NovelToon NovelToon
Sembilan Reinkarnasi Naga Primordial

Sembilan Reinkarnasi Naga Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Alun-alun utama Kediaman Keluarga Ye disesaki oleh ratusan anggota klan sejak matahari baru sepenggalah. Hari ini adalah Turnamen Bela Diri Tahunan, ajang unjuk gigi bagi para generasi muda sekaligus momen yang menentukan alokasi sumber daya klan untuk satu tahun ke depan.

​Di atas tribun kehormatan, Tetua Pertama Ye Cang duduk dengan angkuh di kursi utama yang terbuat dari kayu gaharu—kursi yang secara tradisi hanya boleh diduduki oleh Kepala Keluarga. Para tetua lain hanya diam, tak berani memprotes. Dengan menghilangnya Ye Zhan dan naiknya pamor Ye Tian, dominasi faksi Tetua Pertama kini nyaris mutlak.

​Di tengah alun-alun, sebuah arena berbentuk persegi yang terbuat dari batu granit putih telah didirikan.

​BAM!

​Sesosok tubuh terlempar dari atas arena, menabrak pilar batu hingga memuntahkan darah. Korbannya adalah seorang pemuda Bintang Empat yang digadang-gadang sebagai salah satu kuda hitam tahun ini. Namun, ia dikalahkan hanya dalam satu gebrakan.

​Berdiri di tengah arena dengan jubah putih bersih tanpa kerutan sedikit pun, Ye Tian tersenyum merendahkan. Fluktuasi energi berwarna putih tebal menyelimuti tubuhnya, memancarkan tekanan yang membuat murid-murid di bawah panggung kesulitan bernapas.

​"Alam Kondensasi Qi Bintang Tujuh! Tuan Muda Ye Tian benar-benar telah mencapai Bintang Tujuh!"

"Terlalu kuat! Dia bahkan tidak menggunakan teknik bela diri, hanya murni tolakan Qi!"

"Jenius nomor satu Kota Awan Merah telah lahir!"

​Sorak-sorai puja-puji menggema dari segala penjuru. Di tribun, Tetua Pertama Ye Cang mengelus jenggotnya sambil tersenyum puas.

​Mendengar sanjungan itu, arogansi di wajah Ye Tian semakin menjadi-jadi. Ia melipat tangannya di dada dan menyapu pandangannya ke seluruh penjuru alun-alun. "Apakah tidak ada lagi yang berani naik? Jika memang generasi muda Keluarga Ye hanya berisi sekumpulan sampah, maka biar aku yang langsung memanggil nama!"

​Suara Ye Tian diperkuat dengan Qi, menggelegar ke setiap sudut. "Ye Xuan! Di mana kau, dasar kura-kura pengecut?! Bukankah kau sangat sombong saat mematahkan tangan sepupuku di Paviliun Obat? Naiklah ke arena jika kau masih punya kemaluan sebagai seorang pria!"

​Hening sejenak. Kerumunan mulai berbisik-bisik, mencari sosok Tuan Muda Pertama yang namanya baru saja diteriakkan.

​Tap... Tap... Tap...

​Suara langkah kaki yang berat dan berirama terdengar dari arah gerbang utama alun-alun. Setiap kali kaki itu memijak tanah, debu di sekitarnya sedikit bergetar. Kerumunan secara otomatis membelah jalan.

​Ye Xuan berjalan dengan ekspresi acuh tak acuh. Pakaiannya sederhana, dan di bahu kanannya, ia memanggul sebuah lempengan besi hitam raksasa yang tampak sangat berkarat, kotor, dan sama sekali tidak memiliki ujung tajam.

​Melihat penampilannya, arena yang sempat hening seketika meledak dalam gelak tawa.

​"Hahaha! Benda apa yang dia bawa itu? Apakah dia baru saja memulung besi tua dari tempat pembuangan?"

"Dia bahkan tidak punya senjata yang layak. Benar-benar sampah yang menyedihkan!"

"Lihatlah wajahnya, dia bertingkah seolah-olah dia adalah seorang ahli bela diri. Sangat menggelikan!"

​Mengabaikan tawa merendahkan bak kicauan burung gereja itu, Ye Xuan menaiki tangga batu menuju arena.

​Kret... Krek!

​Tepat saat kaki Ye Xuan dan pedang besarnya menapak di atas panggung granit, retakan halus menjalar di permukaan batu sekeras baja tersebut. Di tribun kehormatan, mata Tetua Ketiga Ye Kuang menyipit tajam. Ia adalah satu-satunya orang di sana yang tahu seberapa berat "besi tua" yang dipanggul pemuda itu.

​"Kau akhirnya datang untuk mengantar nyawamu, sampah," cibir Ye Tian saat Ye Xuan berdiri sepuluh langkah di hadapannya. "Kudengar kau berhasil memulihkan sedikit meridianmu dan mencapai Bintang Tiga. Sayang sekali, di hadapan Bintang Tujuh milikku, kau hanyalah seekor semut yang mencoba menahan laju kereta kuda."

​Ye Xuan menurunkan pedang besarnya.

​BOOM!

​Ujung tumpul besi hitam itu menghantam lantai arena. Panggung granit berguncang keras, dan jaring laba-laba retakan meluas hingga radius dua meter dari tempat pedang itu ditancapkan. Gelak tawa di kerumunan tiba-tiba terhenti, digantikan oleh kebingungan.

​"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang umurnya hanya tinggal lima menit," balas Ye Xuan datar. Sepasang matanya menatap Ye Tian seolah sedang melihat seonggok daging mati.

​Amarah langsung meledak di wajah Ye Tian. "Sombong! Jika kau begitu ingin mati, mari kita tanda tangani Kontrak Hidup dan Mati! Di atas arena ini, kematianmu tidak akan bisa dituntut oleh siapa pun, bahkan oleh hantu ayahmu sekalipun!"

​"Bawa ke mari. Itu akan menghemat waktuku untuk menjelaskan mengapa aku membunuh seekor anjing peliharaan klan hari ini," jawab Ye Xuan tanpa ragu.

​Diaken pengawas turnamen segera membawa selembar perkamen ke atas arena. Tanpa berkedip, keduanya meneteskan darah mereka ke atas kontrak tersebut. Mulai detik ini, pertarungan ini adalah duel mematikan yang sah secara hukum dunia kultivasi.

​"Mati kau, keparat!"

​Tepat setelah kontrak disahkan, Ye Tian tidak membuang waktu sedetik pun. Ia menerjang maju layaknya macan tutul yang ganas. Energi putih meledak dari tubuhnya, memusat di telapak tangan kanannya. Udara di sekitar tangannya berdesir, menciptakan suara siulan tajam.

​"Telapak Awan Terbelah!" jerit Ye Tian. Ini adalah teknik bela diri tingkat fana kelas menengah, teknik andalan Tetua Pertama yang mampu menghancurkan batu karang menjadi debu.

​Melihat serangan mematikan itu mengarah langsung ke dada Ye Xuan, banyak murid perempuan yang menutup mata mereka, tak sanggup melihat tubuh Ye Xuan meledak.

​Namun, di tengah badai energi yang mendekat, Ye Xuan hanya berdiri tegak. Ia tidak repot-repot mengangkat pedang besi raksasanya yang masih tertancap di lantai. Alih-alih, ia perlahan mengangkat tangan kanannya, mengepalkan tinju tanpa ada sedikit pun pendaran energi Qi yang terlihat.

​"Teknik murahan. Membiarkan energi menyebar bebas tanpa kompresi," komentar Ye Xuan dingin.

​Tepat ketika telapak tangan Ye Tian tinggal sejengkal dari dadanya, tinju Ye Xuan melesat menyongsong serangan tersebut.

​DUARRR!

​Bukan suara tulang patah, melainkan suara ledakan udara yang memekakkan telinga. Gelombang kejut yang kasat mata menyapu seluruh panggung, menerbangkan debu dan serpihan granit ke segala arah.

​Di tribun, Tetua Pertama Ye Cang yang tadinya duduk santai, tiba-tiba mencengkeram sandaran kursinya hingga hancur berkeping-keping. Matanya melotot tak percaya.

​Di tengah kepulan debu di atas arena, Ye Xuan masih berdiri di tempatnya dengan postur sempurna, tangan kanannya terentang santai. Di sisi lain, sosok Ye Tian terlempar mundur belasan langkah. Kakinya menggores lantai granit dalam-dalam untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

​Tangan kanan Ye Tian yang digunakan untuk melancarkan Telapak Awan Terbelah kini bergetar hebat. Lengan bajunya hancur lebur, dan darah segar menetes deras dari ujung jari-jarinya.

​Kesunyian yang mematikan mencekik seluruh alun-alun.

​Ye Xuan menarik kembali tinjunya, menepis debu dari lengan bajunya, lalu mencabut pedang besi raksasanya dari lantai dengan satu tangan. Aura berwarna keemasan samar mulai berkedip di sekujur tubuhnya, memancarkan fluktuasi Bintang Empat, namun dengan tekanan yang seribu kali lebih purba dan kejam dari energi spiritual manapun di dunia ini.

​"Pemanasan selesai," ucap Ye Xuan dengan nada sedingin es abadi. "Sekarang, berlututlah."

1
Marthen
menyerah akan selamat
meLawan maka akan ada patriark yang baru
Marthen
kebanggaan fana artinya kebanggaan dunia bawah bila baik ke dunia atas hanya dijadikan pengawal penjaga pintu gerbang
preeeeeetttttttt
Fajar Fathur rizky
bikin yexuan hancurkan kultivasi jianwuji bikin jianwuji jadi sampah
Marthen
up thor
sibaweh abduh
bagus sekali ceritanya thor
Marthen
up thor
Visitor8053
Ye Xuan mantap mendapatkan ilmu hebat
Marthen
sudah tgl 4....uo lagi thor 👍
Marthen
asyiiiik panggung dominasi.....
Marthen
hutan binatang buas bagi masyarakat awan ini adalah hutan kematian tetapi bagi mantan kaisar dewa ini adalah kebun binatang yg berisi hewan2 jinak preeeetttt
Marthen
jozzzzz
Marthen
kelinci percobaan beryjung tumbaL
Marthen
assl yg betul ye xuan...kata2mu ini kami tunggu di alam semesta atas sebagai inti cerita pembalasan dendam kepada mo yuan
ARay
nekat boleh, oon jangan coy... ngotak dikit dah
Fajar Fathur rizky
cepat bantai zhao ying beserta keluarganya dan klan zhao pajang mayat mereka di sekte itu
Fajar Fathur rizky
cepat bantai klan zhao sampai ke akar akarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!