Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Aku Tahu Siapa Kamu
Zhen menunggu satu hari lagi.
Ia memberi Yu kesempatan untuk mengaku, atau setidaknya membuat kebohongan yang lebih rapi. Hasilnya, Yu mengganti folder Kalkulator menjadi Catatan UAS.
Lebih bodoh.
Zhen melihatnya ketika Yu membuka ponsel di meja makan dan buru-buru menutup layar. Ia tidak perlu membaca isi folder. Cukup melihat gerak panik itu, dan ia tahu.
MakiGwMasukBui masih hidup di sana.
Hari itu Yu berusaha terlihat normal. Ia menjawab pertanyaan dengan terlalu hati-hati, makan roti tanpa menjatuhkan garpu, dan bahkan menawarkan diri mencuci piring. Semua usahanya justru membuatnya terlihat seperti pencuri yang baru belajar sopan santun.
Zhen membiarkan.
Sampai malam.
Yan datang sebentar untuk mengambil charger yang tertinggal sejak kunjungan terakhir. Ia menemukan Zhen duduk di meja makan dengan ponsel di tangan, layar chat Z terbuka.
"Lu kelihatan kayak orang mau melakukan kejahatan elegan," kata Yan.
"Ambil chargermu lalu pulang."
"Drama klien lima puluh juta itu belum selesai?"
Zhen tidak menjawab.
Yan menarik kursi dan duduk tanpa izin. "Oke, berarti belum. Siapa dia?"
"Tidak penting."
"Kalau tidak penting, lu nggak akan lihat layar dengan muka begitu."
Zhen mengunci ponsel.
Yan menatapnya beberapa detik, lalu senyumnya pelan-pelan muncul. "Jangan bilang itu Yu."
Zhen tetap diam.
Diam itu terlalu keras.
Yan menepuk meja. "Anjir."
"Jangan berisik."
"Gue sudah setengah berteriak dalam hati. Jadi klien yang transfer lima puluh juta buat pegang tangan itu roommate lo?"
"Volume."
Yan menurunkan suara, tapi wajahnya masih penuh bencana bahagia. "Bro. Ini sinetron premium."
"Ini bukan sinetron."
"Ini lebih mahal. Ada transfer lima puluh juta."
Zhen memijat pangkal hidung.
Yan berhenti bercanda ketika melihat ekspresi itu. "Lu mau apa?"
"Membuat dia berhenti menyiksa dirinya sendiri."
"Dengan cara?"
Zhen membuka ponsel lagi, menatap ruang chat. "Dia tidak akan mengaku kalau ditanya langsung."
"Ya jelas. Cewek itu bisa panik cuma karena folder Kalkulator."
Zhen menatap Yan.
"Oke, maaf. Gue mengamati."
"Aku akan membuatnya datang sebagai Maki."
Yan bersandar. "Ketemu Z?"
"Ya."
"Terus nanti dia lihat lu?"
"Belum."
"Lu mau main drama topeng?"
"Aku mau tahu seberapa jauh dia akan berlari sebelum berhenti."
Yan menggaruk kepala. "Kalimat lu makin lama makin psycho, tapi karena ini soal Yu, gue percaya maksudnya baik."
"Terima kasih atas dukungan yang tidak perlu."
"Saran gue satu." Yan berdiri, mengambil charger dari dekat sofa. "Jangan permalukan dia. Yu itu tipe yang kalau malu, bisa pindah galaksi."
Zhen menatap pintu kamar Yu.
"Aku tahu."
"Dan jangan pakai tempat aneh," tambah Yan. "Kalau lu ajak dia ke Sentul tengah malam, dia bisa mikir lu mau jual dia satu paket sama mobil sport."
"Aku tidak sebodoh itu."
"Bagus. Karena Yu punya imajinasi liar. Lily bilang begitu."
Zhen mengingat folder Kalkulator, garpu jatuh, dan wajah Yu setiap kali melihat helmnya. "Aku tahu."
Yan menunjuknya dengan charger. "Bicara di tempat terang. Ada jalan keluar. Jangan kunci pintu. Jangan bikin dia merasa terpojok."
Zhen menatap Yan lebih lama.
Untuk semua kebisingannya, Yan kadang-kadang bisa tepat sasaran.
"Aku hanya ingin dia berhenti bersembunyi sampai sakit sendiri," kata Zhen.
"Kalau begitu jangan jadi alasan baru dia sakit."
Kalimat itu membuat Zhen diam.
Yan pergi setelah lima menit, masih menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam tentang lima puluh juta dan roommate. Begitu pintu tertutup, unit kembali sunyi.
Yu keluar kamar tidak lama kemudian.
Tentu saja.
Ia selalu keluar ketika merasa terlalu lama bersembunyi.
"Yan pulang?" tanyanya.
"Sudah."
"Dia... ngomong apa?"
"Banyak hal tidak penting."
"Tentang aku?"
Zhen mengangkat mata. "Kenapa harus tentang kamu?"
Yu langsung mengambil gelas. "Nggak. Aku cuma tanya."
"Jawaban defensif."
"Kamu terlalu sering menilai jawaban orang."
"Kamu terlalu sering memberikan bahan."
Yu menuang air dengan wajah panas. Ponselnya ada di saku hoodie. Zhen melihat bentuknya dari kain yang sedikit menonjol. Begitu dekat, begitu mudah bergetar, begitu mudah membuatnya lari.
Ia hampir kasihan.
Hampir.
"Besok aku tidak bisa jemput jam tiga," kata Zhen.
Yu menoleh. "Kenapa?"
"Meeting."
"Aku bisa pulang sama Lily."
"Aku sudah minta Fajar standby."
"Zhen."
"Apa?"
"Kamu tidak harus mengatur semuanya."
Zhen menatapnya. "Aku tahu."
"Tapi tetap?"
"Tetap."
Yu menunduk, memegang gelas dengan dua tangan. "Kamu begini ke semua orang?"
"Tidak."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Mereka sama-sama diam.
Zhen melihat Yu menahan napas, lalu buru-buru minum air seolah gelas itu bisa menyelamatkannya dari percakapan.
Ia tidak menambahkan apa-apa.
Malam itu, Yu kembali ke kamar dengan dada terlalu ramai. Zhen tidak begini ke semua orang. Kalimat itu seharusnya sederhana, tapi justru membuatnya membuka dokumen NovelMe dan menulis satu paragraf tentang laki-laki yang menyebalkan karena membuat kalimat biasa terdengar seperti rahasia.
Paragraf itu buruk.
Yu menghapusnya.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Tokoh laki-laki di kepalanya terlalu mirip Zhen, dan setiap kali ia mencoba mengubahnya, tokoh itu tetap kembali menjadi orang yang menyiapkan driver, mengingat payung, dan mengatakan tidak kepada dunia dengan nada datar. Akhirnya Yu menutup laptop tanpa mengunggah apa pun.
Ia membuka ponsel, melihat folder Catatan UAS, lalu menutupnya lagi.
Tidak ada notifikasi.
Justru itu yang membuatnya gelisah.
Pukul 23.48, ponselnya bergetar.
Bukan dari Lily.
Bukan dari Ko Darren.
Bukan dari grup kelas.
Dari Z.
Yu menatap notifikasi itu sampai napasnya berhenti.
Ia memastikan pintu kamar terkunci. Memastikan lampu kecil saja yang menyala. Memastikan suara di ruang tengah tidak terdengar. Lalu ia membuka pesan.
Z: Aku tahu siapa kamu.
Yu membeku.
Seluruh tubuhnya seperti berubah menjadi kaca.
Pesan kedua masuk.
Z: Temui aku malam ini.
Yu membaca kalimat itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada alamat.
Belum ada penjelasan.
Hanya dua kalimat yang cukup untuk membuat semua darah di wajahnya menghilang.
Ia mengetik dengan tangan gemetar.
MakiGwMasukBui: Maksud Anda apa?
Pesan itu belum terkirim karena ia belum berani menekan tombol.
Di luar kamar, ruang tengah sangat sunyi.
Terlalu sunyi.
Yu berdiri, berjalan ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di kenop. Ia tidak tahu kenapa hal pertama yang ingin ia pastikan justru apakah Zhen ada di luar. Mungkin karena saat takut, tubuhnya mencari pusat tenang paling dekat.
Ponselnya bergetar lagi.
Z: Jangan ajak siapa pun. Kita bicara berdua.
Yu menutup mulut dengan tangan.
Di sisi lain dinding, hanya beberapa langkah dari pintu kamarnya, Zhen duduk di sofa ruang tengah dengan ponsel di tangan.
Layar di wajahnya menampilkan ruang chat yang sama.
Ia menatap pintu kamar Yu yang tertutup, tahu gadis di baliknya sedang ketakutan, malu, dan mungkin mempertimbangkan pindah negara sungguhan.
Namun kali ini, Zhen tidak menghapus pesan itu.
Permainan sembunyi sudah cukup lama.