Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - DUA TAHUN BERLALU, BINTANG-BINTANG MULAI BERSINAR
Waktu di Wulin berjalan lebih cepat daripada kuda pos Istana.
Dua tahun. Dua tahun sejak kalimat emas TUJUH TAHUN LAGI, MURID MENENTUKAN LANGIT muncul di langit Puncak Teratai Emas, Gunung Huashan. Dua tahun sejak Kaisar Zhuo Tian memerintahkan perburuan besar terhadap 4 nama: Zhuo Fan, Yang Lie, Gadis 9 Yin, dan Mu Chen.
Dua tahun, 36 Aliran Hitam bergerak, tapi hasilnya nihil. Paviliun Awan Hitam menghilang setelah malam di Balai Naga di mana Qin Ye melepas topeng kakek tua dan menunjukkan Cakar Tulang Putih 9 Yin. Jiang Yu, mantan peringkat 4 dari 8 Pendekar Langit, juga menghilang setelah menunjukkan Shuang Shou Hu Bo — Dua Tangan Saling Berkelahi warisan Zhou Botong. Istana kehilangan dua anjing pemburu terkuatnya dalam satu malam.
Dan di tempat-tempat yang tidak terlihat oleh Istana, 7 benih yang ditanam di Huashan mulai tumbuh. Bukan tumbuh menjadi pohon, tapi tumbuh menjadi bintang.
DANAU DONGTING, SARANG PENGEMIS - MU CHEN, 19 TAHUN.
DUAR! DUAR! DUAR!
Di lapangan lumpur Sarang Pengemis yang biasanya dipakai untuk berebut ayam panggang, kini ada sebuah batu besar seberat 1.000 kati yang mengapung di atas air Danau Dongting. Di atas batu itu, seorang pemuda 19 tahun dengan jubah goni 9 kantung yang sudah tidak kebesaran lagi, tubuhnya lebih tinggi, lebih kekar, wajahnya yang dulu pucat karena sakit kini kemerahan sehat, sedang berlatih.
Mu Chen. Murid tertutup Pengemis Utara, pemilik Kitab Tai Chu Hun Yuan Jing.
Dua tahun lalu, ia bahkan tidak bisa membuat daun bambu bergerak dengan Kang Long You Hui — Naga Sombong Menyesal.
Sekarang...
"Tapak ke-7! Shuang Long Qu Shui! Dua Naga Mengambil Air!"
Ia mendorong kedua telapak tangannya ke bawah, ke arah Danau Dongting.
BOOM!
Dua naga emas yang tidak besar, hanya sebesar lengan, tapi sangat nyata sisiknya, keluar dari telapaknya, terjun ke dalam danau, dan mengangkat air danau setinggi 10 kaki, membentuk dua pilar air yang berputar-putar seperti naga yang sedang bermain air. Ikan-ikan di dalam pilar air itu berenang ketakutan.
Di tepi danau, 10.000 pengemis bersorak sambil memukul mangkuk nasi.
"Bagus! Calon Ketua! Bagus!"
Hong Wei Jun, Pengemis Utara, duduk di atas tong arak besar, kaki diselonjorkan, labu arak di tangan, mengangguk puas.
"7 tapak dalam 2 tahun... lumayan, bocah goni. Gurumu dulu butuh 3 tahun untuk 7 tapak. Kau lebih cepat setengah tahun karena 8 meridian terbalikmu yang sudah diperbaiki Kitab Tai Chu. Kitab sialan itu memang curang. Ia memperbaiki wadahmu dulu, baru mengisinya."
Mu Chen mendarat dari batu apung, napasnya terengah-engah. 7 tapak masih membuat *Dantian*-nya sakit.
"Guru, bagaimana dengan Tongkat Pemukul Anjing?"
Hong Wei Jun melemparkan tongkat bambu hijau bengkok yang asli — Tongkat Pemukul Anjing yang sebenarnya, yang terbuat dari Bambu Hijau 100 tahun dan ujungnya ada ukiran kepala anjing yang menggonggong — pada Mu Chen.
Mu Chen menangkapnya. Selama 2 tahun, ia baru menguasai setengah jurus Tongkat Pemukul Anjing. 18 jurus pertama dari 36 jurus. Setengahnya.
"Setengah jurus Tongkat Pemukul Anjing sudah cukup untuk memukul 6 Pengawal Naga Dalam Istana seperti mainan!" teriak Hong Wei Jun. "Ingat, Tongkat Pemukul Anjing bukan untuk memukul anjing! Tapi untuk memukul orang yang kelakuannya seperti anjing! Seperti Kaisar!"
Mu Chen mengangguk, memeluk kitab Tai Chu yang kini tidak lagi dibungkus goni, tapi sudah ia hafal di luar kepala. Kitab itu kini tidak panas lagi. Ia sudah menjadi bagian dari darahnya.
"Guru, 5 tahun lagi, Janji 7 Tahun... apakah saya bisa..."
Hong Wei Jun berdiri, menepuk bahu muridnya yang kini hampir setinggi dirinya.
"5 tahun lagi, kau bukan lagi bocah goni yang dikatai sampah di Desa Batu. 5 tahun lagi, kau adalah Pengemis Utara berikutnya. Dan 18 Tapak Penakluk Naga tapak ke-7 sudah cukup untuk mengalahkan Ouyang Feng, anak Racun Barat itu, yang sekarang katanya sudah menguasai 70% kungfu ayahnya. Tapi belum cukup untuk mengalahkan Ling Feng dari Wudang. Anak itu... gila."
GUNUNG WUDANG, GUA TAIJI - LING FENG, 21 TAHUN.
Di dalam Gua Taiji yang tidak boleh dimasuki sembarang orang, tempat pendiri Wudang Zhang Sanfeng meninggalkan tulisan terakhirnya, seorang pemuda 21 tahun duduk bersila di dalam lingkaran Taiji yang berputar sendiri tanpa angin.
Jubah putih-biru Tao, wajah dingin seperti pedang, pedang tipis Taiji diletakkan di atas lutut, tapi pedang itu tidak lagi tipis. Pedang itu kini tebal di satu sisi dan tipis di sisi lain — pedang Taiji yang sebenarnya, yang beratnya 81 kati.
Ling Feng, 21 tahun, murid yang mengikuti Janji 7 Tahun demi membuktikan bahwa kungfu Wudang tidak kalah dari kitab legenda seperti 9 Yang, 9 Yin, dan Tai Chu.
Dua tahun di dalam Gua Taiji, tanpa melihat matahari, tanpa makan nasi, hanya minum embun dan membaca tulisan Zhang Sanfeng di dinding gua yang berbunyi:
Taiji bukan satu. Taiji adalah dua yang menjadi satu. Keras dan lembut bukan musuh. Mereka adalah suami istri.
Selama dua tahun ini dia telah menguasai hampir separuh kitab kungfu tertinggi Wudang — Taiji Shen Gong dan Zhen Wu Qi Jie Jian — Pedang 7 Penjelmaan Dewa Perang. Kitab yang bahkan Zhang Lingyun, gurunya, hanya menguasai 70% setelah 40 tahun.
Ling Feng membuka matanya. Matanya yang dulu hitam, kini satu hitam satu putih, seperti simbol Taiji.
"Guru, saya sudah mengerti. 9 Yang itu keras, 9 Yin itu lembut, Tai Chu itu campuran. Tapi Taiji kami... adalah yang membuat keras dan lembut itu bisa berpelukan. 5 tahun lagi, saya akan membuktikan pada Mu Chen, bahwa untuk mengalahkan naga, tidak perlu naga lain. Cukup dengan lingkaran."
Di luar Gua Taiji, Zhang Lingyun yang menjaga selama 2 tahun tersenyum, jenggotnya yang putih bergetar.
"Keluarlah, Ling Feng. Waktumu di dalam gua sudah cukup. Pergi ke kaki Gunung Wudang. Ada seorang pengemis kecil 9 kantung yang sedang mencari ayam panggang. Ajak dia berduel. Jika kau bisa membuatnya menyesal seperti naga sombong, kau sudah menguasai separuh Taiji."
PULAU BUNGA PERSIK, LAUT TIMUR - TAO YAOYAO, 18 TAHUN.
Di Pulau Bunga Persik yang bunganya mekar 4 musim tanpa henti, seorang gadis 18 tahun dengan kuncir dua pita persik yang dulu pendek kini panjang sampai pinggang, berjubah merah muda bordir bunga persik, sedang berbaring di atas pohon persik terbesar, memakan bakpao.
Tao Yaoyao, murid Huang Yuchen.
Sementara itu di Timur, murid Huang Yuchen tidak terlalu banyak berlatih karena dia adalah gadis jenius yang telah menguasai hampir semua ajaran Pulau Bunga Persik.
Huang Yuchen, Pemilik Pulau Bunga Persik, duduk di bawah pohon, memainkan suling giok putih dengan malas, wajahnya frustasi.
"Yaoyao! Aku bilang formasi 28 Bintang! Bukan 28 Bakpao! Kenapa kau letakkan bakpao di posisi Bintang Biduk?!"
Tao Yaoyao menggigit bakpaonya, menunjuk ke bawah.
"Tapi Guru, jika Bintang Biduk diganti Bakpao Biduk, musuh yang masuk formasi akan lapar dan ingin makan bakpao, lalu mereka tidak jadi menyerang! Bukankah itu lebih hebat dari formasi yang membuat orang pusing?!"
Huang Yuchen hampir pingsan. Tapi ia tidak bisa marah, karena gadis ini... dalam 2 tahun, sudah menguasai hampir semua ajarannya.
Bi Hai Chao Sheng Qu — Lagu Ombak Laut Biru — sudah bisa dimainkan sampai 7 ombak. Tan Zhi Shen Tong — Jari Sakti Elastis — sudah bisa memantulkan 10 jarum sekaligus. Dan Qi Men Dun Jia — Formasi 28 Bintang — sudah ia ubah menjadi Formasi 28 Bakpao yang bahkan Huang Yuchen sendiri tidak bisa keluar jika sudah lapar.
Jenius yang malas berlatih, tapi sekali berlatih, hasilnya 10 kali lipat orang biasa. Itulah Tao Yaoyao.
"Guru, 5 tahun lagi Janji 7 Tahun, apakah adik Mu Chen sudah bisa membuat Dua Naga Mengambil Air?"
Huang Yuchen menghela napas. "Mungkin sudah 7 naga. Dan kau... kau masih dengan bakpaomu."
Tao Yaoyao tertawa, melemparkan satu bakpao pada Huang Yuchen.
"Tenang, Guru! 5 tahun lagi, Tao Yaoyao akan membuat formasi Bakpao Raksasa yang bisa menelan 18 naga Mu Chen sekaligus!"
GURUN GOBI, GUNUNG BAITUO - OUYANG FENG, 19 TAHUN.
Di Gunung Baituo, di mana racun lebih banyak daripada air, seorang pemuda 19 tahun dengan jubah putih tapi kulitnya sedikit kehijauan karena racun, duduk di dalam kolam racun yang berisi 100 ular berbisa.
Ouyang Feng, putra Ouyang Lie, si Racun Barat. Pemuda misterius yang tidak bisa diremehkan.
Dua tahun lalu, ia masih anak yang hanya bisa memanggil kelabang besar.
Sekarang, ia telah menguasai 70% kungfu Ouyang Lie. Ha Ma Gong — Kungfu Katak — sudah bisa membuat kolam racun itu mendidih tanpa api. Ling She Quan — Tinju Ular Spiritual — sudah bisa membuat bayangannya seperti 10 ular yang menari.
Ayahnya, Ouyang Lie, berdiri di tepi kolam, matanya yang hijau menyala bangga.
"Feng'er, kau sama jeniusnya dengan legenda leluhur Racun Barat, Ouyang Feng yang pertama 100 tahun lalu. 70% dalam 2 tahun. Ayahmu butuh 10 tahun untuk 70%. 5 tahun lagi, kau akan menjadi Racun Barat yang baru. Dan saat itu, kau akan meracuni bahkan Cahaya Bintang milik Lu Changan dari Jiangnan!"
Ouyang Feng membuka matanya yang hijau, tersenyum. Senyumnya tidak ada racun, tapi ada... kesepian.
"Ayah, apakah racun bisa membuat orang lain tidak takut padaku?"
Ouyang Lie terdiam. Pertanyaan itu sama seperti pertanyaan Hui Chen 2 tahun lalu tentang apa itu kosong.
GUNUNG ZHONGNAN, SEKTE QUANZHEN - LI CHANGSHENG, 20 TAHUN.
Dan yang paling misterius...
Di Gunung Zhongnan, di dalam Aula Chongyang yang hanya boleh dimasuki Ketua Sekte Quanzhen, seorang pemuda 20 tahun duduk bersila di depan patung Wang Chongyang. Jubah Tao hitam putih, wajah biasa seperti petani, tapi di sekelilingnya, ada 7 pedang yang melayang sendiri tanpa dipegang, berputar-putar membentuk formasi Big Dipper.
Li Changsheng, murid dari Pemimpin Quanzhen Qiu Mingyu, yang 2 tahun lalu adalah anak yang tidak bisa apa-apa di Huashan.
Dua tahun ini, tidak ada yang melihatnya keluar dari Aula Chongyang. Tidak ada yang tahu apa yang ia pelajari.
Tapi hari ini, Qiu Mingyu, Ketua Quanzhen, masuk ke dalam aula, melihat 7 pedang yang melayang, dan lututnya lemas, hampir berlutut.
Karena kungfu Li Changsheng sekarang setara dengan pendeta pendahulu mereka Qiu Chuji, salah satu dari 7 Pendekar Quanzhen generasi pertama, yang 100 tahun lalu bisa melawan 1.000 pasukan Mongol sendirian dengan 7 pedang.
"Changsheng... kau... kau sudah menguasai Qi Xing Jiu Jue — 7 Bintang 9 Keputusan? Jurus yang bahkan aku belum kuasai sepenuhnya?"
Li Changsheng membuka matanya. Matanya tenang, seperti langit Zhongnan yang luas.
"Guru, 2 tahun lalu di Huashan, saya melihat Tai Chu, 9 Yang, 9 Yin, 18 naga, dan bunga persik. Saya merasa Quanzhen kami kecil. Jadi saya bertanya pada patung Leluhur Wang Chongyang, apa itu Tao? Leluhur menjawab: Tao adalah 7 bintang yang berjalan, tapi langitnya tetap satu. Jadi saya belajar berjalan seperti 7 bintang."
Ia melambaikan tangan, 7 pedang yang melayang itu masuk kembali ke sarung di punggungnya, satu per satu, tanpa disentuh.
"5 tahun lagi, saya ingin bertemu lagi dengan Mu Chen, Yang Lie, Ling Feng, Hui Chen, dan Tao Yaoyao. Saya ingin tahu, apakah 7 bintang saya bisa berjalan di atas 9 Yin dan 9 Yang."
Qiu Mingyu, Ketua Quanzhen, menangis. Menangis bangga.
"Quanzhen... Quanzhen akhirnya punya penerus..."
Dua tahun berlalu. 5 tahun tersisa menuju Janji 7 Tahun.
Di Danau Dongting, Mu Chen baru menguasai 7 tapak.
Di Gua Taiji Wudang, Ling Feng menguasai hampir separuh kitab tertinggi.
Di Pulau Bunga Persik, Tao Yaoyao menguasai hampir semua ajaran tanpa banyak berlatih karena jenius.
Di Gunung Baituo, Ouyang Feng menguasai 70% racun ayahnya, sama jeniusnya dengan leluhur.
Di Zhongnan, Li Changsheng yang misterius kungfunya setara Qiu Chuji.
Dan di tempat yang tidak diketahui — Lembah Api Kunlun — Yang Lie dan Zhuo Fan masih belum keluar. Dan di suatu tempat di Jiangnan, gadis 9 Yin, Qin Ruyan, putri Qin Ye, anak 16 tahun yang darahnya adalah Kitab 9 Yin itu sendiri, sedang bersembunyi di dalam bayangan, menunggu waktunya untuk muncul.
Bintang-bintang mulai bersinar. Dan langit Wulin 5 tahun lagi... akan ditentukan oleh mereka.