Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031
Pilihan yang Berbahaya
Kevin Wibowo pulang ke rumah Pak Herman. Melinda Wibowo hadir.
Adi membaca laporan itu dua kali sebelum membawanya ke ruang kerja kecil. Rayhan masih duduk di sofa dengan bantal yang tadi dilempar Kiara di pangkuannya. Dari kamar, terdengar suara Kiara membalik halaman naskah, lalu batuk kecil karena terlalu serius membaca dialog.
Rayhan menoleh ke arah suara itu lebih dulu.
Baru setelah yakin Kiara tidak keluar, ia menerima ponsel dari Adi.
"Waktunya?" tanya Rayhan.
"Sekitar pukul sepuluh malam. Kevin masuk rumah Pak Herman setelah meninggalkan studio. Melinda Wibowo sudah di sana lebih dulu."
Mata Rayhan turun ke layar. Foto dari kejauhan memperlihatkan mobil Kevin di depan rumah Wibowo, lalu siluet Melinda di balik jendela ruang makan.
"Isi pertemuan?"
"Belum ada rekaman. Tapi setelah Kevin keluar, Pak Herman menghubungi dua orang yang terkait pendanaan lama Purnawan. Melinda menghubungi nomor pribadi Pak Purnawan."
Nama ayahnya membuat wajah Rayhan sama sekali tidak berubah.
Justru itu yang membuat Adi lebih berhati-hati.
"Mereka mulai bergerak," kata Adi.
Rayhan mengusap pinggir bantal kecil dengan ibu jari. Benda itu terlalu lembut untuk berada di tangannya saat ia bicara dengan nada seperti ini.
"Pantau. Jangan sentuh Kevin dulu."
Adi mengangkat mata sedikit.
"Karena Nona Kiara?"
"Karena dia masih berguna untuk film Kiara."
Jawaban itu dingin, praktis, tetapi Adi tahu bukan hanya itu. Jika Kevin tidak membawa nama Wibowo dan Melinda, mungkin Rayhan sudah menghapus jaraknya dari Kiara dengan satu perintah. Namun Kiara sedang membangun karier. Setiap adegan, setiap promosi, setiap pembicaraan tentang aktingnya sedang menaikkan namanya.
Rayhan tidak akan mematahkan tangga yang sedang Kiara naiki, meski di tangga itu ada pria lain yang menatapnya terlalu lama.
"Kalau mereka mencoba memancing rumor pribadi?" tanya Adi.
"Biarkan Kiara menjawab selama dia mau. Kalau menyentuh tubuh, kesehatan, atau privasinya, tutup."
"Baik, Pak."
Dari kamar, suara Kiara terdengar, "Koko, dialog halaman enam puluh dua ini aneh!"
Dalam satu detik, dingin di wajah Rayhan menghilang.
Ia berdiri, mengembalikan ponsel pada Adi. "Lanjutkan laporan besok."
Adi menunduk.
Rayhan masuk ke kamar dengan bantal kecil masih di tangan.
Di belakangnya, Adi melihat pintu tertutup pelan dan berpikir bahwa keluarga Wibowo mungkin belum benar-benar paham. Titik lemah Rayhan memang Kiara.
Tapi menyentuh titik lemah itu sama saja menyentuh pusat ledakan.
***
Pagi berikutnya, Melinda Wibowo datang ke rumah lama Purnawan dengan wajah pucat yang ditutup bedak tipis.
Hartono Purnawan sedang sarapan sambil membaca laporan pasar. Di usianya, ia masih membawa aura orang yang terbiasa memerintah, meski sebagian besar kekuasaan Purnawan Group sudah lama berpindah ke tangan Rayhan.
Melinda duduk di seberangnya. Ia memilih teh hangat, bukan kopi.
Hartono melirik. "Masih mual?"
"Sedikit. Dokter bilang normal."
Mata Hartono turun sebentar ke perutnya yang belum tampak. Wajah kerasnya melunak sedikit, bukan karena cinta pada Melinda, melainkan karena bayangan pewaris baru yang ia pikir masih bisa ia bentuk sejak kecil.
Melinda tahu cara membaca tatapan itu.
Ia menunduk, menyentuh cangkir. "Aku dengar Rayhan sedang sangat dekat dengan aktris itu."
"Kiara Tanuwijaya?"
"Iya. Dia bahkan membiarkan gosip perempuan itu dengan Kevin naik, karena menguntungkan filmnya."
Hartono mendengus. "Anak itu makin tidak masuk akal."
"Atau makin bisa ditebak." Melinda mengangkat mata dengan hati-hati. "Selama ini Rayhan sulit dikendalikan karena dia tidak peduli pada apa pun yang kita pakai untuk menekan. Tapi sekarang ada Kiara."
Hartono menutup laporan pasar.
Melinda melanjutkan, suaranya lembut. "Aku tidak bilang kita menyakiti gadis itu. Justru jangan. Kalau Kevin dekat dengannya, kita bisa tahu apa yang membuat Rayhan berubah, apa yang dia rencanakan, dan kapan dia lengah."
"Kevin bisa dipercaya?"
"Dia menyukai Kiara. Laki-laki muda yang merasa tulus sering lebih mudah diarahkan daripada orang serakah."
Hartono menatapnya lama. "Pastikan keluargamu tidak membuat kesalahan."
"Tentu."
Melinda tersenyum.
Di bawah meja, jarinya menekan perutnya sebentar.
Ia harus membuat dirinya tetap berguna sebelum bayi itu lahir. Sebelum semua orang menghitung darah, nama, dan hak waris terlalu jauh.
***
Di studio, Kevin datang lebih pagi dari biasanya.
Kiara sedang duduk di sudut reading room bersama Santi, menandai naskah dengan sticky note warna kuning. Rayhan belum datang karena rapat singkat di SCBD, tetapi termos air hangatnya sudah tiba lebih dulu bersama sopir.
Kevin melihat termos itu dan tersenyum kecil, agak pahit.
"Dia bahkan mengirim air lebih cepat daripada orangnya."
Kiara mengangkat wajah. "Koko?"
"Pak Rayhan."
"Dia khawatir aku lupa minum."
"Kamu sering lupa?"
"Kalau lagi baca naskah, iya."
Percakapan itu ringan. Normal. Kevin hampir membiarkannya tetap begitu.
Lalu suara Melinda dari malam sebelumnya kembali di kepalanya.
Cukup untuk memberinya pilihan lain saat dia mulai takut.
Kevin duduk di kursi seberang, menjaga jarak yang pantas. "Kiara, boleh aku tanya sesuatu di luar naskah?"
Santi langsung mengangkat wajah.
Kiara menutup halaman naskah dengan jari. "Tergantung pertanyaannya."
Kevin menatapnya. "Kamu bahagia?"
Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba.
Kiara tidak langsung menjawab.
Kevin cepat menambahkan, "Maksudku, setelah semua yang terjadi. Keluargamu, Chandra, berita, Rayhan yang selalu berada di sekitarmu. Kamu tidak merasa... terlalu diawasi?"
Santi tampak ingin menyela, tetapi Kiara mengangkat tangan kecil.
"Kevin," kata Kiara tenang, "kalau pertanyaanmu tentang kondisi kerjaku, aku baik-baik saja. Kalau pertanyaanmu tentang Rayhan, itu bukan tempatmu."
Wajah Kevin berubah sedikit.
"Aku hanya khawatir."
"Terima kasih. Tapi kekhawatiran tidak otomatis memberimu hak masuk."
Kalimat itu halus, tetapi pintunya tertutup jelas.
Kevin menunduk. "Maaf."
"Aku tahu kamu tidak bermaksud buruk."
Ia menghela napas. "Kadang orang yang tidak bermaksud buruk tetap bisa melewati batas."
Kevin menerima kalimat itu seperti pukulan yang tidak bisa ia bantah.
Pintu reading room terbuka.
Rayhan berdiri di sana.
Tidak ada yang tahu sejak kapan ia tiba.
Di tangannya ada jaket tipis milik Kiara. Matanya jatuh pada Kevin, lalu pada Kiara. Ia tidak bertanya. Tidak marah. Tidak memerintah Kevin keluar.
Ia hanya berjalan ke sisi Kiara dan meletakkan jaket di sandaran kursinya.
"Ruang ini dingin," katanya.
Kiara menatapnya. "Koko dengar?"
"Cukup."
"Aku sudah menjawab."
"Aku tahu."
Rayhan menunduk sedikit, merapikan ujung jaket agar tidak menyentuh lantai. Gerakan itu tenang. Terlalu tenang untuk orang yang baru saja mendengar pria lain bertanya apakah Kiara bahagia bersamanya.
Kevin berdiri. "Saya keluar dulu."
Rayhan menatapnya.
"Kevin."
Langkah Kevin berhenti.
"Kalau kamu ingin menjadi lawan main yang baik untuk Kiara, fokus pada naskah." Suara Rayhan rendah. "Jangan mencoba menjadi penyelamat di cerita yang tidak kamu pahami."
Kevin menahan rahang.
"Baik, Pak Rayhan."
Ia keluar.
Pintu tertutup pelan.
Kiara menatap Rayhan. "Koko marah?"
Rayhan menyentuh pipinya dengan punggung jari.
"Aku sedang belajar tidak membuatmu merasa diawasi."
Kalimat itu membuat Kiara terdiam.
Ada cemburu di sana. Ada bahaya. Tapi juga ada usaha.
Kiara menunduk, lalu menyentuh ujung jaket yang dibawakan Rayhan. "Terima kasih."
Rayhan tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sampingnya, menjaga jarak yang cukup agar ia bisa bernapas.
Di luar reading room, Kevin bersandar di dinding.
Ponselnya bergetar.
Melinda: Jangan menyerah. Dia akan bilang tidak sebelum berani mengaku takut.
Kevin menatap pesan itu, lalu menghapusnya.
Namun kata-kata itu sudah terlanjur masuk.