Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Elena masih menatap Sebastian tak percaya.
Jelas sekali ia menyukai Sebastian. Elena menghela napas. Haruskah ia memberi tahu Sebastian? Tapi dipikir-pikir, untuk apa? Ia tak peduli masa lalu mereka. Yang penting pernikahan mereka. Lagian, ia tak bisa melarang wanita ikut berbelanja hanya karena menyukai calon suaminya.
Elena tersenyum pada Isabella.
"Kalau begitu, ayo."
Isabella tampak terkejut, mungkin mengira Elena akan menolak, tapi senyumnya segera kembali.
"Tentu."
Mereka bertiga berjalan menuju mobil. Elena awalnya ingin duduk di samping Sebastian seperti biasa, tapi Isabella sudah lebih dulu berjalan ke sisi lain.
"Aku duduk di belakang saja."
Elena merasa lega. Ia pikir Isabella akan langsung duduk di sebelah Sebastian. Ternyata wanita itu masih tahu diri. Elena masuk dan duduk di samping Sebastian, sementara Isabella duduk di belakang. Mobil pun melaju.
Beberapa menit pertama berlalu dalam keheningan. Elena menatap pemandangan luar jendela. Sebastian sesekali memeriksa ponselnya. Sedangkan Isabella tampak sibuk memperhatikan mereka dari kaca tengah. Akhirnya Isabella membuka percakapan.
"Sebastian, kau masih suka kopi tanpa gula?"
Sebastian mengangkat wajah dari ponselnya.
"Masih."
Elena menoleh. Dia bahkan tahu kebiasaan minumnya? Isabella tersenyum.
"Aku masih ingat dulu kau selalu memesan kopi hitam setiap kali kita menghadiri acara bersama."
Sebastian hanya mengangguk.
"Sudah lama."
"Ya. Kita sudah saling mengenal cukup lama."
Elena diam. Kalimat itu terdengar sengaja diucapkan untuk menunjukkan kedekatan mereka. Tapi Elena tak mau kalah. Entah kenapa, ia ingin membalas. Ia menoleh pada Sebastian.
"Sebastian."
"Hm?"
"Kau masih suka sarapan?"
Sebastian mengerutkan kening.
"Tentu saja."
Elena mengangguk.
"Bagus."
Isabella tampak bingung. Elena tersenyum polos.
"Aku hanya ingin tahu. Bukankah sebagai calon istri aku harus mengetahui kebiasaan suamiku?"
Sebastian menatapnya. Tatapan mereka bertemu. Entah mengapa sudut bibir Sebastian sedikit terangkat.
"Benar."
Isabella yang duduk di belakang langsung terdiam. Elena kembali menatap ke depan. Hatinya terasa sedikit lega.
Tujuan pertama mereka adalah sebuah butik pakaian ternama. Isabella langsung bersemangat.
"Elena, coba yang ini."
Ia mengambil sebuah gaun merah.
"Warna ini akan sangat cocok untukmu."
Elena menerima gaun itu.
"Terima kasih."
Isabella tersenyum.
"Aku cukup tahu soal pakaian."
Elena mengangguk lalu mencoba gaun tersebut. Beberapa menit kemudian ia keluar dari ruang ganti. Isabella tersenyum puas.
"Bagus sekali."
Sebastian yang sejak tadi duduk di sofa mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju pada Elena. Untuk beberapa detik, pria itu tidak berkata apa-apa. Elena menjadi sedikit gugup.
"Bagaimana?"
Sebastian berdiri.
"Bagus."
Hanya satu kata, tapi Elena merasa senang. Isabella memperhatikan ekspresi Sebastian. Senyumnya perlahan memudar.
"Kalau menurutku, gaun krem tadi lebih cocok untuk Elena."
Sebastian menoleh.
"Yang mana?"
"Yang dia pakai tadi pagi."
Elena terkejut.
"Kamu ingat?"
Sebastian menjawab singkat.
"Iya."
Isabella terdiam. Elena juga terdiam. Kemudian Elena tersenyum kecil.
"Kalau begitu aku akan memilih yang krem."
Ia kembali masuk ke ruang ganti. Tanpa sadar, Isabella menatap Sebastian cukup lama.
"Sebastian."
"Hm?"
"Kau benar-benar memperhatikan Elena sekarang."
Sebastian mengerutkan kening.
"Dia tunanganku."
Jawaban sederhana itu membuat Isabella semakin tidak nyaman.
"Dulu kau tidak pernah seperti ini."
Sebastian menatapnya.
"Maksudmu?"
"Tidak ada."
Isabella tersenyum, tapi tangannya mengepal.
Setelah membeli beberapa pakaian, mereka pergi ke sebuah restoran. Isabella terlihat sangat santai seolah-olah dirinya memang bagian dari kencan mereka.
Elena justru semakin bingung. Bukankah dia seharusnya merasa canggung? Mereka duduk di meja yang sama. Sebastian duduk di sebelah Elena. Isabella duduk di seberang mereka. Pelayan memberikan menu. Elena membuka menu dan langsung mengerutkan kening.
"Harganya mahal sekali."
Isabella tertawa kecil, "Bukankah kau biasanya tidak menanyakan harga?."
Elena menatapnya dan tersenyum kaku, "Oh... aku sedang belajar hemat."
Isabella mengangkat alis, "Belajar hemat?"
"Iya. Aku merasa tidak perlu menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting."
Sebastian yang duduk di sebelahnya menatap Elena.
"Pesan saja yang kau suka."
Isabella memperhatikan keduanya. Semakin lama, senyumnya semakin sulit dipertahankan. Ia tak menyangka hubungan mereka berubah secepat ini.
'Bukankah dulu mereka hampir tak pernah menghabiskan waktu bersama? Kenapa Sebastian bahkan mengetahui makanan yang disukai Elena?' Isabella menggigit bibir. Ia tak suka perasaan ini.
Setelah makan siang, Isabella tiba-tiba berkata.
"Sebastian, boleh aku bicara sebentar?"
Sebastian mengangkat wajah.
"Sekarang?"
"Iya."
Isabella menatap Elena sekilas seolah memberi kode bahwa ia hanya ingin berbicara dengan Sebastian.. berdua saja..
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
Elena langsung memahami maksudnya. Ia mengambil tasnya.
"Kalau begitu aku akan menunggu di luar."
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘