NovelToon NovelToon
Pengantin Dalam Kegelapan

Pengantin Dalam Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Pengantin Pengganti / Perjodohan / Roman-Angst Mafia / Mafia
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.

Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.

Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut paling terang

Langkah kaki Celeste bergema halus menyusuri koridor lantai dua sayap timur mansion. Di sampingnya, Butler Jiro berjalan dengan gestur tubuh yang amat santun, sementara Mei mengikutinya dua langkah di belakang seraya menundukkan kepala dalam-dalam.

"Ruangan ini berada di area khusus yang memang sudah disiapkan sesuai arahan Tuan Muda dan Nyonya Besar Eleanor," terang Butler Jiro seraya menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kayu jati berukir megah.

Klek.

Begitu pintu ganda itu dibuka lebar, nafas Celeste tertahan sejenak. Pandangannya seketika terpaku.

Ruangan di hadapannya teramat luas dengan arsitektur klasik Eropa yang sangat mewah. Langit-langitnya dibuat melengkung tinggi dengan ornamen ukiran berlapis warna emas tipis. Di sisi kanan, studio lukis berdiri bagai surga bagi setiap seniman, puluhan kanvas berbagai ukuran tertata rapi, cat minyak kualitas tertinggi import dari Italia, ratusan kuas dalam vas-vas porselen, hingga easel kayu mahoni yang kokoh.

Di sisi kiri yang terpisah sekat ukiran transparan, berdiri sebuah grand piano berwarna hitam pekat mengilap yang tampak begitu anggun di atas karpet beludru merah maroon. Dan yang paling luar biasa, dinding kaca besar di ruangan itu memancarkan cahaya terang yang sangat hangat, namun tak menyengat sedikit pun. Seluruh jendelanya telah terpasang kaca pelindung anti-UV tingkat tinggi.

"Ya Tuhan... ini indah sekali," bisik Celeste terpana. Matanya berbinar-binar bagai anak kecil yang baru menemukan toko mainan.

Butler Jiro tersenyum tipis, ikut senang melihat binar bahagia di wajah nyonya mudanya. "Semoga ruangan ini sesuai dengan keinginan Anda, Nyonya Muda. Jika tidak ada hal lain yang diperlukan, saya izin pamit untuk melanjutkan pekerjaan di lantai bawah."

"Ah, iya. Terima kasih banyak, Paman," sahut Celeste ramah.

Setelah Butler Jiro berlalu, keheningan menyelimuti ruangan besar itu. Celeste berjalan mendekati kanvas kosong, meraba tekstur kainnya yang halus, lalu menoleh ke belakang. Di sana, Mei masih berdiri kaku dekat pintu, menautkan kedua tangannya dengan raut yang amat tegang.

Celeste tersenyum tipis, mencoba mencairkan kekakuan di antara mereka. "Sejak kemarin aku belum sempat menanyakan namamu. Siapa namamu?"

Pelayan pribadi itu tersentak pelan, cepat-cepat membungkukkan badannya. "S-saya Mei, Nyonya Muda. Saya berasal dari desa kecil di pinggiran kota selatan."

"Mei..." Celeste menyebut nama itu pelan, mencoba mengingatnya. "Kamu kelihatan muda sekali. Apa kamu masih sekolah? Umurmu berapa?"

"Usia saya dua puluh tahun, Nyonya Muda," jawab Mei pelan, suaranya mulai sedikit lebih tenang. "Saya sudah tidak sekolah lagi setelah lulus SMA karena harus bantu perekonomian keluarga di desa."

Celeste mengangguk-angguk paham. "Ternyata umur kita sama. Aku juga dua puluh tahun."

Mendengar hal itu, mata Mei sedikit membelalak, kaget bahwa nyonya besarnya ini ternyata seusia dengannya.

"Karena kita sebaya, dan di rumah besar ini aku tidak punya teman... mau kan jadi teman bicaraku?" tawar Celeste tulus. "Maksudku, saat tidak ada tugas formal. Biar suasana tidak sepi-sepi amat."

Mei menatap Celeste tak percaya. Wajahnya yang semula tegang mendadak cerah dengan binar keharuan. "T-tentu saja saya mau, Nyonya Muda! Sebuah kehormatan buat saya."

Sore itu dihabiskan Celeste dengan sangat menyenangkan. Sambil memoles warna-warna cat minyak di atas kanvas, ia mengobrol banyak hal dengan Mei.

"Mei... sebenarnya kamu tahu banyak tentang suamiku tidak?" tanya Celeste memiringkan kuasnya, penasaran pada sosok suaminya.

Mei menggeleng pelan dengan canggung. "Jujur, saya belum terlalu mengenal Tuan Muda karena saya baru bekerja di sini, Nyonya. Tapi... sebelum saya bertugas di ruangan ini, saya sempat mendengar selentingan cerita dari pelayan senior lainnya."

"Cerita apa?" celetuk Celeste tertarik.

"Katanya, Tuan Muda Lucian itu sangat tidak menyukai kotor atau ruangan yang berantakan. Beliau juga sangat disiplin soal waktu. Kesalahan kecil saja bisa menjadi masalah besar buat beliau," ungkap Mei dengan suara pelan setengah berbisik. "Di rumah seluas ini, satu-satunya orang yang suaranya paling didengar dan dihormati Tuan Muda cuma Butler Jiro."

Celeste mengangguk-angguk, teringat betapa patuhnya para pekerja saat Jiro memberi perintah.

"Dan ada satu hal lagi yang paling banyak dibicarakan pelayan lain..." lanjut Mei, menatap Celeste lekat-lekat. "Sebelum ini, Tuan Muda Lucian tidak pernah mau mempekerjakan pelayan perempuan sama sekali di mansion pribadinya. Saya adalah pekerja wanita pertama yang diperbolehkan masuk dan bekerja di rumah ini... dan itu pun hanya karena keberadaan Anda, Nyonya."

Deg.

Celeste menahan napas sejenak, kuas di tangannya berhenti menggores kain kanvas. Pernyataan sederhana dari Mei mendadak menyuntikkan rasa ingin tahu yang lebih dalam di hatinya. Mengapa Lucian sampai sejauh itu membatasi diri? Apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup pria itu hingga ia begitu membenci dan menghindari kehadiran wanita di sekitarnya?

Sebelum Celeste sempat bertanya lebih jauh, pintu ruang lukis mendadak diketuk dari luar. Seorang pria berstel jas rapi yang sangat dikenal Celeste melangkah masuk, Nathan, asisten pribadi kepercayaan Lucian. Ia pernah beberapa kali melihat pria ini selalu berada di sekitar suaminya.

Nathan membungkuk hormat. "Selamat sore, Nyonya Muda. Saya Nathan. Asisten pribadi Tuan muda Lucian."

"Sore, Nathan. Ada apa?" tanya Celeste seraya meletakkan kuasnya.

Nathan mengisyaratkan seorang pengawal di belakangnya untuk maju membawa sebuah kotak hadiah berukuran besar bernuansa hitam elegan dengan pita satin perak.

"Tuan Muda Lucian mengutus saya untuk menyampaikan ini," ujar Nathan penuh kesantunan. "Ini adalah gaun yang dikirimkan khusus oleh Tuan Muda untuk Anda kenakan di acara makan malam keluarga nanti."

Celeste menatap kotak itu dengan dahi berkerut heran. "Gaun lagi? Padahal di walk-in closet kamar kan sudah banyak sekali gaun mewah yang belum kupakai."

Nathan tersenyum tipis. "Tuan Muda memesan gaun ini secara khusus dari perancang langganan beliau di Paris sejak dua hari lalu, Nyonya Muda. Tuan Muda bilang, gaun ini memiliki warna dan potongan yang sengaja beliau pilih sendiri agar cocok dengan Anda malam ini."

Celeste mematung sejenak, menatap kotak hadiah itu dengan perasaan campur aduk. Lucian... pria irit bicara dan terkesan dingin itu, ternyata memikirkan penampilannya hingga sedetail ini di tengah kesibukan kantornya?

"Tolong sampaikan terima kasihku kepadanya," bisik Celeste halus.

"Pasti, Nyonya Muda. Nanti malam pukul tujuh, Tuan Muda sendiri yang akan pulang untuk menjemput Anda," pamit Nathan membungkuk sekali lagi sebelum berbalik pergi.

Begitu Nathan dan pengawalnya keluar, Mei bergegas mendekati meja dan ikut melihat Celeste membuka penutup kotak tersebut. Kain sutra berwarna navy gelap yang sangat lembut mengintip dari balik kertas pelindung, berkilau indah terkena pendar lampu ruangan.

"Wah... indah sekali, Nyonya," puji Mei dengan mata berbinar.

Celeste menyentuh permukaan kain sutra itu dengan jemarinya yang hangat. Ada ukiran renda halus di bagian lengan panjangnya yang nampak sangat elegan. Senyum tipis yang tulus mendadak terbit di bibir Celeste. Perlahan, bayangan mengerikan tentang penguasa dunia bawah di benaknya mulai terhapus, berganti dengan rasa penasaran yang mendalam akan sosok suaminya yang penuh perhatian ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!