Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*32
Beruntungnya Asha saat ini, dia tidak sedang ada di kampus. Kelasnya sedang mengadakan studi di luar selama dua hari penuh. Dan studi itu membuat mereka sangat sibuk sampai tidak sempat memperhatikan forum kampus yang sedang sangat berisik.
Dan hari ini, studi itu selesai. Sha langsung pulang ke apartemen setelahnya. Karena lelah, dia langsung beristirahat saat tiba di rumah. Saat itupun dia tidak ada waktu untuk tahu apa. yang sedang terjadi di kampusnya. Apa yang terjadi dengan Irza, dia juga tidak tahu.
Sementara itu, Irza masih sibuk di serang oleh gosip-gosip yang sedang marak. Kata-kata hinaan, cemoohan, terus saja berdatangan ke telinganya. Kata-kata yang sangat menyakitkan sampai rasanya dia sudah tidak kuat lagi untuk bertahan.
Saat dia memilih untuk menjauh dari semua itu, ada pembicaraan yang membuatnya sangat terusik. Pembicaraan kaum hawa di samping taman kampus tak jauh dari tanaman hias yang rindang.
"Aku yakin, mereka pasti gak ada malam pertamanya. Iya gak?"
"Aneh aja lho ngomongnya. Ya jelas gak adalah. Secara, mereka menikah hanya karena perjodohan saja. Asha sebagai tameng untuk menutupi kekurangan Irza. Ya kali ada malam pertama. Helo ... yang ia nikahi itu Irza lho ya, Irza.".
"Kasian ya Asha. Dia cantik tapi bisa nikah sama pria gemulai kek Irza."
"Kasihan apanya. Aku yakin nih, si Asha pasti dapat uang banyak dari pernikahan itu."
"Lo yakin?" Tanya temannya yang lain begitu antusias.
"Ya iyalah. Secara gitukan, mana ada yang mau nikah begitu saja. Nikah tapi jadi janda. Udah jelas-jelas prianya gemulai gak bisa menuhin kebutuhan batin, masa iya Sha mau nikah gitu aja kalo gak ada timbal baliknya."
"Bener juga apa yang Lo katakan. Gue juga kalo jadi Asha setuju tuh nikah sama Irza. Secara kan wajahnya tampan gila. Terus, cukup cocok sih kalo buat dijadikan pajangan. Untuk nafkah batinnya, cari aja pria lain."
"Pria lain? Nah nah nah ... Lo ya."
Mereka berempat tertawa lepas selama beberapa saat. Seolah, pembicaraan itu sangat lucu bagi mereka.
"Gila. Lo gak ingat dosa ya," ucap salah satu dari mereka akhirnya.
"Lebih dosa dong kalo nikah cuma buat pajangan aja."
"Ye ... Lo kata nikah cuma buat urusan ranjang apa?"
"Ya enggak sih. Tapi kan ya, setiap yang nikah, pasti mikir soal urusan itu dong. Dengan catatan, kalo orangnya normal. Kalo orangnya gak normal, gak tau deh gue."
"Gila Lo. Tapi, apa yang Lo katakan itu ada bener nya juga. Yang nikah pasti punya kebutuhan soal urusan batin. Yang gak normal aja yang gak mikir ke sana."
"Eh eh eh. Kalian mikir Asha akan bertahan sampai seberapa lama gak sih sama Irza? Atau gini, kalian mikir gak sih kalo Asha juga akan mikir hal yang sama kek yang sedang kita bicarakan saat ini."
"Maksud, Lo?"
"Ya mikir kalo dia akan nikah lagi gitu? Atau, dia juga mikir buat nyari cowok lain di luar entar."
Deg. Jantung Irza langsung berdegup sangat kencang saat kata-kata itu sampai ke telinganya. Tidak bisa ia bendung lagi perasaannya langsung berkecamuk. Benaknya tanpa bisa ia cegah malah langsung membayangkan Sha bersama pria lain. Kecemburuannya tumbuh perlahan tanpa bisa dia abaikan.
Saat benaknya Irza sibuk berpikir, ucapan lain kembali masuk ke telinga. Para cewek yang sedang bergosip tak jauh darinya masih melanjutkan gosip mereka dengan bahagia.
"Lo benar. Gue rasa Sha akan ngelakuin hal yang sama seperti yang kita bicarakan. Gugat cerai Irza setelah waktunya tiba. Atau, biarkan aja Irza jadi pajangan. Dia cari pria di luar untuk jadi simpanannya."
Lagi, para gadis itu tertawa lepas. Sangking asiknya mereka membicarakan prihal kehidupan orang lain, mereka tidak menyadari sedikitpun akan keberadaan Irza yang sedang bersembunyi tak jauh dari mereka.
"Sha itu gadis normal tau. Aku pernah dengar kalau tahun pertama dia kuliah, dia punya pacar. Tapi, karena si pacar harus melanjutkan kuliah di kota yang berbeda, mereka putus. Karena Asha gak kuat kalo RDL gitu deh kalo aku gak salah ingat."
Jantung Irza sontak langsung bergemuruh hebat. Iya, dia juga pernah tau akan hal tersebut. Asha punya pria yang ia cintai waktu itu. Hubungan mereka kandas karena jarak yang memisahkan. Kepentingan keluarga, juga kondisi yang tidak memungkinkan. Mereka berpisah secara damai tanpa ada perselisihan. Sungguh, ingatan itu menumbuhkan rasa takut yang sangat besar di hati Irza. Ketakutan yang sangat nyata. Takut kalau-kalau, masa lalu itu datang lalu merebut Asha yang telah ada dalam genggamannya. Yang telah susah payah ia miliki dengan segala perjuangan yang panjang.
'Tidak.' Hati Irza berontak. 'Asha tidak boleh dimiliki orang lain. Dia istriku. Dia hanya boleh jadi istriku. Tidak boleh jadi istri orang lain.'
Namun, gosip para gadis sepertinya terus berlanjut. "Wah ... itu beneran? Yang Lo katakan barusan itu nyata?"
"Sudah pasti," kata teman yang lainnya pula. "Aku baru ingat kalau aku juga tahu akan hal ini. Sha punya pacar, mereka putus secara baik-baik karena beberapa hal."
"Wow. Aku jadi mikir, mungkin gak sih kalo mereka akan bersama kembali setelah mereka selesai kuliah. Sha menikah dengan pria gemulai yang gak normal. Jadi, untuk gugat cerai itu sangat mudah."
Tawa kembali pecah. "Aku juga mikir gitu. Sekarang, Sha masih anteng ... aja, ya kan? Terus, setelah mantan pacar kembali, wah ... semuanya kembali ke jalurnya lagi."
Sungguh, Irza tidak lagi kuat untuk mendengarkan apa yang para gadis itu bicarakan. Terlalu menyakitkan, terlalu menakutkan untuk ia bayangkan. Jari-jari tangannya yang lentik nan putih sudah terlihat memerah akibat genggaman erat yang dia lakukan sejak beberapa menit yang lalu. Andai saja kukunya panjang, telapak tangan itu mungkin sudah robek karena genggaman erat tersebut.
Irza menjauh dengan langkah besar sedikit berlari. Batinnya menolak dengan keras kata-kata yang sudah telinganya dengar. 'Tidak, Asha milikku. Hanya boleh jadi punya aku.' Bentaknya keras dalam hati.
Irza berlari menuju mobil yang sedang terparkir di parkiran kampus. Sudah cukup, dia sudah sangat tidak tahan lagi. Bahkan, semua pandangan ia abaikan begitu saja. Karena yang paling berisik saat ini bukan yang ada di sekitarnya. Melainkan, yang ada di dalam benak kepalanya.
"Sha milik aku. Hanya akan jadi milik aku," ucapnya lagi sambil menjalankan mobil meninggalkan halaman kampus.
Kecepatan mobil terus saja ia tambah. Sungguh, benaknya yang berisik terlalu menyakitkan untuk hatinya. Rasanya, dia ingin segera tiba ke rumah secepat mungkin. Ia ingin segera bertatap mata dengan Sha.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣