4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Ethan Wijaya
"Ethan," ucap Darren dingin.
Pria di atas tangga itu tidak tampak tersinggung. Senyumnya tetap hangat, nyaris sempurna, seperti permukaan danau yang tidak menunjukkan apa pun di bawahnya.
"Darren," balas Ethan. "Sudah lama kau tidak pulang ke Rumah Besar."
"Aku pulang kalau perlu."
"Hari ini perlu?"
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi Naomi merasakan jari Darren mengencang di tangannya.
Ethan mengalihkan pandangan kepada Naomi. "Dan ini pasti Naomi Liem. Maaf, seharusnya aku mengucapkan selamat lebih awal. Pernikahan kalian cukup... mendadak."
Jeda kecil sebelum kata mendadak membuatnya terdengar lebih dalam daripada ucapan biasa.
Naomi tersenyum sopan. "Terima kasih sudah menyambut kami."
"Tentu. Kau keluarga sekarang." Ethan melipat sapu tangan abu-abu di tangannya, gerakannya tenang. "Rumah Besar selalu terbuka untuk keluarga."
Darren menjawab sebelum Naomi. "Tidak semua pintu di rumah ini perlu dia buka."
Senyum Ethan sedikit melebar. "Masih sewaspada dulu."
"Masih dengan alasan yang sama."
Naomi menatap mereka berdua. Tidak ada suara tinggi, tidak ada kata kasar, tetapi udara di antara Darren dan Ethan terasa seperti benang yang ditarik terlalu kencang. Dari luar, mereka tampak seperti dua sepupu yang saling menyapa. Dari dekat, Naomi merasa sedang berdiri di tengah medan yang sudah lama dipenuhi ranjau.
Pintu utama terbuka lebih lebar.
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan keluar dengan langkah anggun. Gaun sutra hijau tua melekat sempurna di tubuhnya, rambutnya disanggul rapi, dan kalung mutiara di lehernya membuat setiap gerakan tampak mahal. Helena Tjandra tidak perlu memperkenalkan diri untuk membuat orang tahu ia terbiasa dinilai tinggi.
"Akhirnya sampai juga," katanya.
Ethan menoleh. "Ma."
Helena mengabaikan nada peringatannya. Matanya jatuh pada Naomi, menilai dari wajah, gaun, tas, sampai sepatu. Senyumnya muncul, tipis dan tidak hangat.
"Jadi ini istri Darren yang membuat seluruh keluarga membaca berita pagi-pagi."
Naomi menahan punggungnya tetap lurus. "Tante Helena."
Alis Helena naik sedikit, seolah panggilan itu terlalu akrab untuk seleranya. "Kamu sudah diberi tahu siapa saja di rumah ini?"
"Darren menjelaskan sebagian."
"Sebagian saja?" Helena menatap Darren. "Sayang sekali. Keluarga besar itu rumit. Orang yang baru masuk biasanya mudah salah langkah."
Darren tersenyum tanpa senang. "Kalau ada yang sengaja memasang kaki, tentu saja."
Helena tertawa kecil. "Kau selalu buruk sangka."
"Pengalaman."
Ethan melangkah turun satu anak tangga, memotong ketegangan dengan suara lembut. "Lebih baik masuk dulu. Engkong sedang istirahat, tapi makan malam keluarga akan dimulai pukul tujuh."
Di dalam, Wijaya Estate lebih megah daripada yang terlihat dari luar. Lantai marmernya mengilap, dindingnya dihiasi lukisan keluarga dan kaligrafi tua, sementara aroma kayu cendana tipis memenuhi udara. Pelayan berjalan nyaris tanpa suara. Setiap vas bunga, setiap meja konsol, setiap lampu dinding tampak berada di tempat yang sudah ditentukan sejak lama.
Naomi merasa seperti masuk ke rumah yang bukan hanya dihuni manusia, tetapi juga aturan.
Helena berjalan di depan, menjelaskan ruangan dengan nada tuan rumah yang terlalu sempurna. "Sayap timur untuk keluarga utama. Sayap barat untuk tamu dekat. Darren biasa memakai kamar di lantai dua, tapi sudah lama tidak ditinggali. Kami sudah minta pelayan mengganti seprai."
"Kami satu kamar," kata Darren.
Langkah Helena berhenti.
Ia menoleh pelan. "Tentu saja. Kalian sudah menikah."
Nada tentu saja itu membuat beberapa pelayan menunduk lebih dalam.
Naomi memegang tangan Darren sebelum ia membalas. Ia tidak ingin perang dimulai di lima menit pertama.
Ethan melihat gerakan itu. Hanya sekilas, tetapi Naomi menangkapnya. Matanya tersenyum, bibirnya juga, namun ada sesuatu yang tidak ikut tersenyum.
Makan malam belum dimulai, jadi mereka diantar ke kamar untuk beristirahat. Kamar Darren berada di lantai dua, menghadap taman samping. Luas, rapi, dan anehnya tidak personal. Tidak ada foto remaja, tidak ada benda masa kecil, hanya beberapa buku lama dan meja kerja yang terlalu bersih.
Begitu pintu tertutup, Darren langsung memeriksa balkon, kamar mandi, dan pintu penghubung kecil yang ternyata terkunci dari sisi mereka.
Naomi duduk di tepi ranjang. "Kamu selalu begini kalau pulang?"
"Tidak." Darren memastikan kunci sekali lagi. "Dulu aku tidak membawa kamu."
"Ethan benar-benar sebahaya itu?"
Darren berhenti.
Ia berjalan ke depan Naomi, lalu berlutut satu kaki agar pandangan mereka sejajar. Sikap itu mengingatkan Naomi pada malam Akta Nikah, tetapi kali ini wajahnya tidak gugup. Ia sangat serius.
"Jangan pernah percaya padanya."
Naomi menelan ludah. "Bahkan kalau dia terlihat membantu?"
"Terutama kalau dia terlihat membantu."
"Apa yang dia lakukan padamu?"
Darren mengusap punggung tangan Naomi dengan ibu jari. "Belum ada yang bisa kubuktikan. Tapi setiap kali sesuatu buruk terjadi di rumah ini, Ethan selalu berdiri di tempat yang paling bersih."
Kalimat itu membuat suhu kamar terasa turun.
"Aku akan hati-hati," kata Naomi.
"Bukan hanya hati-hati." Darren menatapnya tajam. "Kalau aku tidak ada, jangan pergi sendirian dengannya. Jangan menerima minuman darinya. Jangan percaya pesan yang katanya dariku kalau bukan dari nomorku langsung."
"Dar."
"Aku tahu kedengarannya berlebihan."
"Tidak." Naomi menggenggam tangannya balik. "Setelah Vanessa, aku tidak akan menertawakan peringatan seperti itu."
Ekspresi Darren melunak, tetapi kekhawatirannya tidak hilang.
Malam itu, makan malam keluarga berjalan lebih tenang daripada yang Naomi bayangkan. Engkong tidak hadir karena kondisi tubuhnya lemah. Helena menyindir dua kali tentang latar belakang Naomi, Felicia menatap gaunnya seperti mencari cacat, dan Bryan lebih sibuk bermain ponsel di bawah meja. Ethan, sebaliknya, menjadi orang paling sopan di ruangan itu. Ia memastikan makanan Naomi tidak terlalu pedas, menanyakan perjalanan, bahkan menegur Felicia dengan suara lembut saat adiknya bicara terlalu tajam.
Semakin sempurna Ethan, semakin Naomi merasa tidak nyaman.
Menjelang tengah malam, Naomi terbangun karena tenggorokannya kering.
Darren tidur di sampingnya, satu tangan masih memegang ujung piyamanya seolah takut ia pergi dalam tidur. Naomi menatapnya sebentar, lalu perlahan melepaskan genggaman itu. Ia tidak ingin membangunkannya. Sejak pagi wajah Darren terlihat lelah.
Ia mengenakan cardigan dan keluar kamar.
Koridor lantai dua sunyi. Lampu dinding menyala redup, memantulkan cahaya kuning pada lantai kayu. Dari jauh, suara jam besar berdetak pelan. Naomi mengingat dapur kecil yang ditunjukkan pelayan sebelum makan malam, lalu berjalan ke arah tangga samping.
Saat melewati belokan menuju balkon dalam, ia berhenti.
Di ujung koridor, di bawah cahaya bulan yang jatuh dari jendela tinggi, Ethan berdiri sendirian.
Kemeja putihnya tampak hampir berkilau. Di tangannya, sapu tangan abu-abu terlipat rapi. Ia menatap taman gelap di luar jendela, seolah sudah berdiri di sana sejak lama.
Naomi mundur setengah langkah.
Ethan menoleh.
Senyumnya muncul perlahan.
"Adik ipar," katanya lembut. "Belum tidur?"
Senyum itu sangat indah, sangat tenang.
Dan membuat punggung Naomi dingin.