Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030 - Kode Merah
Keira sampai di rumah dengan rambut basah dan napas yang belum kembali normal.
Ia tidak masuk lewat pintu depan.
Rumah Prasetyo sudah gelap di bagian ruang tamu, tetapi lampu dapur masih menyala. Dari celah tirai, ia melihat Bu Sri duduk dengan ponsel di tangan, mungkin masih menunggu kabar dari orang kelurahan lama. Laras tidak terlihat. Pak Prasetyo kemungkinan sudah tidur setelah memeriksa latihan kaki Bayu.
Keira memutar ke pintu samping, membuka kunci dengan gerakan nyaris tanpa suara, lalu naik ke kamar.
Begitu pintu terkunci, ia bukan lagi siswi SMAN 7.
Laptop tipis dibuka. Ponsel terenkripsi diletakkan di kanan. Kabel kecil masuk ke port cadangan. Di layar, sistem medis privat menampilkan ruang ICU jarak jauh dengan warna merah di sudut.
Patient #0047.
Heart rhythm unstable.
Blood pressure falling.
Possible delayed reaction to modified protocol.
Suara Yves masuk lewat earpiece. "Akhirnya. Mereka hampir memberi obat penekan standar."
"Jangan."
"Sudah kutahan. Tim medis panik."
Di layar lain, seorang dokter senior dengan masker bedah menatap kamera. Bahasa Inggrisnya cepat, tetapi Keira menangkap semua angka sebelum kalimatnya selesai.
"Tekanan turun. Ritme kacau. Kami curiga reaksi pada kombinasi obat terakhir. Apa instruksi Dr. Seely?"
Nama itu membuat ruangan kecil Keira terasa lebih sempit.
Ia menarik kursi, duduk, lalu mengetik akses.
"Stop infus B-17. Ganti ke saline hangat. Jangan beri penekan dosis penuh. Siapkan micro-dose sesuai berat terakhir, bukan berat administrasi lama. Cek elektrolit sekarang."
Dokter senior menoleh ke seseorang di luar layar. "Lakukan."
Monitor patient #0047 menjerit pendek.
Yves mengumpat pelan. "Ritme turun lagi."
Keira menatap grafik. "Bukan turun. Fasenya bergeser."
"Itu kabar baik atau buruk?"
"Tergantung mereka cepat atau tidak."
Ia membuka catatan lama patient #0047. Tiga tahun lalu, surat anonim menyelamatkan pasien ini dari dosis kedua yang salah. Setelah itu, kasusnya menjadi simpul panjang yang tidak pernah benar-benar lepas. Tubuh pasien bertahan, tetapi setiap intervensi seperti berjalan di atas kaca.
Keira membaca hasil lab terbaru. Satu angka membuat matanya menyipit.
"Siapa yang mengubah interval?"
Yves diam sepersekian detik. "Ada revisi protokol dari komite lokal sebelum aku masuk. Mereka bilang aman."
"Tidak aman untuk dia."
Keira mengetik cepat. "Kirim perintah tertulis. Interval kembali ke enam jam. Tambahkan koreksi magnesium rendah. Jangan sentuh obat utama sampai ritme stabil tiga menit."
"Tiga menit? Itu lama."
"Untuk panik, iya. Untuk hidup, tidak."
Di luar kamar, papan lantai berderit.
Keira berhenti mengetik satu detik.
"Mbak?"
Bayu.
Suaranya pelan dari balik pintu. "Mbak sudah pulang? Aku dengar suara."
Keira menekan mute pada earpiece. "Tidur, Bayu."
"Mbak kehujanan?"
"Tidak apa-apa."
"Aku ambilkan handuk?"
Keira melihat layar. Monitor masih tidak stabil. Di sisi lain dunia, seseorang bertahan di antara garis merah dan instruksi yang hanya bisa ia beri dari kamar kecil ini.
"Tidak perlu. Kembali tidur."
Bayu tidak langsung pergi. "Mbak, suara alat itu apa?"
Keira menatap laptop, lalu pintu. "Video pelajaran."
"Jam segini?"
"Bayu."
Nada itu cukup. Di balik pintu, Bayu menghela napas. "Iya. Tapi kalau Mbak butuh apa-apa, panggil."
Langkahnya menjauh.
Keira mengaktifkan suara lagi.
Yves langsung berkata, "Ritme masuk zona kuning. Tekanan masih rendah."
"Micro-dose sudah?"
"Masuk."
"Hitung tiga puluh detik dari sekarang. Jangan tambah apa pun."
Dokter senior di layar tampak ingin membantah. "Jika tekanan terus turun..."
"Jika Anda tambah penekan sekarang, dia masuk arrest penuh."
Kalimat Keira dingin.
Tidak ada ruang untuk ego.
Tiga puluh detik berjalan lambat. Monitor berbunyi. Seseorang di ruang ICU membaca angka. Yves menahan napas cukup jelas terdengar di earpiece. Keira tidak berkedip.
Detik kedua puluh empat, garis ritme melonjak.
Detik kedua puluh tujuh, pola kembali.
Detik ketiga puluh, tekanan berhenti turun.
"Hold," kata Keira.
Dokter senior mendekat ke monitor. "Ritme sinus kembali parsial."
"Jangan sebut kembali sebelum lima menit."
Yves tertawa pendek, tegang. "Kau bahkan memarahi orang setelah menyelamatkan pasien."
"Aku memarahi orang supaya pasien tetap selamat."
Lima menit berikutnya terasa seperti satu babak perang yang tidak boleh terdengar oleh rumah di bawah. Keira memberi instruksi koreksi cairan, penyesuaian elektrolit, dan pembatalan dua obat yang hampir diberikan tim lokal. Setiap perintah ia tulis ulang di sistem agar ada jejak. Patient #0047 perlahan keluar dari zona merah.
Ketika monitor akhirnya berubah kuning stabil, punggung Keira baru menyadari kursinya keras.
Dokter senior di layar melepas napas. "Dr. Seely, jika Anda tidak masuk tadi..."
"Jangan mulai."
Ia terlalu lelah untuk menerima terima kasih.
"Observasi enam jam. Tidak ada perubahan protokol tanpa persetujuanku atau Yves. Kirim lab ulang setiap empat puluh lima menit."
"Baik."
Panggilan utama ditutup. Layar tinggal menampilkan grafik stabil yang masih rapuh.
Yves tetap terhubung. Suaranya lebih pelan. "Kau baik-baik saja?"
"Ya."
"Jawabanmu jelek kalau berbohong."
"Aku basah karena hujan."
"Itu bukan yang kutanya."
Keira melepas earpiece. "Kirim semua log."
"Keira."
"Yves."
Ia tidak menaikkan suara. Yves akhirnya mengalah.
"Baik. Tapi kau harus tidur."
"Nanti."
Panggilan berakhir.
Keira menutup laptop setengah, lalu menyadari tangannya gemetar. Bukan karena takut. Setelah krisis selesai, tubuhnya baru meminta bayar. Ia berdiri, mengambil handuk dari belakang pintu, dan mengeringkan rambut dengan gerakan lambat.
Ponsel biasa di meja menyala.
Tan Hansel:
Kau sampai rumah?
Pesan itu dikirim empat puluh menit lalu.
Pesan kedua:
Keira, jawab saat bisa.
Pesan ketiga, lebih singkat:
Aku menunggu.
Keira menatap layar. Jarinya bergerak ke atas keyboard, tetapi berhenti. Jika ia menjawab sekarang, Hansel akan mendengar sesuatu di balik kata-katanya. Pria itu terlalu tajam untuk malam seperti ini.
Ia membalik ponsel.
Di bawah pintu kamar, sesuatu terselip.
Keira menegang.
Tidak ada suara langkah di koridor.
Ia mengambil pisau kecil dari laci sebelum mendekat. Amplop cokelat tergeletak di lantai, kering, tanpa nama pengirim. Bukan dari Bayu. Bukan dari Pak Prasetyo. Kertasnya tebal dan bersih, seperti sengaja dibawa dalam map.
Keira membuka segel dengan ujung pisau.
Di dalamnya ada satu foto.
Foto itu buram, tetapi cukup jelas.
Seorang gadis berusia sekitar empat belas tahun berdiri di laboratorium. Rambutnya diikat rendah. Wajahnya lebih kurus daripada sekarang, matanya lebih gelap. Di belakangnya, seorang lelaki tua di meja operasi dicoret tinta hitam sampai wajahnya tidak terlihat.
Keira membalik foto.
Di belakangnya, ada tulisan tangan asing:
Aku tahu siapa kamu sebenarnya.
Keira memegang foto itu tanpa bergerak.
Hujan di luar kembali deras. Rumah Prasetyo tetap tidur. Patient #0047 masih stabil di layar yang setengah tertutup. Ponsel Hansel masih menyimpan pesan yang belum dibalas.
Namun ancaman yang masuk ke kamarnya malam ini bukan berasal dari rumah, sekolah, atau Tan Group.
Bukan siapa pun yang ia kenal di Megawan.