NovelToon NovelToon
My Beloved Wife

My Beloved Wife

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Duda / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: meliani

Season 1 (tamat)

Farida tak menyangka, keputusan terlalu cepat yang diambilnya ternyata sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Yaitu menikah dengan pria yang sudah menikah sebelumnya dan telah mempunyai anak.

Sifat alpha suami istri yang masing-masing selalu ingin mendominasi juga terkadang menjadi problema. Ditambah lagi dengan usia yang terpaut jauh sehingga mereka harus berhadapan dengan karakter yang berbeda.

Mampukah pernikahan mereka bertahan dengan segala pelik permasalahan di dalamnya?

...

Season 2 (On going)

Segala bentuk keplagiatan bisa dilaporkan ya!

Area dewasa 21+

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyerahkan diri pada mangsa

Tiga hari lalu, Farida kembali memeriksakan dirinya ke dokter yang menanganinya kemarin. Dan hasilnya, membuat mereka berdua teramat bahagia. Pasalnya, calon bayi yang hampir saja pergi, kini tumbuh dan berkembang dengan baik di rahim ibunya. "Dia bayi yang kuat..." gumam Farida saat melihat gambar makhluk mungil di layar monitor.

Farida kini sudah bisa bergerak aktif seperti biasa, tetapi tetap dengan batasan-batasan tertentu. Dia lebih berhati-hati dan memperhatikan lantai yang dia pijak. Menghindari benturan ataupun berjalan cepat. Terlepas dari obat-obatan, kini berganti mengkonsumsi susu dan berbagai vitamin lainnya.

Vano, Daddy yang satu ini ikut serta andil dalam menjaga kesehatan Farida. Perhatian dan sikap hangatnya mengalir begitu saja setelah mengetahui Farida sedang mengandung anaknya. Tapi tentu dengan porsi yang pas, tidak berlebihan.

Dari dulu, Farida selalu percaya satu hal. Vano sangat mencintai anak-anak. Itu sudah cukup baginya melangkah ke depan dengan laki-laki itu. Meskipun... di luar laki-laki itu terlihat garang, tapi entahlah. Hanya Farida yang mampu mengenali kedalamannya.

Di kantor~~

"Pokoknya aku nggak mau Mike harus kesini sekarang juga kalau masalahnya mau cepat selesai!" Tukas Vano yang sedikit meninggi kepada Bobby.

Sedikit problem membuat Vano tersulut emosi apalagi ditambah dengan moodnya yang sekarang ini gampang berubah.

"Dia ada di Bandung Van, perjalanan jauh. Belum mengerjakan yang lain-lain dan nggak bisa prediksi macet atau nggaknya. Sabaran dikit ngapa ya ampun bos..." Hhhh greget Bobby.

"Nggak mau tahu!"

"Lah kan dia bukan burung Bambang!"

Akhirnya Bambangnya keluar karena saking kesalnya.

Krieet.

Hah? Farida datang, gumam Vano dalam hati.

Wanita cantik yang kini juga terlihat sangat seksi itu memasuki ruangan dan kembali menutup pintunya dengan gaya elegan. Tentu membuat sekujur tubuh Vano meremang saat melihat Farida memakai pakaian yang tidak biasa. Uhh...Kenapa dia terlihat cantik sekali hari ini? Dan itu sangat mengkhawatirkan baginya. Bagaimana jika ada laki-laki yang tertarik dengannya?

"Sikat bosss sikaaat!" Ucap Bobby senang, paling tidak kedatangan Farida membuatnya selamat dari sasaran angkara murka bosnya saat ini. Bobby lantas keluar dan mengunci pintu otomatis. Seakan tau apa yang akan terjadi nanti di dalam.

Farida menatap pergerakan Bobby hingga laki-laki itu tak terlihat lagi. "Sikat-sikat, emangnya aku celana mau di sikat?" Dumel Farida.

"Lebih tepatnya jin!" Ucap Vano dan sontak mendapat lirikan tajam dari istrinya. Masa dianggap jin. Sembuarangan! "Habisnya datang tiba-tiba." Sambung Vano kemudian.

"Aku tuh kali-kali mau ngecek ngapain aja suamiku di kantor. Takutnya main serong aku nggak tahu. Aku lihat tadi cewek-cewek disini hampir semua pakai baju seksi-seksi. Aku nggak kalah cantik kan sama mereka?"

Vano menatap istrinya datar, dia sudah biasa mendengar burung berkicau. "Sudah ngomelnya?"

"Sudah!"

"Habis dari mana pakai baju begitu?"

"Aku tadi habis nganterin Jajam ke sekolah barunya Dad, mampir ke toko juga." Sela Farida, "kasihan tau nggak Dad... Jajam banyak bengong, dia kan belum punya teman disana..."

Farida terdiam sesaat, mengingat betapa sedihnya James tadi pagi di sekolah yang barunya. Anak yang biasa terlihat cool itu sempat menangis sesenggukan di pelukannya dan meminta pulang. Pikiran Farida berhenti di situ, kasihan sekali...

"Nanti juga lama-lama banyak temannya, semua orang tua hanya ingin melakukan yang terbaik."

Laki-laki itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Tangannya membuka satu persatu map mengecek laporan.

"Dad, aku bawa makan siang buat kamu..." Farida mengeluarkan box makanan dari tas tenteng yang dia bawa. "Dad?"

Senang gitu kalau aku panggil berkali-kali? Batin Farida.

"Dad? ... aku bawa makanan."

Hening.

Eghh... kenapa Vano suka sekali Farida memanggilnya seperti itu? Sangat manis terdengar di telinganya. Vano mengacak rambutnya. Hanya mendengar suaranya saja sudah bisa merasakan gelenyar-gelenyar aneh di dalam dirinya. Vano sedang merutuki pikiran kotornya sendiri.

Dia lantas berdecak kesal. "Kamu berhasil membuat konsentrasiku pecah."

"Aku hanya menawari makan, sebentar lagi kan masuk jam makan siang..." 

"Tunggu sebentar lagi." Laki-laki itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Satu kakinya terus di ketuk-ketukkan ke lantai untuk meminimalisir hasrat yang sudah menyentak sampai ke ubun-ubun.

"Daaad... Kenapa diam aja?"

Vano terus fokus menatap layar berukuran kurang lebih tujuh belas inci. Namun sia-sia belaka. Matanya selalu tertuju pada sosok yang bergerak-gerak di atas sofa. 

Karena tak kunjung merespon Farida mendekati suaminya, memeluknya dari belakang. "Jangan begini Da," tangannya menepis pelan pelukan istrinya seolah-olah tidak ingin Farida tahu apa yang sedang ia tutupi.

Bukan seorang istri kalau tidak paham, hanya dengan sekali lirik saja Farida sudah tau apa yang menyebabkan suaminya sensi dan tidak menggubrisnya dari tadi.

Farida memutar kursi Vano untuk menghadapnya. Dia lalu melepas satu persatu kancing kemejanya. "Jangan Farida..." tolaknya halus.

"Aku nggak apa-apa kok Dad, jangan di tahan. Dedeknya kuat kok asalkan kamu pelan-pelan." Bisik Farida tepat di telinga Vano.

Ahhh kesempatan, jangan salahkan siapa-siapa kalau begitu. Dia yang menawarkan diri.

Dengan sekali tarikan nafas, Vano sudah bisa menggendong tubuh Farida dan membawanya ke kamar berukuran kecil khusus miliknya. Vano membaringkan tubuh Farida di kasur, melepas kerinduan yang sudah lama menggebu. Sebenarnya Vano biasa liar daripada saat ini. Tapi mungkin untuk beberapa bulan ke depan dia akan melakukannya dengan lembut dan hati-hati karena takut menyakiti makhluk kecil di dalam sana.

Setelah sampai di puncak, mereka mengerang melepaskan sesuatu. Cukup sekali untuk saat ini, mengingat Farida yang belum lama ini sempat dibawa kerumah sakit.

"Sakit nggak?" Menjatuhkan badannya setelah mengecup kening istrinya, sambil mengatur nafasnya yang memburu.

"Nggak Dad,"

"Istirahat saja dulu di sini, nanti kita pulang sama-sama."

"Tapi... James?"

Ya, pasti anak itu nanti menanyakannya jika ia tak berada di rumah bukan?

"Nanti hubungi Mama supaya beliau nggak kemana-mana." Berkata sambil menutup tubuh polos mereka dengan selimut.

James tidak akan menangis kalau di rumah ada salah satu diantara mereka.

Sekian menit Farida baru menyadari, kedatangannya kali ini hanyalah menyerahkan diri kepada mangsa.

Terlihat dari ekor mata Farida, raut wajah suaminya kini sudah terlihat lebih cerah. Coba saja tadi kalau terus dibiarkan. Mau sampai anggun jadi duta shampo lain juga masih saja dia sensi dan mengerikan.

"Laki-laki nggak kayak perempuan. Perempuan ya mikirnya kebutuhan, masak, nyuci, mengurus anak-anak, mengurus suami dan masih banyak lagi. Kalau laki-laki, pikirannya ya cuma kelon, kelon, kelon dan kelon, dari angka satu sampai angka sepuluh. Angka sebelasnya baru ada tulisan kerja." Gumam Farida sambil melirik ke samping.

Ah sudahlah, Vano membiarkan perempuan itu berkata apapun sesuka hatinya. Nyatanya kini apa yang dirasakannya itu memang benar. Lagian siapa suruh sih dia datang kesini, dandan cantik banget lagi?

Ya wis langsung wae mbok terkam toh? Mange kon ngenteni opo...

***

...To be continued...

...@ana_miauw...

...Mulai besok insyaallah mulai update rutin satu bab perhari lebih dari 1000 kata. Yang suka dilike, komen dan vote ya, nggak maksa....

......Pantengin terus ya alurnya, masih banyak misteri yang belum terungkap. Doakan author sehat selalu agar bisa terus menghibur kalian.......

1
Wiwik Roviyantini
🤣🤣🤣🤣🤣 aku suke...aku suke
Rhenii RA
Too
Nury Wiardja
aq suka cerita yg begini istri yang bar bar,,
Ibelmizzel
panikny bikin perutku sakit.
Ibelmizzel
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Caramel Latte
ternyata kalian segesrek mk babenya
Caramel Latte
huufff akhirnya pak dosen peka. untung gak kayak daddy vano yang gak pekaan
Caramel Latte
jadi inget om arwana. kembali ke.. laptop! 😁
Caramel Latte
kayak simbokku ini, mau manggil cucu depan mata, semua nama cucu di panggil😁
Caramel Latte
kok pusing sih, dah jualan roti dati tokonya mami aja
Caramel Latte
biyuh ternyata fitri suka kdrt🤭pantesan si rey jadi ISTI🤣🤣
Caramel Latte
hati2 tar suzan na dateng beneran loh😅
Caramel Latte
dad mam jan tereak2. itu anaknya malah tambah kejer ntar. ya ampuuun...
Caramel Latte
ya ampun, sampai gepeng😱
Caramel Latte
bagus🤗
Caramel Latte
omegat🙈🙈🙈🙈
Caramel Latte
di kira restoran apa van ada ruang vip🤣
Caramel Latte
bener bgt🤣
Caramel Latte
kok ngungkapin cinta ke fitri, istrinya vano bukan kah farida thor
Caramel Latte
ho oh, betul betul betul
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!