NovelToon NovelToon
RAHASIA DI BALIK PERNIKAHAN

RAHASIA DI BALIK PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lullabyyy

Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.

Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.

Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.

Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.

Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?

Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengangguran Banyak Mau

Eve berdiri di depan ruang kerja, menatap pintu dengan malas, sementara tangannya memegang ponsel yang berusaha memanggil nomor kakaknya. Ia sudah berdiri hampir tiga puluh menit di sini, berkali-kali mengetuk pintu, tetapi tidak ada balasan dari dalam.

Ia sudah menghubungi sekretaris Cellenor, bahkan sampai ke meja resepsionis untuk menanyakan apakah kakaknya keluar, tapi balasan keduanya sama bahwa kakaknya belum keluar dari ruang kerjanya sejak jam satu siang tadi.

Eve mengetuk berkali-kali, tidak ada respon, sehingga darahnya mendidih dan kakinya siap untuk menendang pintu ketika tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampilkan wajah tampan seorang pria dewasa yang berpenampilan kusut.

"Apa yang akan kau lakukan?" seorang pria dengan rambut coklat gelap membuka pintu selebar mungkin, lalu membalik badan menunjukkan punggungnya yang tegap, dan berlalu begitu saja meninggalkan Eve.

Eve mengikuti kakaknya dan duduk di kursi depan meja kerja, "Kakak sengaja nggak bukain aku pintu, ya?!"

Seorang pria duduk di balik meja kerja besar, terlihat lelah dengan segala urusan yang dikerjakannya, bahkan tatapannya menjadi sayu.

Beberapa dokumen tersusun rapi di hadapannya. Komputer terbuka menampilkan grafik perkembangan beberapa perusahaan.

Cellenor Isaac Barrington adalah kakak Eve Jenar Barrington.

"Aku tidak mendengar. Kakakmu ini baru selesai meeting online, menurutmu lebih penting mana dengan kedatanganmu?" Cellenor merapikan posisi kacamata dan rambutnya.

Eve memanyunkan bibir, tidak peduli dengan alasan yang diberikan Cellenor.

"Jadi Kakak sibuk?” Eve duduk di kursi depan meja kerja kakaknya. Menyilangkan kaki dengan santai, lalu salah satu tangannya meraba permukaan meja, ia terlihat sebagai atasan dibandingkan adik dari Cellenor.

Cellenor menghela napas panjang. Semua orang pasti tahu bahwa dirinya sangat sibuk, bahkan sering mengambil lembur hingga larut malam demi membereskan seluruh urusan pekerjaan, tetapi meskipun begitu pekerjaannya tak pernah selesai.

Namun, adiknya dengan sekonyong-konyong berbicara begitu, duduk di depannya sambil bersenandung pelan, bahkan mungkin hari ini ia akan menjadi tempat curhat gadis itu. Cellenor tidak sanggup untuk menghadapi cerita panjang Eve.

Cellenor hanya menatap adiknya sekilas tanpa ingin membalas pertanyaannya. Melirik pintu ruangan yang tidak tertutup, dan keningnya berkedut seketika.

"Kebiasaan burukmu tidak pernah berubah, ya?" sindir Cellenor sinis.

Eve menyadari bahwa kakaknya sedang kesal. Ia kembali berdiri, berjalan cepat ke pintu dan menutupnya. Kakaknya mungkin tipe orang perfeksionis atau sejenisnya yang tidak menyukai hal-hal yang berantakan.

Namun, kakaknya bukan mempunyai penyakit Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD) yang akan merasa dunianya runtuh bila ada alas kaki tergeser sedikit.

Eve mengelus dada, setidaknya kakaknya itu tidak berlebihan dalam menanggapi sifat perfeksionis miliknya.

Eve kembali duduk. Tanpa basa-basi ia berkata, “Kak beliin tas, dong!”

Cellenor akhirnya memusatkan fokusnya pada Eve, lalu bertanya, "Bukannya kemarin habis beli tas?"

"Kalau nggak mau beliin tas, yasudah!" Eve bersidekap dada, memalingkan wajah ke arah lain, dan tentu saja memasang wajah ngambek.

Itu adalah salah satu jurus andalannya ketika meminta sesuatu.

"Itulah mengapa kakak selalu mengingatkan Mommy dan Daddy untuk tidak memanjakanmu," ketus Cellenor sambil kembali menatap layar komputer.

"Lihatlah, sifatmu itu sangat tidak berguna," lanjut Cellenor sambil menunjuk adiknya menggunakan pena yang ia bawa.

Kepala Cellenor sangat pening hanya karena melihat tingkah Eve.

Eve tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak bisa membalas ucapan sengit kakaknya. Ia selalu ditegur hal serupa setiap kali meminta.

Cellenor menghela napas, tarikannya sangat berat, dan bahunya turun beberapa inchi. Menghadapi adiknya yang sangat manja memang membutuhkan spesifikasi khusus untuk menyerangnya.

“Eve, kau sudah berapa lama tidak bekerja?” tanya Cellenor. Ia memalingkan wajah ke arah komputer, kembali memperhatikan beberapa isi dokumen yang dikirimi anak buahnya.

“Kenapa pertanyaan Kakak jadi ke sana?” Eve akhirnya bersuara, tetapi dia tetap tidak ingin menatap kakaknya.

“Karena kau tidak bekerja, tetapi selalu punya daftar barang yang ingin dibeli," cetus Cellenor, matanya mengerling sebal, membayangkan jutaan barang di keranjang market online milik adiknya yang tidak berkurang justru semakin bertambah.

Eve tertohok oleh kalimat yang dikatakan kakaknya. Ia langsung menghadap Cellenor, “Pengangguran juga punya kebutuhan.”

“Tapi kebutuhanmu itu seharga ratusan juta, melebihi harga komputer milikku yang menemaniku dari nol ini,” sungut Cellenor sambil mengelus bagian atas komputernya.

Eve mendelik. Ia dibedakan dengan komputer milik Kakaknya, itu merendahkan dirinya sekali.

"Jahat sekali!!" Eve bersungut-sungut.

Cellenor memijat pelipis. Adiknya memang tidak pernah berubah.

Eve tersenyum manis. Ia tahu kakaknya akan mengalah pada akhirnya. Bagaimanapun, menjadi adik seorang Majesty Of Industry memiliki satu keuntungan besar.

“Modelnya sudah aku kirim tadi.” Eve memperlihatkan sebuah foto yang sudah ia kirimkan ke kakaknya.

“Tidak kulihat," ucap Cellenor. Ia menaruh ponselnya di sudut meja, dekat dengan komputernya.

“Di pesan.” Eve semakin membusungkan tubuhnya ke depan, mempersempit jarak diantara mereka.

“Tidak kubuka.” Cellenor memalingkan wajah ke arah lain, tidak ingin menatap sang adik.

Eve langsung mendengus kesal. Ia bergerak gusar di atas kursi, lalu berusaha mengambil ponsel kakaknya, tetapi Cellenor segera tahu niatnya dan menyembunyikan ponselnya ke dalam laci meja.

“Kakak!" sungut Eve kemudian. Ia merengut tidak suka.

Cellenor tidak peduli, ia sebenarnya tidak tahu harus menghadapi tingkah kekanak-kanakan adiknya.

Eve tetap diam di tempat. Beberapa menit berlalu mereka masih setia dengan pendirian masing-masing; yang satu menolak dan yang satu ingin meminta.

Eve menopang dagu di atas meja, matanya melihat kakaknya bosan, kehilangan minat pada pembelian tas membuatnya kehabisan energi.

"Aku mau cerita," ucap Eve sambil membolak-balik kertas dokumen milik kakaknya.

Cellenor berhenti mengetik. Ia sudah tahu pola ini. Kalau Eve berkata ingin cerita, hampir selalu ada satu nama yang akan muncul.

“Anjani?” tebak Cellenor, itu benar setelah melihat reaksi adiknya yang langsung berubah.

Eve langsung tersenyum lebar, matanya berbinar, “Gimana kakak tahu?”

“Karena temanmu cuma satu, dan cuma dia doang." Cellenor kembali mengetik.

Kali ini pria itu harus mempersiapkan telinganya lagi. Kalau ada headset, mungkin ia akan memakainya untuk pengaman telinga.

“Kurang ajar.” Eve melempari kakaknya dengan pena yang ada di atas meja.

Cellenor berhasil menghindar. Menatap Eve malas, lalu bersandar di kursinya.

“Kali ini tentang apa? Yeshika itu apa mulai meminta posisi istri sah? Atau meminta uang lebih ke Syahrul melebihi uang miliaran Anjani?" Cellenor berusaha menebak isi cerita adiknya dari beberapa keluhan adiknya beberapa hari terakhir ini.

Biasanya Eve hanya mengisahkan mereka jalan kemana, atau liburan ke mana, tetapi beberapa hari ini dia menceritakan keretakan hubungan sahabat terbaiknya itu.

Eve mulai menceritakan kejadian beberapa hari terakhir, tentang foto-foto Anjani yang ditemukan di ponsel Syahrul.

Tentang CCTV rumah yang berkemungkinan sudah dipasang jauh sebelum Anjani dan Syahrul menikah.

Bahkan tentang kecurigaan Anjani bahwa perselingkuhan Syahrul mungkin bukan satu-satunya masalah dalam rumah tangga mereka.

Cellenor mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Tidak banyak komentar. Namun, semakin lama, wajahnya semakin serius.

“Jadi,” kata Cellenor akhirnya, “Kau mengatakan Syahrul menyimpan foto istrinya sendiri secara diam-diam?” lanjutnya sambil membenarkan posisi kacamatanya yang agak turun.

Cellenor mulai tertarik dengan cerita adiknya.

“Bukan foto biasa. Itu foto Anjani tanpa busana. Mereka bermalam dan Syahrul sialan itu memfoto. Dan Kakak tahu apa yang kelihatan aneh? Anjani tidak melihat Syahrul membawa Handphone ketika melakukan itu!" Eve menggebrak meja, tubuhnya busung ke depan, dan pandangannya seperti ada api mengarah ke kakaknya.

“Lalu?” Cellenor sadar bahwa adiknya sedang marah, tetapi memusingkan rumah tangga orang lain juga tidak seharusnya sampai berlebihan seperti ini.

"Kenapa Kakak seperti tidak peduli ke Anjani? Dia sahabat baik adikmu ini loo!" Eve langsung menunjuk kakaknya. Ia jadi tersinggung dengan sifat kakaknya yang menunjukkan ketidakpeduliannya.

Cellenor kehabisan kata-kata. Jari-jarinya mengetuk meja beberapa kali, lalu menatap adiknya sekilas, "Kita tidak bisa terlalu ikut campur, Eve. Biarkan Anjani meminta bantuan, baru kita rencanakan sesuatu. Ini hubungan rumah tangga, pihak ketiga nggak diperlukan, dan menurut Kakak pasti Anjani akan menolak bantuan kita."

Eve terdiam. Benar kata Kakaknya. Anjani pasti menolak. Dilihat dari sifat sahabatnya yang tegas itu, sudah pasti niat membantunya secara langsung ini akan ditolak.

Bahkan sarannya untuk meminta bantuan Abimanyu juga ditolak dengan alasan paling logis yang tidak bisa ia bantah.

Eve manggut-manggut mengerti.

"Kakak heran. Padahal temanmu sehebat Anjani, tapi kamu kok?" Ucapan Cellenor berhenti, tetapi matanya menilai adiknya dari atas hingga bawah, tatapan yang sangat merendahkan.

Eve tahu maksud kakaknya itu. Ia memberikan jari tengah untuk membalas kakaknya.

Cellenor menggeleng sambil tersenyum tipis.

Kemudian ponsel Eve berbunyi. Sebuah pesan masuk. Ia segera membukanya, ternyata dari Anjani.

Eve, berlian dari bingkisan Majesty of Information sudah aku kirim ke rumahmu. Katanya kamu mau.

Mata Eve langsung membesar. Ia membaca pesan itu sekali lagi berharap tulisan itu tidak kabur atau hanya angan-angannya saja.

Ternyata tulisan itu nyata! Nyata! Bayangan berlian dan batangan emas tiba-tiba muncul di depan matanya.

Eve meloncat kegirangan.

“astagaaaa!” Eve menepuk-nepuk pipinya kencang.

Cellenor mengangkat kepala. "Sekarang apa lagi?"

“Anjani mengirim berlian dari bingkisan Majesty Of Information ke rumah!” Eve memperlihatkan isi pesan Anjani ke Kakaknya.

Cellenor menghela napas. Menatap layar ponsel Eve yang menunjukkan foto Anjani memegang berlian. Lantas ia terkekeh pelan.

Eve kembali melihat pesan di ponselnya. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan Kakaknya, ia tidak memikirkan untuk membeli tas.

“Anjani memang baik. Dia lebih baik jadi kakakku, dibandingkan kamu!" Eve bersungut-sungut ke Cellenor, menunjuk-nunjuk kakaknya dan terakhir kembali memberikan acungan jari tengah pada pria itu.

Cellenor tidak menjawab. Ia kembali bekerja, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.

Sementara Eve berdiri di depan meja kakaknya sambil memandangi layar ponsel. Setidaknya satu masalah hari ini selesai. Tas bisa dibeli nanti. Berlian sudah sampai rumah.

"Aku pergi. Aku akan bilang ke Daddy untuk mengangkat Anjani jadi kakak angkatku!" Eve memasukkan ponsel ke dalam tas, menatap kakaknya sinis, dan berjalan begitu saja menuju pintu keluar.

Cellenor terkekeh pelan, dan menggoda, "Kenapa nggak jadi kakak ipar aja?"

Langkah kaki Eve langsung berhenti. Jantungnya pun hampir tidak berdetak ketika kakaknya mengatakan itu. Pelan-pelan ia menoleh ke belakang, kakaknya sedang tersenyum misterius.

"Anjani pasti nggak sudi punya suami kayak Kakak, dan aku nggak akan merestui hubungan kalian!" Eve berteriak murka, kembali memberikan acungan jari tengah pada kakaknya. Ia juga nggak sudi kalau kakaknya menikah dengan Anjani.

"Kenapa?" tanya Cellenor pura-pura bodoh.

"Anjaniku nggak boleh sama Kakak. Titik!" pekik Eve sambil menghentakkan kaki ke lantai dan berlalu pergi dengan mulut terus mendumel.

Pintu tertutup kencang, Eve sudah pergi dengan perasaan jengkel karena ucapan Cellenor.

Sementara Cellenor akhirnya menghirup udara segar.

"Anjani, ya?" bisiknya.

Cellenor menoleh ke jendela, menatap langit yang mulai menggelap. Satu nama berhasil keluar dari mulutnya.

Nama yang sering ia dengar, wajah yang selalu muncul di mana pun, tetapi ia hampir tidak pernah bertemu dengan Anjani.

Seingatnya, mereka bertemu hanya dua kali, itupun waktu mereka masih kecil dan masuk remaja.

"Anjani Pitaloka Notokoesoemo, kan?" Cellenor berucap sambil menuliskan nama Anjani di kertas dokumen tidak penting.

Ini Tokoh-tokoh nya ya!!

Ini Anjani kita.

Ini si Syahrul.

Abbas kita, masih muda belia beliau ini.

Yeshika.

Cellenor.

Eve.

Abimanyu.

1
Adinda
Anjani sma cellenor thor
Lullabyyy: Kamu cenayang ya😄🤭
total 1 replies
Ade Chubi
awal cerita nya sudah seru
lanjut thor💪
Lullabyyy: 💪💪💪💪makasih kakak
total 1 replies
Ade Chubi
cerita nya bagus
Lullabyyy: Terimakasih kakak😍😍
total 1 replies
Almayra Aya S
mantap bget
Lullabyyy: terimakasih Kak😍😍😍
total 1 replies
ERSANN_
diganti yg kemarin?
Lullabyyy: Yoi kakkkk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!