Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Memperbaiki
Langkah kaki Reyhan bergerak cepat namun penuh kendali menyusuri jalan setapak berlantai bambu. Bayangan rindangnya pohon-pohon pinus Maribaya membiaskan cahaya matahari.
Suara gemericik air sungai di bawah tebing mengiringi derap langkahnya yang tegas. Di balik kacamata berbingkai tipis itu, sepasang mata cokelat gelap milik Reyhan menyapu setiap sudut lorong bambu.
Di ujung jalur sepi, dekat toilet yang membelakangi tebing Nadhira menghentikan langkahnya saat hendak mencuci tangan di wastafel batu. Bayangan seorang pria di belakangnya membuat bulu kuduk Nadhira berdiri.
Saat ia memutar tubuh, Rangga sudah berdiri menutupi jalan keluar. Jarak mereka kurang dari satu meter.
"Rangga! Kamu ngapain ikutan ke sini?" tanya Nadhira dengan nada suara yang meninggi, ketakutan bercampur kekesalan tercermin jelas di matanya.
"Bisa tolong mundur sedikit? Jangan ngalagin jalan aku," pinta Nadhira.
Rangga tidak mundur. Pria itu justru menyandarkan sebelah tangannya di tiang bambu besar di samping Nadhira, mengunci ruang gerak gadis itu.
"Nad, kenapa sih kamu selalu menghindar dari aku semenjak di pameran kemarin?" tanya Rangga.
"Aku ke sini jauh-jauh dari Jakarta cuma buat kamu. Aku tahu kamu masih marah soal keputusan orang tua kita dulu, tapi kita bisa perbaiki semuanya, Nad. Hubungan kita dulu-"
"Gak ada yang perlu diperbaiki, Rangga!" potong Nadhira tegas, merapatkan tubuhnya ke wastafel untuk memberi jarak di antara mereka.
"Masa lalu itu udah selesai. Tolong hargai posisi aku sekarang. Aku mahasiswa di sini, dan kamu cuma sponsor kegiatan."
"Sponsor atau bukan, aku tetap Rangga yang kenal kamu dari SMA," balas Rangga, tangannya yang lain bergerak hendak menggapai pergelangan tangan Nadhira.
"Kasih aku kesempatan satu kali lagi buat bicara sama kamu-"
"Lepaskan tangan kamu dari dia."
Sebuah suara bernada rendah dan sedingin es memotong udara Maribaya. Rangga menghentikan tangannya di udara. Nadhira mendongak, matanya membelalak lebar melihat sosok yang baru saja muncul di balik belokan lorong bambu.
Reyhan berdiri di sana. Posturnya yang jangkung berbalut tampak begitu kokoh dan mengintimidasi. Kedua tangannya terbenam di dalam saku celananya.
Wajahnya sama sekali tidak menampilkan emosi meledak-ledak, melainkan sebuah ekspresi dingin, datar, dan mematikan, ekspresi dari seorang pria yang telah mencapai batas kesabaran tertingginya.
"P-Pak Reyhan..." bisik Nadhira pelan. Dadanya yang berdebar kencang seketika terisi oleh rasa lega saat melihat suaminya berdiri di sana.
Rangga menarik tangannya kembali, berbalik menghadap Reyhan dengan raut wajah jengkel yang tak lagi bisa disembunyikan. "Pak Reyhan? Lagi-lagi Anda. Apa dosen pendamping punya hobi mengikuti urusan pribadi orang lain?"
Reyhan melangkah maju tiga titik. Langkahnya tidak terburu-buru, namun setiap ketukan pantofelnya di atas bambu seolah memberi tekanan udara yang berat di ruangan itu.
Ia berhenti tepat di antara Rangga dan Nadhira, memposisikan tubuh tegapnya sebagai benteng kokoh yang sepenuhnya melindungi Nadhira dari pandangan Rangga.
"Saudara Rangga," tegur Reyhan dengan intonasi teratur, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan ancaman terselubung.
"Area belakang galeri ini adalah zona terbatas yang saat ini berada di bawah pengawasan keselamatan rombongan FSD. Tindakan Anda memojokkan mahasiswi saya di lokasi terisolasi tidak dapat ditoleransi dalam batasan norma etika maupun keamanan kegiatan kampus."
Rangga tertawa sinis, merapikan kerah kemeja kremnya. "Bicara soal etika? Tolong ya, Pak Dosen. Nadhira ini mantan pacar saya. Kami cuma lagi bicara urusan pribadi. Anda tidak usah terlalu berlebihan ikut campur."
Reyhan membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah. Cahaya matahari yang memantul di kaca lensa menyembunyikan kilatan amarah di matanya, namun aura dominan pria itu membungkam atmosfer di sekitarnya.
"Status pribadi Anda di masa lalu tidak memiliki relevansi hukum maupun birokrasi di sini," sahut Reyhan dingin tanpa keraguan sedikit pun.
"Di area ini, Nadhira adalah mahasiswi di bawah tanggung jawab keselamatan saya sebagai dosen pendamping resmi. Jika ada pihak luar yang melakukan intimidasi fisik maupun verbal yang membuat mahasiswi saya merasa terancam, saya memiliki wewenang penuh untuk mengambil tindakan tegas."
"Tindakan tegas apa? Mengadu ke Dekan?" tantang Rangga, menatap tajam mata Reyhan. "Saya sponsor utama acara kalian, Pak Reyhan."
Reyhan mengulas senyum tipis. "Sponsor utama dapat diganti atau dibatalkan kerja samanya kapan saja jika terbukti melakukan pelanggaran norma kesusilaan dan ancaman keamanan terhadap civitas akademika," balas Reyhan tenang.
Suaranya pelan namun menusuk tepat di harga diri Rangga. "Saya dapat menyusun laporan tertulis mengenai insiden ini dalam waktu sepuluh menit dan mengirimkannya langsung ke dewan pembina yayasan serta tim legal Kusuma Design Group. Apakah Anda yakin reputasi profesional Anda sebagai CEO ingin dipertaruhkan hanya demi tindakan impulsif hari ini?"
Mendengar kata-kata 'tim legal' dan 'dewan pembina yayasan' meluncur dengan begitu percaya diri dan runtut dari mulut dosen muda di hadapannya, rahang Rangga mengetat keras.
Pria itu menyadari bahwa Reyhan bukanlah dosen biasa yang bisa diintimidasi dengan gertakan status sponsor. Reyhan adalah dinding batu yang mematikan jika ditantang secara formal.
Nadhira yang berdiri di belakang punggung lebar Reyhan meremas pinggiran jaketnya. Ia bisa mencium aroma kayu cendana dan kehangatan tubuh Reyhan yang mengarungi hawa dingin Maribaya, memberinya rasa aman yang tak tergoyahkan.
"Anda benar-benar tidak menyenangkan, Pak Reyhan," geram Rangga dengan gigi terketak.
"Tugas saya adalah memastikan keselamatan dan ketertiban kegiatan, bukan menyenangkan Anda," jawab Reyhan datar.
"Silakan kembali ke area paviliun utama. Bus rombongan akan segera kembali ke hotel lima belas menit lagi. Jangan biarkan saya harus mengawal Anda secara personal ke luar dari area ini."
Rangga menatap Reyhan dengan penuh kebencian, lalu melirik Nadhira yang bersembunyi aman di balik tubuh tegap suaminya. Dengan helaan napas kasar dan langkah yang dihentak-hentakkan, Rangga akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan lorong bambu tersebut.
Keheningan seketika menyelimuti lorong bambu di belakang galeri begitu langkah kaki Rangga menghilang sepenuhnya di kejauhan. Hanya suara gemericik air sungai dan bisikan angin di antara daun pinus yang tersisa.
Reyhan masih berdiri membelakangi Nadhira selama beberapa detik, mencoba menetralkan napasnya yang sempat tertahan dan menekan gejolak emosi yang nyaris membuat jemarinya melayang ke wajah Rangga tadi.
Nadhira melangkah pelan satu titik mendekat ke punggung suaminya. "Pak Reyhan..." bisiknya halus, suaranya sedikit bergetar. "Makasih banyak ya, Pak..."
Reyhan memutar tubuhnya perlahan. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Reyhan melangkah mendekat. Pria itu merogoh saku mantelnya, mengeluarkan saputangan kain berwarna abu-abu tua yang sangat bersih.
Reyhan mengulurkan tangannya. Dengan gerakan yang amat lembut, kontras dengan sikap dinginnya saat menghadapi Rangga tadi, jemari panjang Reyhan mengusap setitik air dan keringat dingin di pelipis Nadhira menggunakan saputangan tersebut.
Nadhira menahan napasnya. Sentuhan ujung jari Reyhan yang hangat di kulit wajahnya membuat seluruh ketakutan yang ia rasakan beberapa menit lalu menguap tanpa bekas.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reyhan dengan suara rendah yang amat dalam dan protektif.
Nadhira menggelengkan kepalanya pelan, menatap lurus ke dalam mata cokelat gelap suaminya. "Saya gak apa-apa. Tadi cuma kaget aja karena Rangga tiba-tiba mojokin saya Pak."
Reyhan menghentikan usapan saputangannya, lalu menurunkan tangannya kembali ke sisi tubuh. Pria itu mengembuskan napas panjang.
"Saya tidak suka melihat pria itu menyentuh atau berada terlalu dekat dengan kamu," tutur Reyhan jujur, mengakui rasa cemburu yang menyiksa dadanya sejak pagi tadi.
"Posisi saya sebagai dosen di depan publik terkadang membatasi hal yang ingin saya lakukan. Namun, keselamatan dan kenyamanan kamu adalah batas yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun."
Nadhira menyunggingkan senyum tipis yang amat manis. Ia meraih saputangan abu-abu dari tangan Reyhan, lalu menggenggam jemari suaminya secara sembunyi-sembunyi di bawah lipatan mantel tebal Reyhan.
"Saya tahu, Pak Reyhan," bisik Nadhira lembut, meremas jemari kaku itu. "Saya tahu Pak Reyhan selalu menjaga saya, bahkan dalam diamnya Pak Reyhan. Makasih udah jadi benteng buat saya hari ini."
Reyhan menatap genggaman tangan kecil Nadhira pada jemarinya. Sebuah kehangatan yang amat nyaman menjalar dari telapak tangan istrinya, melelehkan seluruh ketegangan dan rasa cemburu yang sempat membakar dadanya sepanjang hari.
Reyhan membalas remasan tangan Nadhira sekilas, sebelum akhirnya menarik tangannya kembali secara profesional ketika mendengar suara langkah kaki Kania yang mulai memanggil nama Nadhira dari kejauhan.
"Nadhira! Lo di mana? Bus udah mau berangkat nih!" teriak suara Kania dari balik lorong.
Reyhan membetulkan kemeja dan kacamata berbingkai tipisnya, kembali memasang topeng kaku sang dosen pendamping yang tak tersentuh.
"Kembali ke rombongan sekarang," perintah Reyhan, suaranya kembali datar seperti semula. "Gunakan jalur kanan. Saya akan berjalan tiga meter di belakang kamu."
Nadhira mengangguk patuh seraya menyembunyikan saputangan abu-abu milik Reyhan ke dalam saku jaketnya. "Siap, Pak Dosen."
Nadhira melangkah keluar dari lorong bambu dengan hati yang tak lagi diselimuti ketakutan. Di belakangnya, sosok Reyhan berjalan dengan langkah tenang dan teratur, menjadi bayangan protektif yang akan selalu memastikan bahwa di mana pun mereka berada, Nadhira akan selalu aman.
...Bersambung......