Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal kehidupan
...#••...
Pemandangan pertama yang Jay lihat begitu memasuki gereja adalah punggung seorang perempuan dengan kepala tertunduk. Perempuan itu duduk di deretan ketiga, di antara bangku-bangku kosong di sebelah kiri.
Suasana gereja sore itu begitu lengang. Entah apa alasan ayahnya mengajaknya pergi ke tempat ibadah pada Kamis sore seperti ini.
Jay kembali mengalihkan pandangannya kepada sang ayah yang sudah duduk di deretan kelima sebelah kanan. Ia kemudian duduk di sampingnya, sementara ayahnya sudah lebih dulu memejamkan mata.
Di tengah keheningan ruangan, samar-samar terdengar suara isak tangis.
Jay kembali menatap perempuan itu. Punggungnya naik turun, seperti sedang berusaha menahan tangis.
Tangisannya terdengar begitu memilukan di telinga Jay. Seolah-olah perempuan itu sedang mencurahkan semua rasa sakit yang selama ini ia simpan di hadapan Tuhan.
Kehidupan dewasa memang seberat itu, ya?
Bahkan ayahnya yang jarang sekali beribadah saja, tiba-tiba mengajaknya ke gereja.
Jay kembali mengalihkan pandangannya. Ia menatap altar, tepat ke arah patung Yesus yang tergantung di salib.
Sejujurnya, Jay bingung harus berdoa apa atau meminta apa. Selama ini hidupnya baik-baik saja. Tidak ada sedikit pun yang terasa kurang. Jadi, ketika akhirnya ia menutup mata, hanya satu hal yang terlintas dalam pikirannya.
Semoga hidupnya tetap seperti ini. Tetap baik-baik saja. Tetap stabil.
Setelah sesi doa itu selesai, sang ayah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama.
Sebelum melangkah keluar, Jay kembali melihat perempuan itu. Ia masih duduk di tempat yang sama, tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Hanya saja, suara isak tangis yang sempat Jay dengar beberapa menit lalu sudah tidak terdengar lagi.
"Mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya ayahnya setelah duduk di balik kemudi.
Bukannya menjawab, tangan Jay malah sibuk mengambil sebotol air mineral dan sekotak tisu.
“Tunggu sebentar, Pa,” katanya lalu berlari masuk ke gereja.
Begitu sudah berada di dalam, ia berjalan mendekati perempuan itu yang masih duduk di tempatnya.
Jay kemudian duduk di sampingnya. Meletakkan tisu serta botol air mineral yang tadi ia bawa dari mobil.
“Semoga hidup kakak cepat membaik, ya.”
Setelah mengatakannya, Jay langsung berdiri dan meninggalkan perempuan itu.
...•••...
“Ya, kenapa Pa?” sahut Jay begitu panggilannya langsung terhubung dengan sang ayah.
"Udah pulang?"
"Udah, Pa. Ini aku baru selesai mandi," jawab Jay sembari menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk.
"Jangan keluyuran terus. Kuliah yang bener."
"Iyaaa. Kenapa sih tiba-tiba banget telpon?" tanya Jay heran.
Setahunya, ayahnya bukan tipe orang tua yang strict parents. Selama ini, kalau menelpon pun paling hanya bertanya, uangnya masih ada? Papa transfer. Selalu seperti itu.
Beberapa saat, tidak terdengar suara ayahnya.
Jay menyalakan loudspeaker, lalu mengambil hair dryer. Ia mengeringkan rambutnya sekilas agar tidak terlalu basah ketika tidur. Ia hanya tidak suka tidur dengan rambut basah.
"Pa?"
Terdengar suara srek, srek, sebelum akhirnya suara ayahnya kembali terdengar.
"Papa mau ngomong."
"Ya ngomong aja. Kan ini kita lagi ngobrol?" Jay terkekeh kecil. "Kayaknya serius banget?"
Ia mematikan hair dryer setelah merasa rambutnya cukup kering, lalu merebahkan tubuh di atas kasur. Tatapannya jatuh pada layar ponsel yang masih menyala.
"Jadi, mau ngomong apa, Pa?"
“Papa mau nikah lagi.”
“Eh?” Jay kaget bukan. “Nikah lagi?” tanyanya, ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar. “Kok mendadak banget?”
"Nggak mendadak, lah. Papa sama dia udah deket setahunan."
“Eyy, kok baru bilang?”
“Kapan kamu bisa pulang? Papa mau kamu ketemu dulu sama calon istri Papa sebelum nikah."
“Paling habis UAS aku pulang. Emangnya kapan rencana nikahnya?”
“Rencananya ya... pas kamu libur kuliah, biar kamu datang.”
“Dua bulan lagi, dong, ya?” Jay memastikan. “Kalau sekarang pulang kayaknya nggak bisa deh. Aku nggak masalah sih kalau enggak ketemu dulu sama calon istri Papa. Kan yang nikah Papa.”
Jay terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Yang penting Papa bahagia."
“So sweet banget anak Papa ini,” kata ayahnya sambil terkekeh kecil. “Yaudah, sekarang kamu tidur. Udah malem.”
Jay tersenyum kecil. “Kalau boleh tahu, siapa perempuan yang bakal Papa nikahi?”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
Aku kasih tanda pembeda ya, teman-teman. Buat memudahkan kalian membedakan masa lalu dan masa sekarang
SAY HI, DONGGG