Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PDKT
Kukuruyukkk…
Setelah sholat subuh, Vallery pun segera mengambil sapu dan kemoceng untuk membersihkan rumah.
Begitu rumah sudah bersih dan tertata rapi, ia segera pergi ke halaman depan untuk menyapu daun-daun yang rontok dan mengotori halaman depan rumah neneknya.
Baru saja Vallery membungkukkan badan dan mulai menyapu, tiba-tiba terdengar suara motor memasuki halaman rumahnya.
Vallery yang berada di ujung setelah menyapu halaman samping rumah neneknya, menghentikan aktivitasnya dan menoleh. Melihat Dirga datang sambil membawa paper bag kecil, kedua mata Vallery menyipit penasaran. “Ada apa lagi pak kades ini datang kerumah pagi-pagi?”.
Melihat ekspresi penasaran yang Vallery tunjukkan,Dirga yang baru turun dari motor maticnya segera menghampiri dan langsung mengenggamkan tali paper bag yang dibawanya ke salah satu tangan Vallery yang bebas.
“Ini untuk sarapan…”, ucap Dirga, tanpa menunggu respon dari Vallery, iapun segera berbalik pergi kearah tempat dimana motornya terparkir dan menaikinya, kemudian melesat cepat meninggalkan halaman rumah nenek Gendhis.
Vallery yang masih terbengong, hanya menatap paper bag yang Dirga berikan dengan tatapan bingung.
“Apa-apaan pak kades ini, nggak jelas banget”, gerutu Vallery yang langsung meletakkan begitu saja paper bag yang Dirga berikan diatas tembok pembatas teras rumah yang hanya setinggi pinggang, kemudian ia pun segera melanjutkan menyapu halaman rumah yang sempat tertunda akibat kedatangan Dirga.
Dirga sendiri, kini sudah ada dihalaman rumahnya dengan hati bahagia karena misinya pagi ini sukses besar.
“Ini baru permulaan cah ayu, sebentar lagi kamu akan melihat bagaimana besarnya perhatian dan kasih sayang masmu ini terhadapmu”, monolog Dirga.
Ya, setelah memastikan perasaannya terhadap Vallery, Dirga pun memutuskan untuk mulai mengejar gadis cantik yang mampu mencairkan kebekuan hatinya itu secara ugal-ugalan karena ia menganggap jika pendekatan biasa tak akan mungkin berhasil menarik hati sang pujaan hati.
Vallery yang tak tahu jika sudah menjadi target Dirga saat ini baru saja meletakkan sapu lidi yang baru saja dipergunakan untuk menyapu.
Melihat nenek Gendhis yang baru saja selesai memasak berjalan ke teras sambil menatap penasaran paper bag yang tergeletak di pembatas teras depan rumah dengan, Vallery pun segera datang menghampiri.
“Apa ini nduk?”, tanya nenek Gendhis sambil mengintip isi didalam paper bag.
Vallery hanya mengangkat dua bahunya, “Nggak tahu juga nek, aku belum sempat membukanya”, jawabnya acuh.
“Memang dari siapa paper bag ini?”, tanya nenek Gendhis lagi, kali ini dengan tatapan menyelidik setelah ia tahu jika didalamnya berisi sandwich telur dan sandwich tuna pedas serta sebotol susu coklat kesukaan Vallery yang hanya bisa dibeli di supermarket yang ada di kabupaten.
“Dari pak kades”, Vallery kembali menjawab masih dengan nada acuhnya, membuat nenek Gendhis semakin merasa penasaran.
“Tumben mas kades begitu perhatian sampai harus membelikanmu makanan yang hanya bisa didapatkan di supermarket yang ada di kabupaten. Apa jangan-jangan, mas kades suka sama kamu, nduk?”, batin nenek Gendhis curiga.
Vallery yang tak mengetahui pikiran neneknya, melihat sandwich dan susu kesukaannya ada dalam paper bag, ia yang memang sudah sedikit lapar pun segera membuka bungkus sandwich tuna pedas yang masih hangat itu.
Nenek Gendhis yang masih penasaran, menatap lekat Vallery, membuat gadis cantik itu mendongak. “Ada apa nek, kenapa natap Valley kaya gitu?”, tanyanya.
“Valley, jujur sama nenek. Ada hubungan apa kamu sama mas kades?”,tanya nenek Gendhis menginterogasi.
Vallery mengkerutkan kening mendengar pertanyaan neneknya yang menurutnya sedikit aneh itu.
“Nggak ada hubungan apa-apa. Aku aja baru beberapa kali bertemu pak kades. Itupun hanya saling sapa tanpa ada interaksi kecuali kemarin saat mengajukan proposal pengajuan kegiatan Agustusan sama Baruna, aku baru sedikit berbincang panjang dengannya”, jawab Vallery jujur.
Melihat tanggapan yang cucunya berikan, membuat nenek Gendhis hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar, membuat Vallery yang baru saja menghabiskan sandwich tuna pedas nya dan kini akan membuka sandwich telurnya menatap kearah sang nenek, “Memang kenapa nek? kenapa ekspresi nenek sedalam itu?”.
Nenek Gendhis yang melihat kepolosan cucu perempuannya merasa tak berdaya.
“Ya nenek merasa aneh saja. Mas Kades itu memang baik orangnya, sangat baik malah. Tapi, memberikan perhatian seperti ini, khususnya terhadap lawan jenis, ini sangat tak biasa”.
Vallery yang mendengar ucapan neneknya semakin dibuat bingung. “Tak biasa bagaimana nek?”, tanyanya penasaran karena ia mulai mencium aroma gosip yang sangat pekat didalam ucapan neneknya itu sehingga rasa kepo dalam dirinya pun muncul.
“Begini…”, nenek Gendhis pun menceritakan semua hal yang berkaitan tentang Dirga. Bagaimana sosoknya di Desa Maju Bersama ini hingga masalah kehidupan pribadinya, khusunya mengenai hubungan asmaranya dengan lawan jenis dan kegagalannya dalam pernikahannya yang sangat menghebohkan itu.
Kedua mata Vallery berbinar cerah karena tak menyangka jika didesa terpencil ini ada gosip sebesar itu, apalagi ini gosip menyangkut tentang kepala Desa Maju Bersama yang berwajah datar dan sedikit menakutkan itu.
“Yang namanya perjodohan itu dimana-mana memang jarang yang berakhir baik”, ucap Vallery sambil mengingat banyaknya hal seperti perselingkuhan yang sering terjadi dari pernikahan akibat perjodohan.
Jika tak berujung pada perceraian, biasanya untuk perjodohan bisnis dimana pernikahan mereka harus tetap dipertahankan demi keuntungan perusahaan dan nama baik keluarga besar, keduanya biasanya memiliki perjanjian tak tertulis dan hanya akan tampil mesra sebagai keluarga utuh didepan publik agar citra mereka tetap terjaga demi mempertahankan saham perusahaan agar tetap stabil. Dan hal seperti itu sudah sangat biasa Vallery temui sehingga ia tak terlalu terkejut mendengar mengenai kegagalan pernikahan Dirga.
“Kamu sendiri gimana perasaanmu terhadap mas kades?”, tanya nenek Gendhis tiba-tiba.
Vallery yang melihat ekspresi serius diwajah neneknya, segera menghabiskan kunyahan terakhir di mulutnya.
“Cucu nenek ini memang sangat cantik dan mempesona, jadi wajar jika banyak yang menaruh hati dan mengejarnya, jadi nenek jangan terlalu khawatir, Vallery tahu batasannya kok”.
Melihat tanggapan cucu perempuannya yang kelewat santai, nenek Gendhis hanya bisa menghela pelan dalam-dalam.
“Mas Kades itu yang nenek lihat, jika ia sudah mentargetkan sesuatu, ia akan gigih mengejarnya. Jika kamu memang tak memiliki perasaan apapun, segera kasih jawaban yang jelas agar tak memberi harapan”
Vallery yang melihat kekhawatiran neneknya, segera meraih kedua tangan yang mulai keriput itu. “Vallery tahu nek. Vallery juga bukan cewek yang suka memanfaatkan perasaan orang lain. Nanti, Vallery coba bicara baik-baik dengan pak kades kalau dia datang lagi membawakan Vallery sesuatu”.
Jawaban Vallery membuat nenek Gendhis merasa sedikit tenang. “Harus tegas nduk. Jangan suka bermain api jika tak ingin terbakar”, pesan nenek Gendhis.
Melihat cucunya mengangguk patuh, nenek Gendhis pun segera menyuruh Vallery untuk pergi mandi karena matahari sudah mulai naik.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA