NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34.

Sore itu Alesha sedang duduk di teras rumah sambil menemani Pingky bermain di halaman.

Pingky berjalan mondar-mandir mengejar kupu-kupu.

Alesha ikut memperhatikannya dengan serius.

"Pingky."

"Kwek."

"Jangan dikejar."

Pingky tetap berjalan.

"Kwek."

Alesha mengangguk pelan.

"Iya, aku juga tahu kupu-kupunya cantik."

Kevin yang baru pulang langsung menggeleng geli.

"Kamu lagi ngobrol sama Pingky?"

Alesha tersenyum.

"Nggak."

"Lho?"

"Aku lagi ceramah."

Kevin terkekeh.

"Terus dia paham?"

"Nggak tahu."

"Tapi yang penting aku sudah mengingatkan."

Pingky malah berbalik mengejar daun yang tertiup angin.

Alesha langsung menunjuknya.

"Nah kan."

"Dia pura-pura nggak dengar."

Kevin duduk di samping adiknya.

"Kalau Pingky bisa ngomong..."

"Kira-kira dia bilang apa?"

Alesha berpikir sejenak, lalu tersenyum jahil.

"Pasti dia bilang..."

"'Mbak Alesha, jangan banyak ngatur. Aku cuma olahraga.'"

Kevin spontan tertawa.

"Itu lebih cocok kamu yang ngomong."

Alesha ikut tertawa.

"Ya kan seru."

Beberapa saat kemudian Pingky berjalan mendekati sandal Kevin.

Alesha langsung berbisik pelan.

"Kak."

"Hm?"

"Jangan bergerak."

"Kenapa?"

"Pingky lagi inspeksi sandal."

Kevin menoleh ke bawah.

"Inspeksi apaan?"

"Dia lagi memastikan sandalnya aman dipakai."

Kevin mengangkat sebelah alis.

"Terus hasil inspeksinya?"

Alesha memperhatikan Pingky yang akhirnya pergi begitu saja.

"Hmm..."

"Lolos."

"Selamat ya, Kak."

"Sandalmu resmi mendapat izin dari Pingky."

Kevin menggeleng sambil tertawa kecil.

"Kalau setiap hari begini..."

"Rumah ini memang nggak akan pernah sepi."

Pagi itu, Kevin dan Alesha tiba di parkiran sekolah dengan motor.

Kevin memarkir motornya di tempat biasa, lalu melepas helm.

Alesha turun sambil merapikan rok seragamnya sebelum melepas helm yang ia kenakan.

"Pulang nanti jangan lama-lama di sekolah," ujar Kevin.

"Iya, Kak."

"Kalau latihan pidato selesai langsung kabarin."

"Siap."

Kevin mengangguk kecil, lalu berjalan lebih dulu menuju gedung kelas XII.

Sementara itu, Alesha berjalan santai ke arah kelasnya.

Di tengah perjalanan ia bertemu Dinda yang baru datang.

"Pagi, Les."

"Pagi."

"Kamu semangat banget hari ini."

Alesha tersenyum kecil.

"Masih kenyang sarapan. Jadi mood-ku bagus."

Dinda terkekeh.

"Sesederhana itu?"

"Iya."

Mereka berdua berjalan sambil mengobrol.

Saat melewati taman sekolah, Dinda sedang asyik bercerita hingga tidak sadar ada selang air yang melintang di jalan.

Alesha melihatnya lebih dulu.

Bukannya memberi tahu, ia malah menarik pelan lengan Dinda hingga sahabatnya berputar setengah lingkaran menghindari selang itu.

Dinda yang kaget langsung melotot.

"Ngapain sih?"

Alesha menunjuk selang di bawah.

"Kalau aku bilang 'awas', kamu pasti tetap nginjek."

Dinda melihat ke bawah lalu menghela napas lega.

"Hampir aja."

"Iya."

"Tapi lain kali ngomong aja, nggak usah diputer kayak gasing."

Alesha tertawa lepas.

"Refleks."

Mereka kembali berjalan.

Tak jauh dari sana, Arka dan Reza yang sedang berjaga di koridor melihat kejadian itu.

Reza mengangkat alis.

"Temenmu hampir diputer satu putaran."

Alesha yang mendengar itu langsung menjawab santai,

"Yang penting selamat."

Dinda langsung menyahut,

"Selamat sih selamat."

"Tapi kepalaku ikut muter."

Reza tertawa kecil.

"Niat nolong, caranya aja yang unik."

Arka hanya menggeleng tipis.

"Asal hasilnya baik."

Alesha mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum jahil.

"Nah, Pak Ketua setuju sama aku."

Arka menatap datar.

"Aku setuju kamu menolong."

"Bukan cara menolongmu."

Reza langsung terkekeh.

"Kena."

Alesha pura-pura mendecak pelan.

"Baiklah."

"Lain kali aku kasih aba-aba dulu."

Dinda mengangguk mantap.

"Nah, itu baru benar."

Mereka pun melanjutkan langkah menuju kelas. Baru beberapa menit berada di sekolah, tingkah spontan Alesha sudah berhasil membuat Dinda mengomel, Reza tertawa, dan Arka menggelengkan kepala seperti biasanya.

Bel pertama belum berbunyi.

Suasana kelas masih cukup ramai.

Beberapa siswa mengobrol, ada yang mengerjakan PR, sementara yang lain sibuk memainkan ponsel sebelum guru datang.

Alesha duduk santai di bangkunya sambil memutar-mutar sebuah pulpen di sela-sela jarinya.

Dinda melirik.

"Kamu bisa?"

"Sedikit."

Pulpen itu berputar dengan mulus beberapa kali.

Alesha tersenyum bangga.

"Nah, mulai jago."

Baru saja selesai bicara...

Prang!

Pulpennya terlepas dan melayang tepat ke meja depan.

Hening sesaat.

Pemilik meja depan menoleh perlahan sambil mengangkat pulpen itu.

"Ini nyari aku?"

Sontak satu kelas tertawa.

Alesha menangkupkan kedua telapak tangannya.

"Maaf... dia lagi belajar terbang."

Cowok itu terkekeh lalu melempar pelan pulpennya kembali.

"Nih."

"Makasih."

Dinda menahan tawa.

"Katanya mulai jago."

Alesha mengangguk.

"Iya."

"Masih tahap uji coba."

Dinda menggeleng geli.

Beberapa menit kemudian, guru belum juga datang.

Alesha kembali memainkan pulpennya.

Dinda langsung menoleh tajam.

"Jangan."

"Tenang."

"Kali ini pasti berhasil."

"Tiga..."

"Dua..."

"Satu..."

Pulpen itu kembali berputar.

Dua putaran.

Tiga putaran.

Alesha mulai tersenyum lebar.

"Tuh ka—"

Plak!

Pulpennya justru memantul mengenai buku milik Dinda.

Dinda langsung memegang pulpen itu.

"Sita."

"Lho."

"Barang bukti."

Alesha tertawa kecil.

"Balikin."

"Nggak."

"Nanti diputer lagi."

Alesha pura-pura memohon.

"Demi masa depan seni memutar pulpen."

Dinda mengangkat alis.

"Masa depannya suram."

Teman-teman di sekitar mereka kembali tertawa.

Saat itulah Arka masuk ke kelas karena diminta wali kelas menyampaikan pengumuman.

Ruangan langsung sedikit lebih tenang.

"Pagi."

"Pagi."

Arka berdiri di depan kelas sambil membacakan informasi mengenai jadwal latihan lomba minggu depan.

Semua siswa mendengarkan.

Kecuali Alesha...

Ia sedang berusaha diam-diam mengambil kembali pulpennya dari tangan Dinda.

Dinda mengangkat tangannya lebih tinggi.

Alesha ikut menjangkau.

Dinda memindahkan ke tangan kiri.

Alesha ikut bergeser.

Melihat itu, beberapa teman mulai menahan tawa.

Tanpa sengaja Arka melirik ke arah mereka.

Ia menghentikan ucapannya.

"Alesha."

Alesha langsung duduk tegak.

"Iya?"

"Pengumumannya lebih menarik atau pulpennya?"

Satu kelas langsung menoleh ke arah Alesha.

Alesha tersenyum canggung.

"Pengumumannya."

"Bagus."

"Kalau begitu nanti saya tanya isinya."

Alesha langsung membeku.

Dinda yang melihat ekspresi sahabatnya langsung menutup mulut agar tidak tertawa.

Arka melanjutkan pengumuman seolah tidak terjadi apa-apa.

Begitu selesai, ia menatap Alesha lagi.

"Tadi saya jelaskan apa?"

Alesha berpikir beberapa detik.

Untung saja ia memang sempat mendengar bagian akhirnya.

"Latihan lomba minggu depan dimulai hari Selasa setelah jam pelajaran selesai."

Arka mengangguk tipis.

"Benar."

Alesha mengembuskan napas lega.

Begitu Arka keluar kelas, Dinda langsung tertawa pelan.

"Hampir ketahuan."

Alesha mengambil kembali pulpennya.

"Bukan hampir."

"Aku memang ketahuan."

"Tapi selamat."

"Masih lolos."

Ia tersenyum jahil sambil memasukkan pulpen ke dalam tempat pensil.

"Oke."

"Hari ini pulpen pensiun dulu sebelum bikin masalah lagi."

Ucapan itu kembali mengundang tawa teman-teman di sekitar mereka.

Tak lama setelah Arka keluar, guru mata pelajaran pun masuk ke kelas.

"Selamat pagi."

"Pagi, Bu."

Pelajaran berlangsung dengan tenang.

Alesha kali ini benar-benar memperhatikan penjelasan guru. Sesekali ia mencatat poin penting di bukunya.

Dinda melirik sekilas.

"Tumben serius."

Alesha tanpa menoleh menjawab pelan,

"Aku lagi niat."

"Semoga bertahan."

"Minimal sampai istirahat."

Dinda terkekeh pelan.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, guru memberikan beberapa soal latihan.

"Silakan dikerjakan sendiri."

Seluruh kelas mulai menunduk mengerjakan soal.

Alesha juga tampak fokus.

Beberapa menit berlalu.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya.

"Bu."

"Iya, Alesha?"

"Boleh pinjam penggaris?"

Guru mengangguk.

"Siapa yang bawa penggaris?"

Seorang teman di belakang langsung meminjamkannya.

"Nih."

"Makasih."

Alesha mulai membuat garis di bukunya.

Namun beberapa detik kemudian, Dinda melihat penggaris itu tidak lagi dipakai untuk membuat garis.

Alesha malah menyeimbangkannya di atas ujung jari telunjuknya.

Penggaris itu bergoyang ke kanan.

Lalu ke kiri.

Dinda langsung berbisik,

"Les."

"Hm?"

"Itu lagi ngapain?"

"Latihan keseimbangan."

"Kerjain soal dulu."

"Ini sambil mikir."

Belum sempat Dinda membalas...

Penggaris itu jatuh.

Tok.

Tepat mengenai meja.

Suara kecil itu membuat beberapa teman menoleh.

Alesha langsung mengambil penggaris itu sambil tersenyum tipis.

"Dia kalah."

Dinda menahan tawa.

"Yang kalah kamu."

"Iya juga."

Untungnya guru sedang sibuk memeriksa pekerjaan siswa lain sehingga tidak melihat kejadian itu.

Tak lama kemudian semua soal selesai dikerjakan.

Guru mulai mengoreksi jawaban bersama-sama.

Saat guru menuliskan jawaban di papan tulis, Alesha memperhatikan dengan serius.

Dinda tersenyum kecil.

"Nah gitu."

"Kalem."

"Iya."

Alesha mengangguk.

Namun beberapa detik kemudian...

Ia mengambil penghapus kecil di atas meja.

Bukan untuk menghapus.

Melainkan mencoba menyeimbangkannya di atas ujung pensil.

Dinda langsung memegang pergelangan tangannya.

"Jangan mulai."

Alesha menoleh sambil tersenyum jahil.

"Aku cuma mau lihat bisa nggak."

"Kamu nggak bisa diam ya?"

"Bisa."

"Kapan?"

"Kalau tidur."

Dinda spontan tertawa pelan.

"Jawabanmu memang ada aja."

Untung suara tawa mereka tidak terlalu keras.

Guru yang berada di depan kelas hanya melirik sekilas sebelum kembali menjelaskan materi.

Alesha akhirnya menyerah.

Ia meletakkan penghapus itu kembali di meja.

"Oke."

"Aku mengalah."

Dinda menghela napas lega.

"Syukurlah."

Alesha tersenyum kecil.

"Soalnya kalau jatuh lagi..."

"Kamu pasti ceramah."

Dinda langsung menyenggol lengannya.

"Udah, fokus."

"Iya, Bu Dinda."

Mereka kembali memperhatikan pelajaran.

Meski sesekali tangan Alesha masih terasa gatal ingin memainkan benda di atas meja, kali ini ia berhasil menahannya. Setidaknya... sampai bel istirahat nanti berbunyi.

1
Adinda
dibuat bebek bakar aja bebekmu, jadi gk tidur lagi kamu lesha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!