Misya Alexandra, polisi wanita yang ditugaskan mencari seorang artis populer yang menghilang dari rumah setelah asisten pribadinya gantung diri.
Dalam masa pencarian Misya menemukan sebuah catatan kematian dari seorang yang bernama Jara. Pesan itu memberitahukan bahwa jara mampu membunuh sesuka hati menggunakan catatan yang didapatkannya dari iblis.
Tidak ada yang percaya akan hal itu. Akan tetapi…
Sejak pesan tersebut diterimanya. Pembunuhan berantai terus terjadi, semua terjadi di sekitarnya.
Menariknya setiap mayat-mayat yang terbunuh meninggalkan catatan bagaimana mereka semua mati.
Sebuah kriminal yang sangat sulit dimengerti.
NAMAKU MISYA BANTU AKU MENEMUKAN NYA.
Hai pembaca...
Kalau suka jangan lupa suport ya...
Saran dan kritik juga boleh...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QUSAIRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANA
Setelah komandan selesai menelpon. Mobil Nanda menyala dengan mudah, dan kami beranjak pergi melintasi jalan yang begitu ramai. Nanda tak peduli akan hal itu, dia terus maju seakan pedal gas didudukinya. Mataku tidak sempat melihat papan reklame di lapangan sebelah kiriku yang kulihat sebelum sampai di Kelapa Gading. Kami meninggalkan bangunan-bangunan yang tersusun di tepi jalan, seketika kami berhenti sebab lalu lintas menjadi lebih padat.
Nanda menghela nafas mencoba santai. “Apa yang sebenarnya terjadi?’’
“Aku tidak tahu pasti, yang jelas komandan mengatakan Hana sedang di rawat di Rumah sakit.”
“Dia tidak mengatakannya?’’
“Tidak.” Cetus ku.
Aku berpaling menghadap jendela mencoba memikirkan sesuatu yang terjadi.
“Apa kau juga memberi tugas untuknya?’’ Nanda bertanya setelah melihat raut wajahku panik.
“Ya, aku meminta Hana, agar memeriksa media internet setelah siaran.” Aku mendengus. “Tidak mungkin…”
Nanda menatapku curiga. “Untuk apa?’’
“Apa mungkin dia pergi menyadap orang yang dicurigainya?” Aku menatap Nanda. “Pasti seperti itu?’’
“Apa maksudmu?’’ Nanda bertanya penuh kebingungan.
Satu hari yang lalu…
Saat Komandan ingin menutup rapat yang kami lakukan. Kami dikejutkan seorang polisi yang tergesa-gesa membawa laporan kepada komandan. Laporan tersebut adalah kematian seorang gadis selebgram yang bunuh diri saat siaran langsung.
“Hana! Periksa semua berkas ini!’’ Perintah Komandan.
Hana beranjak dari bangku lalu memeriksanya. “Ada sebuah flashdisk komandan.’’ Ucapnya setelah membaca dan membongkar isi berkas.
“Kalau begitu buka file siarannya!’’ Perintah komandan ikut membuka berkas video yang diberikan polisi tersebut.
Hana beranjak membawa flashdisk menuju ruangan komputer yang berada di sudut ruangan untuk menampilkan isinya.
“Ini sebuah video, Komandan!” Sahutnya.
“Kalau begitu tampilkan!’’
Aku hanya melihatnya bergegas cepat memasangkan flashdisk itu pada mesin infocus.
Video hanya berdurasi sepuluh menit. Menurut laporan yang tertulis, gadis itu tinggal di Jakarta selatan. Usianya Dua Puluh Lima Tahun, sepanjang video gadis itu hanya menyakiti dirinya menggunakan pisau beserta obeng. Matanya kanannya tertancap benda tajam lalu ujung obeng itu menempel di mata kanannya. Hampir semua bagian wajahnya tersayat oleh pisau yang di pegangnya. Sebelum gadis itu benar-benar tumbang, dia menyebutkan sebuah pesan. Gadis bernama Anggita itu mengatakan.
Aku adalah adik kandung Jara. Lima hari yang lalu Aku tidak sengaja membuka kamarnya. Disana aku melihat beberapa novel yang dikarangnya. Kakakku adalah pecinta Thriller garis keras. Dia banyak mengoleksi film dan buku dengan cerita yang penuh darah. Saat aku membaca satu dari lima bukunya, hati ini teringat akan seseorang.
Cerita yang ditulis olehnya sangat menarik. Sungguh cerita yang sangat unik.
Diam-diam Aku mengambil satu dari lima novel yang dibuatnya, lalu memberikannya kepada teman karibku yang sangat menyukai novel bergenre seperti yang dibuatnya, tak kusangka dia sangat menyukai cerita yang ditulis kakakku itu. Hatiku berdebar melihat senyuman indah terpancar dari bibirnya saat membaca novel yang kubawa. Aku sudah sangat lama jatuh hati padanya, Entah bagaimana untuk mendapatkannya. Hati ini sangat berharap seandainya hari ini dia menyatakan cintanya padaku.
Tapi sayang, kata yang keluar dari bibir indahnya itu adalah Seandainya ada wanita yang sampai mau melakukan hal seperti ini. Pasti hati ini akan kuberikan sepenuhnya untuk dia semata.
Untuk itu di depan pengikutku semua, saat ini aku melakukan apa yang dilakukan tokoh utama dari tulisan kakakku itu.
Hari ini hatiku berdebar kencang seakan dunia berpihak padaku. Oh tuhan akhirnya dia jatuh cinta padaku.
Aku tercengang sejenak setelah habis menonton video. Aku bersandar di bangku mencoba menenangkan kepala. Pelan-pelan isi kepalaku kembali memikirkan tujuan dari video berdurasi Sepuluh menit itu. Aku menghembuskan nafas untuk merefreshnya dari kepala.
“Apa lagi ini?’’ Komandan bertanya kepadaku dengan suara rendah.
Aku hanya menatapnya tidak berkata-kata. Dalam hati sebenarnya Aku ingin mengatakan tidak tahu. Masalah yang satu belum terpecahkan ditambah dengan yang baru. Aku mengambil kopi yang diseduh Andi, meminumnya dengan santai. Aku butuh beberapa menit untuk menyimpulkannya.
“Komandan! Sepertinya ini adalah pesan.’’ Ucap Hana memecah keheningan ruangan.
Aku menatapnya. “Pesan?’’
“Ya, Aku sudah memeriksa semua berkas yang diserahkan Sersan, tapi tidak menemukan catatan neraka.”
“Sudah kuduga.” Aku memotong penjelasannya.
Hana menatapku. “Apa maksudmu?’’
“Tidak, lanjutkan saja! Aku akan menyampaikan kesimpulan setelah kau selesai.’’
Hana mengangguk. “Baik, saya lanjutkan komandan. Yang disampaikan Anggita dalam video itu adalah pengganti dari catatan neraka.” Hana berdiri mengambil catatan ibu Kirana yang terletak di meja.
“Apa tim penyidik tidak menemukan catatan di TKP?” Lanjutnya bertanya pada Sersan yang berdiri di sebelah komandan.
“Tidak, kami hanya menemukan obeng dan pisau itu saja yang menjadi bukti.’’ Ucap Sersan dengan lugas.
“Apakah kalian sudah benar-benar memeriksanya?’’ Ketus Hana seakan tidak terima.
“Tentu, berkas yang di hadapan anda itulah semuanya.”
Aku hanya diam melihat Andi dan Komandan begitu serius memperhatikan Hana. pandanganku terhenti melihat Riko yang menguap. Riko tersenyum saat dia sadar Aku memperhatikannya.
“Kalau catatan itu tidak ada disana, berarti Jara bisa mengendalikan orang bukan hanya dengan catatan saja!” Pungkasnya.
“Oi, apa maksudmu?’’ Aku bertanya tidak terima dengan asumsinya.
“Buktinya, gadis itu bergerak seperti itu. Maksudku, dia melakukan aksi itu tanpa catatan. Lihat saja, tidak seperti ibu Kirana ini…, Dia bergerak sesuai dengan catatan.” Paparnya begitu yakin.
“Lalu kau ingin mengatakan bahwa LN juga mati seperti itu?’’
“Ya, LN mati juga tanpa catatan, bisa saja catatan neraka hanya untuk pengecoh saja.”
“Oi, apa kau ingin mengatakan catatan yang kau pegang itu bualan ku saja.”
“Tidak, Aku percaya bahwa catatan ini memiliki kekuatan yang aneh.” Jelasnya menatapku tajam. “Tapi, catatan ini tidak bisa di jadikan asumsi cara Jara membunuh…”
“Buktinya LN dan Gadis bernama Anggita itu mati tanpa catatan. Kau ingin mengatakan itu!'' Aku kesal menerka kalimatnya.
Hana tersenyum menatapku. “Kenapa kau tidak menyampaikan teori mu saja untuk membantahku.” Dia diam sejenak. “Kalau teoriku ini benar, bisa saja Komandan akan mati saat siaran besok.”
Semua memandangku begitu tajam. “Misya! jangan bilang sebenarnya kau ingin membunuh Komandan!” Bentak Hana.
“Hana!’’ Komandan membentaknya.
Hana hanya tersenyum melihatku.
“Baik!” Aku menghela nafas. “Aku akan simpulkan teori tentang video ini.” Mata mereka begitu menakutkan menatapku penuh curiga.
“Awalnya aku setuju dengan pendapat Hana mengenai video Anggita adalah sebuah pesan. Akan tetapi aku tidak setuju dengan teorinya yang menyatakan Catatan Neraka milik Ibu Kirana hanyalah pengecoh, itu sangat tidak mungkin.”
“Mengapa kamu seyakin itu?’’ Sahut Komandan.
“Lihat saja catatan Ibu Kirana itu, Komandan. Catatan itu penuh dengan pesan. Seperti yang saya katakan, Jara ingin kita tahu bahwa pembunuh LN adalah dia. Itulah sebabnya catatan ini ada pada Nayla adiknya Amelia. Sejauh ini yang membuatku yakin, Komandan, hanyalah darah ibu Kirana dengan darah yang ada pada catatan itu sesuai.”
“Lalu mengapa mereka berdua tidak memiliki catatan?’’ Sanggah Hana.
“Oi, bukannya LN adalah tugasmu untuk menyelidikinya? Jangan-jangan kau tidak bekerja untuk mencarinya?”
“Apa kau tidak mendengar bahwa Riko sudah mengatakan catatan itu tidak ada di sana!’’
“Kenapa tidak kau saja yang memeriksanya!’’ Bentakku. “Bukankah orang secerdik dirimu akan menemukannya! Sekalian saja kau cari Catatan Neraka milik Anggita ini.’’
“Misya!” Bentak Komandan gusar.
Aku menatap komandan. “Komandan, kalau darah anda selama sebulan ini tidak pernah jatuh ketangan orang lain, saya yakin besok saat siaran anda tidak akan mati. Kunci dari kasus ini adalah darah Komandan!”
“Ya, Aku lebih setuju pendapat Misya.’’ Ucap Komandan.
Hana begitu jengkel menatapku.
Aku terdiam sejenak setelah Komandan memutuskan. “Pria itu!” Aku berdiri menepuk meja keras.
“Maksudmu, Pria yang disebutkan Anggita di dalam video itu?’’ Andi bertanya seakan tahu sesuatu.
“Ya.” Aku menatapnya.
“Sejujurnya… Entah mengapa Aku merasa akan terjadi sesuatu juga padanya.” Sambung Andi.
“Komandan bagaimana?’’
“Apakah kalian sudah memeriksa pria yang dia maksud?’’ Tanya komandan pada Sersan yang berdiri di sebelahnya.
“Kami sedang menyelidikinya pak.” Jawabnya.
“Izinkan saya ikut mencarinya Komandan!’’ Pinta Hana penuh permohonan.
“Silahkan!’’ Komandan memperbolehkannya pergi.
Jangan lupa Like dan Vote, ya! Teman-teman
mungkin amelia mengetahui sesuatu tentang nayla,makanya amelia tidak mengizinkan nayla keluar dari panti,kayanya nayla itu memiliki semacam ilmu sihir yang membahayakan orang lain.
lanjottt bang 💪🌹
makasih udah update bang
semangat menulis
lanjut bang 💪💪💪