Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Raka yang tadinya masih asyik tertawa mendadak langsung melompat dari kursinya begitu teringat sesuatu.
"Waduh! Mampus gua, sampai lupa waktu lagi!" teriak Raka panik sambil buru-buru mematikan sesi PC-nya.
Kael yang masih duduk di sebelahnya hanya bisa melongo.
Dia memperhatikan Raka yang pontang-panting merapikan barangnya dari kejauhan dengan tatapan heran dan bingung.
"Nih orang kenapa dah? Tiba-tiba panik kayak dikejar setan," pikir Kael heran.
"Gua balik duluan ya, El! Jangan kemalaman lu mainnya!" seru Raka tanpa sempat mendengar jawaban Kael.
Dia langsung berlari kencang keluar dari pintu warnet, membelah jalanan malam menuju rumahnya.
Sesampainya di depan rumah, Raka sudah ngos-ngosan dengan napas yang hampir habis.
Begitu dia membuka pintu, dugaannya benar. Nadia sudah berdiri di ruang tengah menunggunya.
Wajah wanita itu kelihatan sangat khawatir, sekaligus terselip rona marah.
"Mas?! Dari mana aja kamu?! Kenapa baru pulang jam segini?" cecar Nadia langsung begitu Raka melangkah masuk. "Beberapa jam yang lalu Mas Budi datang ke sini nyariin kamu, katanya kamu ada shift tapi kamunya malah nggak ada!"
Raka memegangi lututnya, berusaha mengatur napasnya yang memburu. "M-maaf, Nad. Tadi aku bener-bener lupa waktu. Kayaknya... hari ini aku bolos kerja dulu deh. Capek banget."
Nadia langsung mengernyitkan dahi mendengar jawaban santai suaminya. "Bolos? Memangnya bosmu di pabrik atau mandor di proyek nggak bakal marah, Mas? Apalagi kamu nggak bikin surat sakit atau izin sama sekali."
Raka mengibaskan tangannya dengan santai sambil berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka. "Ah, itu mah gampang, nggak apa-apa kok. Palingan besok-besok cuma dimarahin gara-gara absen doang. Udah biasa itu mah."
Nadia hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan suaminya yang belakangan ini makin sulit ditebak.
Pada akhirnya, malam itu Raka bener-bener tidak berangkat kerja dan memilih langsung tidur karena fisiknya sudah sangat kelelahan.
Keesokan paginya, Raka terbangun dengan wajah yang sangat suram dan kantung mata hitam akibat kurang tidur.
Sambil menguap lebar, dia berjalan gontai menuju PC barunya di pojok kamar.
Dia menyalakan monitor dan langsung membuka situs pasar aset digital untuk mengecek portofolio kripto yang dia beli beberapa hari lalu.
Mata Raka yang tadinya mengantuk langsung sedikit melebar. "Wih... gila, udah mulai ada perkembangan nih. Grafiknya pelan-pelan merangkak naik. Insting masa depan gua emang nggak pernah salah, wkwk," gumam Raka puas melihat angka di layarnya mulai berwarna hijau.
TOK! TOK! TOK!
"Rak! Raka! Ayo berangkat, udah siang nih!"
Suara gedoran pintu depan dan teriakan lantang Budi membuyarkan fokus Raka.
Raka buru-buru mematikan monitor PC-nya, lalu berjalan keluar kamar untuk membuka pintu depan.
Di teras, Budi sudah berdiri dengan pakaian kerja proyeknya yang khas, lengkap dengan handuk kecil yang melingkar di leher.
"Lama bener kamu buka pintu. Yuk, berangkat kerja! Hari ini material semen mau datang banyak, kita harus kejar setoran," ajak Budi bersemangat.
Awalnya, Raka mengangguk pelan. "Iya, Om. Bentar gua ganti baju dulu."
Raka masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya.
Namun, saat dia sedang mengancingkan bajunya, otaknya mendadak berputar.
"Pikir-pikir... ngapain gua hari ini mesti capek-capek angkat semen di proyek? Uang tunai masih ada, kripto gua juga udah mulai jalan. Yang paling krusial sekarang itu justru ngamanin si Kael sebelum dia direkrut sama tim e-sport lain."
Begitu keluar rumah, Raka langsung merangkul pundak Budi dengan akrab. "Om, daripada kita panas-panasan angkat semen hari ini... ikut gua bentar yuk."
Budi bingung melihat gelagat Raka. "Ikut ke mana? Jangan aneh-aneh kamu ya, ntar mandor ngamuk kalau kita berdua absen."
"Udah, tenang aja, urusan mandor mah gampang. Ikut gua ke warnet depan kompleks sekarang. Gua yang bayarin billing-nya, sekalian gua kenalin sama seseorang," hasut Raka dengan nada meyakinkan.
Budi yang dasarnya juga gampang tergoda akhirnya pasrah dan mengikuti langkah Raka, meskipun dalam hatinya dia masih bingung kenapa pagi-pagi begini malah diajak ke warnet.
Mereka berdua berjalan kaki menuju warnet game center tempat Raka main semalam.
Suasana warnet di pagi hari masih agak sepi, hanya ada beberapa anak sekolah yang tampaknya sengaja membolos sejak jam pertama pelajaran.
Begitu masuk, mata Raka langsung menemukan targetnya. Benar saja, di pojokan ruangan yang sama, Kael masih duduk di sana.
Penampilannya masih sama culunnya dengan kemarin, lengkap dengan kacamata tebal dan seragam SMA-nya yang kelihatan makin lecek.
Sepertinya bocah ini bener-bener memperpanjang paket billing-nya sampai pagi.
Raka berjalan mendekat, lalu menepuk pundak Kael dari belakang. "Yo, Kael! Masih kuat aja lu main dari semalam."
Kael tersentak kaget, lalu buru-buru melepas headphone-nya. Begitu dia berbalik, Kael langsung cengo.
Di depan bilik PC-nya sekarang berdiri Raka, dan di sebelah Raka ada seorang pria berbadan tegap, kulitnya agak kecoklatan, dan penampilannya bener-bener khas abang-abang kuli bangunan.
"Eh, Bang yang semalam..." ucap Kael terbata-bata. Pandangannya bergantian menatap Raka dan Budi dengan tatapan yang sangat aneh.
Budi ikut melongo sambil menunjuk Kael dengan jarinya. "Raka, kamu ngajakin aku bolos proyek pagi-pagi begini cuma buat nemuin anak kacamata yang masih pakai seragam sekolah ini?"
"Iya, Om. Kenalin, ini Kael. Dia ini calon orang sukses di masa depan," jawab Raka bangga tanpa beban. "Kael, kenalin ini Om Budi, partner kerja gua."
Kael membetulkan letak kacamatanya dengan canggung. Di dalam otaknya, remaja SMA itu bener-bener mengalami krisis eksistensi.
Dia merasa sangat heran dan bingung melihat Raka yang penampilannya seperti pria umur 25 tahunan, berteman dengan abang-abang proyek berumur 27 tahunan, tapi malah dengan sangat santai dan akrab nongkrong bareng anak sekolahan sekaku dirinya di pojokan warnet.
"Ini circle-nya bang Raka aneh banget dah. Kenapa gua malah diajak akrab sama abang-abang proyek begini pagi-pagi?" batin Kael menjerit bingung, meskipun tangannya tetap menyambut jabat tangan canggung dari Budi.