"Bos gila ku" maksudnya adalah gila dalam artian benar-benar membuat Thifa stress. Bagaimana tidak? status Thifa yang merupakan sekretaris orang gila itu harus membuatnya menahan amarah.
"Selain bos ku, untungnya kau juga suami ku. kalau tidak, sudah ku gedik habis kau ini." Geram Thifa mengepalkan kedua tangannya.
Bagaimana kisah Arfen dan Thifa selanjutnya? yuk simak kekesalan Thifa bekerja di sana!
~Sequel dari My Special Boyfriend~ Diharap mampir dulu kesana baru ke sini yah^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Dokter yang buruk.
...***...
"Jadi diam-diam selama ini kamu nyelidiki obat itu, dan dokter itu. Apa-apaan kamu ini? Gimana kamu bisa naruh rasa curiga sama dokter sebaik itu. Dokter itu baik Fen, ramah, dia udah sering nolongin aku. Gak mungkin ada niat jahat sama kamu. Aku kecewa sama kamu. Kamu kekanak-kanakan." tiba-tiba suara itu datang dari seseorang yang berada di balik pelukan Arfen.
Tapi suara itu terdengar suram, ah ada rasa kecewa yang dalam di sana. Arfen terkejut, dia benar-benar lengah soal ini. Habislah dia.
Jangan bilang bakal ribut?
Arfen memutar otaknya, mencari alasan senatural mungkin, agar tidak ada pertengkaran serius di antara keduanya.
"Iya, aku memang nyelidi. Buat jaga-jaga, Gapapa dong ya? Lagian kan cuma gitu doang, ya udah besok aku bakal minta maaf ke dia, Oke?" Arfen mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil istrinya itu.
Thifa diam saja. Matanya masih terpejam, entah dia memang tertidur, atau tidak ingin berbicara pada Arfen.
...***...
Pagi ini minggu cerah, matahari bersinar meriah. Sejak obat itu di ganti, dokter Tara jadi memberikan obat yang benar. Dan akibatnya, Arfen sudah jauh lebih baik. Mungkin sekitar sepuluh hari lagi dia akan pulang.
Thifa menyiapkan segala keperluan suaminya, dan Shiren sibuk bermain dengan imajinasinya di taman.
Kalo ga salah waktu itu kak Thifa cerita, kak Arfen selidikin obatnya. Habis di selidikin, kak Arfen cepet pulih. Ini beneran cara kerja obatnya emang gitu, atau apa sih?
Shiren memutik-mutik kelopak bunga di tangannya tanpa sadar.
Perasaannya benar-benar tidak nyaman. Dia benar-benar ingin kakaknya segera keluar dari rumah sakit ini.
Ting!
Org Paok:
Minggu nih, jalan sama gue yok. Kemana gitu, intinya berdua bersama kita bangun rumah tangga.
^^^Ini maksud lo?
^^^
Iya sih emang gue bilang bangun rumah tapi ga gitu konsepnya cinta ku, sayang ku.
^^^Najis, Alay.^^^
Orang bucin mana yang gak Alay coba?
^^^Serah dah, gua gak peduli. ^^^
Ayo jalan anjir,
^^^G^^^
Gua mau nembak lu, peka dikit ya paok.
Deg
Shiren tidak tau perasaan apa ini, yang jelas itu terasa bergetar di hatinya. Padahal, baru saja dia tau bahwa kemarin orang itu baru jadian dengan Fizah. Hari ini udah menyatakan perasaannya pada Shiren?
The real fakeboy.
Shiren mematikan hpnya, senyumnya pudar begitu saja.
Tanpa Shiren sadari, sudah ada Tara yang memperhatikannya sedari tadi.
Gadis ini? Dia lumayan pintar, tidak terlalu baik, tapi juga tidak mudah di bodohi. Karna ulahnya lah, Arfen sampai harus menaruh curiga padaku.
Gadis ini...? Setidaknya harus di beri pelajaran, agar dia tidak ikut campur lagi dalam urusan orang lain.
Tara memutar otaknya, ya sekedar untuk msmikirkan cara terbaik memberikan Shiren pelajaran berharga.
...***...
"Gimana keadaan anak kita? Baik-baik aja? Dah periksa belum?" Arfen menarik tubuh Thifa untuk duduk di pangkuannya. Dengan lembut, ia memegangi perut istrinya yang semakin membesar.
"Baik kok, kamu kapan keluar dari rumah sakit?" Thifa menghela napasnya. Jujur saja, dia lelah sudah berbulan-bulan berada di rumah sakit ini.
"Tau nih kak Arfen, masih lama ga sih? Shiren capek di sini mulu." sambung Shiren yang baru masuk.
Belum lagi hal-hal aneh yang terjadi, apalagi kalo di sini bawaannya keinget dia mulu. Wtf!! Kenapa sih gue harus jatuh cinta, kalo udah gini kan rasa pengen memiliki tinggi, tapi ga bisa di miliki. Gini amat punya hati. Kok bisa ya orang-orang move onnya cepat.
Lanjutnya dalam hati, yang arah pembicaraan nya sudah belok. Ya, cukup dalam hati, kalau sampai Arfen dengar, habislah ia.
"Sabar, kakak juga pengen cepat-cepat keluar. Cuma emang belum bisa aja."
...***...
Brakkk!!!
Di kamarnya, Tara tengah mangamuk hebat, membanting segala barang yang bisa ia banting. Dia sudah lelah dan muak atas kepura-puraan ini, dia ingin segera mendapatkan Neiranya.
Pikirkan jalannya! Ini terlalu lama, aku gak bisa bunuh Arfen. Harus pikirkan caranya, gimana? Gimana biar Neira benci Arfen? Gimana?
Arghhh!!!
"Apa aku culik Neira dan bawa dia pergi jauh-jauh? Eh enggak! Teknologi udah maju, Arfen bisa menemukan kami nantinya."
"Jalan satu-satunya adalah, bagaimana menumbuhkan rasa benci keduanya. Itu pasti mudah, sangat mudah! Semakin besar rasa cinta seseorang, maka semakin muda ia terluka karna orang itu, ya kan?"
Tara menarik senyuman mengerikannya, sepertinya di dalam otaknya sudah terangkai beberapa rencana yang menurutnya akan sukses besar.
"Bukan masalah besar, cukup katakan bahwa, anak yang di kandung Neira adalah anak ku, bukan anak Arfen, dengan beberapa bukti yang mendukung pasti publik akan percaya, haha, ada bagusnya juga, profesiku mendukung ku melakukan ini."
...***...
...Note: Perbuatan Dokter Tara jangan di tiru ya, itu buruk, ga baik, sangat jauh dari etika serang dokter yang penuh empati dan tanggung jawab. ...
IPA dan IPS besanan