Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.31 Kemurkaan Tuan Hermawan
Eldrick menoleh kepada Will.
"Hubungi tuan Hermawan."
"Baik tuan."
Nyonya Hermawan tampak gugup. Dia sama sekali tidak menduga hal ini. Dia pikir Eldrick akan mendukungnya tapi ternyata dia salah.
Eldrick menoleh kepada Lily. Dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kamu punya hubungan dengan tuan Hermawan?"
Lily menatap suaminya.
"Tidak. Aku tidak punya hubungan dengan tuan Hermawan. Foto yang kalian lihat tidak seperti yang kalian pikirkan. Foto itu tampaknya di ambil kemarin. Kami tidak sengaja bertemu."Ujar Lily menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Grace mendekat.
"Aku percaya kepada mu Lily."Ujar Grace tersenyum kecil.
Lily menoleh kepada Grace.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan mereka memperlakukan kita semena-semena."
Grace tersenyum kecil mendengar ucapan Lily.
Wil mendekat.
"Tuan Hermawan dalam perjalanan kemari tuan."
"Kita akan tahu apa yang terjadi setelah tuan Hermawan datang."
Ana yang berdiri di belakan mereka terlihat gugup. Tangannya memegang ujung meja. Ana bahkan merasakan detak jantungnya berdetak tidak karuan.
Begitu juga dengan nyonya Hermawan. Dia mulai ketakutan. Dia melakukan hal itu bukan karena ingin berpisah dari suaminya. Tapi semua itu karena hasutan seseorang.
"Tuan Hermawan sudah tiba."
Semua orang menoleh.
Pria tua itu melangkah masuk dan menghampiri Eldrick.
"Maaf tuan Eldrick. Apa yang telah di lakukan oleh istriku di sini?"
Tuan Hermawan bertanya kepada Eldrick yang terlihat tidak senang.
"Istri anda menuduh karyawan saya berselingkuh dengan anda."
Mata tuan Hermawan membelalak. Wajahnya seketika memerah.
"Siapa karyawan anda yang telah di fitnah tuan Eldrick?"
Lily maju.
"Saya tuan Hermawan."
Tuan Hermawan menoleh.
Netranya langsung tertuju kepada Lily. Detik itu juga tuan Hermawan merasakan seluruh tubuhnya melemah. Dia hampir saja tidak bisa menopang tubuhnya.
"Kamu baik-baik saja tuan?"
Lily mendekati tuan Hermawan.
"Maafkan saya. Semua ini salah saya."Tuan Hermawan menunduk meminta maaf di depan Lily.
Semua karyawan terlihat begitu terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka jika tuan Hermawan akan meminta maaf seperti itu di hadapan karyawan biasa seperti Lily. Tapi mereka tidak tahu identitas Lily yang sebenarnya tapi tuan Hermawan tahu Lily yang sebenarnya.
"Minta maaf kepada dia."Ujar tuan Hermawan kepada istrinya.
"Maafkan aku nona. Saya telah salah paham."Nyonya Hermawan meminta maaf kepada Lily di depan semua orang.
Ana yang melihat hal itu diam-diam meninggalkan ruangan itu. Nyonya Hermawan melihat sekeliling. Dia tidak melihat Ana di dalam ruangan itu.
Tuan Hermawan mendekati Eldrick kembali.
"Tuan Eldrick masalah ini saya minta maaf. Semua masalah yang di sebabkan oleh istri saya adalah kelalaian kami."Ujar tuan Hermawan.
"Sebaiknya jangan ada masalah seperti ini lagi tuan Hermawan."
"Baik tuan."
Tuan Hermawan meninggalkan perusahaan Eldrick.
"Jangan ada masalah seperti ini lagi. Siapa pun yang menyebar fitnah ini akan mendapatkan hukuman."
Eldrick dan Will meninggalkan ruangan itu.
Di sisi lain. Nyonya Hermawan menoleh kepada tuan Hermawan.
"Sayang maafkan aku."Ujar nyonya Hermawan meminta maaf kepada suaminya.
Tuan Hermawan tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Sayang."
Tuan Hermawan masih diam.
Setibanya di depan rumah mereka. Tuan Hermawan turun dari mobil dan menyeret istrinya masuk ke dalam rumah.
"Apa kamu sudah gila? Kamu tahu wanita yang kamu tuduh itu?"
Tuan Hermawan terlihat begitu murka.
"Memangnya dia siapa?"
"Dia istri tuan Eldrick. Jika kamu buka mulut tentangnya maka aku akan menceraikan mu. Jangan pernah mengungkit tentang wanita itu lagi. Dia itu nyonya Eldrick."
Nyonya Hermawan ketakutan. Air matanya mengalir begitu saja. Tangannya gemetar karena rasa takut.
"Lalu bagaimana sekarang sayang?"
"Bersyukurlah kamu masih ada di sini."
Nyonya Hermawan terjatuh ke lantai.
"Bagaimana ini? Jika tuan Eldrick murka maka ini berpengaruh pada perusahaan."Lirih nyonya Hermawan.
Drtt.
Tuan Hermawan mengangkat teleponnya.
Tanpa sadar ponselnya terjatuh ke lantai. Detik itu juga tuan Hermawan hilang kendali.
Pria tua itu kembali menampar wajah istrinya sebanyak dua kali. Kali ini dia benar-benar murka.
"Sayang, maafkan aku. Aku bersalah atas semua ini."Lirih nyonya Hermawan penuh ketakutan. Dia benar-benar ketakutan saat melihat suaminya murka.
"Memaafkan mu? Setelah semua yang terjadi? Kamu sudah menyinggung istri tuan Eldrick. Sekarang perusahaannya membatalkan kerja sama kita. Apa kamu tahu apa yang akan terjadi? Perusahaan sangat bergantung pada perusaan tuan Eldrick."Ujar tuan Hermawan dengan berapi-api.
Kesalahan yang di lakukan oleh sang istri begitu fatal. Tuan Hermawan tidak tahu apakah perusahaan miliknya bisa di selamatkan atau tidak.
"Aku tidak mau tahu. Kamu harus membujuk istri tuan Eldrick. Bahkan jika dia memintamu bersujud kamu juga harus melakukannya."Ujar tuan Hermawan dengan murka.
Nyonya Hermawan membeku di tempatnya. Harga dirinya begitu tinggi tapi dia tetap bersedia melakukannya.
"Aku akan memohon kepada istri tuan Eldrick."
Mendengar jawaban istrinya. Tuan Hermawan meninggalkan sang istri. Pria paruh baya itu kembali ke perusahaan.
Begitu sang suami pergi. Nyonya Hermawan mengepalkan tangannya.
"Jika aku jatuh maka seseorang juga harus merasakan hal yang sama."Gumam nyonya Hermawan.
Wanita paruh baya itu merain ponselnya.
"Laporkan aku tentang wanita yang bernama Ana Colins. Aku akan memberi wanita itu pelajaran."
"Baik nyonya."
Nyonya Hermawan mematikan teleponnya. Dia duduk di sofa. Dia mengusap air matanya dan duduk menatap layar ponselnya.
Hembusan nafas kasar berkali-kali terdengar dari bibirnya. Sementara itu di depan perusahaan Eldrick.
Ana terlihat gelisah. Dia sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi.
"Apa yang akan terjadi?" Ana menghembuskan nafas kasar.
Tangannya memegang kuat kemudi. Beberapa menit kemudian. Dia melaju dengan kecepatan penuh meninggalkan perusahaan.
Ana kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Ana di kuasai dengan rasa penasaran.
"Kenapa kamu selalu saja lolos Lily? Aku selalu saja gagal menyingkirkan mu. Aku tidak menyangka jika rencana ku telah gagal."Gumam Ana.
Kini dia tiba di depan mansion. Netranya langsung tertuju kepada mobil putih yang terparkir di depan mansion.
Dengan rasa penasaran. Ana turun dari mobil miliknya. Dia melangkah masuk ke dalam.
Baru saja tiba di ruang tamu. Tubuh Ana membeku saat melihat seseorang yang sedang bersama mamah dan neneknya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"Tanya Ana menatap ke arah seseorang yang terlihat tidak senang saat melihat dirinya.
Nyonya Collins beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri cucunya.
Plak...
Semua orang tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Terlebih dengan Ana. Neneknya sama sekali tidak pernah melakukan hal ini.
"Apa yang nenek lakukan?"Lirih Ana memegangi pipinya yang terasa perih.