NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HASRAT SUAMIKU.

Pintu rumah terbuka perlahan.

Nafisa baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Rasa lelah setelah seharian bekerja membuatnya ingin segera beristirahat di kamar.

Namun, baru beberapa langkah menjauh dari pintu utama, langkahnya mendadak terhenti saat pandangannya tertuju pada jam dinding di ruang tengah.

Pukul setengah sebelas malam.

Nafisa mengembuskan napas panjang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah sederhana itu. Suasana begitu sepi, tak ada aktivitas apapun, hanya ada detak jarum jam yang sesekali berdetak memenuhi seisi ruangan.

“Sepi banget. Apa semua orang sudah tidur, ya?” gumamnya.

Ia kembali melangkah, berniat langsung menuju kamar untuk membersihkan diri. Namun, suara engsel pintu yang terbuka membuatnya spontan menoleh.

Klek.

Seorang pria keluar dari kamar ibunya. Rambutnya terlihat basah, sementara tubuh bagian atasnya telanjang hingga memperlihatkan bahu bidang dan perutnya yang atletis.

Nafisa mengerutkan kening. Ia mengenali pria itu dengan mudah. Damar Adityawarman, suaminya sendiri.

Akan tetapi, melihat Damar keluar dari kamar ibunya pada jam seperti ini membuatnya sedikit heran. Nafisa pun mengubah arah langkahnya, mendekati pria tersebut.

“Mas...” panggilnya pelan.

Damar yang sedang mengusap rambut dengan tangannya seketika menoleh. Matanya sempat membesar sebelum ia buru-buru menurunkan tangan.

“Na-Nafisa? Kamu sudah pulang?” tanyanya.

Nada suara suaminya terdengar gugup, tapi ia tak terlalu peduli hal itu.

Nafisa mengangguk singkat. “Iya, Mas,” jawabnya. “Atasanku nyuruh kami lembur, jadi baru bisa pulang sekarang.”

“Oh, gitu.” Damar mengangguk cepat, lalu berdeham kecil. “Capek, ya?”

“Lumayan.” Nafisa mengusap tengkuknya yang terasa pegal. “Mas sendiri kenapa belum tidur?”

“Ah, aku tadi baru selesai mandi, Naf. Gerah banget soalnya”

Nafisa mengangguk pelan. Namun, ketika hendak kembali melangkah, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada pintu kamar ibunya. Ia terdiam sesaat, mengingat bahwa Damar baru saja keluar dari sana.

Rasa penasaran membuatnya kembali menatap sang suami.

“Ngomong-ngomong, kenapa Mas keluar dari kamar Ibu?”

Damar mendadak menggaruk tengkuknya. Pandangannya sempat beralih ke arah lain sebelum kembali menatap ke arahnya.

“Ssshh ... anu, Naf. Tadi Ibu minta tolong diambilkan obat. Katanya, badan Ibu kurang enak karena masuk angin.”

“Ibu masuk angin?” Nafisa langsung menoleh ke arah pintu kamar tersebut dengan khawatir. “Sekarang Ibu sudah baikan, Mas?”

“Oh, sudah, Naf,” jawab Damar cepat. “Tadi juga sudah minum obat. Mungkin sekarang Ibu sudah tidur.”

Mendengar jawaban itu, Nafisa mengembuskan napas lega. Ia tidak ingin ibunya jatuh sakit, terlebih sejak kepergian sang ayah, ibunya lah yang menjadi satu-satunya orang tua yang masih ia miliki sekarang.

“Kalau begitu, aku mau nengok Ibu, Mas. Aku mau lihat keadaannya.”

Nafisa mengalihkan pandangan ke pintu kamar ibunya, lalu mulai melangkah mendekat. Ia ingin memastikan sendiri bahwa ibunya benar-benar baik-baik saja setelah meminum obat. Namun, baru saja ia hendak masuk, Damar buru-buru menghalangi langkahnya.

“Jangan, Naf,” cegah Damar.

Nafisa sontak menghentikan langkah. Ia mendongak menatap suaminya dengan kening berkerut.

“Kenapa, Mas?”

Damar terdiam sesaat. Tangannya yang semula terulur untuk menahannya perlahan turun, sementara matanya sempat melirik ke arah kamar ibunya.

“Ibu ... Ibu lagi istirahat, Naf. Jadi, jangan diganggu dulu, ya,” jelasnya.

Nafisa kembali menoleh ke pintu yang sedikit terbuka. Ia sebenarnya masih ingin melihat keadaan ibunya, tetapi ucapan Damar membuatnya mengurungkan niat.

“Aku gak akan ganggu tidurnya ibu, Mas. Cuma mau mastiin saja,” ucap Nafisa.

“Kamu baru pulang kerja pasti capek, kan? Istirahat saja dulu. Biar Ibu tidur dengan tenang, besok baru lihat keadaan ibu.”

Nafisa terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia tak ingin mengganggu ibunya yang sedang beristirahat, terlebih dirinya sendiri memang sudah merasa sangat lelah.

“Ya sudah kalau begitu, Mas. Aku mau ke kamar dulu.”

“Iya, Naf. Nanti Mas nyusul.”

Nafisa mengangguk. Setelah tersenyum singkat kepada suaminya, ia berbalik dan kembali melangkah menuju kamar utama mereka.

.

Setelah melihat punggung Nafisa menjauh, Damar akhirnya mengembuskan napas lega.

Damar mengusap wajahnya, lalu melirik pintu kamar Nafisa yang kini sudah tertutup. Setelah memastikan keadaan di luar aman, ia kembali masuk kembali ke dalam kamar ibu mertuanya dan menutup pintunya perlahan.

Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada wanita yang baru saja selesai mengenakan pakaiannya. Wanita itu menoleh dengan wajah cemas. Bahkan menghampirinya.

“Siapa, Dam?” tanyanya pelan. “Ibu dengar kayak ada suaranya Nafisa, apa dia sudah pulang?”

Damar mengangguk singkat sambil meletakkan tangannya di pinggang.

“Iya, sayang. Dia sudah pulang, tapi tadi sempat curiga karena aku keluar dari kamar Ibu,” jelasnya.

Wajah ibu mertuanya seketika berubah panik. “Lah, terus gimana?”

“Tenang saja, aman, sayang.” Damar segera meletakkan kedua tangannya di pundak wanita itu, berusaha menenangkannya. “Aku bilang ke dia kalau Ibu masuk angin dan sudah aku kasih obat. Tadi Nafisa memang sempat mau masuk buat memeriksa keadaan Ibu, tapi untungnya berhasil aku cegah. Kan gak mungkin Nafisa masuk lihat ibu penuh cairan begini wahanya.”

Terdengar mengembuskan napas lega dari bibir ibunya. Bahunya yang semula tegang perlahan mengendur.

“Syukurlah. Ibu sempat takut dia tahu sesuatu tentang kita, Dam.”

Damar hanya tersenyum tipis. “Apa kita pasang Cctv saja?”

“Untuk apa pasang Cctv?” tanya Ibu mertua.

“Ya untuk memantau saja,” ucap Damar. “Biar kita gak keteteran kalau Nafisa tiba-tiba pulang.”

“Terserah kamu saja, Dam.”

“Istirahatlah, sayang. Aku mau ke kamar. Nanti Nafisa curiga kalau aku terlalu lama di sini,” ucapnya.

Namun, baru saja Damar hendak beranjak, tangannya tiba-tiba di tahan.

“Damar, tapi Ibu masih kangen banget sama kamu. Tidur sama Ibu, ya?”

Damar terdiam sejenak, apalagi melihat ekspresi memelas dari ibu mertuanya yang membuatnya gemas sendiri.

“Sebenarnya aku juga ingin tidur sama kamu, sayang, tapi Nafisa sudah pulang.”

“Kasih saja obat tidur seperti biasa, Dam.”

Damar menggeleng pelan. “Obatnya habis, sayang. Besok saja.”

Bahkan bibir Ibu mertuanya terlihat mengerucut. Damar justru terkekeh kecil. Ia mengusap pipi wanita itu dengan lembut lalu menjawil dagunya.

“Jangan marah, dong.”

“Ya sudah, sana pergi!” sahut Bu Yulia ketus. “Tapi jangan bikin Nafisa keenakan, ibu cemburu.”

Damar tersenyum tipis. “Iya, iya. Aku ke kamar dulu, sayang.”

Sebelum benar-benar pergi, ia melangkah mendekat dan mengecup kening ibu mertuanya cukup lama. Setelah itu, tangannya kembali mengusap pipi wanita tersebut seolah hendak meredakan kekesalannya.

.

Sedangkan Yulia, ia masih berdiri di tengah ruangan kamar yang kini sunyi. Netranya masih tertuju pada pintu yang baru saja tertutup.

Beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas pelan, lalu berbalik menuju meja rias di sudut kamar.

Langkahnya terhenti tepat di depan cermin. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri, kemudian mengangkat tangan untuk mengusap pipinya perlahan. Jemarinya bergerak menyusuri kulit wajahnya.

“Aku masih muda, kan?” gumamnya sambil memiringkan kepala. “Gak ada kerutan, goyanganku masih lihai. Bahkan kata Damar, aku lebih jago dari Nafisa yang kaku itu.”

Kedua sudut bibir Yulia terangkat membentuk senyum puas. Ia merapikan rambutnya, lalu kembali mengamati pantulan dirinya di cermin.

“Pantas saja Damar masih suka sama aku,” bisiknya dengan senyum yang semakin lebar.

Yulia terkekeh kecil.

.

Damar baru saja melangkah masuk ke dalam kamar yang ia dan Nafisa tempati. Ia berjalan menuju sisi ranjang lalu duduk dengan posisi yang sedikit membungkuk.

Pandangannya langsung terkunci pada layar ponsel di genggaman. Sudut bibirnya terangkat sesekali.

Kling.

Ibunya kembali mengiri pesan namun berupa sebuah video. Jempolnya bergerak lincah di atas layar—guna membalas dengan singkat.

Saya: Cukup, Bu. Jangan menggodaku.

Pesan itu terkirim tanpa jeda. Hanya beberapa detik kemudian, status berubah menjadi sedang mengetik. Damar menahan napas, menunggu balasan yang tak lama muncul.

Padahal belum satu jam meninggalkan kamar ibu mertuanya. Ia justru semakin kangen.

Pak Joan (nama samaran): Memang Ibu sengaja, Damar. Biar kamu gak tergoda sama Nafisa.

Damar menggaruk kepalanya dengan kasar, frustrasi bercampur gejolak yang tak bisa ia bendung. Ia tidak langsung membalas; jarinya menggantung di atas layar sebelum akhirnya meletakkan ponsel itu di kasur.

Jemarinya mencengkeram erat seprai di bawah pahanya setelah melihat kembali video yang ibu mertuanya kirim.

 ‘Padahal baru melakukannya,’ batinnya bergemuruh.

Ia menghela napas panjang, napasnya memburu tak beraturan, dan wajahnya terasa panas memerah hingga ke telinga.

Dan saat pintu kamar mandi terbuka dengan suara engsel yang berdecit halus, Damar segera beranjak berdiri.

 Langkahnya mendekati Nafisa yang baru saja keluar dengan rambut basah dan wajah segar. Tatapannya kini terkunci penuh pada wanita itu.

.

Nafisa menatap suaminya yang kini sudah ada di depannya. Ia menatap suaminya dengan tatapan bingung.

“Ada apa, Mas?” tanyanya pelan, namun penuh kebingungan.

“Mas lagi kepingin, Naf. Boleh ya?” ucap Damar, nadanya rendah dan parau.

Bahkan tatapan Damar terlihat memohon dengan belas kasih.

Nafisa terdiam sejenak, tak langsung mengambil keputusan. Ia juga berusaha mencerna apa yang suaminya inginkan. Namun beberapa detik kemudian, ia akhirnya menyadari permintaan suaminya.

“Mas. Aku capek banget,” tolaknya lembut. “Besok pagi aku harus berangkat kerja. Kamu lakuin sendiri saja ya, Mas.”

 “Hanya beberapa menit saja, masa gak bisa, Naf?” tanya Damar.

Tangan Damar meraih tangannya pelan dan sedikit mencengkeramnya. Namun, Nafisa tetap dengan pendiriannya. Ia berusaha untuk melepaskan tangan Damar sebagai tanda penolakan.

Nafisa menghela napas panjang. “Beneran, Mas. Aku gak bisa, badanku semuanya sakit banget, seharian duduk di epan komputer.”

“B-baiklah,” sahut Damar lirih.

Nafisa mengangguk kecil, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur.

.

Setelah memastikan Nafisa telah tertidur lelap dengan napas yang teratur, Damar menghela napas panjang.

Mau tak mau ia harus menyelesaikannya sendiri.

Ia berbalik dan mengambil Hp nya yang tergeletak di atas kasur. Setelah itu ia berjalan pelan menuju kamar mandi.

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!