NovelToon NovelToon
Lamaran Yang Bukan Untukku

Lamaran Yang Bukan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Konglomerat berpura-pura miskin / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefin Eka Ramana Putri

Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Di Balik Gengsi yang Tinggi

Hari itu, Cynthia kembali datang ke kediaman Keluarga Hutapea dengan sisa keberanian yang nyaris habis terkuras. Ia berdiri tegak di hadapan Tuan dan Nyonya Hutapea, serta Karen yang berdiri dengan angkuhnya di samping kedua orang tua itu seakan dialah putri kandung yang sesungguhnya. Dengan suara yang gemetar namun berusaha tetap tegas dan tenang, Cynthia menyampaikan apa yang telah diceritakan oleh wanita tua kepadanya — tentang adanya ukiran nama dan tanggal lahir yang tersembunyi di bagian belakang liontin kalung penanda, serta perbedaan antara kalung yang dipakai Nyonya Hutapea dan kalung yang kini melingkar di leher Karen.

Namun alih-alih dipercaya dan didengarkan dengan tenang, Cynthia justru dicemooh dan dimaki. Ibu kandung Karen yang ikut hadir di ruang tamu yang luas itu segera melangkah maju dengan wajah yang tampak marah sekaligus terluka, lalu menuduh Cynthia berbohong dengan sengaja dan berusaha menipu keluarga kaya itu demi menginginkan harta dan kekayaan yang bukan haknya. Karen pun ikut menangis tersedu-sedu seakan hatinya sangat terluka mendengar tuduhan yang dilontarkan Cynthia, bersandar lemah di bahu Nyonya Hutapea sambil menatap tajam ke arah Cynthia dengan pandangan penuh kemenangan. Nyonya Hutapea menatap Cynthia dengan pandangan penuh kecewa yang mendalam seakan tak percaya wanita yang dulu pernah dibantu itu tega berbuat sekeji ini. Sedangkan Tuan Hutapea tampak sangat marah hingga wajahnya memerah padam, lalu dengan tegas meminta Cynthia segera pergi dari rumah itu dan tidak pernah kembali lagi.

Di tengah keributan yang memanas itu, YB — Reza Oktovian — berdiri diam di sudut ruangan yang agak gelap. Matanya tak sanggup beralih dari sosok Cynthia yang berdiri tertunduk diam sambil menahan air mata agar tak jatuh membasahi pipinya di hadapan semua orang. Seharusnya pria itu merasa puas melihat Cynthia diusir dan diperlakukan seperti itu. Seharusnya ia merasa bahagia karena Karen yang kini menjadi pemenang. Namun seketika... hatinya terasa diremas sangat perih hingga napasnya terasa sesak di dada. Rasa sakit yang tak terlukiskan seketika menyelimuti seluruh hatinya.

Saat pandangannya jatuh lekat-lekat pada wajah Cynthia yang tampak begitu pucat, lelah, dan penuh luka batin itu, seketika bayangan masa lalu melintas begitu jelas dan hidup di benaknya. Bayangan hari-hari di mana Cynthia selalu menyambutnya dengan senyum paling tulus dan paling indah setiap kali mereka bertemu. Ingatannya melayang kembali perlahan ke masa-masa indah saat mereka masih berpacaran dulu...

Dulu, saat YB belum memiliki apa-apa, saat namanya belum dikenal siapa pun, saat hidupnya masih penuh kekurangan dan kesulitan... Cynthia tak pernah sekalipun memandangnya sebelah mata atau merasa malu berjalan bersamanya. Wanita itu selalu menyambutnya dengan senyum hangat yang tulus, dengan perhatian yang begitu lembut, dengan kasih sayang yang tak pernah sekalipun memandang harta, kedudukan, maupun latar belakang keluarga. Cynthia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya walau ia sendiri tahu betapa sederhananya kehidupan yang dijalani Cynthia di rumah tempat ia dibesarkan. Dulu, Cynthia tak pernah menuntut kemewahan atau hadiah mahal. Yang ia minta hanyalah satu hal sederhana namun begitu berharga: ketulusan hati YB sepenuhnya untuk dirinya seorang.

Dan kini... melihat wanita yang dulu begitu tulus mencintainya dengan segenap jiwa dan raga, kini berdiri menderita, dihina, diusir, dituduh berbohong dan berniat jahat... dada YB terasa sesak hebat seakan ada batu besar yang menindih dadanya. Rasa bersalah perlahan merayap perlahan memenuhi seluruh dadanya hingga membuatnya merasa begitu hina. Hatinya berbisik lirih penuh penyesalan: Wanita ini... wanita yang dulu mencintaiku tanpa syarat dan tanpa pamrih apa pun... kini menderita karena kebiadabanku sendiri. Karena keserakahanku pada harta dan kedudukan.

Tanpa disadarinya, jantungnya berpacu begitu kencang bukan karena marah kepada Cynthia, melainkan karena rasa sakit yang mendalam melihat wanita yang dicintainya terluka oleh ulahnya sendiri. Sejujurnya... tanpa ia sadari sepenuhnya selama ini... ia masih sangat mencintai Cynthia. Cinta itu tak pernah benar-benar hilang atau pudar sedikit pun. Selama ini semua perasaannya itu tertutup rapat oleh ego yang begitu tinggi, oleh gengsi yang membutakan kedua matanya, oleh pemikiran bodohnya bahwa status sosial dan kemewahan jauh lebih berharga daripada ketulusan hati wanita yang sungguh-sungguh mencintainya.

YB teringat kembali alasan sebenarnya yang membuatnya tega meninggalkan Cynthia dulu. Bukan karena ia tak lagi mencintainya. Bukan karena Cynthia berbuat kesalahan apa pun. Ia meninggalkan Cynthia hanya karena... ia merasa Cynthia hanyalah anak yang dipungut, anak yang tak memiliki kedudukan terhormat, tak memiliki harta warisan, tak memiliki siapa pun yang bisa diandalkan. Ia merasa malu memiliki kekasih yang tak memiliki apa-apa. Ia memilih meninggalkan Cynthia dan berpihak kepada Karen karena mengira Karen adalah putri kaya yang kelak akan memberikannya kemewahan, kedudukan tinggi, dan segala yang ia impikan. Dan demi semua itu... ia tega melukai hati wanita yang paling tulus mencintainya tanpa pernah meminta balasan.

Saat itu, di hadapan semua orang yang tak menyadari perasaannya, YB menyadari satu kebenaran yang begitu menyakitkan bagi hatinya sendiri: Cynthia yang kini menderita di hadapan matanya... adalah wanita yang dulu bersedia memberikan seluruh hatinya tanpa menuntut apa pun dariku. Dan aku... telah menyia-nyiakan wanita terbaik itu hanya demi gengsi buta dan kemewahan yang ternyata pun bukan milik Karen.

YB mengepalkan kedua tangannya erat hingga kuku-kukunya memutih. Ia ingin melangkah maju. Ia ingin berdiri di samping Cynthia. Ia ingin membela Cynthia di hadapan semua orang. Ia ingin memeluk wanita itu erat-erat dan meminta maaf sebesar-besarnya atas segala kesalahannya. Namun lidahnya terasa kelu tak mampu bersuara. Ego dan gengsinya yang begitu tinggi masih berdiri tegak menghalangi langkahnya. Ia tak sanggup mengakui di hadapan semua orang bahwa ia telah salah besar. Ia tak sanggup menurunkan harga dirinya yang selama ini ia banggakan di hadapan siapa pun. Maka ia hanya mampu berdiri diam mematung, menatap Cynthia dengan perasaan yang hancur berkeping-keping, tak berani berbuat apa-apa selain menahan rasa sakit di dalam dadanya sendiri.

Cynthia akhirnya berbalik perlahan dengan langkah yang berat namun tetap tegak dan berwibawa. Air matanya jatuh perlahan tanpa suara membasahi pipinya yang pucat. Saat sosoknya menghilang di balik pintu besar rumah itu... YB merasakan sesuatu di dalam dadanya seakan ikut pergi bersamanya pergi menjauh. Sesuatu yang sangat berharga yang baru saja sepenuhnya ia sadari... namun ternyata sudah terlambat untuk ia pertahankan.

Di dalam hatinya yang paling dalam, YB akhirnya mengakui kebenaran itu dengan penuh kepahitan: Ia masih mencintai Cynthia. Selalu mencintainya. Dan setiap kali melihat Cynthia menderita... yang terluka pertama kali justru hatinya sendiri sebelum siapa pun menyadarinya. Namun sayang sekali... gengsi dan egonya terlalu tinggi untuk ia turunkan demi cinta yang tulus itu. Dan kesadaran yang terlambat ini... kini menjadi hukuman terberat bagi hatinya sendiri setiap kali melihat Cynthia menderita.

Sementara itu, tak jauh dari gerbang rumah megah itu, sosok pria lain berdiri di tempat yang teduh menatap kepergian Cynthia dengan tatapan penuh kelembutan, kasih sayang, dan tekad untuk melindunginya. Aloy tersenyum tipis namun matanya tampak serius. Ia belum ikut campur karena tahu waktunya belum tiba. Namun melihat tatapan penuh penyesalan dan kerinduan yang terpancar jelas dari mata YB tadi... Aloy tahu dengan pasti bahwa pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan sekadar pertarungan antara kebenaran dan kebohongan saja... melainkan pertarungan antara cinta yang tulus dan cinta yang baru disadari ketika sudah terlambat.

1
Sefin Eka Ramana Putri
Luar biasa! Alur cerita yang terus berkembang dan penuh kejutan. Saya sangat terkesan dengan bagaimana penulis menggambarkan perasaan masing-masing karakter — rasa sakit, rindu, dendam, dan cinta tulus yang tak pernah padam. Cynthia adalah wanita yang sangat kuat, dan Aloy adalah bukti bahwa pria baik hati memang ada. Bagaimana dengan kalian? Bagian mana yang paling membuat kalian tak sabar menanti kelanjutan ceritanya? Yuk bagikan pendapatmu di kolom komentar! 👇✨
pineapple
semangat kak, kalo berkenan ku tunggu kunjungan nya hehe
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap. terima kasih sudah mampir. ntar saya balik berkunjung ke novel kak ya..😊🙏
total 1 replies
Dini
jangan lupa mampir dan komentar di karyaku #Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!