Tania, aku tidak bisa seromantis cowok-cowok pada umumnya... terus terang, ini pertama kalinya aku ingin mengungkapkan perasaan hatiku padamu ... " Ucap Kevin.
"Mengungkapkan perasaan?" Tanya Tania.
"Iya Tania, maaf aku tidak pandai merangkai kata...tapi, maukah kau menjadi kekasihku Tania? Menjadi calon Mami untuk Meira?" Ucap Kevin sambil menatap dalam ke wajah Tania.
Tania terdiam untuk beberapa saat lamanya, mulutnya seperti terkunci untuk mengungkapkan sesuatu.
"Bagaimana Tania?" Tanya Kevin lagi yang membuat Tania agak sedikit tersentak.
"Eh...Kevin, maaf ... aku, aku ... " Tania menunduk tanpa melanjutkan perkataannya.
"Tania, kau tidak percaya padaku? Apakah kau tidak melihat kesungguhan hatiku?" Kevin menggenggam erat tangan Tania.
"Kevin, aku sangat percaya padamu...kau laki-laki yang sangat baik dan tulus..." Ucap Tania sambil mulai meneteskan air matanya. Kemudian Tania menyeka matanya yang sudah basah itu
"Tapi, kenapa kau kelihatan sedih Tania? Aku tau aku hanya memberikan coklat bukan cincin, tapi aku serius akan melamarmu, aku tidak main-main Tania!" Ujar Kevin. Tania semakin keras menangis.
"Kevin ... Maafkan aku ... aku, aku tidak bisa menerima mu, aku tidak bisa!"
Tania menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis sangat sedih dan dalam.
Perlahan Kevin merengkuh bahu Tania, di usapnya bahu itu dengan lembut.
"Kenapa kau tidak bisa menerimaku Tania? Apa karena masa lalu mu? Atau masalah ibumu? Semuanya sudah beres Tania ... Aku menerimamu apa adanya, tidak perduli bagaimana masalalu mu...aku tulus mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam..." Ucap Kevin.
Tiba-tiba Tania berdiri dari duduknya. Dia mundur beberapa langkah menjauhi Kevin.
"Kevin, seandainya kau tau sesuatu tentang aku yang aku belum ceritakan padamu, aku yakin kau pasti akan pergi dariku...jadi, lebih baik dari sekarang saja kau menjauh dariku...biarkan kita hanya berteman, tidak lebih dari itu!" Cetus Tania.
"Tania, aku kan sudah katakan aku menerimamu apa adanya, aku tidak peduli masa lalu mu!" Bantah Kevin.
"Kevin siapapun dirimu kau tidak layak denganku, carilah gadis yang sepadan denganmu!" Ujar Tania.
"Tapi ..."
"Please ... keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin bersamamu...maafkan aku Kevin, lebih baik kita berteman saja, itu sudah membuatku bahagia!" Ucap Tania.
"Baiklah Tania, mungkin aku yang salah, terlalu terburu-buru mengungkapkan ini padamu...maaf....baiklah kalau kau mau kita berteman, kita akan berteman, tapi kau harus ingat, di hatiku hanya ada dirimu seorang, bukan yang lain!" Tegas Kevin.
Kemudian Kevin maju dan memeluk Tania.
"Kevin aku minta maaf ya..." Isak Tania.
"Sudahlah, kau tak perlu minta maaf...lain waktu aku akan cari cara yang bagus untuk mengungkapkan perasaanku padamu!" Jawab Kevin.
Sesaat mereka larut dalam perasaan masing-masing yang sulit untuk di ungkapkan.
"Tania, aku berniat akan mencari ibu kandung Meira, aku ingin sungguh-sungguh mengadopsi Meira...bagaimana menurutmu?" Tanya Kevin.
Tania mengangkat kepalanya dan menatap wajah Kevin.
"Kenapa kau ingin mencarinya? Dia tidak akan datang bukan? Dia baru akan datang lima tahun lagi ... " Jawab Tania.
"Kenapa kau begitu yakin dia tidak akan datang? Bukankah ibunya sering mengirimi Meira barang dan kebutuhan bayi? Aku tinggal menangkap basah dia kan?" Tanya Kevin lagi.
"Tapi dia memang tidak akan datang lagi!" Tegas Tania.
"Kau tau dari mana dia tidak akan datang lagi?"
"Kau lihat saja sendiri nanti! Sudahlah Kevin, antar aku pulang, aku lelah mau istirahat...!" Kata Tania. Kevin menganggukkan kepalanya.
Kevin lalu membimbing Tania masuk kembali ke dalam mobilnya, mereka segera pergi meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Tania.
Setelah mereka sampai di rumah Tania, Tania beranjak akan turun, namun tangannya di tahan oleh Kevin.
"Tunggu Tania, aku tidak tau alasan yang jelas mengapa kau menolak ku, tapi aku tau dari matamu kau mencintai aku!" Ucap Kevin.
"Heh, kau percaya diri sekali!" Cetus Tania.
"Aku akan sabar menunggumu Tania, aku yakin suatu hari kau pasti menerimaku!" Ujar Kevin.
"Terserah kau saja Vin, aku capek!" Kilah Tania.
"Tidakkah kau ingin mencium ku sebelum aku pergi?" Tanya Kevin.
Tania maju ke arah Kevin, lalu mencium pipi Kevin sebentar. Setelah itu dia segera turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumahnya.
"Fixed, Gadis itu mencintaiku!" Gumam Kevin.
Kemudian Kevin kembali melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Malam itu kondisi jalan raya lumayan macet, hampir satu jam Kevin baru tiba di rumahnya.
Suasana rumah Kevin begitu gelap dan sepi, sejak tadi Kevin memang mencemaskan Meira.
Kevin membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci, kemudian dia menyalakan semua lampunya.
"Paul! Paul! Dimana kau!!" Panggil Kevin. Tidak ada yang menyahut.
"Meira! Meira anak Daddy! Ada di mana ya ... !" Panggil Kevin lagi.
Tidak ada suara sama sekali. Kevin mulai menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya. Sesaat kemudian dia mulai merogoh ponselnya dari dalam saku celananya, lalu mulai menelepon Paul.
Beberapa kali Kevin menelepon tidak ada jawaban dari Paul, akhirnya dengan kesal Kevin keluar menuju ke rumah Bu Joko, hendak menanyakan keberadaan Paul dan Meira.
Namun belum sampai di rumah Bu Joko, Paul sudah muncul dari arah luar jalan sambil mendorong stroller Meira.
Kevin dengan cepat bergegas menghampiri mereka.
"Hei Paul! Di cari kemana-mana! Bikin orang khawatir tau tidak??!" Sentak Kevin.
"Lu sih pacaran melulu, ini si Meira rewel tau, ngajakin keluar terus...lu kebiasaan kali ngajakin jalan-jalan, gue yang repot!" Balas Paul tak kalah sengit.
Kevin langsung mengambil Meira ke dalam gendongannya.
"Anak Daddy, maaf ya Daddy kelamaan!" Ucap Kevin sambil mengecup Meira.
"Daddy....Daddy....eneg gue dengernya!" Cetus Paul.
"Memangnya kalian dari mana sih??!" Tanya Kevin.
"Itu, lagi menyelidiki sebuah kebenaran, tentang Meira...ternyata sekarang gue sudah tau, siapa ibu kandung Meira!!" Kata Paul. Kevin membulatkan matanya.
"Hah?! Serius? Kau tau dari mana Paul??" Tanya Kevin Antusias.
"Gue tau dari bidan yang ada di ujung jalan sono, bidan itu banyak menceritakan tentang Meira, ternyata Meira itu lahir di bidan itu Vin! Bener kan dugaan gue, kalau ibunya Meira itu adalah orang dekat!" Jelas Paul.
Kevin terperangah dan membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apa??!" Serunya.
*****