NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Dendam Yang Terbalaskan

Suara mesin motor sport meraung di halaman rumah Rania pagi itu.

Vroom!

Sebuah motor berhenti tepat di depan teras.

Daffa turun dengan wajah tegang.

Tanpa membuang waktu, ia langsung masuk ke dalam rumah.

"Brian!" Suara Daffa menggema, memenuhi setiap sudut ruangan.

"Brian!" ia terus mencari hingga akhirnya menemukan pria itu berdiri di sisi jendela ruang makan.

Brian tampak begitu tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.

"Brian, apa kau sudah gila?" Daffa berjalan mendekat. "Kau menghancurkan kehidupan Mona!"

Brian tidak langsung menjawab. Ia masih menatap keluar jendela.

Kemudian, dengan suara dingin, ia berkata, "Dia pengganggu." Brian akhirnya menoleh. "Dan kau lebih dari itu."

Daffa mengepalkan kedua tangannya. "Jika kau ingin membalas dendam kepadaku, lakukan dengan benar!"

Tatapannya penuh amarah. "Jangan melibatkan orang lain di dalamnya!"

Ingatan mengenai pagi tadi kembali terlintas di kepalanya. Wajah Mona yang pucat. Luka di lengannya. Dan kenyataan bahwa mereka terbangun di ranjang yang sama.

Daffa menatap punggung Brian dengan penuh kebencian.

Namun Brian justru tersenyum tipis.

"Aku justru sedang menyelamatkan hidup Mona." Brian berbalik. "Sekaligus menyelamatkan hidup istriku, Daffa."

Daffa langsung mendekat. "Omong kosong apa yang kau bicarakan?"

Tangannya meraih kerah kemeja Brian dengan kasar. "Kau justru menghancurkan kehidupan kedua wanita itu!"

Brian tidak bergeming. Tatapannya tetap dingin. "Dan kau juga sedang mencoba menghancurkan kehidupan anakku yang berada di rahim Rania."

Daffa terdiam sesaat. Keduanya saling menatap tajam.

Kemudian Brian memasukkan tangannya ke dalam saku. Sebuah botol kecil dikeluarkan.

Di dalamnya terdapat serbuk yang mencurigakan.

Brian mengangkat botol itu di depan wajah Daffa. "Sejak kapan kau merencanakan untuk melenyapkan buah cintaku dan Rania?"

Tatapan Brian berubah tajam. Daffa membeku.

Namun beberapa detik kemudian, ia menjawab dengan suara rendah.

"Sejak aku membencimu." Daffa mengepalkan tangannya.

Kemudian ia mengangkat tinjunya.

Namun sebelum pukulan itu melayang...

"Hentikan!" Suara Rania terdengar.

Daffa langsung menoleh. "Rania..."

Pria itu segera melepaskan kerah Brian. Ia berjalan menghampiri Rania.

Namun Rania justru mundur beberapa langkah.

Tatapannya penuh kekecewaan. "Kau jahat, Daffa."

Suara Rania bergetar. "Aku benci kau."

Daffa membeku.

Rania langsung berbalik dan meninggalkan ruangan.

"Rania!" Daffa segera mengejarnya.

Namun sebelum meninggalkan ruangan, ia sempat menoleh.

Brian masih berdiri di tempatnya. Tatapan kedua pria itu kembali bertemu. Tidak ada kata-kata.

Hanya kebencian yang semakin dalam.

Daffa akhirnya pergi menyusul Rania.

Brian merapikan kerah kemeja putihnya. Kemudian ia bergumam pelan, "semua ini belum selesai." Senyum miring muncul di bibirnya. "Masih ada kejutan lain untukmu yang sedang menanti.”

Brian menyeringai.

Kemudian ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

Rio sudah menunggunya. "Tuan, kita ke perusahaan sekarang?"

"Tidak." Brian membuka pintu mobil. "Kita ke PT. Herbalife."

Rio mengerutkan kening. "Bukankah Tuan memiliki pertemuan bisnis pagi ini?"

"Kau yang tangani." Brian masuk ke dalam mobil. "Sepertinya Rania tidak bisa hadir ke kantornya hari ini."

"Baik, Tuan." Rio masuk ke kursi pengemudi.

Beberapa detik kemudian, mobil itu meninggalkan halaman rumah Rania.

Sementara itu...

Daffa sudah bertekuk lutut di hadapan Rania, ia memeluk tubuh perempuan yang sedang duduk di kursi tunggal dekat jendela.

"Rania, maafkan aku."!Suara Daffa terdengar penuh penyesalan. "Aku benar-benar tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi."

Daffa menggenggam jemari Rania. Kemudian ia membimbing tangan perempuan itu menuju wajahnya sendiri.

"Kalau kau marah... tampar aku."

Rania hanya menangis.

Daffa menundukkan kepalanya. "Aku pantas mendapatkannya."

Namun Rania tidak bergerak.

Daffa akhirnya melepaskan tangan Rania. "Pagi ini..." Ia menarik napas berat. "Aku terbangun bersama Mona."

Rania perlahan mengangkat wajahnya.

Daffa menatapnya. "Dan semua itu... sengaja dilakukan Brian."

Wajah Daffa terlihat begitu tertekan. Ia benar-benar berada dalam keadaan terdesak.

Daffa kembali memeluk Rania.

Pelukannya begitu erat, seolah takut kehilangan perempuan yang selama ini ia cintai.

Rania bisa merasakan tubuh pria itu gemetar.

Gelisah.

Takut.

Rania menelan ludah. Kemudian ia mengusap air matanya sendiri. Tangannya perlahan bergerak membelai rambut Daffa.

Daffa terdiam.

Beberapa saat kemudian, ia melerai pelukannya.

Kepalanya terangkat. Tatapannya bertemu dengan mata Rania.

"Bagaimana keadaan Mona sekarang?" tanya Rania.

Daffa terdiam. "Dia terluka."

Rania langsung menatapnya. "Seberapa parah?"

"Aku... mendorongnya." Daffa menundukkan kepala. "Hingga lengannya terkena pecahan kaca."

"Astaga..." lirih Rania.

Daffa kembali menatapnya. Namun tiba-tiba ekspresinya berubah. "Rania, aku punya rencana."

Deg! Rania langsung merasa tidak enak.

Melihat mimik wajah Daffa, ia bisa merasakan ada sesuatu yang salah.

"Rencana apa?" tanya Rania dengan sangat hati-hati.

Daffa tersenyum. "Bagaimana kalau kita menikah?"

Rania membelalakkan matanya. "Apa?"

"Kemudian aku akan menikahi Meyra sesuai perintah Ayah." Daffa mengatakannya begitu saja. "Dan Mona..." ia berhenti sejenak. "Akan menjadi istri ketigaku."

Rania terdiam. Matanya membesar. Ia bahkan tidak tahu harus berkata apa.

Pria di hadapannya benar-benar sudah kehilangan akal.

Rania menarik napas dalam-dalam. Ia tidak boleh gegabah.

Tidak boleh memperlihatkan keterkejutannya terlalu jelas.

Karena Daffa saat ini sedang berada dalam keadaan yang sangat tidak stabil.

Namun di balik semua itu...

Ada satu hal yang sama sekali tidak Rania ketahui.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang Brian rencanakan terhadap Daffa.

Dan yang lebih mengerikan...

Pembalasan Brian baru saja dimulai.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!