Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Isabella berjalan mendekat. Senyumnya lembut, tapi matanya tak ramah sama sekali. "Sebastian."
Sebastian menoleh. "Isabella." Satu kata saja dengan nada dingin, tanpa senyum.
Isabella lalu menatap Elena. "Aku dengar kau mengalami kecelakaan."
"Ya. Untung tidak apa-apa." Elena tersenyum.
Isabella tersenyum tipis, lalu pandangannya turun ke tangan Elena yang masih menggenggam lengan Sebastian. "Sepertinya hubungan kalian sudah semakin dekat."
Sebelum Elena menjawab, Sebastian berkata tegas. "Dia calon istriku."
Suasana di sekitar mereka mendadak berubah. Isabella terdiam, Elena pun terkejut. Calon istri? Entah kenapa dua kata itu terdengar begitu menyenangkan. Elena menahan senyum.
'Calon istri miliarder. Indah sekali..'
Isabella mengepalkan tangannya pelan. "Benarkah?"
Sebastian menatapnya tanpa ekspresi. "Menurutmu?" Tanpa menunggu jawaban, ia menarik Elena sedikit lebih dekat. "Maaf, kami harus menemui tamu lain."
Setelah berjalan cukup jauh, Elena berbisik. "Kau tidak perlu mengatakan seperti itu."
"Mengatakan apa?"
"Bahwa aku calon istrimu."
Sebastian mengangkat alis. "Bukankah itu kenyataannya?"
Elena terdiam. "Ya..."
"Kalau begitu apa masalahnya?"
"Tidak ada." Elena diam-diam tersenyum. 'Pria ini ternyata tidak buruk.'
Tak lama kemudian, mereka tiba di meja tempat cincin pertunangan diletakkan. Pelayan membawa kotak hitam kecil.
Sebastian membukanya, disana ada sebuah cincin berlian berkilauan di dalamnya yang menbuat mata Elena langsung membelalak.
'Ya ampun, itu berlian besar! Cukup besar untuk membuat masa depanku menjadi cerah seketika! Akhirnya aku tidak hidup susah..'
"Ulurkan tanganmu."
Elena menurut, jantungnya berdebar, bukan karena romantis, tapi membayangkan harganya.
'Kalau dijual, bisa beli rumah.. Ah.. semoga tubuh Elena sehat sempurna agar aku tidak perlu menghabisakan uang untuk berobat..'
Cincin perlahan masuk ke jari manisnya. Elena menatapnya puas.
Sebastian memperhatikan ekspresinya. Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibirnya hampir terangkat. "Kau menyukainya?"
"Sangat."
"Bagus." Ia lalu mengangkat tangan Elena sedikit. "Kalau begitu jangan pernah melepasnya."
"Kenapa?"
Tatapannya berubah serius. "Karena aku tidak suka orang yang mengingkari janji."
Elena terdiam, lalu tersenyum kembali. "Tenang saja. Aku tidak akan melepasnya." 'Selama kau tetap kaya,' batinnya menambahkan.
***
Malam harinya, Elena berada di kamar milik pemilik tubuh asli. Ia berdiri di depan lemari pakaian yang ukurannya hampir sebesar kamar tidurnya di kehidupan sebelumnya.
Gaun-gaun mahal tersusun rapi, tas bermerek berjajar, sepatu dengan harga fantastis memenuhi rak.
Wlena memegang salah satu tas. "Ini harganya berapa?"
Pelayan di belakangnya menjawab, "Sekitar delapan puluh juta rupiah, Nona."
Tangan Elena langsung membeku. "Delapan puluh juta?"
"Ya."
Ia meletakkan tas itu kembali dengan hati-hati.
"Mulai sekarang, jangan biarkan aku membeli barang sembarangan."
Pelayan itu tersenyum. "Bukankah Nona biasanya sangat suka berbelanja?"
Elena menggeleng. "Tidak lagi."
Ia sudah membuat keputusan. Ia memang ingin hidup nyaman, tapi tidak ingin menjadi wanita boros. Bukan karena tidak suka menghamburkan uang, melainkan karena ia tahu bagaimana rasanya tidak punya uang sama sekali.
Setelah pelayannya keluar dari kamar, Elena berjalan menuju balkon. Dari sana, ia melihat halaman luas rumah keluarganya.
"Kehidupan ini benar-benar berbeda ya.. dulu aku tidur di kamar sempit dengan suara kendaraan yang sangat berisik.. Tapi sekarang aku punya kamar yang lebih besar dari rumahku dulu."
Elena tersenyum. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua. Akan aku pastikan pernikahan ini berhasil!"
Ia tidak tahu kepada siapa ia mengatakannya. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa tidak takut menghadapi hari esok.
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘