Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Anonim
perjalanan pulang Adrian dan Naura berlangsung lebih tenang daripada biasanya. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca mobil, sementara pikiran Adrian masih tertahan pada pesan anonim yang baru diterimanya.
Tiga hari sebelum Alexander International tiba di Jakarta.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Adrian mengenal ibunya sebagai perempuan yang selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama jika menyangkut nama besar keluarga Mahendra. Namun, ada satu hal yang mengganggunya. Jika Helena memang hanya menyetujui pengenalan awal antara dua perusahaan, mengapa seseorang merasa perlu mengingatkannya tentang sebuah pertemuan yang terjadi sebelum kerja sama itu dimulai?
“Masih memikirkan pesan tadi?” Naura bertanya pelan.
Adrian menoleh. Sejak beberapa menit lalu, Naura memperhatikannya tanpa mendesak. Perempuan itu tidak mencoba mengambil ponsel dari tangannya atau memaksanya bercerita. Justru sikap tenang itulah yang membuat Adrian akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Ya. Aku ingin menanyakan langsung kepada Mama, tetapi aku tidak mau datang dengan tuduhan yang belum tentu benar.”
“Kalau begitu, jangan datang untuk menuduh.” Naura merapikan ujung lengan bajunya sebelum melanjutkan, “Tanyakan saja tentang perjalanan beliau saat itu. Mungkin ada hal yang memang belum kamu ketahui.”
Adrian mengangguk kecil. “Aku ingat Mama pernah bilang pergi ke luar kota untuk menghadiri acara keluarga. Tapi aku tidak ingat tanggal pastinya.”
“Bisa jadi pertemuan itu memang berkaitan dengan acara tersebut. Bisa juga tidak.” Naura menatapnya. “Yang jelas, kamu tidak akan mendapatkan jawaban kalau sudah memutuskan lebih dulu siapa yang bersalah.”
Adrian tersenyum tipis. “Kamu selalu berhasil membuat masalah yang rumit terdengar sederhana.”
“Bukan masalahnya yang sederhana. Aku hanya tidak mau kamu membuatnya semakin rumit dengan prasangka sendiri.”
Jawaban itu membuat Adrian terdiam sesaat. Ia kemudian meraih tangan Naura yang terletak di antara mereka.
“Terima kasih karena tidak langsung menganggap Mama terlibat.”
Naura membalas genggamannya. “Beliau memang menyembunyikan sesuatu, atau mungkin ada sesuatu yang belum beliau ceritakan. Tapi itu belum berarti beliau melakukan kesalahan. Aku juga tidak ingin kamu sampai kehilangan kepercayaan kepada keluarga sendiri hanya karena pesan dari seseorang yang bahkan tidak berani menunjukkan identitasnya.”
Mobil memasuki halaman kediaman Mahendra beberapa menit kemudian. Begitu mereka turun, seorang pelayan menghampiri dan memberi tahu bahwa ibu Naura sudah beristirahat. Naura mengangguk, lalu meminta agar obat malam ibunya tidak lupa disiapkan sesuai jadwal.
Adrian memperhatikan istrinya mengurus hal itu sebelum mereka naik ke lantai dua.
Di tengah kekacauan yang sedang menyelimuti perusahaannya, Naura tetap memikirkan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Ia tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian di rumah itu, tetapi keberadaannya perlahan mengubah suasana yang sebelumnya terasa terlalu formal.
Sesampainya di kamar, Naura meletakkan tas di meja rias dan melepas anting-antingnya.
“Aku akan menelepon Mama besok pagi,” ujar Adrian dari dekat lemari. “Kalau beliau punya waktu, aku ingin bertemu dengannya sebelum berangkat ke kantor.”
“Jangan lupa sarapan lebih dulu.”
Adrian menoleh dengan alis terangkat. “Di tengah persoalan sebesar ini, kamu masih memikirkan sarapan?”
“Justru karena persoalannya besar, kamu jangan sampai bekerja dengan perut kosong.” Naura mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya. “Aku tidak mau mendengar kamu sakit, lalu semua orang menyalahkan pekerjaan.”
“Kalau aku sakit karena memikirkan perusahaan, bukankah seharusnya istriku bersimpati?”
“Aku akan bersimpati setelah kamu makan.”
Adrian tertawa kecil. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur.
“Baiklah, Nyonya Mahendra. Aku akan sarapan.”
Naura menggeleng, menahan senyum. “Jangan cuma menjawab iya.”
“Aku bahkan bisa membuat janji tertulis kalau kamu mau.”
“Tidak perlu. Aku akan memastikan sendiri.”
Adrian mendekat, lalu mengecup keningnya singkat sebelum mengambil ponsel. Untuk beberapa saat, ia membiarkan dirinya menikmati kehangatan sederhana itu. Namun, ketika layar ponselnya kembali menyala, senyumnya memudar.
Nomor anonim itu belum mengirimkan pesan baru.
Justru keheningan tersebut terasa mengganggu. Seolah seseorang sedang menunggu Adrian melakukan langkah berikutnya.
---
Keesokan paginya, Adrian tiba di kantor lebih awal dari biasanya.
Dimas sudah menunggunya di ruang kerja dengan beberapa laporan audit internal. Di balik meja, Adrian membuka berkas yang berkaitan dengan pemberian akses awal kepada Alexander International. Ia membaca kembali tanggal persetujuan, nama pengguna, dan daftar informasi yang sempat dibuka untuk pihak luar.
“Pak, tim audit sudah memeriksa riwayat akses yang berkaitan dengan akun Ibu Helena,” jelas Dimas. “Sejauh ini, persetujuan dari beliau memang tercatat. Namun, belum ditemukan bukti bahwa beliau mengirimkan proyeksi keuntungan proyek Bali kepada pihak Alexander International.”
Adrian menyandarkan punggungnya. “Bagaimana dengan Rendra?”
“Tim masih menelusuri komunikasi dan akses yang digunakan. Ada beberapa percakapan terkait pengembangan proyek, tetapi sumber angka yang dibicarakan belum dapat dipastikan.”
Adrian mengetukkan ujung pena ke meja.
“Jangan batasi pemeriksaan hanya pada Rendra. Periksa siapa saja yang menerima informasi proyek sebelum rapat resmi pertama. Aku ingin tahu apakah angka tersebut pernah dibagikan di luar jalur yang seharusnya.”
“Baik, Pak.”
“Dan satu lagi, Dimas.” Adrian mengangkat pandangan. “Cari tahu jadwal perjalanan Mama tiga hari sebelum Alexander International tiba di Jakarta. Aku tidak ingin menghubungi beliau hanya untuk bertanya tentang sesuatu yang bahkan belum kupahami konteksnya.”
Dimas mencatat instruksi itu. “Apakah Bapak ingin saya menanyakan langsung kepada sekretaris pribadi Ibu Helena?”
“Untuk jadwal perjalanan, ya. Jangan tanyakan soal pertemuan itu kepada siapa pun dulu. Kita perlu mengetahui faktanya sebelum membuat orang lain merasa sedang diperiksa.”
Dimas mengangguk, memahami batasan tersebut.
Setelah asistennya keluar, Adrian memandang foto keluarga yang berdiri di sudut meja. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, ketika mereka menghadiri perayaan ulang tahun ayahnya. Helena berdiri di samping suaminya, sementara Adrian dan Rendra berada di sisi berlawanan.
Saat itu, Adrian tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia harus menyelidiki keputusan ibunya sendiri.
Ia mengusap wajahnya sekilas, kemudian kembali bekerja.
Belum satu jam berlalu ketika ponselnya berdering. Nama Helena muncul di layar.
Adrian langsung mengangkatnya.
“Selamat pagi, Ma.”
“Pagi, Adrian. Kamu sudah sampai kantor?”
“Sudah. Mama sendiri bagaimana?”
“Baik. Mama hanya ingin memastikan kamu tidak terlalu memikirkan kejadian semalam.” Suara Helena terdengar tenang, meskipun ada kehati-hatian yang tidak biasa. “Mama tahu kamu sedang menghadapi banyak masalah di perusahaan.”
Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku memang ingin bicara dengan Mama.”
Helena tidak langsung menyahut.
“Ini tentang Alexander International?” tanyanya kemudian.
“Sebagian. Aku juga ingin bertanya tentang perjalanan Mama beberapa waktu lalu.”
“Perjalanan yang mana?”
“Yang berlangsung sekitar tiga hari sebelum Alexander International tiba di Jakarta.”
Keheningan di ujung telepon terasa lebih panjang daripada yang seharusnya.
Adrian meluruskan duduknya. “Ma?”
“Mama pernah pergi menghadiri acara keluarga di luar kota. Apa itu yang kamu maksud?”
“Mungkin. Aku belum mengetahui tanggal pastinya. Karena itu, aku ingin bertemu dan membicarakannya langsung.”
Helena menarik napas pelan. “Kamu bisa datang ke rumah sore ini. Mama tidak punya acara.”
“Baik. Aku akan datang setelah menyelesaikan pekerjaan.”
“Adrian.”
“Ya, Ma?”
“Jangan biarkan orang-orang yang ingin menjatuhkan keluarga kita membuatmu mencurigai semua orang di sekitarmu.”
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
“Aku tidak sedang mencurigai semua orang, Ma. Aku hanya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Bagus kalau begitu.” Suara Helena kembali terdengar lembut. “Mama tunggu sore nanti.”
Sambungan berakhir.
Adrian menurunkan ponsel perlahan. Ia tidak mendapatkan jawaban yang dicari, tetapi ada satu hal yang kini lebih jelas baginya: Helena langsung memahami bahwa pertanyaannya berkaitan dengan Alexander International, bahkan sebelum ia menjelaskan lebih jauh.
Itu belum membuktikan apa pun.
Namun, cukup untuk membuatnya ingin mendengar cerita ibunya secara langsung.
---
Di tempat lain, Naura sedang menghadiri rapat bersama tim desain di kantornya. Sebuah proyek identitas visual untuk jaringan hotel butik memasuki tahap penentuan, dan ia bertanggung jawab mempresentasikan konsep utama kepada klien.
“Menurutku, pilihan kedua lebih kuat,” ujar Naya, rekan satu timnya, sambil menunjuk rancangan di layar. “Warnanya lebih berani, tetapi tetap terlihat elegan.”
Naura mengamati desain itu beberapa saat sebelum menggeser tampilan ke halaman berikutnya.
“Aku setuju untuk pilihan warna, tetapi elemen logonya masih terlalu padat. Kalau kita sederhanakan bagian tengahnya, identitas mereknya akan lebih mudah dikenali, terutama saat diaplikasikan pada papan nama hotel.”
Naya mendekat untuk memperhatikan detail tersebut. “Kalau begitu, kita ubah proporsinya saja. Jangan sampai konsep awalnya hilang.”
Mereka kembali mendiskusikan rancangan hingga sekretaris tim memberi tahu bahwa perwakilan klien telah tiba. Naura merapikan materi presentasi, lalu menyambut dua orang yang masuk ke ruang rapat.
Pertemuan berjalan lancar. Klien menyukai konsep yang ditawarkan dan meminta beberapa penyesuaian kecil sebelum desain final disetujui. Naura mencatat setiap masukan tanpa menunjukkan sikap terburu-buru.
Ketika rapat selesai, ia kembali ke mejanya dan mendapati sebuah panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenalnya.
Naura mengerutkan kening. Ia tidak segera menelepon balik karena beberapa urusan kantor masih harus diselesaikan. Namun, beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
Bu Naura, saya ingin berbicara tentang pertemuan keluarga Mahendra dengan Alexander International. Ada hal yang mungkin belum diketahui suami Anda.
Naura membaca pesan itu dua kali.
Tidak ada nama pengirim. Tidak ada penjelasan mengenai siapa orang tersebut atau dari mana ia memperoleh nomor teleponnya.
Ia menatap layar cukup lama sebelum mengambil tangkapan layar dan menyimpannya. Kemudian, ia meneruskan pesan itu kepada Adrian dengan catatan singkat.
Nomor tidak dikenal menghubungiku. Aku belum membalasnya. Menurutku, kamu perlu melihat ini.
Balasan Adrian datang beberapa menit kemudian.
Aku akan memeriksanya. Jangan temui atau berikan informasi apa pun kepada orang itu sebelum kita tahu siapa dia.
Naura mengetik balasan, lalu berhenti sejenak sebelum mengirimkannya.
Aku tidak akan mengambil keputusan sendiri. Tapi Adrian, kita juga harus mencari tahu bagaimana orang itu mendapatkan nomorku.
Ia meletakkan ponsel dan kembali memeriksa pekerjaan. Meski demikian, pikirannya tidak sepenuhnya lepas dari pesan tersebut.
Selama ini, orang anonim itu menghubungi Adrian secara langsung. Kini, seseorang mulai mendekatinya.
Apakah pengirim pesan yang sama sengaja mengubah cara untuk menjangkau mereka? Ataukah ada pihak lain yang memanfaatkan keadaan?
Naura tidak ingin berspekulasi. Ia sudah cukup memahami bahwa dalam persoalan bisnis keluarga Mahendra, informasi yang tampak meyakinkan belum tentu menceritakan seluruh kebenaran.
Namun, ia juga tidak akan mengabaikan peringatan yang datang kepadanya.
---
Sore harinya, Adrian tiba di rumah ibunya sesuai janji.
Helena menyambutnya di ruang keluarga. Di atas meja telah tersedia teh hangat dan beberapa kudapan, tetapi Adrian tidak langsung duduk. Ia memperhatikan ibunya yang tampak tenang, lalu menarik kursi di hadapannya.
“Aku menerima pesan dari nomor tidak dikenal,” katanya tanpa berputar-putar. “Orang itu menyebut pertemuan yang berlangsung tiga hari sebelum Alexander International tiba di Jakarta.”
Tangan Helena yang hendak meraih cangkir berhenti sesaat.
“Siapa yang mengirim pesan itu?”
“Aku tidak tahu. Itulah sebabnya aku datang untuk bertanya kepada Mama.”
Helena meletakkan cangkirnya kembali. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tetapi sorot matanya berubah lebih serius.
“Adrian, sebelum kamu mendengar cerita dari orang lain, Mama ingin kamu memahami satu hal. Tidak semua pertemuan yang dihadiri keluarga kita berkaitan dengan bisnis.”
“Aku mengerti.”
“Waktu itu, Mama memang pergi ke luar kota. Mama menghadiri pertemuan keluarga yang diselenggarakan oleh salah satu kerabat lama. Ada beberapa orang yang datang, termasuk seseorang yang sudah lama mengenal keluarga Mahendra.”
“Siapa orang itu?”
Helena terdiam sejenak, seolah menimbang apakah ia harus menyebut nama tersebut sekarang.
“Rendra juga mengetahui pertemuan itu,” jawabnya akhirnya.
Adrian mengernyit. “Rendra ikut pergi?”
“Tidak. Dia tidak berada di sana.” Helena menggeleng. “Tetapi sebelum Mama berangkat, dia sempat menelepon dan meminta Mama mempertimbangkan sebuah kerja sama. Dia bilang ada pihak yang ingin bertemu dengan keluarga kita, tetapi belum tentu akan datang melalui jalur perusahaan.”
Adrian merasakan ketegangan menjalar di bahunya.
“Apakah pihak yang dimaksud Alexander International?”
Helena tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan menuju lemari kecil di dekat jendela, lalu mengambil sebuah album foto lama. Setelah kembali duduk, ia membuka beberapa halaman sampai menemukan foto sebuah acara keluarga yang berlangsung di sebuah vila di luar kota.
“Ini acara yang Mama hadiri,” ujarnya sambil menyerahkan album itu.
Adrian memeriksa foto tersebut. Beberapa orang berdiri di depan bangunan dengan taman luas. Ia mengenali Helena dan sejumlah kerabat, tetapi ada satu pria yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu berdiri agak jauh dari kelompok utama, mengenakan setelan gelap dan tersenyum tipis ke arah kamera.
“Siapa dia?”
Helena memandang foto itu cukup lama.
“Namanya Surya Atmadja. Dia kenalan lama keluarga kita. Dulu, dia pernah membantu kakekmu dalam urusan bisnis, tetapi hubungan mereka sudah lama tidak terlalu dekat.”
Adrian mengangkat pandangan. “Apa hubungannya dengan Alexander International?”
“Itulah yang Mama belum bisa pastikan.” Helena menutup album perlahan. “Pada malam acara itu, Surya sempat membicarakan seorang pengusaha yang sedang mencari mitra untuk mengembangkan bisnis di Indonesia. Mama tidak tahu bahwa pihak yang dimaksud adalah Alexander International sampai Rendra mulai membicarakan perusahaan itu beberapa hari kemudian.”
“Jadi, Mama bertemu Surya tiga hari sebelum mereka tiba di Jakarta, lalu Rendra memperkenalkan Alexander International kepada keluarga kita?”
“Kurang lebih begitu. Tetapi Mama tidak pernah menyetujui pembagian data rahasia perusahaan. Mama hanya mendengarkan pembicaraan tentang kemungkinan kerja sama.”
Adrian menatap foto itu sekali lagi. Untuk pertama kalinya, ia memiliki nama yang bisa ditelusuri di luar lingkaran Rendra dan Clarissa.
Namun, jawaban tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru.
Jika Surya Atmadja hanya seorang kenalan lama, mengapa seseorang menganggap pertemuan itu begitu penting hingga harus mengirimkan pesan anonim?
Adrian menutup album dan meletakkannya kembali di meja.
“Ma, aku perlu memeriksa latar belakang Surya Atmadja dan hubungan bisnisnya dengan keluarga kita. Aku tidak ingin menuduh siapa pun, tetapi informasi ini sudah menyentuh proyek Bali dan keamanan perusahaan.”
Helena mengangguk perlahan. “Lakukan apa yang menurutmu perlu. Mama tidak akan menghalangimu.”
Adrian berdiri, tetapi sebelum melangkah pergi, ia kembali menatap ibunya.
“Ada hal lain yang belum Mama ceritakan?”
Helena memandang putranya. Sesaat, ekspresinya terlihat seperti seseorang yang hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian mengurungkan niatnya.
“Untuk sekarang, hanya itu yang Mama ingat.”
Adrian tidak mendesak. Ia sudah berjanji kepada Naura bahwa ia tidak akan menarik kesimpulan sebelum mendapatkan fakta.
Setelah berpamitan, ia berjalan menuju mobil sambil mengirim pesan kepada Dimas.
Telusuri nama Surya Atmadja. Cari hubungan bisnisnya dengan Mahendra Group dan Alexander International, termasuk perusahaan yang pernah terlibat bersama mereka. Jangan hubungi Rendra dulu.
Balasan Dimas masuk tak lama kemudian.
Baik, Pak. Saya segera menindaklanjuti.
Adrian menyimpan ponselnya dan menatap jalan di depan. Kini, persoalan itu tidak lagi hanya berkisar pada Clarissa yang ingin kembali ke kehidupannya atau Rendra yang mencurigakan.
Ada seseorang dari masa lalu keluarga mereka yang mungkin mengetahui bagaimana kerja sama itu bermula.
Dan di saat yang sama, orang anonim itu mulai menghubungi Naura.
Adrian menyalakan mesin mobil. Ia tahu, apa pun yang sedang disembunyikan seseorang, ia harus menemukannya sebelum persoalan tersebut menyeret istrinya lebih jauh ke dalam konflik keluarga Mahendra.