Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Keesokan harinya.
Zean baru saja sampai di kantor. Ia mengecek beberapa file yang baru diserahkan oleh Fadli kepadanya.
1 jam kemudian.
tok tok tok
"Iya, masuk."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Pak Zean, ada yang ingin bertemu anda. Itu orang yang kemarin."
"Oh iya, silahkan suruh masuk."
Zean sudah mempersiapkan mentalnya. Ia harus bersikap profesional.
Abi dan Umminya Rafli pun masuk ke ruangan itu. Hari ini Rafli tidak masuk karena jadwalnya sekolah PAUD.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Pandangan Zean langsung tertuju kepada perempuan di samping abi Rafli. Perempuan bercadar yang tingginya hampir sama dengan perempuan yang biasa dia temui. Namun dari sorot matanya ada yang berbeda.
"Hah, dia bercadar? Tapi bukannya biasanya tidak. Apa lain orang?" Batin Zean.
"Ehem... Pak Zean."
"Oh iya Pak Hilman, maaf. Mari silahkan duduk. Ke mana Rafli kok tidak ikut?"
"Sedang sekolah."
"Oh iya."
"Perkenalkan ini istri saya, namanya Hanum."
"Salam kenal ibu Hanum." Zean menyatukan tangannya di dada.
Perempuan itu pun membalasnya.
"Salam kenal juga, pak."
"Suaranya berbeda. Apa iya orang ini punya dua istri" Batin Zean.
Mereka pun membahas paket umroh yang ingin dipilih. Zean kembali menjelaskan dengan detail. Stelah cukup lama obrolan mereka pun akhirnya berakhir dengan transaksi yang ditandatangani oleh keduanya. Untuk jadwal keberangkatan bulan depan dengan uang muka 50% sisanya bisa nanti saat h-1 berangkat. Namun mereka langsung melunaskannya.
"Terima kasih banyak sudah mempercayakan travel kami, pak. Semoga berkah rizkinya."
"Aamiin.... "
Mereka berjabatan tangan sebelum akhirnya orang tua Rafli pamit pergi.
Setelah kepergian mereka, Zean masih berpikir keras soal perempuan itu.
"Sepertinya Rafli biasa menyebut perempuan itu bunda. Tapi kepada perempuan ini sepertinya abinya Rafli selalu menyebut Umminya Rafli. Ah kenapa aku jadi memikirkan rumah tangga orang. Tapi perempuan tadi sepertinya memang baru bertemu denganku. Berarti memang beda orang."
Zean tidak mau ambil pusing. Ia pun pergi ke warkop sebelah kantornya untuk ngopi. Ia berharap otaknya tidak memikirkan hal itu lagi. Setelah cukup lama Zean ngopi santai, ia kembali ke kantornya untuk shalat Dhuhur karena sudah Adzan Dhuhur. Setelah itu, ia memutuskan untuk pulang lebih awal karena ia merasa kepalanya agak pusing. Zean menitipkan kantor kepada anak buahnya.
Zean pun naik ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Siang ini udara sangat panas. Untungnya jalan tidak terlalu macet. Jadi, Zean bisa sampai di rumah dengan cepat.
Saat masuk ke dalam pekarangan rumah, ia melihat mobil abangnya sudah terparkir.
"Hem,.. alamat si bucin makan siang di rumah. Semoga tidak melihat adegan mesra itu lagi!" Gumamnya.
Zean melangkah masuk ke dalam rumah. Ia memencet bel. Tidak lama kemudian Bi' Kokom membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum, bi'."
"Wa'alaikum salam, den. Kok sudah pulang, den?"
"Pusing, bi'."
"Apa perlu bibi' buatkan sesuatu?"
"Tidak perlu, bi'. Minum obat saja nanti."
"Baik, den."
"Terima kasih ya, bi'. "
"Sama-sama, den."
"Oh iya bi' nanti tolong bawakan makan siangku ke kamar. Aku mau makan di kamar saja."
"Iya, den."
Zean melangkah pergi naik ke atas menuju kamarnya. Sampai di kamar, Zean membuka bajunya dan ganti baju santai.
Bibi' pergi ke ruang makan untuk mengambil makanan. Di sana sudah ada Zain dan istrinya sedang makan.
"Maaf, den, non, mengganggu. Saya mau ambilkan makanan untuk den Zain."
"Adek sudah datang, bi'?"
"Iya, den. Pusing katanya. Orangnya masuk kamar, mau makan di kamar. "
"Oh iya, bi'."
Bibi' mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk Zean, Setelah itu, bibi' pergi mengantarkan makanan tersebut ke kamar Zean.
Zean hampir saja ketiduran menunggu makanannya datang. Namun ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Setelah menerima makanannya, ia pun makan. Namun makanannya tudak habis. Setelah itu, Zean minum obat sakit kepala lalu membaringkan diri di atas tempat tidur.
Ia berharap saat bangun tidur nanti merasa lebih nyaman.
Zain dan Tiyas juga baru saja, selesai makan siang. Mereka kembali ke kamarnya untuk istirahat siang.
Sekitar jam 4 sore, Zain dan Tiyas sudah bangun. Mereka baru saja selesai shalat Ashar berjamaah. Zain keluar dari kamarnya karena ingin mengetahui keadaan adiknya.
Tok tok tok
Tok tok tok
Belum ada jawaban dari dalam.
"Apa dia masih tidur ya?"
Zain mencoba menghubunginya melalu telpon. Setelah beberapa kali berdering, akhirnya diangkat juga.
"Hem... assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. Dek, kamu belum bangun?"
"Baru bangun, bang. "
"Kamu sakit? Aku panggilkan dokter ya?"
"Nggak usah nang. Aku sudah nggak pa-pa. Tadi cuma pusing dikit. Sudah minum obat."
"Oh, ya sudah. Syukurlah kalau begitu."
"Iya bang. Ya sudah aku mau mandi."
"Iya."
Mereka memgakhiri telponnya.
Zean masih mengumpulkan kesadarannya.
"Ya Allah mimpi apa aku tadi."
Zean pun beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.Setelah selesai mandi, Zean shalat Ashar. Selesai berdzikir dan berdo'a, Zean tidak langsung beranjak dari sajadahnya. Ia mengingat-ingat mimpinya.
Dalam mimpinya itu ia bertemu dengan Rafli dan perempuan yang dipanggilnya Bunda si sebuah acara. Kurang jelas iru acara apa. Namun Zean sadar baju yang dikenakannya warnanya persis dengan bunda Rafli. Rafli menggandeng tangan sangat bunda lalu mengantarnya berjalan sampai ke kumpulan beberapa orang. Dan bunda Rafli tersenyum kepada Zean. Tangan Zean ditarik oleh Rafli. Namun Zean terbangun saat abi Rafli pun datang dengan menggandeng tangan bunda Rafli.
Zean menghela nafas panjang mengingat mimpinya di siang bolong itu.
"Mungkin karena sebelum tidur aku kepikiran mereka makanya kebawa mimpi."
Malam harinya.
Karena sudah mendingan, Zean ikut makan malam bersama Zain dan istrinya. Setelah selesai makan, Zain dan Zean masih ngobrol di ruang tengah. Tidak ingin mengganggu keduanya, Tiyas pun kembali ke kamarnya.
"Untung besok libur. Jadi kamu bisa beristirahat, dek."
"Iya, bang. Jangan kasih tahu ummi dan abi ya. Aku baik-baik saja, kok."
"Hem iya."
Mereka berdua diam sejenak. Namun dengan keraguannya, Zean akhirnya mengungkapkan sesuatu kepada Zain.
"Bang."
"Iya, kenapa?*
Zean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Itu bang, aku mau tanya."
"Soal apa?"
"Bang, aku sepertinya sedang jatuh cinta. "
Mendengar hal uru Zain tdak terlalu kaget karena biasanya Zean memang selalu bilang begitu."
"Oh ya? Kaki ini siapa perempuan yang kamu maksud? "
"Ada pokoknya, tapi.... "
"Tapi apa?"
"Istri orang. "
"Astaghfirullahal azim... Jangan main-main kamu, dek!"
Zain menasehati Zean panjang kali lebar. Zean hanya manggut-manggut. Ia sendiri bingung kenapa dengan dirinya.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Trauma apa ya hilda? Apa Kdrt?