Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Sumpah Masa Lalu dan Pengantin Tumbal
Malam semakin larut, namun denyut kehidupan di kota Manhattan tidak pernah benar-benar mati. Di balik gemerlap lampu neon yang memantul di atas aspal basah, sebuah mobil sedan hitam berteknologi tinggi melaju tanpa suara membelah jalanan distrik utara menuju kompleks rumah sakit swasta eksklusif—tempat di mana faksi utama sindikat menyimpan rahasia terbesar mereka. Di balik dinding kaca anti-peluru lantai teratas rumah sakit itu, Bianca terbaring di atas ranjang perawatan VVIP setelah berbulan-bulan terlelap dalam koma panjang.
Di dalam kabin belakang SUV lapis baja yang mengikuti dari kejauhan, atmosfer terasa begitu padat oleh sisa-sisa ketegangan malam sebelumnya. Ceisya duduk bersandar pada bahu Sylus, manik mata hijau terangnya menatap lurus ke arah layar tablet yang menampilkan denah tata letak gedung rumah sakit tersebut. Meskipun ancaman dari Seraphina telah resmi disingkirkan dari peta, lembaran lama yang kembali terungkit kini menuntut penyelesaian yang jauh lebih mendalam.
"Logan melaporkan bahwa para tetua dewan sindikat sudah berkumpul di lantai tiga," bisik Ceisya pelan, jemari lentiknya menggeser layar untuk melihat daftar nama pengawal yang berjaga di koridor utama. "Mereka menunggu Bianca pulih sepenuhnya, membawa kembali dongeng masa kecil tentang perjanjian darah antara keluarga kita dan kakekmu."
Sylus mendengus pelan, sebelah tangannya merapikan helaian rambut hitam Ceisya sebelum mendaratkan ciuman ringan di puncak kepala istrinya. Manik mata merah menyala pria itu memancarkan kilat kebencian yang dingin terhadap ikatan masa lalu yang selalu dielu-elukan oleh para petinggi tua sindikat.
"Perjanjian konyol itu dibuat ketika aku bahkan belum tahu arti dari kekuasaan," jawab Sylus dengan suara bariton yang dalam dan berwibawa. "Keluarga ibu Bianca memang pernah mempertaruhkan nyawa untuk kakekku, dan sebagai balasannya, kakek menetapkan bahwa cucu perempuan dari garis keturunan itu harus menjadi menantunya. Mereka mengira aku akan terikat seumur hidup pada nama Bianca—sahabat masa kecil yang diatur oleh takdir kertas."
Ceisya tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat membentuk garis sinis yang indah. "Dan ketika kau harus menunaikan sumpah itu, gadis pilihan mereka justru terbaring koma di atas ranjang rumah sakit. Alih-alih membatalkan takdir atau menunggu, keluarga suci kita dengan keji mencari jalan pintas."
"Mereka mencariku," lanjut Ceisya, manik mata hijaunya berpendar tajam dalam temaram cahaya kabin. "Putri yang selama ini dicap cengeng, pembuat onar, dan aib keluarga. Mereka menyeretku keluar dari kegelapan, memaksaku menandatangani kontrak pernikahan darah itu, dan melemparkanku ke sarangmu sebagai tumbal pengganti—berharap aku hancur berkeping-keping di hari pertama."
Sylus mengeratkan dekapannya, seolah ingin menyerap seluruh luka masa lalu itu ke dalam tubuhnya sendiri. Pria itu menatap wajah istrinya dengan pemujaan yang teramat dalam. "Mereka mengira sedang mengirimkan anak domba yang lemah untuk mati di bawah taringku. Mereka tidak tahu bahwa di balik air mata dan cap buruk itu, tersimpan jiwa seorang ratu sejati yang jauh lebih berbahaya dari apapun di dunia ini."
Kendaraan mereka berhenti di area parkir khusus bawah tanah rumah sakit tanpa menarik perhatian sedikit pun. Dengan pengamanan ketat yang dipimpin langsung oleh Logan di luar gedung, Sylus dan Ceisya melangkah keluar dari mobil. Mantel hitam panjang yang mereka kenakan berkibar pelan diterpa angin malam, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat para petugas keamanan rumah sakit seketika menunduk ketakutan saat melihat sosok The Crimson King melintas di koridor privat.
Langkah kaki mereka menembus lift khusus menuju lantai sembilan—zona eksklusif yang steril dari pasien umum. Sepanjang koridor berkarpet tebal berwarna merah anggur itu, beberapa pengawal pribadi dewan sindikat tampak berdiri tegak berjaga di depan pintu ganda kayu jati berukir. Namun, melihat siapa yang datang dengan tatapan mematikan, para pengawal itu tidak berani mengangkat senjata; mereka mundur perlahan, membuka jalan bagi sang penguasa mutlak.
Sylus mendorong pintu ganda tersebut hingga terbuka lebar dengan suara derit yang nyaring.
Di dalam kamar perawatan yang luas dan bernuansa putih bersih itu, bau antiseptik berpadu dengan aroma bunga segar. Di atas ranjang berukuran besar, sesosok wanita berambut pirang keemasan dengan wajah pucat namun tetap memancarkan kecantikan klasik tengah duduk bersandar pada bantal. Itu adalah Bianca. Pemeran utama wanita yang baru saja ditarik kembali dari ambang kematian oleh takdir novel, dan gadis kecil yang dulu dijanjikan sebagai pengantin Sylus.
Mendengar suara pintu terbuka, Bianca mendongak cepat. Manik mata biru terangnya langsung terpaku pada sosok pria tinggi berjas hitam legam yang melangkah masuk dengan tegap—pria yang selama bertahun-tahun menempati ruang di hatinya sebagai satu-satunya tunangan sah berdasarkan sumpah leluhur.
"Sylus...?" suara Bianca terdengar serak, parau, dan bergetar hebat penuh haru. Air mata langsung menetes di pipinya yang pucat. "Kau... kau datang menjemputku? Aku tahu... aku tahu kau tidak akan pernah melupakan perjanjian kita. Kau datang untuk menunaikan ikrar masa kecil itu, kan?"
Bianca merentangkan kedua tangannya yang masih terpasang jarum infus, bersiap menyambut pelukan pria yang dalam naskah asli seharusnya menjadi pelindung dan suaminya seumur hidup. Namun, langkah Sylus terhenti tepat di tengah ruangan. Pria itu berdiri kaku dengan tangan masuk ke dalam saku celana, manik mata merah menyala miliknya menatap wanita di hadapannya bukan dengan kerinduan, melainkan dengan tatapan kosong penuh kejijikan, seolah ia sedang melihat seekor serangga yang tidak penting.
Dan tepat di belakang Sylus, sosok Ceisya melangkah keluar dari bayang-bayang, berdiri berdampingan dengan sang raja mafia sambil melipat tangan di depan dada. Manik mata hijau terangnya menatap tajam ke arah Bianca dengan senyuman tipis penuh kemenangan.
Mendengar ucapan Bianca tentang perjanjian masa kecil, manik mata biru terang wanita itu tiba-tiba bergeser. Ia menatap sosok yang berdiri di samping Sylus, dan seketika itu juga, napasnya tersangkut di tenggorokan.
"C-Ceisya...?" suara Bianca pecah, napasnya memburu tak beraturan di balik selang oksigen tipis yang melintang di hidungnya. "Bagaimana mungkin... Kau... kau berdiri di sana mengenakan cincin itu? Seharusnya... itu tempatku! Perjanjian itu milikku! Kau hanya figuran tak berguna, kau seharusnya mati di tempatku sebagai tumbal!"
Ceisya melangkah maju satu langkah, mengabaikan teriakan histeris Bianca. Suara sepatu botnya yang menghantam lantai marmer putih terdengar begitu ritmis, mengiris keheningan kamar perawatan yang mendadak terasa mencekam.
"Kau merindukan perjanjian masa kecilmu dengan The Crimson King, Bianca?" balas Ceisya tajam, suaranya mengiris udara kamar VVIP tersebut tanpa ampun. "Sayangnya, ketika takdir menagih janji suci itu dari keluarga kita, kau justru terbaring koma, tak berdaya di ambang kematian!"
Bianca tersentak, tubuhnya menegang di atas ranjang. Ia tidak bisa mengelak. Ketika utusan sindikat datang menuntut pemenuhan sumpah leluhur—di mana keluarga ibu Bianca harus menyerahkan putrinya sebagai pengantin darah—ia sedang tidak sadarkan diri. Dan daripada kehilangan posisi terhormat di sisi sang raja mafia, keluarganya dengan keji memutuskan untuk mengorbankan Ceisya sebagai pengganti.
"Keluarga kita mengira mereka sedang menyerahkan tumbal yang lemah untuk dibunuh oleh monster," lanjut Ceisya dengan suara berbisik namun menusuk hingga ke sumsum tulang belakang, manik mata hijau terangnya menyala terang. "Tapi mereka tidak tahu... iblis inilah yang justru merobek perjanjian busuk kalian, menolak gadis pilihan takdir, dan mengangkatku menjadi satu-satunya Ratu yang berkuasa mutlak di sisinya."
Sylus menyeringai dingin, merengkuh pinggang Ceisya semakin erat ke dalam dekapannya, menyalurkan kehangatan mutlak yang membuat seluruh dunia tahu di mana letak kesetiaan mutlak sang raja mafia. Manik mata merah menyala pria itu menatap rendah ke arah wanita di atas ranjang dengan ancaman yang siap meremukkan tulang.
"Perjanjian masa lalu itu sudah mati bersama kebusukan keluargamu, Bianca," suara bariton Sylus menggema berat, dingin, dan mutlak tanpa ampun. "Aku tidak peduli pada sumpah kakekku atau utang budi darah itu. Satu-satunya wanita yang memiliki hak atas jiwaku, tubuhku, dan singgasanalah adalah wanita yang berdiri di hadapanku saat ini—istriku, Ratu-ku, Ceisya."
Bianca membelalak ngeri, air mata keputusasaan tumpah membasahi pipinya saat ia menyadari bahwa seluruh masa depan yang diimpikannya sejak kecil telah hancur lebur direbut oleh saudari yang selama ini paling ia remehkan. Di ambang pintu, Logan berdiri tegak bersama para pengawal elit, siap mengakhiri sisa-sisa sandiwara keluarga tersebut selamanya.