Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan
Satu tahun perkenalanku dengan Dira ternyata tak berbuah manis. Salahku sendiri memang karena tak pernah menyatakan perasaanku padanya. Ada Jeni yang kujaga perasaannya karena Jeni sering sekali mengucap sayang padaku, bahkan ia sempat menembakku berkali-kali.
Setelah lulus kuliah, Dira langsung menikah dengan kekasihnya yang ternyata adik kandungku sendiri. Bagai tersambar petir rasanya perasaanku kala itu, gadis yang setahun lebih kukagumi ternyata kekasih adikku.
"Mas, gue duluan, ya." Kata Farhan saat itu sambil menatap layar televisi. Seperti biasa saat Farhan pulang ke Surabaya ia selalu mengajakku bermain PS.
"Duluan kemana?" Tanyaku acuh.
"Nikah."
Sontak aku menoleh ke arahnya, tidak percaya dengan celetukannya barusan.
"Emang lo punya calon?" Ledekku. Di mataku Farhan tetaplah anak kecil yang sering mengadu ketika dijahili temannya.
"Yaah belum tahu dia. Cewek gue cantik parah, Mas. Kapan-kapan gue kenalin, deh." Oceh Farhan asal.
Jujur saat itu aku tidak terlalu mempedulikan perkataan Farhan, karena karakternya yang banyak bicara memungkinkan dia untuk bicara melantur.
Saat perkataan Farhan menjadi nyata, disitulah aku mulai terhimpit rasa pilu. Pilu karena hati ini dipaksa menghentikan inginnya. Sehingga rasanya wajar jika aku menolak tinggal satu atap dengan mereka berdua, aku cemburu. Ya, aku cemburu.
Namun siapa yang menyangka akan timbul penyesalan yang lebih dalam setelah penyesalanku kala itu. Jika dulu aku menyesal karena tidak mengungkapkan perasaanku, kini aku menyesal karena telah membuatnya membenciku. Hanya karena mengikuti bisikan setan aku sampai hati menyakitinya. Padahal sudah banyak waktu dan tenaga yang Dira korbankan untuk orang-orang terdekatku. Ia rela menjadi perawat pribadi mama saat mama terkena stroke, sekaligus mempersiapkan segala kebutuhan Febi dan Farhan saat mama tengah sakit.
“Maafkan aku, Ra.” Ucapku lirih pada angin yang berhembus di sekelilingku. Bahkan untuk mengejarnya tadi pun aku tidak sanggup. Aku belum memiliki nyali untuk berkata di hadapannya setelah fakta terbaru yang ia ungkapkan.
Kupejamkan mata, mencoba mengingat kembali kejadian di malam itu. Sempat ada niat buruk saat Dira mengatakan ia sedang sendirian di rumah, namun beruntung otak sehatku kembali bekerja. Aku memilih berpamitan karena tidak ingin berbuat yang tidak-tidak padanya. Bagaimanapun aku pria normal, melihat wanita impianku hadir di depan mata pastilah membuatku ingin selalu berada di sampingnya.
Aku kembali ke mobil Geri saat itu dengan sedikit uring-uringan. Kukatakan pada Geri bahwa aku semakin menggilai Dira saat ini, dan jika tak ingat dosa mungkin sudah kurebut Dira dari Farhan. Geri hanya mengernyitkan alisnya saat aku mengungkapkan kekesalanku. Ia sangat memahami perasaan yang kupendam untuk Dira. Selama ini Dira lah yang selalu menjadi motivasiku untuk kerja, kerja, dan kerja.
Keberadaan Dira di rumah orang tuaku sebagai adik ipar ternyata malah membuatku susah move on sehingga aku butuh mengalihkan perhatianku dengan bekerja. Banyak wanita yang dikenalkan padaku, tapi tak pernah membuatku tertarik.
Kuminta Geri membawa mobilnya ke klub malam di tengah kota. Entahlah, malam itu aku benar-benar kalut. Ingin sekali rasanya kuhajar Farhan karena sudah berani menyakiti Dira. Melihat mata Dira yang sembab tadi, bisa kupastikan ia menangis berhari-hari seorang diri.
“Lo ngapain minta kesini?” tanya Geri saat mobil telah terparkir.
“Gue pengen ngelupain Dira, setidaknya untuk malam ini aja gue nggak ingin kepikiran Dira.” Jawabku datar.
“Tapi lo nggak pernah minum sebelumnya, Riq. Lo rela ngerusak diri lo sendiri hanya karena cewek?” Geri mencoba meyakinkanku kembali.
“Lebih baik gue ngerusak diri gue sendiri disini, Ger. Daripada gue ngerusak Dira disana.” Jawabku tanpa berpikir panjang.
“Riq, lebih baik kita pulang. Ini bukan tempat yang tepat untuk meluapkan kekesalan lo. Come on, Riq.” Geri mencoba mempengaruhiku.
“Lo boleh pulang, Ger. Gue pengen disini dulu.” Ucapku sambil keluar mobil. Mungkin karena khawatir padaku, Geri juga ikut turun dan mengikuti langkahku masuk ke dalam klub.
Suasana klub malam sangat ramai saat itu. Suara hingar bingar musik sudah terdengar sejak di pintu masuk. Aku mengambil langkah lurus menuju meja bar karena tujuanku kesini memang satu, aku ingin melupakan Dira. Kupesan satu gelas besar minuman beralkohol, kuminta pula si bartender untuk memasukkan es batu di dalam gelasku.
Sejujurnya aku baru pertama kali masuk ke klub malam dan menenggak alkohol. Aku tahu ini merupakan pintu menuju jalan kemaksiatan lainnya, tapi aku masih sangat lemah mengendalikan imanku kala itu. Geri tidak memesan apapun, ia sangat waspada di sampingku untuk memastikan efek yang kualami setelah minum.
Aku tidak ingat berapa banyak minuman keras yang kutelan, tapi seingatku saat isi di gelasku sudah hampir habis aku mulai ambruk ke meja bar. Mungkin saat itulah Geri menggotongku ke mobil dan membawaku pulang.
***
POV Author
Geri bingung akan membawa Fariq kemana, jika pulang ke rumah Fariq sendiri tentu tidak mungkin karena satpam perumahan pasti sudah menutup portal dan selanjutnya mobil yang akan keluar masuk akan dicek KTP nya. Bukan tidak mungkin kondisi Fariq akan ketahuan nanti, bisa runyam jika para security itu tahu ada yang sedang mabuk.
Jika dibawa ke rumah Geri, lebih tidak mungkin lagi. Ada ibu, istri, dan 2 anaknya yang masih balita disana. Maka satu-satunya tempat yang paling tepat adalah rumah orang tua Fariq. Geri sadar bahwa di rumah itu hanya ada Dira, namun karena kondisi Fariq yang mabuk berat, ia pikir tidak mungkin Fariq sampai membahayakan Dira.
Tibalah mobil yang ditumpangi Geri dan Fariq di depan rumah yang sudah mereka sambangi sebelumnya. Terlihat hanya lampu teras yang menyala, sepertinya Dira sudah beristirahat.
Geri membuka pagar lebih dulu sebelum menurunkan Fariq. Postur tubuh Fariq yang lebih tinggi dari Geri membuatnya agak kesulitan saat membopong Fariq dengan punggungnya. Butuh tenaga ekstra untuk membawa Fariq ke teras rumah.
Pintu rumah diketuk perlahan, Geri takut ada tetangga yang mengetahui kedatangannya bersama Fariq yang tengah mabuk. Tak begitu lama Geri mengetuk, akhirnya Dira terbangun dan membukakan pintu.
Betapa terkejutnya Dira saat ada dua laki-laki yang datang dengan salah satunya dalam kondisi mabuk.
“Dira, maaf ya gue kesini. Fariq mabuk berat, nggak mungkin dia pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk, bisa panjang urusannya. Juga nggak mungkin gue bawa dia ke rumah gue, ada anak istri gue disana. Jadi gue minta tolong ijinin gue bawa masuk Fariq ke kamarnya, ya.” Ucap Geri dengan nada ngos-ngosan, Dira hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimanapun ini juga rumah Fariq, hal yang harus ia lakukan setelah ini adalah menelepon Farhan supaya segera pulang.
Geri membawa Fariq ke kamarnya. Tidak ada yang berubah, hanya saja baunya sedikit pengap karena telah lama tidak ditempati. Dira membantu Geri menyalakan lampu kamar dan menghidupkan air cooler beserta pewangi ruangan. Setelah Fariq tergeletak di tempat tidurnya, Dira bergegas keluar kamar menuju teras rumah. Tak dipungkiri ada perasaan takut di hatinya, sebentar lagi Geri pulang dan tinggallah ia bersama Fariq di rumah. Ia cukup lama mengenal Fariq, dan ia tahu bahwa Fariq adalah pria yang baik. Tapi jika dalam kondisi mabuk seperti ini, siapa yang menjamin tidak akan terjadi apa-apa?