NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: BAYANG BAYANG PERTARUHAN JIWA

Pesan berdarah dari perairan perbatasan itu seperti petir yang menyambar di tengah langit cerah. Di balik tawa riang Leo dan Maya yang saling melempar bola di rumput hijau, Pak Wijaya melangkah mendekat dengan wajah yang kehilangan seluruh warnanya. Langkah kakinya yang berat dan tergesa menyebarkan aura kecemasan yang langsung ditangkap oleh Aris.

Aris perlahan melepaskan dekapannya pada tubuh Kirana. Pria itu bangkit berdiri, menyembunyikan getar ketakutan yang mendadak melumpuhkan dadanya, lalu memberi isyarat mata kepada Pak Wijaya untuk bicara sedikit menjauh dari gazebo. Namun, Kirana bukanlah wanita lemah yang bisa dibohongi lagi. Gerak-gerik kedua pria itu, perubahan ekspresi Pak Wijaya yang begitu drastis, hingga firasat keibuan yang tiba-tiba berdenyut nyeri di rahimnya, memberi tahu Kirana bahwa badai belum benar-benar berlalu.

"Pak Wijaya..." panggil Kirana, suaranya tenang namun memiliki ketegasan yang tak bisa dibantah. "Ada apa? Jangan sembunyikan apa pun dariku lagi. Kita sudah berjanji untuk menghadapi semuanya bersama-sama."

Aris menoleh, menatap istrinya dengan pancaran mata yang sarat akan rasa bersalah dan perlindungan berlebih. "Kirana, kamu baru saja pulih. Dokter bilang kamu tidak boleh stres—"

"Mas Aris," potong Kirana seraya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Ancaman ini melibatkan bayiku, Leo, dan Maya. Berdiri di balik punggungmu tanpa tahu bahaya apa yang mengintai justru akan membunuhku secara perlahan. Katakan padaku."

Pak Wijaya menunduk dalam-dalam sebelum akhirnya menyerahkan ponsel genggamnya yang masih menampilkan pesan singkat dari otoritas Interpol.

Aris merebut ponsel itu terlebih dahulu, membacanya dengan rahang mengeras. Matanya membelalak, napasnya tertahan saat membaca untaian kalimat yang ditulis dengan darah segar di atas pecahan kaca helikopter: Aku akan kembali untuk mengambil bayi itu.

Ketika Kirana ikut membaca pesan tersebut dari balik lengan Aris, ruangan di sekitarnya seolah berputar. Jemarinya secara refleks mencengkeram perutnya yang terbalut kain katun lembut. Bayi ini... janin kecil yang baru saja bertahan dari taruhan nyawa di lantai marmer yang dingin, kini kembali menjadi sasaran dendam membara dari seorang wanita iblis bernama Sheila.

"Sheila..." bisik Kirana, suaranya bergetar hebat. Air mata keharuan yang baru saja mengering kini digantikan oleh lelehan air mata kecemasan yang panas. "Dia belum mati... Dia menginginkan anakku, Mas..."

Aris langsung merengkuh tubuh Kirana ke dalam pelukan eratnya, menenggelamkan wajah wanita itu di dadanya yang tegap. Pria itu mengelus rambut Kirana dengan penuh keputusasaan, menyalurkan seluruh hangat tubuhnya untuk mengusir dingin yang mendadak merayap.

"Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu atau bayi kita, Kirana!" tegas Aris, suaranya parau oleh luapan emosi yang membuncah. "Aku bersumpah demi nyawaku sendiri! Aku telah gagal melindungimu di masa lalu karena kebodohan dan prasangkaku. Tapi malam ini, esok, dan selamanya... siapa pun yang mencoba menyentuh keluargaku harus melangkahi mayatku terlebih dahulu!"

Ketenangan yang baru beberapa jam dirasakan di kediaman Pratama seketika menguap, berganti dengan atmosfer siaga satu. Aris memperketat penjagaan hingga sepuluh kali lipat. Setiap sudut rumah dipasangi kamera pengawas berteknologi tinggi, tim pengawal profesional bersenjata berdiri di sepanjang pagar luar, dan akses keluar masuk rumah diperketat secara drastis.

Namun, penjagaan fisik yang begitu ketat justru menciptakan penjara baru bagi jiwa Kirana.

Malam harinya, di dalam kamar utama yang luas dan beraroma lavender, Kirana duduk terdiam di tepi ranjang king size. Lampu kamar sengaja diredupkan. Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta, menyunggingkan dentum petir yang sesekali memantulkan cahaya kilat di balik tirai tipis.

Kirana menatap telapak tangannya yang gemetar. Sebagai wanita muda berusia dua puluh empat tahun, perjalanan hidupnya terasa begitu melelahkan. Ia mengingat bagaimana ia pertama kali melangkah ke rumah ini—dipandang rendah sebagai wanita pemburu harta, dihina oleh sanak keluarga besar Aris, disindir sebagai pelakor yang ingin menguasai kekayaan duda kaya, dan ditolak secara mentah-mentah oleh Leo dan Maya.

Ia telah menyerahkan air matanya, mengorbankan masa mudanya yang seharusnya dipenuhi tawa santai, demi memeluk dua anak yang tidak lahir dari rahimnya. Ia telah bergelut dengan rasa sakit saat tangannya lecet akibat piring pecah yang dilempar Leo, dan ia telah melawan dinginnya sikap Aris yang dahulu menganggapnya tak lebih dari pengasuh gratisan.

Dan kini, di saat takdir menyadarkan mereka semua tentang arti cinta yang sebenarnya, di saat Aris telah berlutut memohon ampun dan anak-anak telah memanggilnya 'Ibu' dengan ketulusan yang murni... bayang-bayang kematian justru mengintai di balik kegelapan.

Pintu kamar terbuka pelan. Aris melangkah masuk setelah menyelesaikan koordinasi dengan tim keamanan. Pria itu melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak begitu lelah, namun matanya memancarkan kecemasan mendalam saat melihat Kirana duduk sendirian dalam kegelapan.

"Kirana..." Aris melangkah mendekat, lalu duduk berlutut di lantai, tepat di hadapan tempat Kirana duduk. Pria itu menggenggam kedua tangan istrinya yang dingin, menempelkannya ke pipinya yang kasar oleh janggut tipis. "Kenapa belum tidur, Sayang? Dokter bilang kamu harus banyak istirahat."

Kirana menatap wajah Aris. Pria yang dahulu begitu angkuh, pria yang dahulu melempar perjanjian pra-nikah ke hadapannya dengan senyum sinis, kini berlutut di depannya dengan mata yang berkaca-kaca oleh kepedulian.

"Mas..." bisik Kirana, air matanya menetes pelan mengaliri pipinya yang pucat. "Apakah pernikahan kita memang dikutuk untuk selalu berderai air mata?"

Kata-kata itu menghantam dada Aris bagaikan pukulan telak. Rasa bersalah yang sempat mereda kembali mencengkeram jantungnya.

"Jangan bicara seperti itu, Kirana..." tutur Aris parau, jemarinya mengusap lembut lelehan air mata di pipi istrinya. "Pernikahan ini tidak dikutuk. Akulah yang bersalah. Aku yang membawa neraka ini ke dalam hidupmu yang suci."

Kirana menggelengkan kepalanya seraya tersenyum getir. "Tidak, Mas. Aku tidak menyalahkanmu lagi. Aku hanya... merasa takdir sedang tertawa melihat kita. Ketika aku masuk ke rumah ini, aku membencimu karena kamu memperlakukanku seperti pajangan tanpa harga diri. Aku melawanmu setiap hari, mencoba membuktikan bahwa aku bukan wanita murahan seperti yang ada di dalam pikiran picikmu. Tapi ketika kita berhasil menembus benteng itu, ketika kita tiba-tiba sadar bahwa di balik semua rasa sakit ini ada cinta yang begitu besar... mengapa kita tidak diizinkan untuk bahagia walau hanya sehari?"

Aris menggenggam tangan Kirana lebih erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya sedikit saja.

"Karena takdir ingin kita membuktikan bahwa cinta kita bukan sekadar janji di atas kertas, Kirana," ucap Aris dengan pendar mata yang begitu dalam dan intens. "Dulu, aku menikahimu karena paksaan Kakek Hendra dan keinginan memiliki pengasuh untuk anak-anakku. Aku membutakan mataku atas ketulusanmu. Aku menyindirmu, melukaimu, dan membuatmu menangis sesenggukan di sudut rumah ini. Tapi malam ini, berdiri di hadapanmu... aku sadar. Pernikahan ini bukan lagi tentang kesepakatan atau takdir yang mempermainkan kita. Pernikahan ini adalah pilihanku. Kamu adalah istriku, ibu dari anak-anakku, dan belahan jiwaku."

Aris naik ke atas ranjang, merengkuh tubuh Kirana ke dalam pelukannya. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, membiarkan kepala Kirana bersandar nyaman di dada bidangnya, tepat di mana detak jantungnya berdebar kencang dan teratur.

"Tidurlah, Kirana," bisik Aris di celah rambut istrinya, mendaratkan kecupan lembut yang hangat di puncak kepalanya. "Selama jantungku masih berdetak, tidak ada satu orang pun yang bisa merebutmu atau bayi kita. Sheila harus melewati mayatku sebelum dia bisa menyentuh sehelai rambutmu."

Di dalam kehangatan pelukan Aris, di tengah deburan hujan yang menghantam kaca jendela, Kirana perlahan memejamkan matanya. Rasa takut yang tadinya menggejolak perlahan luluh, berganti menjadi kedamaian intuitif seorang wanita yang akhirnya merasa dicintai dan dilindungi sepenuhnya oleh suami yang dahulu menjadi musuh terbesarnya.

Keesokan harinya.

Kehidupan di kediaman Pratama berjalan dalam bayang-bayang ketegangan yang tersembunyi. Untuk melindungi mental Leo dan Maya, Aris dan Kirana sepakat untuk tidak memberitahukan tentang pesan berdarah dari Sheila. Bagi anak-anak, penjagaan ketat di luar rumah hanyalah prosedur keamanan biasa setelah kejadian malam itu.

Pagi itu, Kirana memaksa dirinya untuk bangun dari ranjang meski Aris dan Bik Sumi melarangnya secara tegas. Kirana merasa, memanjakan rasa sakit hanya akan membuatnya tampak lemah di hadapan ancaman yang sedang mengintai.

Dengan mengenakan gaun hamil berwarna krem yang longgar dan lembut, Kirana duduk di meja makan. Di depannya, Leo dan Maya sedang menikmati sarapan pancake strawberry buatan Bik Sumi.

"Ibu Kirana!" seru Maya gembira saat melihat Kirana berjalan mendekat. Anak perempuan berumur lima tahun itu memamerkan garpunya yang berantakan oleh selai. "Lihat, Maya makan pancake-nya habis! Supaya adik bayi di perut Ibu cepat besar!"

Kirana tersenyum manis, rasa hangat yang mengalir di dadanya menyapu bersih sisa-sisa ketakutan semalam. Ia mengelus lembut rambut Maya. "Anak pintar. Nanti kalau adik bayi sudah lahir, Maya yang ajari adik bayi makan pancake, ya?"

"Iya! Maya mau jadi Kakak yang baik!" jawab Maya penuh semangat.

Sementara itu, Leo menatap Kirana dengan raut wajah yang jauh lebih dewasa dari usianya. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu menggeser segelas susu hangat ke arah Kirana.

"Ibu... minum susunya," bisik Leo pelan, matanya masih memancarkan sedikit rasa canggung dan malu atas penyesalan masa lalunya. "Kata Papa, Ibu harus banyak minum susu supaya kaki Ibu tidak sakit lagi."

Kirana menatap gelas susu itu, lalu menatap Leo. Air mata keharuan kembali menggenang di pelupuk matanya. Perjuangan berdarah-darah saat ia menangis sendirian di kamar mandi karena dilempar piring oleh Leo kini terasa seperti mimpi buruk di masa lalu. Ketulusan yang disiramkannya dengan air mata akhirnya membuahkan hasil: benteng penolakan anak itu telah runtuh sepenuhnya.

"Terima kasih, Kak Leo," tutur Kirana lembut seraya memegang tangan kecil Leo. "Ibu minum susunya, ya."

Aris yang baru saja turun dari lantai dua dengan setelan kemeja kerja tanpa dasi, terpaku di anak tangga terakhir. Pemandangan di meja makan itu—istri cantiknya yang tersenyum penuh kasih di tengah kedua anaknya yang perhatian—membuat dadanya bergetar hebat. Inilah rumah tangga yang selama belasan tahun hanya menjadi angan-angan semu baginya. Inilah kedamaian yang dibayar mahal oleh ketegaran seorang wanita bernama Kirana.

Aris melangkah mendekat, mengecup dahi Kirana dengan mesra di hadapan anak-anak, membuat pipi Kirana bersemu merah.

"Eww! Papa cium-cium Ibu terus!" celoteh Maya seraya menutupi matanya dengan kedua tangan mungilnya, memicu gelak tawa renyah dari seluruh ruangan.

Namun, keceriaan pagi itu mendadak terganggu oleh kedatangan Pak Wijaya yang melangkah masuk dengan raut wajah sangat tegang. Pak Wijaya membawa sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus kertas kado berwarna hitam elegan dengan pita merah darah.

"Pak Aris, Nyonya Kirana..." suara Pak Wijaya bergetar. "Ada paket yang baru saja diantarkan oleh kurir khusus ke gerbang depan. Kurir itu langsung melarikan diri, namun tim keamanan sempat mengamankannya. Paket ini ditujukan khusus untuk Nyonya Kirana."

Seketika, tawa di meja makan terhenti total. Udara di dalam ruangan itu kembali membeku.

Aris langsung berdiri pasang badan di depan Kirana dan anak-anak. "Pak Wijaya! Bawa anak-anak ke ruang bermain di lantai atas sekarang!"

"Baik, Pak!" Pak Wijaya segera merangkul Leo dan Maya.

"Papa? Ada apa?" tanya Leo bingung dan mulai cemas.

"Tidak apa-apa, Kak. Main di atas dulu sama Maya dan Bik Sumi, ya? Papa dan Ibu ada urusan sebentar," pangkas Aris dengan suara selembut mungkin meski rahangnya mengeras ketakutan.

Setelah anak-anak diselamatkan ke lantai atas, Aris memerintahkan dua tim penjinak bahan peledak internal perusahaan yang bersiap di luar untuk memeriksa paket tersebut. Setelah dipastikan tidak berisi bom atau bahan kimia berbahaya, kotak hitam itu diletakkan di atas meja kaca ruang tamu.

Kirana berdiri di samping Aris, jemarinya meremas kuat lengan kemeja suaminya. Napasnya memburu, pelipisnya bertetesan keringat dingin.

Dengan hati-hati, Aris membuka pita merah darah dan mengangkat tutup kotak hitam tersebut.

Di dalam kotak itu, tidak ada bom atau senjata. Yang ada di dalamnya adalah sebuah gaun bayi berwarna putih bersih yang sangat mungil—gaun bayi yang baru lahir. Namun, gaun bayi yang suci itu telah dinodai oleh bercak-bercak cat merah yang disengaja menyerupai cipratan darah.

Di atas gaun bayi tersebut, tergeletak sebuah pemutar suara (voice recorder) tua berwarna perak dan sebuah foto cetak.

Foto itu memperlihatkan gambar Kirana yang sedang terbaring lemah di ruang perawatan rumah sakit dua hari lalu—foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari celah ventilasi luar gedung rumah sakit!

"Jadahlah!" maki Aris murka, tangannya meremas foto itu hingga hancur. "Sheila benar-benar sudah gila!"

Kirana menahan napasnya yang terasa sesak. Wajahnya pucat pasi. Rumah sakit privat bertaraf internasional itu pun telah disusupi oleh mata-mata Sheila!

Dengan jemari yang gemetar, Aris menekan tombol Play pada pemutar suara perak tersebut.

Klik.

Suara desis rekaman terdengar sejenak, sebelum akhirnya terdengar tawa melengking yang sangat dikenal—suara Sheila yang dingin, tajam, dan sarat akan racun kegilaan.

"Halo, Kirana... wanita muda yang beruntung," suara Sheila bergema di seluruh ruang tamu yang luas, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. "Bagaimana rasanya menjadi pahlawan di keluarga Pratama? Apakah rasanya manis saat Aris berlutut di kakimu dan anak-anakku memanggilmu 'Ibu'?"

Sheila tertawa lagi, sebuah tawa yang merindingkan bulu kuduk.

"Jangan terlalu cepat bersenang-senang, Wanita Simpanan. Kamu pikir dengan memenjarakan Kakek Hendra dan merebut saham Singapura, kamu telah menang? Kakek Hendra hanyalah pria tua pikun yang kumanfaatkan! Harta Pratama Group tidak ada artinya bagiku. Yang kuinginkan adalah kehancuran Aris... dan kehancuranmu!"

Suara desis rekaman makin tajam.

"Bayi di dalam rahimmu itu... adalah simbol dari kebahagiaan yang kamu curi dariku. Aku berjanji, Kirana... dalam waktu empat puluh delapan jam, aku akan datang mengambil bayi itu secara langsung dari dalam rahimmu. Jika kamu ingin anak-anakmu—Leo dan Maya—tetap bernapas, datanglah sendirian ke dermaga tua Pelabuhan Sunda Kelapa besok malam. Jangan coba-coba membawa Aris atau polisi, atau kamu akan menerima potongan jari anak-anakmu di dalam kotak berikutnya!"

Bip!

Rekaman suara itu terputus, menyisakan keheningan yang luar biasa mencekam di dalam rumah megah tersebut.

Kirana terkulai, lututnya lemas hingga ia hampir tersungkur ke lantai jika Aris tidak dengan cepat menangkap tubuhnya. Air mata Kirana meledak seketika, hysteria yang ditahannya sejak semalam akhirnya pecah mencabik kesadarannya.

"Mas... Leo dan Maya..." jerit Kirana dalam isak tangis yang memilukan, dadanya naik turun dengan hembusan napas yang terengah-engah. "Dia mau menyakiti Leo dan Maya! Dia mau mengambil bayiku!"

"Tidak! Tidak akan pernah!" meraung Aris, memeluk tubuh Kirana yang gemetar hebat di atas karpet ruang tamu. Air mata pria tegap itu ikut menetes, membasahi bahu istrinya. "Ini jebakan! Sheila memanfaatkan rasa sayangmu pada anak-anak untuk memancingmu keluar! Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke dermaga itu!"

"Tapi bagaimana dengan Leo dan Maya, Mas?!" teriak Kirana seraya menatap Aris dengan mata merah menyala penuh keputusasaan seorang ibu. "Dia punya mata-mata di rumah ini! Dia bisa menyusup kapan saja! Aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa Leo dan Maya!"

"Aku yang akan menyelesaikan ini!" pangkas Aris tegas, memegang kedua bahu Kirana dengan tatapan yang menghujam tajam. "Aku yang membawa iblis ini ke dalam kehidupan kita, dan aku yang akan mengakhirinya! Kamu dan bayi kita akan tetap berada di sini, terlindungi!"

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Kirana tahu bahwa Aris sedang menghadapi musuh yang tak terlihat—musuh yang bergerak di dalam kegelapan tanpa aturan hukum atau norma kemanusiaan. Sheila adalah wanita yang telah kehilangan akal sehatnya, seorang psikopat yang lahir dari manipulasi kejam Kakek Hendra.

Saat Aris mendekapnya erat, pikiran Kirana berputar liar dalam kegelapan.

Ia memikirkan Leo yang baru saja memanggilnya 'Ibu' dengan mata berkecewa. Ia memikirkan Maya yang tertawa polos di lantai atas. Dan ia memikirkan janin kecil di dalam rahimnya yang baru saja berjuang melewati trauma pendarahan.

Sesuatu di dalam diri Kirana bertransformasi secara mendalam.

Ketakutan yang selama ini melumpuhkannya perlahan terbakar habis, berganti menjadi keberanian murni seorang ibu tiri yang siap menerjang neraka demi melindungi keluarganya. Jika pernikahan ini adalah arena pertempuran yang dihadiahkan oleh takdir, maka Kirana tidak akan lagi bersembunyi di balik ketakutan.

Ia akan melawan.

Malam itu, saat Aris tertidur lelap akibat kelelahan luar biasa setelah memimpin rapat darurat bersama tim kepolisian dan Interpol di ruang kerja, Kirana bangkit secara perlahan dari ranjang.

Langkahnya pelan tanpa suara. Ia menatap wajah suaminya yang tertidur dengan raut wajah penuh beban. Kirana mengulurkan tangannya, mengelus pipi Aris dengan kelembutan yang teramat sangat, lalu mendaratkan kecupan perpisahan yang dingin di dahi pria itu.

"Maafkan aku, Mas Aris..." bisik Kirana liris di dalam hati, air matanya menetes pelan menimpa bantal Aris. "Aku memasuki rumah tangga ini sebagai wanita muda yang lemah. Tapi malam ini, aku pergi sebagai seorang Ibu. Takdir tidak mempermainkan kita untuk membuat kita menyerah... takdir menempa kita untuk bertarung."

Kirana berjalan menuju lemari pakaian. Ia melepaskan gaun tidurnya, menggantinya dengan celana kain hitam dan mantel tebal berwarna senada. Ia mengambil tas kecil, memasukkan ponsel, dan sebuah surat kecil yang ditulisnya dengan jemari gemetar untuk Aris.

Dengan langkah yang sangat berhati-hati, memegangi perut bawahnya yang sesekali masih berdenyut, Kirana melangkah menelusuri koridor rumah yang sepi. Ia melewati kamar Leo dan Maya, menatap kedua anak yang tertidur lelap itu dari balik celah pintu dengan tatapan penuh kasih sayang yang tak bertepi.

Ibu akan melindungi kalian... apa pun taruhannya, janji Kirana dalam diam.

Menghindari pengawasan CCTV melalui jalur evakuasi belakang yang pernah ditunjukkan Bik Sumi, Kirana melangkah keluar menembus kegelapan malam yang dingin. Raincoat hitam melindunginya dari gerimis yang masih menyisa.

Di luar gerbang belakang, sebuah taksi online yang telah dipesannya secara rahasia menggunakan ponsel cadangan sudah menunggu.

Kirana membuka pintu taksi, melangkah masuk, dan menatap kediaman Pratama untuk terakhir kalinya melalui kaca jendela yang basah oleh titik-titik air hujan.

"Ke mana, Mbak?" tanya pengemudi taksi.

Kirana menarik napas panjang, meremas jemarinya di atas perutnya yang menyimpan kehidupan buah hatinya. Matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Pelabuhan Sunda Kelapa," jawab Kirana pelan namun mantap. "Dermaga tua."

Taksi itu melaju cepat membelah pekatnya malam Jakarta, membawa seorang wanita muda—seorang ibu tiri berusia dua puluh empat tahun—menuju pertaruhan nyawa terbesar dalam hidupnya. Pertaruhan di mana cinta, air mata pernikahan, dan ketulusan jiwa akan beradu langsung dengan dendam berdarah yang siap menghancurkan segalanya.

Apakah Kirana akan selamat dari jebakan mematikan Sheila di dermaga tua yang sepi itu? Bagaimana reaksi Aris saat terbangun dan menemukan surat perpisahan dari istrinya yang sedang hamil tua? Dan mampukah cinta sejati mereka menumbangkan iblis dari masa lalu sebelum semuanya terlambat?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!