NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.

Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.

Seharusnya ia ikut kabur.

Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.

“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”

Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Sementara itu, di kediaman keluarga Hale, Elena mondar-mandir di ruang tamu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Sebastian belum juga pulang. Tiga jam sudah berlalu sejak kepergiannya, dan tak ada satu pesan pun yang masuk.

"Kenapa lama sekali?" gumamnya gelisah. Ia berhenti di depan jendela, menatap jalanan yang mulai sepi. "Dia orang penting, pasti aman. Tapi tetap saja..."

Ia mengambil ponselnya, mengetik lalu menghapus, mengetik lagi lalu menghapus lagi. Hingga akhirnya ia menekan tombol kirim pada satu pesan singkat: Suamiku, kau masih hidup kan?

Tak sampai satu menit, balasan masuk. Sebentar lagi pulang.

Elena tersenyum lega. Namun senyum itu segera lenyap saat pesan berikutnya muncul. Jangan keluar rumah malam ini. Kunci semua pintu dan jendela.

Jantung Elena berdebar kencang. Kenapa? Ada apa?

Tak ada balasan. Ia menunggu lima menit, sepuluh menit.. tetap sunyi. Hingga tiba-tiba ponselnya bergetar lagi. Bukan dari Sebastian. Dari nomor lain yang belum pernah ia kenal.

Suamimu sudah menemukan Victor. Sekarang tanyakan padanya tentang surat ayahmu.

Elena mundur perlahan, punggungnya menempel ke sofa. Surat ayahnya? Apa isi surat itu? Dan kenapa orang asing ini tahu semua yang sedang terjadi? Untuk pertama kalinya, ia merasa takut bukan karena kehilangan harta atau kenyamanan melainkan karena menyadari bahwa hidupnya, masa lalunya, dan siapa dirinya sebenarnya, semuanya telah disembunyikan dari dirinya sendiri.

Di gedung tua itu, Sebastian berdiri diam di depan jendela setelah Victor pergi. Sebelum meninggalkan ruangan, pria tua itu sempat berhenti di pintu dan berkata pelan, "Jaga Elena baik-baik, Sebastian. Karena jika orang-orang itu mengetahui bahwa dia masih hidup dan berada di sisimu... pernikahan kalian bukan lagi sekadar perjanjian keluarga."

Sebastian menoleh cepat. "Lalu apa jadinya?"

Victor menatapnya untuk terakhir kalinya sebelum melangkah pergi. "Pernikahan kalian akan menjadi alasan utama mereka untuk memburunya. Dan kali ini, mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya."

***

Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan hampir tengah malam ketika suara mobil Sebastian akhirnya terdengar memasuki halaman. Elena bangkit dari sofa, jantungnya berdebar kencang.

Pintu depan terbuka. Sebastian masuk dengan langkah berat, wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Saat melihat Elena masih terjaga, ia berhenti sejenak.

"Kau belum tidur?"

Elena menggeleng pelan. "Aku menunggumu."

Sebastian melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran sofa. "Kau seharusnya sudah beristirahat."

"Aku tidak bisa." Elena berdiri dan melangkah mendekat. "Suamiku pergi menemui pria yang mungkin berbahaya, lalu menyuruhku tetap di rumah tanpa penjelasan apa pun. Bagaimana aku bisa tidur?"

Sebastian menghela napas panjang. "Aku sudah bilang aku akan kembali."

"Dan kau kembali tiga jam kemudian." Elena menunjuk jam di dinding. "Apa yang terjadi? Dengan Victor, kan?"

Sebastian terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Ya. Banyak hal yang harus kuselesaikan dengannya."

"Apa yang dia katakan?"

"Semuanya." Sebastian berjalan menuju meja, lalu mengeluarkan sebuah amplop tua berwarna putih kekuningan dari saku jasnya. "Dan ada sesuatu yang harus kuberikan padamu."

Elena menatap amplop itu dengan mata membelalak. "Itu..."

"Surat dari ayahmu."

Jantung Elena berdegup kencang. Ia mendekat perlahan, tangannya gemetar saat menerima benda itu. Di bagian depan, tertulis rapi namun mulai pudar: Untuk Elena. Tulisan tangan yang begitu ia kenal, namun sudah lama tak ia lihat. Dadanya terasa sesak seketika.

"Kenapa baru sekarang kuberikan padamu?" Sebastian seolah membaca pikirannya. "Aku harus memastikan isinya tidak akan membahayakanmu."

Elena tidak menjawab. Ia membuka lipatan amplop itu dengan hati-hati, mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah menguning. Tulisan tangan ayahnya memenuhi setiap barisnya.

[Elena, jika suatu hari kau membaca surat ini, kemungkinan besar aku sudah tidak ada di sisimu untuk menjelaskan semuanya secara langsung. Aku memintamu membacanya sampai selesai, apa pun yang terjadi.]

Elena berhenti sejenak, menahan air mata yang mulai menggenang. Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan membaca.

[Aku tahu suatu hari kau akan bertanya, mengapa keluarga kita begitu terikat dengan keluarga Hale? Jawabannya tidak sederhana. Dua belas tahun lalu, keluarga kita berada di ambang kehancuran. Bukan sekadar masalah bisnis. Seseorang yang paling aku percaya telah mengkhianati kita.]

Elena mendongak. "Victor..."

Sebastian mengangguk pelan. "Lanjutkan."

[Orang itu adalah Victor Armand. Tapi ketahuilah, Victor bukan satu-satunya. Ada seseorang yang berdiri di belakangnya, menarik semua benang ini. Aku tidak pernah tahu siapa dia secara pasti. Tapi aku tahu satu hal bahwa orang itu menginginkan sesuatu yang paling berharga bagiku. Kau, Elena. Dia menginginkanmu.]

Tangan Elena gemetar hebat hingga kertas itu hampir terlepas. "Aku? Kenapa aku?"

Jika mereka mengetahui kau masih hidup dan berada di bawah perlindungan keluarga Hale, mereka akan datang mencarimu. Itulah sebabnya aku meminta Sebastian untuk melindungimu.

Elena menatap Sebastian tak percaya. "Ayahku... memintamu melindungiku? Sejak dua belas tahun lalu?"

"Ya." Sebastian menatapnya lekat. "Aku berjanji pada ayahmu, sebelum aku benar-benar mengerti arti dari janji itu sendiri."

Elena mendongak perlahan. "Sebastian... aku tidak pernah sakit parah. Aku tidak pernah kecelakaan. Tapi ayahku bilang aku kehilangan ingatan."

Sebastian terdiam. Keheningan itu menjawab segalanya.

"Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, bukan?" tanya Elena pelan namun tegas.

"Ada satu hal yang belum kukatakan." Sebastian menarik napas panjang, seolah sedang mengangkat beban berat dari dadanya. "Saat kau masih kecil... kau pernah menghilang."

Elena membeku. "Menghilang?"

"Selama beberapa jam. Kami semua mencarimu ke mana-mana. Hingga akhirnya Victor yang menemukanmu."

"Victor?" Elena tak percaya. "Pria itu?"

"Ya. Dan setelah kau kembali... kau berubah. Kau tidak lagi mengingat banyak hal yang terjadi sebelum hari itu."

1
MomRea
lanjut Thor... makin penasaran 😊
mauza
next😘😘😘😘😘
mauza
up
mauza
ditunggu upnya thor 😘😘
mauza
next
mauza
nah kan..
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘
mauza
pinisirin ttp lanjut
mauza
up
mauza
😘😘😘😍😍😍/Rose//Rose//Rose//Rose/
mauza
lanjut trussss💪💪
mauza
lanjut kk
mauza
hati" dan ttp semangat
mauza
next
mauza
up
mauza
/Determined//Determined//Determined//Determined/
mauza
next😘😘
mauza
lanjutkan thorrr👍😘😘
mauza
up
mauza
lanjuttt👍💪
mauza
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!