mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
vc mantan
Sila melangkah masuk ke dalam kosan dengan bahu yang turun sepenuhnya. Wajahnya tampak luar biasa lelah setelah seharian dihantam pekerjaan, ditambah perutnya yang terasa sangat begah karena kekenyangan. Tanpa babibu, ia langsung menyambar handuk dan membersihkan diri di kamar mandi.
Tak lama kemudian, Sila keluar sudah dalam kondisi segar, mengenakan gaun tidur yang longgar dan nyaman. Alih-alih langsung tidur, ia justru menyalakan laptopnya. Malam ini misi utamanya adalah menamatkan drama Korea kesayangannya yang tinggal beberapa episode lagi.
Sila mengambil posisi tengkurap di atas kasur, meletakkan laptop tepat di hadapannya. Begitu tombol play ditekan, mulailah "konsen" batinnya keluar menjadi racauan nyata. Sepanjang menonton, mulutnya tidak bisa diam dan terus mengoceh merespons setiap adegan.
"Ih, apa sih! Kenapa lakon utamanya lembek banget, tinggal bales aja susah!" omelnya kesal, menunjuk-nunjuk layar laptop.
Suasana hatinya berubah-ubah dengan sangat cepat, layaknya roller coaster. Detik ini ia bisa menangis sesenggukan melihat adegan sedih, tapi sedetik kemudian matanya melotot tajam penuh amarah. Semua hal di dalam drama itu tidak ada yang luput dari komentarnya.
"Heh, si antagonis ini mukanya minta ditampol banget ya! Jahatnya nggak ngotak!" umpat Sila, emosinya meluap-luap.
Bukan cuma jalan cerita dan sifat karakter yang ia komentari, bahkan urusan busana pun ikut kena semprot. "Duh, gaya bajunya kenapa begitu sih? Enggak cocok banget sama visualnya, stylist-nya magang apa gimana?" cerocosnya panjang pendek.
Malam itu, Sila benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia sibuk mengoceh sendiri, menangis sendiri, marah sendiri, dan menikmati maraton dramanya tanpa peduli dengan hal lain di luar kamar kosannya.
Ada panggilan masuk Silla dengan malas menyambar ponselnya, panik setengah mati melihat nama yang tertera di layar: "Bos Kirik".
Itu adalah nama kontak yang ia buat khusus untuk Sagara—mantan kekasihnya yang sekarang takdir sialnya malah menjadi CEO di tempatnya bekerja.
Silla menggeser tombol hijau dengan tangan malas, lalu buru-buru menyandarkan ponselnya di dekat laptop. Layar langsung menampilkan wajah Sagara yang tampak sangat santai di rumahnya. Cowok itu mengenakan kaos hitam polos dan celana pendek berwarna cream, kontras sekali dengan setelan jas rapi yang biasa ia kenakaan di kantor.
"Ada apa, Pak? Ini sudah di luar jam kantor," ketus Silla, berusaha terdengar profesional meski wajahnya sudah ditekuk kesal.
Sagara di seberang sana malah terkekeh melihat wajah mantan kekasihnya yang cemberut. Matanya melirik ke arah layar laptop Silla yang masih menyala menampilkan adegan drama Korea.
"Baru pulang kerja langsung nonton drama? Pantesan dipanggil dari tadi gak nyaut. Lagian, kamu ngomong sama siapa sih tadi sebelum angkat telepon? kamu ngoceh terus dari tadi," goda Sagara dengan senyum jahil khasnya.
Silla mendengus kencang, merutuki nasibnya. Sial, mampus gue! batinnya. Ia lupa kalau Sagara paling suka menjahilinya, terutama saat tahu Silla sedang kesal.
Silla hanya diam tanpa niat kembali membalasa ucapan tak penting dari bos nya itu,ia fokus ke
Layar laptop yang menampilkan drama itu.
entah sudah berapa lama panggilan vidio itu masuk silla hanya fokus menatap laptop dan tanpa sadar matanya tertutup perlahan.
Sagara tersenyum tipis melihat layar ponselnya. Suara dengkur halus Silla terdengar samar di antara dialog drama Korea yang masih menyala di laptop. Wajah lelah bekas keliling seharian—dan kekenyangan karena berhasil menguras ATM-nya—terlihat begitu damai saat tidur.
"Dasar bocah," bisik Sagara pelan, tak ingin mengusik tidur mantan kekasihnya itu.
Ada rasa hangat yang aneh di dada Sagara. Meski status mereka sudah mantan, dan meski Silla baru saja membuatnya rugi bandar karena belanja habis-habisan, Sagara sama sekali tidak marah. Menantang Silla memang selalu berakhir seperti ini, tapi Sagara sengaja membiarkannya. Itu adalah caranya untuk tetap punya alasan masuk kembali ke kehidupan gadis itu.
Sagara memandangi wajah Silla lewat layar interlokal itu selama beberapa menit. Menatap bagaimana rambut Silla sedikit berantakan di atas kasur kosannya, dan bagaimana gaun tidurnya bergerak seiring tarikan napasnya yang teratur.
"Selamat tidur, Silla. Besok jangan kapok habiskan uangku lagi," gumam Sagara lembut sebelum akhirnya mematikan panggilan video itu dengan senyum yang masih membekas.