NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Sisi Lain Vino

Pagi itu, hujan deras mengguyur ibu kota sejak subuh. Udara dingin merayap masuk melalui celah-celah jendela kediaman Pradipta.

Di dapur, Bibi heran karena hingga pukul setengah tujuh pagi, Aira belum juga kelihatan memotong sayur atau menyiapkan meja makan seperti biasanya. Karena khawatir, Bibi melangkah menuju kamar Aira yang terletak di sudut bagian belakang rumah.

Tok! Tok! Tok!

"Neng Aira? Sudah bangun belum, Neng?" panggil Bibi pelan.

Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara rintik hujan dan desah napas berat dari dalam kamar. Saat Bibi memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci, terlihat Aira berbaring meringkuk di atas kasurnya. Tubuhnya terbungkus selimut tipis, wajahnya pucat pasi, dan bibirnya gemetar menahan dingin.

"Aduh, Neng Aira!" Bibi panik, buru-buru menyentuh dahi Aira. Panasnya luar biasa. "Badan Neng panas banget ini! Panas tinggi!"

"Bi... aku... aku cuma agak pusing..." bisik Aira terbata-bata, matanya sayu tak bertenaga. Tekanan batin yang menumpuk serta bajunya yang basah kena tumpahan es jus semalam membuat daya tahan tubuhnya ambruk seketika.

Di meja makan lantai utama, Vino duduk sendirian mengenakan seragam sekolah. Darel belum turun dari kamarnya. Vino sibuk mengaduk kopi hitamnya dengan wajah keruh. Pikirannya masih dipenuhi bayangan pertengkarannya dengan Aira dan Darel semalam.

Saat Bibi berjalan terburu-buru membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil menuju koridor belakang, Vino refleks menghentikan adukan kopinya.

"Bi," panggil Vino dingin, menyenderkan tubuhnya di kursi. "Mau ke mana bawa-bawa baskom?"

Bibi menghentikan langkahnya, menatap Vino cemas. "Ini, Mas Vino... Neng Aira demam tinggi banget. Badannya panas, dari tadi cuma meringkuk di kamar. Kayaknya enggak bisa masuk sekolah hari ini."

Jantung Vino mendadak berdegup kencang secara tidak wajar. Ada rasa tersentak di dadanya saat mendengar kabar itu. Namun, gengsinya yang masih menguasai diri membuat wajahnya tetap dipasang setenang mungkin.

"Oh. Ya udah, kasih obat aja," jawab Vino cuek, berpura-pura kembali meminum kopinya. "Manja banget baru gitu aja sakit."

Bibi menghela napas pelan, tidak berani membantah. "Iya, Mas. Bibi mau kompres dulu Neng Aira-nya."

Setelah Bibi berjalan menjauh, Vino membanting cangkir kopinya ke piring alas hingga menimbulkan bunyi nyaring. Rasa cemas dan bersalah yang ditahannya sejak semalam kini meledak makin hebat. Vino tahu betul... Aira sakit karena perlakuannya dan perlakuan Caren semalam.

Vino bangkit dari kursi meja makan, mengacak rambutnya frustrasi. Ia melirik ke arah lorong tangga lantai dua—kamar Darel masih tertutup rapat.

Gue enggak boleh biarkan Darel tahu dia sakit, terus sok-sok jadi pahlawan lagi di kamar Aira, batin Vino menggeram, terdorong oleh dorongan gengsi dan rasa tak rela yang makin besar.

Vino melangkah cepat ke ruang tengah, membuka kotak obat-obatan keluarga. Ia mengambil beberapa tablet obat penurun panas kualitas terbaik, plester kompres demam, dan sebotol vitamin cair. Vino lalu menyelinap menuju lorong belakang saat Bibi sedang sibuk menyeduh teh hangat di dapur.

Pintu kamar Aira sedikit terbuka. Vino mendorong pintu itu tanpa suara, melangkah masuk ke dalam kamar Aira yang sederhana dan dingin.

Melihat Aira yang terbaring lemas dengan wajah pucat dan mata terpejam rapat, dada Vino mendadak terasa dihantam beban berat. Rasa sombong dan arogan yang selama ini dipamerkannya seketika runtuh saat melihat betapa rapuhnya gadis jaminan utang itu.

Vino melangkah perlahan ke samping tempat tidur. Tanpa bersuara, ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Aira. Panasnya langsung membakar kulit jemari Vino.

"Dasar cewek bodoh..." gumam Vino sangat pelan, suaranya tak lagi bernada bentakan kasar, melainkan sarat akan rasa penyesalan yang tertahan. "Sakit aja enggak bilang-bilang."

Vino mengambil handuk basah dari baskom, memerasnya pelan, lalu meletakkannya di dahi Aira dengan ketelitian yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Ia menempelkan plester kompres di kening Aira, lalu menaruh obat dan vitamin di atas meja samping tempat tidur.

Saat Vino hendak menarik tangannya, jemari dingin Aira tiba-tiba bergerak refleks dalam tidurnya, menggenggam erat dua jari tangan Vino.

"Jangan... jangan bentak aku lagi, Vin..." bisik Aira mengindigo dalam demamnya, air mata kecil menetes dari sudut matanya yang terpejam. "Aku... aku takut..."

Tubuh Vino membeku seketika. Kata-kata indigo Aira memukul ulu hatinya dengan sangat telak. Vino menatap wajah Aira yang ketakutan bahkan saat tertidur. Untuk pertama kalinya, Vino menyadari betapa dalam monster ketakutan yang telah ia ciptakan di dalam jiwa Aira.

Vino tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari Aira memeluk dua jarinya dengan erat. Vino berlutut di samping tempat tidur Aira, menatap cewek itu dengan pandangan yang perlahan melembut—sebuah sisi hangat Vino yang tersembunyi jauh di balik topeng arogansinya.

"Maaf..." bisik Vino sangat pelan, hampir tak terdengar di antara deru suara hujan di luar. "Gue cuma... gak tahu cara ngomong yang bener sama lu."

Namun, ketenangan momen itu tak bertahan lama. Dari luar kamar, suara langkah kaki yang teratur dan santai mulai terdengar mendekati lorong belakang.

Suara Darel.

Vino tersentak. Ia segera melepaskan genggaman tangan Aira secara halus, berdiri tegap, dan merapikan seragamnya. Wajahnya yang sempat melembut seketika kembali mengeras oleh benteng aura dingin dan gengsi.

Vino melangkah keluar dari kamar Aira persis saat Darel muncul di ujung lorong.

Darel menghentikan langkahnya, menatap Vino yang baru saja keluar dari kamar Aira. Senyuman tipis yang dingin terukir di wajah Darel.

"Ngapain kamu di kamar Aira, Vino?" tanya Darel dengan nada santai namun penuh intrik.

Vino memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya, menatap Darel dengan pandangan angkuh yang kembali terpasang.

"Bukan urusan lu," jawab Vino dingin. "Gue cuma mau mastiin ini cewek gak mati di rumah gue, biar ortu gue gak susah urusannya."

Darel terkekeh tipis, melangkah melewati Vino dan menepuk bahu sepupunya itu pelan. "Penjelasan yang sangat khas kamu, Vin. Tapi kamu enggak perlu repot-repot lagi... biar mulai hari ini, Aira jadi urusan gue sepenuhnya."

Vino mengepalkan tangannya di dalam saku celana saat melihat Darel melangkah masuk ke dalam kamar Aira tanpa rasa canggung. Vino berdiri mematung di lorong, dadanya bergejolak hebat oleh perpaduan antara rasa cemburu, penyesalan yang belum usai, dan keputusasaan atas tembok gengsinya sendiri yang makin mengurungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!