NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Tetangga Satu Cluster

Tiga jam setelah rapat dimulai, Semesta Talenta mengunggah pernyataan resmi.

Perusahaan mengakui pertunangan Denny dan Amara telah berakhir, menegaskan bahwa hubunganku dengan Denny murni profesional, lalu mengajak publik fokus pada karya serta fakta yang dapat diverifikasi. Tidak ada serangan balik emosional. Tim hukum menyimpan seluruh unggahan sebelum mengirim somasi dan menyiapkan gugatan.

Nama Denny tidak langsung diselamatkan. Bu Kanya berhasil menghubungi Tante Lily, tetapi isi pembicaraan mereka dirahasiakan sampai Denny kembali.

"Untuk sementara jangan muncul di depan kamera," kata Bu Kanya kepadaku. "Bekerja dari rumah sampai komentar mereda."

Radit mengantarku pulang. Di mobil, aku akhirnya membicarakan hubungan keluarganya.

"Aku tahu Bu Kanya kakakmu. Kamu nggak perlu merasa harus membelaku karena dia menempatkanmu di timku. Kalau mau, kita bisa kembali murni jadi atasan dan asisten. Panggil aku Kak Anji seperti biasa."

"Aku memanggil Kak karena sengaja bikin kamu kesal," katanya cepat. "Bukan karena aku menganggapmu cuma kakak kelas."

"Radit..."

"Sebagai asisten dan sebagai laki-laki, aku serius sama kamu."

Aku memandang hujan di kaca. "Aku sudah bilang tidak punya rencana menikah."

"Aku dengar. Aku juga belum melamar."

Ia tidak mendesak jawaban. Mobil terus bergerak, tetapi pengakuannya tinggal di antara kami.

Malam itu, Selvi membagikan unggahan Amara dengan tulisan tentang perempuan yang menyalahgunakan jabatan. Surya ikut menulis bahwa selama berpacaran ia selalu curiga dengan kedekatanku dan Denny.

Dua orang yang tertangkap berselingkuh kini berdiri di barisan paling depan menuduhku pelakor.

Akun gosip menyatukan semua unggahan. Nomor telepon dan nama kompleks tempat tinggalku tersebar. Panggilan dari nomor asing masuk tanpa henti. Keesokan pagi, paparazzi memenuhi gerbang sampai penghuni lain kesulitan keluar.

Tim keamanan kompleks mencatat identitas kendaraan yang menghalangi jalan dan memasang pembatas. Semesta Talenta mengirim petugas keamanan tambahan, sementara tim hukum mengirim permintaan penghapusan untuk unggahan yang menyebarkan data pribadi. Aku mengganti nomor sementara dan meminta semua komunikasi kerja masuk melalui alamat surel resmi.

Meski begitu, komentar tetap lolos. Ada yang mengancam mendatangi rumah, ada yang mengirim foto pintu cluster, dan ada pula yang mengaku tinggal di lingkungan yang sama. Semua tangkapan layar masuk folder bukti. Untuk pertama kalinya, tuduhan daring terasa memiliki langkah kaki di luar pagar.

Aku mengaktifkan mode jangan ganggu, memasak Indomie, lalu tertidur di sofa karena semalaman tidak berhenti memeriksa dokumen hukum.

Bel pintu berbunyi menjelang sore.

Radit berdiri di luar membawa dua tas belanja besar.

"Kok bisa masuk cluster?"

Ia mengangkat kartu akses. "Aku kan pemilik unit. Boleh masuk dong."

"Sejak kapan?"

"Dua hari lalu. Ada rumah kosong tiga blok dari sini. Aku beli."

"Kamu membeli rumah supaya bisa melewati paparazzi?"

"Aku membeli karena khawatir Kak Anji nggak makan dan nggak akan membuka pintu kalau kukirim orang lain. Aku tetap nggak masuk rumahmu tanpa izin."

Aku mempersilahkannya masuk. Ia menemukan mangkuk mi di meja, menghela napas, lalu mengambil alih dapur. Satu jam kemudian ada ayam kecap, tumis sayur, sup jagung, dan nasi hangat.

"Dana keluargamu masih dibekukan?" tanyaku.

Pisau di tangannya berhenti.

"Sebenarnya itu bohong."

Radit mengaku Ferrari dan uangnya tidak pernah dibekukan. Ia kalah dalam balapan liar dengan beberapa teman, lalu menerima hukuman menjadi pengemudi aplikasi selama satu minggu. Akun dan kendaraan didaftarkan secara resmi untuk hukuman itu.

"Jadi kamu bukan anak kaya yang dibuang?"

"Anak kaya yang kalah taruhan. Sekarang sih, kalahnya sepadan. Aku ketemu Kak Anji."

"Dan kamu benar-benar ahli waris Sanjaya Group?"

"Kak Kanya yang dipersiapkan memimpin. Papa masih berharap aku masuk setelah pulang. Aku menolak karena ingin merancang bangunan, bukan duduk mengurus holding."

Ia membuka ponsel dan menunjukkan satu gambar struktur menara yang pernah kulihat di laptopnya. Garis-garisnya tajam dan berani, sama sekali berbeda dari wajah jahil seorang asisten.

"Aku sedang menyelesaikan proposal bersama Graha Hastarupa Architects. Kalau lolos tender, aku akan bekerja di sana penuh waktu."

"Jadi posisi asisten ini sementara?"

"Posisinya sementara. Alasan aku mendekat tidak."

"Balapan liar berbahaya dan bukan bahan pamer."

"Aku tahu. Setelah itu aku berhenti ikut."

Aku menyuruhnya kembali ke jalur hidupnya. Gelar arsitektur, keluarga Sanjaya, dan peluang memimpin perusahaan terlalu besar untuk dibuang demi menjadi asistanku.

"Aku nggak pantas membuatmu meninggalkan semua itu."

Radit meletakkan piring di depanku. "Pantas atau nggaknya kamu nggak ada hubungannya dengan pilihan pekerjaanku. Aku memilih arsitektur karena aku suka. Aku memilih dekat kamu juga karena aku suka."

Hari berikutnya ia datang lagi membawa makan siang. Aku tidak membukakan pintu. Ia meninggalkan makanan di kursi teras dan mengirim foto.

Begitu terus selama seminggu. Paparazzi menyerah pada hari keempat. Radit tidak.

Pada hari kedua ia membawa bubur dan menunggu di rumah barunya sambil melakukan panggilan kerja. Hari ketiga ada sayur asem dan secarik kertas berisi pengingat minum. Hari kelima aku membuka pintu hanya untuk mengambil wadah, tetapi ia sudah berjalan pulang tanpa mencoba masuk.

Ketekunannya tidak terasa seperti pengepungan karena setiap penolakan kuhormati. Ia memastikan aku makan, lalu pergi. Justru ruang yang diberikannya membuat kehadirannya semakin sulit kuabaikan.

Pernyataan perusahaan dan bukti tandingan perlahan membalik opini. Pada hari ulang tahunku, tim hukum mengirim kabar bahwa pendaftaran gugatan telah diterima pengadilan. Prosesnya masih panjang, tetapi tuduhan itu akhirnya memiliki jalur pertanggungjawaban.

Dinda datang membawa kue. Ia memaksa lampu dipadamkan dan menyuruhku membuat harapan sebelum meniup lilin.

"Sebelum lo bikin keputusan bodoh," katanya sambil memasang lilin, "ingat, cowok itu bisa saja pakai nama keluarga buat menerobos gerbang. Tapi dia tetap pencet bel dan menunggu izin masuk."

"Dia membeli rumah tiga blok dari sini. Itu juga gila."

"Gila, iya. Tapi alamat rumahnya sendiri, bukan kunci rumah lo. Bedakan orang yang mendekat dengan orang yang mengambil kendali."

Aku tidak menjawab. Setelah Surya dan Wahyuni, perbedaan kecil itu justru terasa sangat besar.

Bel berbunyi lagi. Radit muncul dengan makanan, kali ini tanpa masuk sebelum kuizinkan.

"Buat harapan keras-keras," kata Dinda. "Biar semesta dengar."

Aku menatap Radit di seberang lilin. Wajahnya tetap tenang meski selama seminggu aku hanya menerima makanannya, bukan dirinya.

"Aku berharap," kataku pelan, "Radit berhenti menyukai aku."

Dinda hampir menjatuhkan piring.

Radit justru tersenyum. "Oke."

Dadaku sakit mendengar jawaban yang kuminta sendiri.

Ia berjalan mengelilingi meja dan berhenti di hadapanku.

Lilin terus memendek, tetapi tak seorang pun di ruangan berani memecah keheningan di antara kami.

"Kalau begitu," bisiknya, "boleh nggak aku mencintaimu, Jani?"

1
imel
sudut pandang ceritanya menarik.. keren 👍👍
imel
baru mulai baca, sepertinya menarik 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!